
Dengan tangan gemetar, Faishal mengangkat Syeila yang masih tertidur di meja dan memindahkan ke pangkuannya.
Faishal duduk di kursi yang sebelumnya di duduki biji sawinya. Jangan lupa, dengan suara bergetar dan menangis tergugu Faishal menggumamkan kata maaf kepada Syeila,
“Ma af sayang, maaf.”
“Maaf, maaf, maaf.”
“Maaf sayang, seharusnya aku tidak pulang telat.” Faishal yang masih tergugu dengan tangisnya dan air mata yang berlomba lomba keluar, bahkan semakin terisak ketika menyadari matta biji sawinya terlihat sembab.
“Maafkan aku sayang.” Faishal terus berulang menggumamkan kata maaf kepada Syeila dan mengecup setiap inci wajah Syeila.
Syeila yang terus di kecup Faishal, bahkan air mata Faishal juga ikut membasahi wajah Syeila mau tidak mau membuat Syeila terbangun dari tidurnya.
“Eunggg.” Syeila merasa tidak nyaman ketika ada orang yang mengecupi wajahnya. Secara tidak sadar tangan mungil Syeila menghalau menghentikan aktifitas Faishal.
Faishal tersadar kalau tindakannya membangunkan istrinya, segera bersuara dengan suara seraknya.” Kamu bangun yang.” Jangan lupakan sisa sisa air mata masih jelas di pipi.
Syeila menggeliat dan mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk. Kok aku ada di pangkuannya ya. Syeila bingung kenapa terbangun di pangkuan suaminya.
Tapi kebingungan tersebut tergantikan dengan keterkejutan karena suaminya seperti orang habis menangis. Eh, bukan habis menangis lagi. Tapi memang menangis. Terlihat sisa sisa lelehan air mata di pipi.
“Sayang, kamu kenapa menangis? Kok Syeila bisa tidur di pangkuanmu. Perasaan tadi Syeila…” Syeila berpikir sesaat,
Deg,
Jantung Syeila berdenyut nyeri ketika mengingat dirinya ketiduran di meja makan karena menunggu Faishal.
Faishal yang seakan tau apa yang di pikirkan oleh Syeila segera mengecup sekilas bibir mungil Syeila dan berseru, “Maaf. Maaf sayang tadi aku di rumah teman sampai kemalaman.” Faishal berbohong demi kebaikan semuanya.
Syeila yang mendengar ucapan suaminya, menatap suaminya dengan tatapan sendu ,”Tapi kenapa nggak mengabari Syeila?”
“Maaf sayang, maaf. Aku tidak akan mengulangi lagi.”
“Janji?” Syeila menyodorkan jari kelingkingnya dan di sambut oleh Faishal, “Janji.”
__ADS_1
Syeila menghela napas beratnya, seakan berusaha menghempaskan rasa dongkolnya. Hahhh, entahlah, rasanya masih ada yang mengganggu di hati Syeila. Tapi Syeila sendiri nggak tau, apa yang mengganggunya.
“Sayang terimakasih.” Lamunan Syeila buyar mendengar ucapan Faishal.
“Hah, terimakasih apa yang?”
“Terimakasih banyak karena sekarang kamu sedang mengandung anakku, anak kita.” Ungkap Faishal dan sekali lagi memberikan kecupan dan sedikit ******* kepada Syeila.
Dan Syeila sedikit ceria ketika kembali mengingat bahwa dirinya sedang mengandung. Entahlah, yang jelas Syeila sangat senang ketika mendengar akan mempunyai debay.
“Ehm, sayang kamu belum makan?” tanya Faishal yang melihat makanan dimeja masih rapi belum tersentuh. Syeila hanya menggeleng sebagai jawaban.
“Kamu, makan ya?”
Diingatkan soan makan malam yang belum tersentuh, Syeila kembali sedih. Entahlah hatinya masih belum plong.“Nggak mau. Syeila capek Yang. Pengen tidur.”
“Tapi kamu harus makan sayang?”
Bukannya menurut, Syeila malah mengeratkan kalungan di leher Faishal dan bberseru,“Nggak mau. Syeila mau tidur.”
“Kamu tidur ya. Aku mau ke kamar mandi dulu,” ucap Faishal setelah menaruh Syeila di pembaringan.
“Hmm.” Syeila hanya berdehem dan segera tidur.
Sekembalinya Faishal dari kamar mandi, ternyata Syeila sudah tertidur pulas. Dikecupnya kening Syeila lama, “Maafkan aku sayang, belum bisa cerita. Aku nggak ingin kamu kepikiran yang tidak tidak , apalagi kamu sedang hamil. Maaf.”
***
Keesokan paginya, Faishal terbangun karena merasakan orang yang tidur di sampingnya bergerak gelisah.
Mata Faishal membulat ketika mendapati Syeila berkeringat dan sepertinya mimpi buruk. “Sayang,.. he…. Astaga kenapa tubuhmu panas sekali.” Faishal panik ketika melihat suhu tubuh Syeila sangat tinggi.
“Kita ke rumah sakit ya.” Belum sampai Faishal mengangkat Syeila, mata Syeila sudah terbuka dan menggeleng, “Syeila nggak mau ke dokter,” bisik Syeila lemah.
“Tapi kamu sakit sayang.” Syeila tetap menggeleng keras kepala, “Syeila nggak mau ke dokter.”
__ADS_1
Akhirnya Faishal memutuskan menghubungi dokter keluarganya. Setengah jam kemudian dokter tersebut datang dan langsung memeriksa Syeila.
“Bagaimana Dok keadaan istri saya?” tanya Faishal setelah dokter memeriksa Syeila
Dokter tersebut menghela napas sebelum menjawab, “Haaaah, istrimu lagi hamil ya?”
“Iya dok, apa terjadi sesuatu dengan kandungannya?” Faishal sudah cemas
“Syukurnya istrimu dan kandungannya tidak kenapa napa, dia hanya dehidrasi dan kelelahan saja. Usahakan jangan sampai membuat istrimu stress. Itu sangat beresiko buat kandungannya yang masih di trisemester pertama.”
“Baik dok.”
“Dan biarkan istrimu tidur. Nanti kalau bangun, kamu kasih makan ya sebelum minum vitaminnya.” Dokter tersebut memberikan vitamin kepada Faishal sebelum akhirnya pulang.
Sepeninggal dokter tersebut Faishal mendekat ke Syeila. Faishal menatap dalam Syeila dengan wajah sendunya, “Maafkan aku sayang, lekas sembuh ya. Love you.”
Cup, dilabuhkannya kecupan singkat di bibir hangat Syeila sebelum akhirnya Faishal keluar membersihkan sisa sisa dekor kemarin di ruang makan.
Pukul delapan pagi, bersamaan dengan selesainya Faishal bersi bersih tiba tiba terdengar bel apartemennya. Segera Faishal melangkah membukakan pintu,
Klek,
Faishal sedikit kaget karena orang tua dan mertuanya berkunjung, “Mommy, Daddy. Silahkan masuk.”
“Syeila mana Son. Kok kamu belum berangkat kerja?” tanya Mommy Meri setelah duduk di ruang tamu.
“Syeila sakit Mom.” Faishal berucap dengan kepala menunduk.
.
.
.
TBC
__ADS_1