Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
112


__ADS_3

Tik tok tik tok…


Waktu terus merangkak naik, semilir angin malam menyusup melewati celah celah jendela kaca yang memang tidak tertutup rapat. Membawa hawa dingin masuk menyusup di setiap pori pori yang terlihat..


“Euuuuuung.” Hawa dingin dini hari mampu membangunkan seorang dari mimpi indahnya. Awalnya orang tersebut agak linglung karena asing dengan ruangan sekarang. Namun semua itu tidak lama, setelah melihat siapa yang tertidur disebelah kirinya. Perlahan namun pasti, dengan mata menyipit orang tersebut melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.


Matanya melotot sempurna, “Astaga, Syeila.” Yah, sudah jelas yah bahwa orang tersebut adalah Faishal.


Kemarin setelah Faishal menenangkan Naura yang terus terisak, Naura meminta Faishal untuk menemaninya tidur. Tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk menolak akhirnya Faishal ikut berbaring dengan tangan yang terus menepuk pelan punggung naura sampai ketiduran.


Faishal meraup wajahnya kasar setelah kembali mengingat bahwa orang tuanya  kemarin mengabari harus keluar kota dan menyuruh Faishal jangan pulang larut karena dirumah Syeila sendirian.  Astaga Faishal tambah merasa bersalah terhadap Syeila.


Perlahan Faishal turun dari pembaringan tanpa membangunkan Naura yang masih terlelap dalam mimpi indahnya. Tangan Faishal mengusap pelan kening Naura sembari bergumam, “Hmmm, semoga kamu tidak berlarut dengan kesedihan setelah mengetahui yang sebenarnya.”


Faishal melangkahkan kakinya keluar. Tapi karena ekor matanya menangkap siluet orang yang tidur di sofa, Faishal menghampiri orang tersebut.


Digoncangnya pelan bahu orang tersebut, “Nat…”


“Heiii, Natasya..” Faishal terus menggoncang bahu Natasya dan menggumamkan Namanya sampai Natasya bangun.


“Euuuuuung.”


“Aii,” seru Natasya setelah dirinya sempurna sadar dari mimpi indahnya.


“Ada apa? Ini Jam berapa?” Lagi, Natasya bertanya.


“Jam setengah tiga dini hari.”


“Oh, tidurlah lagi Ai di samping Naura, aku disini saja.” Natasya berfikir Faishal akan menyuruhnya untuk pindah ke brankar.

__ADS_1


“Bukan begitu Nat, aku harus pulang.” Natasya mengerjap mendengar penuturan Faishal.


Natasya berdehem sebelum kembali berujar, “Loh. Ini masih jam setengah tiga pagi Ai. Ngapain pulang sekarang. Kamu tidur aja dulu.”


Faishal mengernyit mendengar ucapan Natasya,”Ada istriku yang menungguku Nat. Seharusnya  sudah dari semalam aku pulang.”


Deg, Natasya melupakan satu fakta tersebut. Bahwa orang didepannya bukan sahabatnya yang dulu lagi. Yang selalu memprioritaskan dirinya. Sudah ada istri yang menjadi prioritasnya sekarang.


Dengan matanya yang berubah sendu, Natasya menyahut, “O-oh, Iya Ai. Hati Hati”


"Hmmm." Faishal segera berlalu keluar. Faishal ingin cepat cepat sampai rumah.


Lenggangnya jalan karena masih dini hari, Faishal hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai rumah.


***


Pertama yang Faishal lihat ketika masuk kamarnya adalah Syeila yang tidur dengan posisi melintang menguasai kasur.


Dibenarkan posisi Syeila yang malang melintang tidurnya oleh Faishal. Faishal ikut merebahkan tubuhnya sembari mendekap Syeila kedalam pelukannya.


Faishal mengendus menghirup bau badan Syeila yang entah sejak kapan menjadi obat ampuh bagi Faishal untuk merilekskan otaknya yang penat.


Setelah puas menikmati aroma tubuh Syeila, sekarang Faishal menatap wajah Syeila yang terlelap. Dan tak lama Faishal terkekeh.“Astaga sayang, dalam tidurpun kamu tambah gemesin banget sih Yang. Kan aku jadi nggak bisa nahan untuk unyel unyel wajahmu.”


Faishal yang memang sangat rindu dengan biji sawinya sampai tidak bisa mengontrol keinginannya untuk merakus wajah Syeila dengan kecupan kecupan basah.


Cup cup cup cup cup cup…


Semua wajah Syeila terkena kecupan basah Faishal, pun tak ketinggalan tempat favoritnya yaitu bibir mungil Syeila,

__ADS_1


Cup, Faishal berdiam sedetik kemudian diberi gigitan gigitan kecil sebelum akhirnya ******* habis bibir mungil Syeila. Faishal yang sibuk dengan aktifitasnya tidak menyadari sebagian tubuhnya sudah menindih Syeila.


Syeila yang mendapat serangan bertubi tubi akhirnya terganggu juga. “Euuuung.” Syeila mengernyit dengan mata menyipit menyesuaikan cahaya yang masuk.


“Sayang. Sayang….. engap.” Syeila melepaskan diri dari Faishal dan mencoba bangun bersandar di kepala ranjang.


Deg, Faishal kaget. Sangking asiknya dengan kegiatannya, Faishal melupakan satu hal kalau istrinya tidur. Dan gara gara ulahnya, sekarang istrinya terbangun.


“Eh, maaf sayang. Hmm, Ayok tidur lagi Yang. Masih terlalu pagi ini.” Faishal kikuk, mencoba meraih Syeila kedalam pelukannya.


Bukannya nurut, tapi Syeila mengernyit dengan mata menyipit, “Sayang, kok masih pakai baju kantor. Kamu belum mandi Yang?”


Deg, lagi lagi jantung Faishal bergemuruh. Astaga kenapa dirinya bisa teledor tidak langsung ganti baju sih, kan berabe kalau sampai Syeila berpikiran yang aneh aneh.


“Ihhh pantesan, kamu bau aceeem ihh. Mandi dulu sana,” lanjut Syeila.


Faishal yang mendengar ucapan Syeila selanjutnya, mendadak menarik nafas lega. Alhamdulilah, amaaan.


“Baik sayang, aku mandi dulu ya. Kamu tidur aja lagi.” Dengan hati yang plong Faishal melangkah menuju kamar mandi.


Syeila hanya mengangguk mengiyakan ucapan suaminya sembari menatap suaminya yang melangkah menuju kamar mandi. Namun tidak lama, mata Syeila membulat ketika menyadari kenapa suaminya masih memakai baju


kantor dan belum mandi.


Belum sempat Faishal menyentuh gagang pintu kamar mandi, Syeila segera bersuara, “Sayang, jangan bilang kamu baru pulang?”


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2