
Setelah beberapa saat berpikir, Cici kembali bersuara, “Apa nggak aneh ya?”
“Apanya yang aneh Ci?”
“Ya, panggilannya lah. Masak Om suami, itukan masih sama saja sih Syei.”
“Maksutnya?”
“Ya ampun, maksutnya sama saja loe manggil suami loe Om Syeila.”
Cici menggelengkan kepala nya, dia sudah bingung harus bilang kayak apa. Coba deh bayangkan, masak suami dipanggil Om, kayak stok panggilan romantis nggak ada aja.
Cici kembali bersuara, “Dengerin gue deh Syei, kalau loe tetap manggil suami loe dengan sebutan Om Om, anggapan orang, loe itu keponakannya bukan istrinya. Nah ini nih malah mempermudah pelakor masuk, secara nggak langsung dengan loe manggil suami loe dengan sebutan Om, sama aja loe nggak menganggap dia suami loe.”
Syeila terkesiap mendengar ucapan sahabatnya Cici, “Benarkah secara nggak langsung Syeila tidak menganggapnya sebagai suami, Syeila kan nggak bermaksud kayak gitu.”
Belum sempat Syeila membalas, sahabatnya kembali bersuara, “Sekarang coba deh kalau posisinya dibalik. Loe sebagai istri tetapi dipanggil tante. Loe mau nggak dipanggil seperti itu oleh suami loe sendiri?”
Syeila mendengus mendengar ucapan sahabatnya, kemudian berucap, “Ihh Cici, Syeila nggak mau lah dipanggil tante.”
“Nah loe aja nggak mau, bagaimana dengan suami loe? Pasti dia juga nggak mau Syei.”
Mendengar itu, Syeila sudah mulai faham dan kembali mencerna semua ucapan sahabatnya Cici, kemudian bersuara, “Iya, Syeila tau Syeila tidak seharusnya memanggil suami Syeila dengan sebutan Om. Nanti Syeilaganti kok Ci.”
Cici senang mendengar ucapan sahabatnya, namun itu tidak bertahan lama ketika Syeila kembali bersuara, “Terus Om Fai Syeila panggil apa ya Ci, Syeila bingung ih.”
Cici menepuk jidat sebelum berucap, “Kan banyak sih Syei panggilan buat suami, loe tinggal milih noh mau manggil pakai yang mana.”
Syeila hanya manggut manggutkan kepalanya mendengar ucapan Cici, “Iya Ci, Syeila pikir pikir dulu. Terimaksaih banyak ya Cici zheyeng.”
Ya, Syeila merasa beruntung mempunyai sahabat seperti Cici. Walaupun usianya masih remaja tetapi pemikiran Cici sudah dewasa. Cici juga yang selalu member masukan dan saran kepada Syeila ketika Syeila bersalah ataupun mempunyai masalah.
“Yasudah, sekarang kita berangkat ya. Jangan lupa suami dikabarin,” ucap Cici dan segera melajukan mobilnya keluar dari parkiran sekolah.
“Oh iya, hampir aja Syeila lupa.”
Syeila mengabari Om Fai nya kalau sekolah dipulangkan lebih awal dan sekarang mau jalan jalan dulu bareng Cici.
“Oh iya Ci, ini kita nyarinya kemana?”
“Ke Mall Z aja gimana? kan disana ada gra*ed? Sekalian jalan jalan ya?”
“Oke deh, Syeila ngikut aja.”
Setelahnya mereka terlibat obrolah ringan selama perjalanan. Tiga pulih menit sampailah mereka di Mall.
Sebelumnya, mereka ke toko baju untuk membeli baju sebagai pengganti seragamnya.Karena tidak mau dianggap membolos, berhubung sekarang masih jam jamnya sekolah.
“Syei, kita nyari novel ya? Baru nanti keliling,” tanya Cici setelah berganti pakaian.
“Okee.”
Mereka berjalan ke lantai 3 yang kebetulan gra*ed terletak dilantai tersebut.
__ADS_1
Sesampainya disana, Cici menyarankan sahabatnya untuk membeli novel, “Syei, saran gue loe beli novel deh, loe bisa milih milih sesuai selera loe novelnya.”
“Lihat lihat dulu aja Ci.”
Akhirnya dua anak manusia tersebut berkeliling melihat lihat novel yang berjejer rapi di rak penjualan.
***
Di Perusahaan Amar.Corp, terlihat Faishal dan sahabatnya berjalan keluar gedung.
“Oh iya, apakah perwakilan dari perusahaan Danadyaksa sudah datang?” tanya Faishal ketika mereka sudah di mobil.
“Belum Tuan, kata asistennya kurang lebih tiga puluh menit lagi beliau sampainya,” jawab David sopan.
Ketika dalam kondisi kerja seperti ini, walaupun sedang berduapun, David dan Faishal tetap professional layaknya atasan dan bawahan.
“Oh Baik.”
Tanpa banyak bicara, David mengemudikan mobilnya menuju tempat pertemuan. Pada saat itu jalanan sungguh padat sehingga mereka sedikit terlambat untuk sampai ditempat pertemuan. Segera Faishal turun dan diikuti oleh asistennya.
Sesampainya diruangan ternyata mereka sudah disambut oleh asisten Danadyaksa.
“Silahkan masuk Pak, Tuan Bima sudah menunggu didalam,” ucap asisten Danadyaksa mempersilahkan masuk Faishal dan David.
Faishal hanya mengangguk sekilas, kemudian dia masuk keruangan diikuti oleh David dan asisten Danadyaksa.
“Maafkan sayaTuan Bima, saya terlambat,” ucap Faishal sembari mendudukkan dirinya di kursi yang disediakan diikuti oleh para asisten.
“Tidak apa apa Tuan Faishal, mari kita langsung saja membahas proyek kerjasama ini.”
Rapat yang biasanya selesai satu jam, kali ini harus sampai dua setengah jam. Dan sebentar lagi waktunya makan siang.
Awalnya Faishal ditawari untuk makan siang bersama, tetapi karena ada janji lain, Faishal menolak tawaran makan bersama secara halus.
Segera David dan Faishal menuju ke salah satu restoran dekat Mall Z. Ya, Faishal punya temu janji dengan teman temannya di restoran dekat Mall Z.
Untung tempat pertemuan kerja sama tadi tidak begitu jauh dari Mall Z, sehingga hanya membutuhkan waktu dua belas menit saja mereka sudah sampai di restoran tersebut.
Sebelum keluar mobil, Faishal bertanya,“Gimana bro?Mereka udah pada datang kan?”
“Baru Marcel sama Donita.”
“Donita tahun ini terpilih sebagai panitia acaranya," lanjut David menjelaskan .
“Hm.”
"Oh iya, entar loe jemput bini loe ya?"
"Tidak kok, dia udah pulang dan izin mau jalan sama sahabatnya."
David hanya manggut manggut mendengarkan.
Setelahnya, mereka segera keluar dari mobil dan masuk restoran. Langsung saja mereka menuju meja yang sudah dipesan oleh temannya.
__ADS_1
Memang benar, sesuai yang dikatakan David, baru Marcel dan Donita saja yang datang. Anak anak yang lain masih dalam perjalanan.
Kemudian, mereka terlibat obrolan ringan sambil menunggu temannya dan makanannya datang. Dan sesekali terlihat Donita melirik ke arah Faishal.
“Oh iya gais, gue ke toilet bentar ya,” izin David, kemudian berlalu ke toilet.
Belum lama, David ke toilet, Marcel menerima telepon yang lumayan penting dari salah satu rekan bisnisnya. Kemudian Marcel izin kepada Faishal dan Donita.
Sekarang tinggalah Donita dan Faishal. Faishal kembali menyibukkan dirinya dengan hape sedangkan Donita merasa gugup hanya berdua saja dengan Faishal. Maklum, Donita salah satu penggemar Faishal dari waktu kuliah dulu sampai sekarang.
Jadi taulah ya, bagaimana rasanya jadi Donita. Jantung mah udah jedag jedug mulu dari awal, apalagi sekarang hanya berdua. Wuuuuh jangan ditanya, keringet dingin udah kemana mana.
“Em, Fai,” ucap Donita pelan.
“Ya,”sahut Faishal melirik sekilas kemudian fokus kembali dengan hapenya.
“Bagaimana kabarmu?”
Kening Faishal mengkerut, aneh pikirnya. Padahal diawal datang kan udah ngomong kabar. Namun, tak urung tetap menjawab, “Baik.”
“Eooh em eooh em…”
Jelas sekali, Faishal dapat mengangkap kegugupan Donita. Dan Faishal mencoba mencairkan suasananya, karena bagaimanapun di next event, Donita akan sering nimbrung.
“Sudah, loe nggak usah gugup, santai aja. Emm bagaimana persiapan reuni angkatannya?”
Ya, next event yang dimaksut adalah reuni angkatan yang diadakan setiap tiga tahun sekali. Tentunya, pelaksana event adalah Faishal cs dan akan meminta beberapa teman angkatan yang lain untuk menjadi panitia yang setiap tahunnya selalu berganti.
Setelah Faishal membuka suara, akhirnya sudah tidak ada kecanggungan lagi. Faishal dan Donita mengobrol hangat seputar event reuni mendatang.
***
Disisi lain, Syeila dan Cici sudah selesai membeli novel dan berkeliling Mall.
“Syei, udah waktunya makan siang nih. Yuk nyari makan.”
“Oke,” jawab Syeila langsung menuju ke foodcourt yang ada di Mall.
“Eits, Syei tunggu,” cegah Cici
“Kita makan di restoran depan Mall yuk, katanya restoran tersebut temanya romantis banget dah. Banyak pasangan yang datang kerestoran itu, yuk kesitu. Gue penasaran banget dalamnya.”
Syeila yang mendengar permintaan sahabatnya tersebut berpikir sejenak, kemudian bersuara, “Yaelah Ci, jangan lah. Cici nggak malu apa? Pasti kebanyakan yang dateng adalah pasangan Ci.”
Karena mindset Syeila sudah terprogram kalau pengunjung restoran tersebut kebanyakan adalah pasangan.
“Ish Sye, ayolah. Gue penasaran nih.” Cici memohon dan merengek disertai tampilan melasnya.
.
.
.
__ADS_1
TBC