
“Janji sayang. Kamu lihat atuk dulu di kursi sana ya?” Natasya menunjuk kursi yang paling pojok di ruangan tersebut.
“Oke deh, Nola mau lihat Tuk Dalang sama angkel Mutu dulu ya papa.” Naura turun dari pangkuan Faishal, dan menyambar HP mamanya, sebelum menuju kursi yang ada di pojokan.
Natasya mencoba mengambil oksigen sebanyak banyaknya, berupaya meredam gugup yang sedang melanda.
“Jelaskan,” tuntut Faishal dengan penuh penekanan
“Maaf ai, Naura putriku dengan mantan suamiku.” Natasya berkata dengan kepala tertunduk.
Mendengar penuturan Natasya, Kepala Faishal serasa di siram dengan es batu. Plong banget rasanya. “Lalu, kenapa dia memanggil gue papa?”
“Maaf ai.” Natasya hanya mampu menunduk
“Jelaskan Asya.”
“Alex, alex ternyata tidak mencintaiku ai.” Satu tetes lolos dari pelupuk mata.
“Dia, dia tidak mencintaiku ai. Dia hanya memanfaatkanku hanya untuk membuatmu menderita hiks hiks.” Natasya tergugu ketika kembali mengingat pernikahannya dengan Alex yang hanya bertahan selama lima bulan 20 hari.
Dengan terus tergugu, Natasya terus menceritakan kisah pilu rumah tangganya. Natasya baru mengetahui sehari setelah menikah bahwa Alex hanya memanfaatkannya.
Apalagi seminggu kemudian, Alex menikah lagi dengan kekasihnya. Faishal yang mendengarnya juga ikut terenyuh.
Andai saja, andai saja Faishal lebih dulu tau kehidupan rumah tangga Natasya sebelum bertemu Syeila, mungkihkaah……
“Setelah aku cerai dengan Alex, sebenarnya aku ingin sekali kembali kesini Ai. Menemuimu. Tapi kamu tau, semenjak Alex mengajak pindah, semua aset bokap gue disini di jual. Dan sehari setelah perceraianku, entah bagaimana, usaha bokap gue satu satunya di sana krisis. Kami tidak punya apa apa lagi, sehingga kami memulai semuanya lagi dari nol,” lanjut Natasya menceritakan kisah pilu rumah tangganya.
Faishal diam , masih menyimak kelanjutan cerita Natasya, “Dan kamu tau Ai, kamu tau hiks hiks. Tiga bulan kemudian, usaha bokap gue sudah mulai merangkak, di saat itu juga gue baru tau hiks kalau di dalam perut gue ada nyawa lain yang berumur empat bulan hiks hiks.”
Dengan terus bercerita, Natasya sesekali menyeka air matanya yang tumpah ruah dengan tisu.” Di saat itu bokap gue bahagia Ai. Bokap gue berusaha menghubungi Alex memberitahukan kalau gue tengah mengandung anaknya Berharap kalau gue kembali lagi ke Alex. Tapi hiks hiks, tapi belum sampai bokap gue menyampaikan niatnya, bokap gue tertampar fakta bahwa kehidupan pernikahan anaknya jauh dari kata bahagia hiks.”
“Bokap gue tau kalau selama selama ini gue di madu hiks. Apalagi bukan sambutan hangat yang diterima bokap gue hiks, tetapi kata kasar yang keluar dari mulut istri mudanya Alex hiks hiks. Sampai hiks sampai sampai bokap gue terkena serangan jantung hiks hiks.” Pecah sudah tangis Natasya mengingat kisah pilunya sampai mengakibatkan bokapnya meninggal.
Faishal yang tidak tega, akhirnya merengkuh Natasya ke dalam pelukannya. Hati Faishal terenyuh mendengar penuturan sahabat sekaligus cinta pertamanya. Faishal bahkan kelu untuk bersuara.
__ADS_1
Faishal hanya terus menepuk punggung Natasya yang bergetar hebat.
Disisi lain, tanpa mereka berdua sadari, Naura mendengar semua penuturan mereka.
Walaupun masih kecil dan masih jauh dari kata paham apa yang bicarakan Natasya sama Faishal, Naura cukup pandai untuk mengetahui bahwa Mamanya sedang dalam konsisi tidak baik baik saja.
“Mama,” cicit Naura dengan mata berkaca kaca melihat Mamanya menangis tergugu
“Sa sayang.” Natasya tercekat melihat Naura sudah ada di sampingnya. Natasya menjauh dari rengkuhan Faishal
“Mama jangan nangis lagi. Kita kan sudah ketemu papa.”
Dengan membelai wajah polos putrinya, Natasya berucap, “Iya sayang. Mama tidak akan nangis lagi.”
Dan terdengar seruan MC acara reuni bahwa reuni akan segera dimulai. “Ai, kamu bersihkan dulu wajahmu. Biar Naura sama aku dulu. Acara juga sudah mulai.” Natasya mengangguk.
Siang sampai sore itu Faishal mengikuti acara reuni dengan pikiran yang kalut gundah gelana memikirkan Natasya. Ya saat mendengar cerita Natasya, Faishal sangat merasa bersalah kepada Natasya.
Sampai acara selesai pun Faishal masih kalut, tidak menyadari ada yang menarik ujung jasnya, “Papa, papa.”
“Papa, ayo pulang,” rengek Naura. Meski Natasya sudah mengatakan ke Naura kalau tidak bisa pulang bareng Faishal, Naura terus merengek, sampai akhirnya Faishal mengalah. Dan mereka pun memesan taxi.
Diperjalanan menuju rumah Natasya, suasana sangat hening. Naura pun juga tertidur akibat kelelahan di pangkuan Faishal. “Maaf,” seru Natasya.
“Hmmm.” Faishal hanya berdehem.
“Maaf, karena Naura memanggilmu papa, Ai.” Faishal teringat kembali, “Bisa kamu ceritakan kenapa dia memanggilku papa?”
Natasya tertunduk malu mendengar pertanyaan Faishal, “Maaf Ai. Ak aku terlalu PD kalau kamu masih mencintaiku dan akan menungguku. Ketika itu Naura menemukan fotomu, dan bertanya apakah kamu papanya. Karena aku bingung, akhirnya aku menjawab Iya Ai. Maaf.”
Faishal terdiam cukup lama, sebelum bersuara, “Aku berharap kamu memberitahukan yang sebenarnya kepada putrimu.” Hanya itu yang bisa Faishal ucapkan
“Maaf.” Kembali suasana hening sampai di rumah Natasya.
“Makasih Ai, sudah mau anter.” Natasya mengambil Naura dari pangkuan Faishal. Baru turun dari mobil, Naura terbangun, “Papa.” Papa lah yang pertama kali di cari Naura
__ADS_1
“Sudah Ai, kamu pulang saja,” seru Natasya yang seakan tau kalau Faishal akan turun, mengingat ini sudah jam setengah tujuh.
Faishal mengangguk dan meminta sopir taxi untuk jalan, “Huwaaa papa papa.” Pekik Nuara ketika tersadar sepenuhnya bahwa Faishal akan pergi. Da terus meronta minta turun dari gendongan Natasya. Natasya terlihat kewalahan dengan Naurra yang terus meronta.
Faishal yang melihat itu lagi lagi tidak tega, akhirnya Faishal turun membayar taxi tersebut dan segera turun, “Heiii sayang.” Faishal mengambil alih Naura.
“Ai, kamu nggak pulang?”
“Nggak papa, aku temenin dulu putrimu.” Naura terdiam dan mengeratkan pelukannya di leher Faishal.
Akhirnya Natasya membawa Faishal masuk ke rumahnya. Lagi lagi, Naura rewel untuk dimandikan. Hanya mau dimandikan oleh Faishal. Dan Faishal pun memandikan Naura.
Malam itu Faishal menghabiskan waktunya dengan Naura dan Natasya sampai ketiduran di kamar Naura. Dengan Natasya yang tertidur di sofa yang ada di kamar tersebut.
Natasya terbangun karena kehausan, “Astaga, sudah jam setengah sebelas malam.” Natasya yang menyadari Faishal ketiduran segera membangunkan Faishal.
Faishal juga kaget bisa sampai tertidur, segera Faishal mencari HPnya. “Oh shitt, HP gue mati.”
“Ada apa Ai?” tanya Natasya yang melihat Faishal gelisah.
“HP gue mati, gue nggak bawa charge juga. Padahal gue mau minta jemput David. Apa boleh pakai telepon rumahmu?” jelas Faishal.
“Boleh, kamu juga boleh pakai HPku.”
“Tidak perlu, biar aku pakai telepon rumahmu aja.”
Dan begitulah, akhirnya Faishal menunggu David menjemputnya.
Flashback end
.
.
.
__ADS_1
TBC