
Sudah tiga hari semenjak Syeila dan Faishal menghabiskan waktunya bersama. Dan saat ini Syeila sudah harus terbiasa berangkat tanpa suaminya.
“Sayang,” bisik Faishal didekat telinga Syeila setelah merapikan anak rambut yang nakal.
“Hei sayang bangun. Udah siang.” Lagi, Faishal mencoba membangunkan Syeila. Tak lupa juga menyisipkan kecupan kecupan ringan namun mampu memberikan efek yang luar biasa bagi Syeila.
“Ih Sayang, jangan di telinga dong,” racau Syeila dalam tidurnya.
“Sayang bangun. Udah pagi. Nanti kamu telat loh. Katanya hari ini ada praktek.” Faishal sekali lagi berbisik.
“Euuuuuuuungh.” Syeila melenguh. Syeila masih menyesuaikan dirinya dengan cahaya yang menerpa dan mencoba bersandar.
Syeila menyipit melihat suaminya yang sudah rapi dengan baju kerjanya. “Sayang, kok kamu sudah rapi. Emang jam berapa sekarang?”
“Ini sudah jam enam pagi sayang. Saya juga harus berangkat kerja sekarang.” Faishal mencuri kecupan di bibir mungil Syeila yang mengerucut lucu.
Syeila menghela napas mengetahui sudah dua hari ini Faishal selalu berangkat lebih pagi darinya.
Syeila bergelayut manja dilengan Faishal sembari berucap, “Tapi pulangmu nggak larut kayak kemarin kan Yang?” Ya, kemarin Faishal pulang sangat larut. Faishal kemarin masuk rumah pukul 00.00 WIB.
Faishal Kembali duduk di pinggiran kasur samping Syeila. Menatap Syela intens dengan tangan meremas halus bahu Syeila, “Maaf Sayang. Aku ada kunjungan beberapa proyek di luar kota.”
Syeila menunduk sedih,” Tapi jangan malem kayak kemarin?”
__ADS_1
Faishal menghela napas, “Aku usahakan. Tapi, besok kamu bisa mengeksploitasi seluruh waktuku Yang. Mumpung minggu.”
Syeila menipiskan senyumnya dengan tangan menggelayut manja di leher Faishal, “Bener?”
Faishal tersenyum melihat Syeila Kembali moodnya, “Iya sayang.”
Cup, dikecup lagi bibir Syeila sebelum Kembali bersuara, “Sudah gih. Kamu mandi. Pasti sebentar lagi Rendy sampai sini.”
Syeila mengangguk mengiyakan.
“Aku berangkat dulu ya.” Lagi lagi Syeila mengangguk dan mengambil tangan Faishal untuk dicium, pun Faishal yang tidak lupa memberi kecupan di kening Syeila sebelum berangkat.
Syeila mendesah setelah Faishal keluar dari kamar. Mencoba menyemangati dirinya sendiri, sambil bergumam, “Hahhhhh, nggak papa. Cuma sebulan Syei. Nanti kalo urusan kantor beres, pasti bisa bareng bareng lagi. Sekarang suamimu sedang banyak proyek jadi kamu harus memberi semangat jangan mengeluh,”
***
Selesai dengan urusannya dan keperluannya, Syeila segera turun kebawah. Sampainya di bawah ternyata semua sudah berkumpul, dan tinggal menunggu dirinya.
“Maaf Mom Dad, Syeila telat.”
“Nggak papa sayang. Duduklah. Ayo kita segera sarapan. Ini Rendy sudah datang loh,” sahut Mommy Meri sembari menipiskan senyumnya, pun Daddy Abian yang juga memberikan senyum hangat kepada Syeila.
Syeila menengok, ahhh ternyata Ren Ren sudah datang. Maklum Rendy hanya menunduk kaku, jadi Syeilanggak begitu memperhatikan. “Pagi Ren Ren.” Kemudian Syeila mengambil tempat.
__ADS_1
“Pagi Syei.” Sedikit kikuk Rendy membalas sapaan Syeiila. Maklumin aja ya. Ini masalahnya Rendy duduk bersebrangan di depan mantan CEO Amar.Corp yang memang sudah diakui bahwa beliau adalah pemimpin besar nan bijaksana. Siapa lagi kalau bukan Daddy Abian.
Setelanya Daddy Abian mempersilahkan semuanya untuk sarapan. Selesai sarapan Syeila dan Rendy segera bergegas berangkat sekolah.
“Oh ya Ren, nanti kita prakteknya basket kan?” tanya Syeila memecah keheningan selama perjalanan.
“Iya Syei. Nanti kamu jangan terlalu maksa ya main basketnya?” Bukan tanpa alasan Rendy bilang seperti itu, karena Syeila memang tipe orang yang totalitas dalam setiap yang dikerjakannya. Ini menurut pandangan Rendy loh ya!
“Hah.” Syeila gagal paham dengan maksut dan tujuan Rendy.
“Kamu kan lagi hamil Syei. Kasian dedek bayinya di perutmu.”
“Tapi kalau Syeila nggak lulus praktek gimana Ren Ren?”
“Hmmmm, kamu mentingin dedek bayi di perutmu apa praktek sih Syei? Aku cuma nggak ingin ada apa apa dengan kandunganmu.”
Mendengar ucapan terakhir Rendy, tangan Syeila otomatis memegang perutnya yang sudah sedikit menonjol, “Ihhhh ya mending dedek bayinya kemana manalah.”
“Nah, makanya dengerin omonganku tadi ya?” Akhirnya, mau nggak mau Syeila pun mengangguk mengiyakan nasihat Rendy.
***
TBC
__ADS_1