Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 90


__ADS_3

Hueek hueeek,


Ke esokan harinya, Faishal terbangun karena mendengar suara orang yang muntah di kamar mandi.


“Astaga sayang.” Secepat kilat Faishal berlari ke kamar mandi.


Huek, huek. Hanya keluar cairan bening saja.


“Sayang.” Faishal membantu Syeila dengan mengurut tengkuknya.


Huek, huek. Syeila terus berusaha mengeluarkan isi perutnya yang terus bergejolak, meskipun hanya cairan bening yang keluar.


Setelah puas memuntahkan semuanya, Syeila menyandarkan dirinya di dada bidang suaminya. “Euuungh, nggak enak.” Keluh Syeila dengan mata berkaca kaca.


Faishal yang melihat Syeila berkaca kaca dengan wajah yang sedikit pucat segera merengkuh tubuhnya membawa ke tempat tidur.


“Sayang, gimana? Ada yang sakit kah? Aku panggil dokter ya?” Faishal khawatir dengan kondisi Syeila.


Syeila menggelengkan kepalanya, “Peluk dan elus ini aja yang. Nggak mau di panggil dokter.” Dengan menunjuk perutnya.


“Tapi Yang….”


“Nggak mau Yang, nggak mau. Syeila ingin dipeluk dan di elus perutnya.” Syeila keras kepala.


Mau tidak mau, Faishal ikut berbaring dan mulai memeluk Syeila dan mengelus perutnya. “Baiklah, kamu tidur lagi aja. Ini masih jam setengah enam pagi. Nanti aku ijinkan sekolahmu.”


“Hemm.” Syeila hanya berdehem sambil menikmati elusan dari tangan besar suaminya. Sedangkan Faishal terus mengelus perut Syeila sampai Syeila terlelap kembali.


Setelah memastikan Syeila terlelap, Faishal bergegas cuci muka, kemudian bersih bersih apartemen kemudian membuatkan bubur untuk biji sawinya. Dan semua itu hanya memerlukan waktu dua jam saja.


Sehingga jam delapan, kembali Faishal masuk ke kamar mencoba membangunkan Syeila, “Sayang, bangun.”


“Eungggh.” Syeila melenguh mencoba membuka matanya


“Ayo makan dulu sayang.” Faishal yang melihat Syeila masih sedikit pucat segera membantu Syeila bangun.


“Aku suapin ya.” Syeila hanya mengangguk.


Aaaaaaa, ketika sendok di sodorkan di depan mulut Syeila, Syeila mengernyit, “Kok bubur Yang?”


“Iya, kamu kan sedang nggak enak badan Yang. Makanya aku buatin bubur.”

__ADS_1


Karena Syeila sangat males dan mager, akhirnya Syeila hanya menuruti di suapi oleh suaminya dengan bubur.


Faishal sangat telaten menyuapi biji sawinya, terlihat  sesekali Faishal membersihkan sisa sisa bubur yang menempel di sekitar bibir Syeila.


Selesai makan dengan buburnya, Faishal menyodorkan minuman teh hangat. “Bagaimana sayang? Masih ada yang sakit?”


Syeila menggeleng, “Enggak. Tapi Syeila males kemana mana Yang. Syeila ingin seharian di ranjang aja.”


“Tapi kamu beneran udah nggak sakit Yang? Beneran nggak perlu aku panggilkan dokter?”


“Enggak sayang. Syeila udah nggak papa kok.” Syeila menampilkan senyum terbaiknya.


“Okelah Yang. Kamu tiduran aja. Aku akan kerja dari sini.” Sebelum Faishal melangkah dari ranjang, tangan Faishal di pegang oleh Syeila.


“Mau kemana?”


“Ke ruang kerja. Aku harus rapat Yang setengah jam lagi.”


Bibir Syeila mengerucut, “Disini saja ya? Temani Syeila disini ya. Kerjanya dari sini aja ya? Kan nanti kamu mau reuni.”


Ya, Syeila sudah tau kalau suaminya hari ini reuni. Dan Syeila memutuskan tidak ikut. Karena hanya beberapa teman Faishal saja yang mengetahui kalau Syeila istri Faishal.


“Baiklah sayang, aku akan tetap di kamar.” Syeila yang mendengarnya merasa senang, dan Syeila bergegas turun dari ranjang.


Sebelum Syeila turun, Faishal berseru, “Mau kemana?”


“Mau mandi. Biar nggak bau acem di dekatmu Yang.” Syeila nyengir kuda kemudian berlalu ke kamar mandi. Dan Faishal fokus dengan pekerjaannya sebelum meeting dengan karyawannya.


Setengah jam Syeila sudah wangi dan segar. Segera Syeila merangkak ke tempat tidur dimana Faishal berada. Faishal yang tengah bersandar terlihat sedang melakukan rapat.


Syeila merebahkan dirinya di samping Faishal, kemudian pelan pelan meraih tangan Faishal. “Sayaang, tangannya dong, mau Syeila peluk,” bisik Syeila pelan.


Faishal hanya menurut. Karena dia saat ini sibuk memperhatikan proges yang di laporkan oleh bawahannya.


Syeila meraih tangan kiri Faishal dan memegangnya. Syeila membuat pola pola absrak di sepanjang punggung sampai lengan Faishal.


Sampai satu setengah jam kemudian urusan Faishal sudah selesai, tetapi Syeila masih  asyik dengan aktivitasnya yang membuat pola pola abstrak di sepanjang lengan Faishal.


Faishal yang baru sadar kalau biji sawinya sibuk dengan lengannya segera berseru, “Sayang, kamu dari tadi nggak tidur?”


“Syeila nggak ngantuk.” Disertai gelengan oleh Syeila.

__ADS_1


Sembari melirik jam dinding yang terlihat sudah pukul sebelas siang, “Hmmm, Sayang aku harus berangkat ke acara reoni. Beneran kamu nggak ikut?”


“Nggak ah. Syeila di rumah aja. Hari ini Syeila capek dan mager.” Faishal terkekeh mendengar kata capek dan mager. Astaga capek apa Syeilanya. Perasaan dari pagi sama sekali belum keluar kamar.


“Hmm baiklah, aku mau siap siap dulu ya?” Syeila hanya mengangguk. Tidak perlu waktu lama, Faishal sudah siap untuk menuju ke tempat reoni.


Faishal menghampiri Syeila, “Sayang, aku berangkat ya? Kamu juga udah aku pesankan makan siang, kamu tunggu ya.” Syeila mengangguk dan berdehem, “Hmmm.”


“Oh ya, nanti pulang jam berapa Yang?” lanjut Syeila


“Maksimal jam tujuh malam Yang. Nanti kita makan malam bersama ya.” Syeila mengangguk sebagai jawaban.


Cup, Faishal memberikan kecuppan dan lummatan kepada Syeila sebelum benar benar meninggalkan apartemennya.


***


Di tempat reoni, Faishal terlihat sibuk membantu teman temannya mempersiapkan segala sesuatu yang kurang, sampai terdengar suara orang yang menyapanya,


“Ai.” Faishal membeku mendengar panggilan tersebut. Tanpa menolehpun Faishal tau siapa yang memanggilkan.


Perlahan tapi pasti Faishal menoleh kebelakang untuk melihat orang yang memanggilnya.


Deg, hati Faishal berdesir. Akhirnya, setelah lima tahun mereka bertemu kembali. Faishal hanya diam  melihat orang yang ada di depannya.


Tidak ada respon dari Faishal, kembali orang tersebut bersuara dengan mata berkaca kaca, “Ai, maafkan aku. Ada yang harus aku katakan kepadamu. Dan sebelum itu ada yang ingin bertemu denganmu Ai.”


Lagi lagi Faishal hanya diam tidak bersuara, “Ai, bicaralah. Jangan diam seper…” Belum selesai orang tersebut berbicara tiba tiba ada anak kecil yang berlari sembari berseru, “Papaa.”


Grep, anak kecil tersebut memeluk kaki Faishal erat, “Yeee akhilnya Nola beltemu papa. Yeyy yeyy yeyy.”


Faishal lagi lagi terkejut, dilihatnya gadis kecil yang memeluk erat kakinya,


Deg, hati Faishal bagai dihantam palu. Dengan melihat wajah gadis kecil yang memeluk erat kakinya, Faishal sudah tau siapa orang tuanya.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2