
“Sayaaaaang. Surpriseeeeee.” Syeila yang melihat pintu terbuka langsung menoleh dan berteriak nyaring, kemudiang berjalan berhamburan memeluk tubuh suaminya.
Syeila mengalungkan tangannya dileher suaminya, “Sayang. Surprise.” Sekali lagi Syeila berucap dan memberikan kecupan singkat di pipi suaminya. Sedangkan Faishal hanya mengerjapkan matanya mencoba memahami situasi yang terjadi sekarang.
“Kakak cantik,” cicit Naura memanggil Syeila.
Syeila yang masih mengalungkan tangannya dileher Faishal, terkesiap, lupa karena disini ada Naura. “Eh iya, sayang sini deh.” Syeila menarik Faishal yang masih bingung dengan keadaan saat ini. Syeila dan Naura berada dalam satu ruangan. Kapan mereka bertemu dan menjadi akrab?
Terlebih, Faishal sangat takut kalau Naura sampai mengadu ke Syeila terkait Naura yang memanggil dirinya papah. Faishal tidak ingin Syeila sampai mendengar hal tersebut dari mulut orang lain. Yang berakibat salah paham dengan dirinya.
“Oh ya Naura, ini, suami kakak. Em, kamu manggil Om saja, karena nggak cocok kalau di panggil kakak hihihi,” seru Syeila ketika dirinya dan suaminya sudah mendudukkan dirinya di sofa.
__ADS_1
“Iy-Iya Kak.” Naura terlihat sendu dan bibirnya bergetar menahan tangis. Dan Syeila menyadari hal tersebut.
“Hei, kamu kenapa nangis lagi?” tanya Syeila, kemudian membawa Naura kedalam pelukannya. Setau Syeila, pelukan merupakan obat penenang paling ampuh ketika kita sedang rapuh. Syeila mencoba menenangkan Naura denga pelukannya.
“Kangen papah,”cicit Naura pelan, tapi masih terdengar oleh Syeila. Syeilla melepaskan pelukannya, kemudian mengangkup wajah Naura. “Hei kamu kangen papah?” Naura mengangguk. “Tenang yah, suami kakak akan bantuin kamu untuk mencari papah.”
“Iya kan sayang?” lanjut Syeila yang menoleh kepada Faishal. Faishal terkaget kaget, apakah Syeila tau masalah Naura. Namun tak urung Faishal juga menjawab, “Iya sayang.”
Naura yang memang sudah tidak mengharapkan Faishal lagi, akhirnya bisa tersenyum, dan membayaangkan bahwa sebentar lagi akan bertemu dengan papah kandungnya, “Benarkah Kak?”
“Iya sayang, benar.”
__ADS_1
“Kamu lanjut lagi gih makannya,” lanjut Syeila. “Baik kak.” Naura kembali melahap burgernya yang memang belum habis.
Sedangkan Faishal yang sudah menormalkan dirinya kembali segera membalik Syeila untuk menghadap kearah arahnya. Oh ya, Faishal, Syeila dan Naura duduk di kursi sofa yang memang muat buar mereka bertiga dengan Syeila ditengah,”Sayang, kenapa kamu bisa bertemu dengan Naura?”
“Kamu sudah kenal ya Yang?” Syeila menilingkan kepalanya sedikit. “Iya Yang. Aku tau kalau dia anaknya sekretarisku.” Faishal terus mencoba mengendalikan kerja jantungnya di atas normal, berharap Syeila belum tau cerita yang sebenarnya.
“Ohhh, berati benar dia putrinya tante sekretaris,. Tadi itu blab la bla…” Syeila menceritakan awal mula pertemuanna dengan Naura yang nyaris tertabrak oleh taxi, kemudian minta eskrim sampai akhirnya Naura bersedih karena telah dibohongi oleh mamahnya.
Selama Syeila bercerita, faishals sering kali menahan napas, entahlah Faishal ketar ketir, takut akan ada bom waktu dari cerita Syeila. Faishal tetap terdiam menunggu Syeila menuntaskan ceritanya, “Kamu tau Yang, kebohongan apa yang dibuat oleh mamahnya Naura?”
“Kakak.” Naura menyela cerita Syeila membuat atensi Syeila focus ke Naura. “Iya Naura.”
__ADS_1
“Bulgel Nola udah habis kak.” Naura menunduk sebelum melanjutkan ucapannya, “Tapi Nola masih lapal.” Syeila gemas dengan sikap Naura. “Astaga, kamu masih laper ya?” Naura mengangguk lucu, menambah keimutan dirinya, membuat Syeila tanpa sadar mengacak rambut Naura, “Yaudah, kakak siapin dulu.”