Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 115


__ADS_3

Senin pagi di kediaman Amarkhan terlihat cukup bising. Ya siapa lagi yang membuat kebisingan kalau bukan Syeila.


Yap, betul sekalih. Pagi ini Syeila cukup bangun lebih awal. Kemudian Syeila membangunkan suaminya dan setelahnya Syeila  segera bergegas ke dapur.


Bukan masak ya. Tetapi Syeila sibuk mengambil beberapa peralatan masak dan bahan bahan masak yang di perlukan untuk di bawa kesekolah.


Ya, setelah kemarin lusa Syeila melewati praktek olahraga, hari ini Syeila ada praktek memasak berkelompok. Disekolah sudah disediakan peralatan sih, tapi tidak lengkap.


Disisi lain Syeila yang sibuk mencari peralatan dan menyiapkan bahan bahan, Faishal sudah terlihat segar dan rapi. Segera Faishal menyambar jaz, belum sempat Faishal memakainya, terdengar nada dering gawainya menandakan ada yang memanggil.


Faishal menyernyit melihat nama pemanggilnya sebelum akhirnya menjawab. “Halo Pak Sanusi.”


“Halo Nak Fai. Hari ini ikut kunjungan di SMA Antariksa?” ucap Pak Sanusi dari sebrang.


“Oh, kunjungannya hari ini ya Pak? Baik Pak, saya ikut. Nanti jam sembilan saya sampai di sana.”


“Baik Nak. Kalau gitu bapak tutup ya.”


“Iya Pak.”


Kalau ada yang batin Faishal akan berkunjung kesekolah Syeila. Yap, betul sekalih. Sebenarnya Daddy Abian merupakan donator terbesar di sekolah Syeila. Dan Pak Sanusi merupakan pemilik sekolahan tersebut.


Dan memangg udah kegiatan rutin setiap setahun sekali Pemilik sekolah dan Donatur terbesar akan melakukan kunjungan di sekolah. Nah untuk tahun ini Daddy Abian udah melimpahkan tanggung jawabnya kepada Faishal. Udah skip ya .


Beberapa saat setelah Faishal selesai dengan panggilannya, terlihat Syeila masuk. “Sayang, kamu udah mandi?” Syeila menuju kearah Faishal yang sedang merapikan jaznya.


“Iya Yang. Kamu juga buruan mandi gih. Udah jam enam loh.”


“Hmmm iya bentar.” Syeila membantu Faishal merapikan pakaiannya dan kembali berucap, “Oh ya, Maaf ya Yang. Syeila nggak sempat nyiapin bajumu.”


“Nggak papa sayang. Kamu mandi gih. Aku mau berangkat.” Faishal melabuhkan kecupan dibibir mungil Syeila.

__ADS_1


Syeila mengangguk mendengar ucapan Faishal. “Nanti Syeila ke kantormu ya Yang.”


“Ngapain Yang.” Kening Faishal berkerut karena tidak biasanya Syeila kekantor kalau tidak ada perlu.


“Ih kok bilang ngapain sih? Masa Syeila nggak boleh datang ke kantormu,” sahut Syeila dengan bibir mengerucut.


Faishal tergelak  melihat bibir Syeila mengerucut gemas. Cup, satu kecupan dilabuhkan dibibir mungil Syeila. “Iya iya kamu boleh ke kantorku Yang. Apalagi tiap hari. Aku malah senang.”


Syeila tersenyum dan Faishal kembali bersuara,” Sudah ya, aku berangkat Ini uang sakumu.” Syeila menerima uang saku dari Faishal kemudian mencium punggung tangan Faishal.


Faishal juga memberikan kecupan di kening dan bibir mungil Syeila sebelum akhirnya berlalu keluar kamar.


Syeila bergegas mandi, mengingat sudah jam enam lebih. Setelah mandi dan selesai bersiap, Syeila segera turun kebawah. Seperti beberapa hari terakhir dibawah sudah ada Daddy Abian Mommy Meri dan tidak ketinggalan sudah ada Rendy yang duduk manis di ruang makan.


Setelah sarapan dan berpamitan, sekarang Rendi yada di dapur membantu Syeila membawa peralatan dan bahannya. “Gimana Syei. Ini udah semua peralatan dan bahannya?” tanya Rendy yang bersiap membawa peralatan dan bahan milik Syeila.


“Iya Ren Ren. Ayok kamu bawa yang itu ya. Ini biar Syeila yang bawa.” Rendy mengangguk sembari membawa peralatan dan bahan yang ditunjuk oleh Syeila.


Sesampainya di sekolah, Rendy dan Syeila membawa peralatan dan bahannya ke ruangan yang memang akan digunakan untuk praktek memasak. Tidak lama guru yang menilai datang.


Sang guru segera menyuruh muridnya bergabung dengan kelompok masing masing sebelum mulai masak. Kebetulan Syeila dan sahabatnya berada dalam satu kelompok.


Guru memberikan waktu satu setengah jam untuk memasak. “Anak anak, praktek kali ini ibuk kasih waktu satu setengah jam untuk kalian masak dan menghidangkan masakan kalian. Jadi jam sembilan kalian harus sudah selesai. Paham?”


“Paham Bu.”


“Baik, waktu memasak dimulai dari sekarang.” Mendengar aba aba dari sang guru, Syeila dan teman temanya segera berkutat dengan peralatan dan bahan bahannnya.


Satu setengah jam akhirnya terlewat. Semua kelompok sudah selesai dan kelompok Syeila kebetulan keluar yang paling akhir.


“‘Wah kamu hebat juga ya Syei masaknya. Sup igamu dapat jempol loh tadi,” celetuk Mia sembari berjalan menuju kelas. Ya sekarang Syeila dan sahabatnya sedang berjalan di sepanjang koridor sekolah menuju kelas.

__ADS_1


“Kalau masalah masak mah Syeila emang jago,” seru Cici.


“Hehe, pudingmu tadi juga enak kok,” sahut Syeila. “Eh, kalian denger nggak?” lanjut Syeila yang sekarang sudah berada dekat dengan kelasnya.


“Wah kayaknya lagi nyanyi nyanyi tuh dikelas,” sahut Cici.


“Wahhh seru nih. Yuuuuk kita ikut.” Mendadak Syeila heboh sendiri dan bergegas menuju kelas. Dikelas sudah gaduh ada yang bernyanyi ada yang menggendang pakai gallon dan bangku.


Tapi ketika Syeila ingin bergabung sudah kedahuluan Rendy, Rendy ingin bersuara menegur teman temannya,” Hei kal…” Suara Rendy tertahan oleh bekapan tangan Syeila.


“Suut, Ren Ren diem aja. Dedek bayi sama emaknya juga pengen nyanyi inih. Janga ditegur.” Tanpa mempedulikan balasan Rendy, Syeila segera bergabung.


Kebetulan lagunya sudah selesai. Tiba tiba ada yang nyeletuk paling pojok, “KALA KUPANDANG KERLIP BINTANG NUN JAUH DISANA.”


Dan tak tau malunya Syeila malah menyahut, “YUHUUUU, SAYUP KUDENGAR MELODI CINTA YANG MENGGEMA.” Dan tak lupa juga diiringi gendangan oleh teman temannya secara serampangan menambah kehebohan dikelas tersebut.


Cici yang tak ingin ketinggalan pun ikut bergabung bersama Syeila dan yang lainnya.  “TERASA KEMBALI GELORA JIWA MUDAKU.”


Hanya Mia Bobby Rendy yang masih belum bergabung. Mia Bobby Rendy hanya melongo terkejut melihat tingkah Syeila yang bisa dikatakan sangat langka.


Tapi itu hanya berlaku sebentar, karena sekarang tatapan mereka bertiga berubah menjadi horror ketika melihat ternyata ada orang yang berada didepan kelas mereka dengan rahang mengeras menatap setiap pergerakan Syeila yang beuuuuh.


Lihatlah. Sekarang Syeila malah asik patah patah sambil terus bernyanyi seperti yang lainnya. “KARENA TERSENTUH ALUNAN LAGU SEMERDU KOPI DANGDUT.”


.


.


.


TBC

__ADS_1


BISA YUK LIKE 400 DENGAN 50 KOMENTAR


__ADS_2