
“Sudah kok. Banyak alumni yang konfirmasi bisa ikut. Emmm tapi …..” Darwin terlihat ragu untuk menyampaikannya.
“Tapi apa? Apa ada kendala?”
“Nggak kok, tapi Dia juga ikut reuni.”
Faishal menegang dan mendadak bibirnya kelu untuk berucap. Mendadak otaknya blank dan hanya penuh dengan satu nama,
NATASYA.
Ya, dulu, Natasya merupakan satu satunya perempuan yang mampu menggetarkan hatinya. Dan Natasya juga merupakan satu satunya sahabat wanita yang Faishal miliki. Ahh, lebih tepatnya Faishal, Natasya, David, Darwin dan Marcel adalah sahabat.
Faishal dan Natasya sudah kenal sejak SMP. Dan sejak SMP, Faishal dan Natasya sering melakukan aktivitasnya bersama sama.
Jadi sudah dipastikan hampir setiap waktuFaishal dan Natasya selalu bersama sama, bahkan intensitas komunikasi Faishal dengan sahabat yang lain masih kalah intens dengan Natasya.
Ingat, tapi itu dulu ya. Dulu banget sebelum Natasya menolak Faishal. Dan beberapa hari setelahnya terlihat Natasya berjalan dengan rival Faishal.
Tau kan ya, sakitnya kek gimana. Sahabat sendiri menolak cintanya dan malah jadian sama rival sampe menikah.
Terlebih saat itu hanya Natasya saja wanita yang mengisi hari harinya. Apalagi Faishal sangat sulit untuk dekatdengan perempuan. Kemudian setelah itu, Natasya mulai menjauh dari sahabat sahabatnya.
Ohhh sadnya Faishal!
David yang melihat Faishal melamun, menepuk punggung Faishal dan berucap, “Inget, Lo sudah menikah. Dan Dia juga sudah menikah.”
Faishal tersadar dari lamunannya, dan tersentak mendengar penuturan sahabatnya. Hmm kalau dipikir pikir memang benar yang di ucapkan sahabatnya itu. Dia pastinya juga sudah bahagia dengan pasangannnya.
Ahhh, Faishal meraup wajahnya kasar sebelum bersuara, “Iya, bener yang Lo katakanan.”
__ADS_1
“Sudah gih, Lo harus move on dari Dia. Perasaan Lo nggak pacaran deh sama dia. Tapi kenapa susah bener move on nya,” seru Darwin.
“Iya gih move on. Toh masih keset dan polos istri Lo kemana mana heheheh,” timpal Marcel di akhiri kekehan oleh dirinya dan yang lainnya.
Faishal hanya memberikan tatapan tajam kepada mereka. David yang sadar pun segera bersuara, “Ehem. Oh ya, kita lanjut aja pembahasan reuni. Ini nih ada yang perlu kita bahas terkait perlengkapan dan peralatan di acara nanti.”
Akhirnya mereka melanjutan pembahasan terkait reuni.
***
Sedangkan disisi lain, sesampainya Syeila di ruangan segera Syeila berseru, “Hello everybody!!!”
“Ahhhhh Syeila akhirnya loe masuk juga. Kangen tau,” seru Cici sembari berlari memeluk Syeila yang berdiri di depan pintu.
Syeila hanya bisa terkekeh memamerkan gigi putihnya. Dan yang lain juga senang melihat Syeila masuk, kecuali satu orang yang terlihat murung. Dan Syeila tau orang tersebut, “Mia kenapa kok kelihatan murung lesu gitu? Mia nggak suka ya kalau Syeila masuk?”
“Ehh, nggak papa kok Syei. Maaf ya kalau gue kelihatan nggak suka atau murung. Gue seneng kok kalau Lo udah masuk lagi.” Mia memamerkan gigi putihnya dan gantian memeluk Syeila.
Cici yang mendengar celotehan sahabatnya segera berceletuk, “Sakit itu memang nggak enak oncom.”
Syeila meerenggut kesal ,“Ih, Cici kok bilang Syeila oncom sih?”
“Hahahha sory Beb.” Sembari menunjukkan jarii telunjuk dan jari tengahnya.
“Sudah sudah. Kalian kesini. Ayo kita kerjakan tugasnya. Kurang finishing aja ini laporannnya.” Rendy menghentikan aktivitas ramah tamah tiga ciwi ciwi tersebut.
“Okey,” sahut mereka serempak.
Syeila dan teman teman segera mendiskusikan terkait finishing laporannya. Dan memang tinggal finishing saja, jadi mereka tidak membutuhkan waktu lama.
__ADS_1
Cukup empat puluh menit dengan di temani es krim, akhirnya mereka menyelesaikan laporannya.
“Wuhuuuu akhirnya selesai,” pekik Cici
“Iya akhirnya selesai juga. Pas banget ini juga sudah waktunya makan siang,” timpal Bobby.
“Yasudah yuk, kita ke ruangan CEO. Kita pamitan dan sekalian makan siang sama mereka. Kemarin gue sudah laporan sama asisten beliau,” papar Rendy
“Okey.”
Kemudian mereka bergegas menuju ruangan CEO. Sesampainya di sana, ternyata masih ada sahabat sahabat Faishal.
Rendy selaku ketua dari kelompoknya, mengucapkan terimakasih kepada Faishal karena di izinkan magang di perusahaannya. Tak lupa Rendy juga mengajak Faishal dan sahabatnya makan siang bersama.
Tentu hal tersebut di sambut baik oleh Faishal dan sahabat sahabatnya, kecuali satu orang.
“Emm sory, kayaknya gue nggak bisa deh,” celetuk Marcel ragu
“Lah, tumben Lo nggak mau? Bukannya tadi Lo ngajak kita makan siang ya?,” papar Faishal dan di sahabat angguki oleh yang lain.
“Sory, gue lupa ternyata ada janjo. Lain kali deh gue ikut. Gue duluan.” Tanpa menunggu balasan, Marcel segera berlalu dari ruangan tersebut. Dan tentunya hal tersebut menimbulkan tanda tanya dari sahabat yang lain.
Hening beberapa saat sebelum Faishal kembali bersuara, “Yasudah, kalau begitu ayo kita makan siang.” Akhirnya mereka makan siang di salah satu restoran yang sudah di booking oleh Syeila dan teman teman.
.
.
.
__ADS_1
TBC