Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 120


__ADS_3

Dan sekarang, disinilah mereka. Mereka berada di depan salah satu restoran ternama yang ada di kota tersebut, setelah cukup lama berkeliling menuruti Bumil yang ingin berkeliling. Mulai dari taman bermain sampai ke taman yang ada di pusat kota.


“Sayaaang.” Sudah berulang kali Faishal membujuk biji sawi kesayangannya untuk segera turun. Cacing cacing diperut Faishal sudah berdemo meminta asupan.


Syeila yang diajak turun mah bodoh amat. Dan sekarang lihatlah, Syeila malah bersedekap dada. “Syeila nggak mau.” Syeila merajuk dengan membuang muka ke samping.


“Astaga sayang. Pengen apa hem? Ke pasar Malem?” nah tepat sasaran. Syeila ngambek karena Faishal nggak menuruti keinginannya yang sangat ingin ke pasar malam.


Syeila langsung berbalik, kemudian menganguk dengan wajah menggemaskan penuh harap.


Faishal menghela napas, “Kamu tidak capek hem? Tadi kan kita sudah berkeliling Yang?”


“Tapi dedek bayinya ingin ke pasar malam Yang.”


“Duh itu lagi alasannya,” batin Faishal menggerutu tak jelas, sebelum melanjutkan ucapannya, “Okay. Nanti kita kepasar malam , tapi kita isi perut dulu ya?”


Syeila mengangguk bersemangat, ketika suaminya lagi lagi menuruti keinginannya. “Ayok sayang. Cepet turun,” ajak Syeila. Kalau tadi Faishal yang ingin bergegas makan, sekarang gantian Syeila. Bener bener Syeila udah nggak sabar ke pasar malam.


“Iya sayang, ayook.” Faishal meraih tangan Syeila. Sesampainya di restoran, Faishal berucap, “Kamu ingin makan apa Yang?”


“Aku ingin beef aja Yang? Minumnya lemon tea yang hangat aja.”


“Oke.” Setelah menentukan pilihannya, Faishal memesan makanan.


Selesai menyantap makan malam, Faishal mengajak Syeila ke Pasar Malam.

__ADS_1


“Sayang kita pulang aja Ya?”


“Nanggung lah Yang. Kan kita udah sampai disini,” tolak Syeila.


“Tapi ramai sayang.” Syeila tergelak mendengarnya, “Yaiyalah Yang, kan pasar malam bukan kuburan hihihi.” Maklum ya, babang Faishal seumur hidup belum pernah datang kepasar malam. Beda dengan Syeila. Meski Syeila terkesan polos manja dan anak mami, tapi Syeila sudah beberapa kali ke pasar malam.


Akhirnya Faishal pun mengalah. Sebelum keluar dari mobil, Faishal menggulung bajunya sampai ke lengan. Syeila yang melihat suaminya , segera menggandeng lengan suaminya. Kemudian mereka berjalan menyusuri pasar malam tersebut.


Meskipun ini bukan weekend, tapi pasar malam tersebut tidak pernah sepi dari pengunjung. Banyak muda mudi yang berseliweran.


“Wahhh, Syeila seneng. Kita udah kayak orang pacarana ya Yang?” Syeila tersenyum lebar menghadap suaminya. Pun Faishal juga sama, “Tapi kita udah menikah sayang.”


Dengan santainya Syeila menyahut, “Ya nggak papa. Menikah rasa pacarana boleh juga.”


“Yang, itu ada jagung bakar. Syeila mau beli Yang, yuk kesana.” Syeila mengajak Faishal berkeliling mencari jajanan, seperti jagung bakar dan tak lupa sempol. Entahlah, Syeila sangat suka jajanan sempol.


Dan disinilah Syeila dan Faishal. Mereka duduk duduk dibangku yang memang disediakan untuk para pengunjung. Banyak muda mudi juga yang ikut duduk.


Oh ya, FYI. Saat ini Syeila sudah tidak memakai seragam SMA. Tadi keluar dari kantor, Faishal mengajak Syeila ke butik terlebih dahulu.


“Enak nggak Yang?” tanya Syeila disela kunyahannya.


“Iya enak.” Faishal juga makan jajan yang tadi dibeli oleh Syeila. Ahhhh Faishal berasa kembali muda lagi. Karena jujur saja, dulu dirinya tidak pernah jalan ke tempat kayak gini. Paling mentok ya ke restoran ataupun mall, dan sesekali ke klub.


Habis jajanannya, Faishal dan Syeila kembali berkeliling. Syeila sangat senang, berasa seperti orang yang pacaran. "So sweeeeet," batin Syeila bungah.

__ADS_1


“Yang sudah jam setengah sepuluh, kita pulang Yuk.” ajak Faishal. Syeila yang juga sadar waktu, akhirnya mengangguk, “Yuk Yang. Tapi lain kali kesini lagi ya Yang.”


“Iyaaaaa.”


Sesampainya di apartemen, Faishal segera membersihkan diri. Tapi tiba tiba ada tangan mungil yang menggapainya. “Kenapa Yang?” Terlihat Syeila yang membuat muka semelas mungkin. “Pengen Mi.”


“Haaa?” Faishal berharap salah mendengar. “Syeila laper lagi Yang. Pengen Mi kuah rasa soto ayam. Tapi kamu yang masakin Yaaaaang.”


Faishal harus bener bener nyetok kesabaran, “Kamu beneran lapar?” Syeila mengangguk dengan wajah berbinar.


“Hmhaaaah, baiklah. Aku mau cuci muka dulu sebelum buat Mi.” Syeila mengangguk senang.


Selesai Faishal membuat mi, bertepatan juga dengan Syeila yang sudah selesai bebersih. “Ini Yang, mi nya.” Faishal meletakkan mi dan minuman di meja yang ada di depan Syeila yang kebetulan sedang duduk disofa.


“Waaah, makasih banyak Yang. Syeila makin cinta deh.”


“Oh ya, kalau kamu mau tidur, tidur aja dulu Yang, pasti kamu capek,” lanjut Syeila yang sudah mulai menyantap makannya.


Faishal tersenyum smirk, “Nggak Yang, aku nemenin kamu makan dulu.”


“Enak saja, dari siang udah gue turutin, masa nggak dapat upah?” lanjut Faishal, tapi didalam hati ya. Hahahaha.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2