
Setelah Faishal keluar dari apartemen, segera Faishal menghubungi David. “halo Sob, Lo udah di bawah kan?”
“Iya gue udah dibawah nih. Cepetan, kita masih perlu breafing juga,” sahut David dari sebrang.
“Oke.” Faishal memutuskan panggilannya, segera bergegas menuju David.
“Sorry lama. Bini gue lagi nggak enak badan,” papar Faishal setelah masuk ke mobil kepada David.
“Terus siapa yang jaga?”
“Hm, nggak ada sih. Makanya nanti selesai acara gue langsung pulang.” David hanya menganggukkan kepalanya saja.Kemudian menjalankan mobilnya menuju tempat reoni.
Sesampainya di tempat reoni, sudah banyak panitia yang datang dan terlihat sibuk dengan urusannya masing masing. “Halo guys. Sorry telat,” seru Faishal
Teman teman panitia memaklumi Faishal datang telat. Selain sibuk dengan perusahaanya pasti juga disibukkan dengan istri kecilnya. Ya, panitia reoni sudah tau sosok istri Faishal.
“Bini Lo mana?” tanya Darwin sahabat Faishal.
“Dia, dirumah. Nanti gue langsung pulang ya nggak ikut evaluasi. Kasian dia agak nggak enak badan tadi?” pinta Faishal.
“Iya nanti Lo nggak ikut evaluasi nggak apa apa kok.”
“Oh iya, ini udah pada breafing ya?” Faishal melihat sekeliling teman teman panitia yang tidak seberapa sudah terlihat sibuk.
“Sudah tadi. Ini yang lain segera menyiapkan keperluan yang belum siap.”
“Oh ya udah deh. Kalau gitu gue mau kesana sepertinya tenaga gue dibutuhin.” Faishal terkekeh sebelum melangkah.
Lima belas menit sepeninggal Faishal, terlihat seorang wanita dengan baju elegannya mendatangi teman teman Faishal yang kebetulan breafing dengan bagian acara.
“Hai,” sapanya, dan reflek mereka menoleh melihat gerangan yang menyapa mereka.
Melihat siapa yang menyapa, mereka membulat sempurna dan bergumam, “Natasya.”
Ya, yang menyapa mereka adalah Natasya. Walaupun Natasya sudah konfirmasi akan datang, mereka tetap terkejut. Pasalnya selama reoni Natasya tidak pernah datang.
“Ehem, hai Nat. Long time no see.” David yang sudah stabil dari keterkejutannya mencoba mencairkan suasana.
“Oh iya. Hai David. Hai juga semuanya.” Suasana agak canggung sebelum ada suara gadis mungil , “Mama.” Gadis kecil yang ada di belakang Natasya menarik gaun Natasya.
“Oh iya sayang. Sini kenalan dulu sama Om dan Tante.” Natasya mengajak anaknya untuk berkenalan dengan teman temannya.
Bukannya mau diajak kenalan, tapi malah bersembunyi di belakang Natasya, “Nggak mau Mama. Nola mau beltemu papa.”
__ADS_1
“Iya sayang. Nanti kita ke papa. Tapi kenalan sama tante dan om ya.”
“Benelan Ma?”
“Iya sayang, ayok kenalan dengan Om dan Tante.” Anak tersebut menoleh mengintip melihat satu persatu.
Marcel yang memang suka anak kecil segera mendekat. “Halo sayang. Namamu siapa? Nola ya?”
“Bukan Om tapi Nola.”
Marcel mengerut tapi tak menyurutkan senyumnya sedikitpun, “Iya Nola.”
“Ihh bukan Nola tapi NOLA.” Natasya senang melihat interaksi tersebut.
“Namanya Naura Cel.”
“Oh, Naura.” Naura mengangguk. “Sini sama Om sini. Ayok nanti kenalan sama yang lain.” Naura awalnya ragu ragu, tapi akhirnya mau ikut bersama Marcel.
Setelah Naura bersama Marcel dan yang lainnya, Natasya mulai sibuk memperhatikan sekeliling berharap menemukan sosok yang dicarinya. Karena ini adalah tujuan Natasya datang sebelum acara dimulai. Dan,
Deg, jantung Natasya berdetak hebat kala melihat sosok yang sangat dia rindukan. Dan tentu orang tersebut adalah Faishal.
Secara tidak sadar, perlahan Natasya mendekat ke arah Faishal.
“Ai.” Faishal membeku mendengar panggilan tersebut. Tanpa menolehpun Faishal tau siapa yang memanggilkan.
Perlahan tapi pasti Faishal menoleh kebelakang untuk melihat orang yang memanggilnya.
Deg, hati Faishal berdesir. Akhirnya, setelah lima tahun mereka bertemu kembali. Faishal hanya diam melihat orang yang ada di depannya.
Disisi lain, Naura panic karena tidak melihat keberadaan Mamanya. Naura berjalan menjauh dari Marcel dan yang lainnya untuk mencari mamanya.
Karena tak menemukan mamanya, Naura pun hampir nangis. Namun sebelum menangis, Naura sudah menemukan Mamanya yang berada di ujung.
Segera Naura melangkah menyusul mamanya. Semakin dekat semakin dekat, Naura tau siapa lawan bicara mamanya, “Papa,” bisik Naura.
Tidak ada respon dari Faishal, kembali orang tersebut bersuara dengan mata berkaca kaca, “Ai, maafkan aku. Ada yang harus aku katakan kepadamu. Dan sebelum itu ada yang ingin bertemu denganmu.”
Lagi lagi Faishal hanya diam tidak bersuara, “Ai, bicaralah. Jangan diam seper…” Belum selesai orang tersebut berbicara tidak ada ada anak kecil yang berlari sembari berseru, “Papaa.”
Grep, anak kecil tersebut memeluk
kaki Faishal erat, “Yeee akhilnya Nola beltemu papa. Yeyy yeyy yeyy.”
__ADS_1
Faishal lagi lagi terkejut, dilihatnya gadis kecil yang memeluk erat kakinya,
Deg, bagai dihantam palu. Dengan melihat wajah gadis kecil yang memeluk erat kakinya, Faishal sudah tau siapa orang tuanya.
“Papaa, yeiii akhilnya Nola beltemu papa yeee.” Naura menggerak gerakkan tangannya yang memeluk kaki Faishal.
“Ini..”
“Iya dia anakku Ai.” Dengan sorot sendu, Natasya mengatakan kalau Naura adalah anaknya.
“Tapi, kenapa dia..” Bibir Faishal kelu, tidak sanggup untuk mengucapkan kata keramat tersebut. Faishal bingung dan sibuk berpikir kapan dia mencetak anak mungil tersebut.
Lamunan Faishal dibuyarkan oleh ucapan Naura, “Papa papa, gendong Nola papa. Nola kangen sama papah.” Naura merentangkan tangannya berharap di gendong oleh Faishal.
Natasya yang melihat Faishal mematung segera bersuara dengan mata sendunya, “Bisa tolong gendong dia? Dan bisakah kita mencari tempat sedikit privasi.”
“Tolong Ai, aku mohon.” Akhirnya mau tidak mau Faishal membawa Natasya dan Naura di salah satu ruangan privat yang ada disitu, selain Faishal perlu penjelasan. Banyak pasang mata yang melihat mereka.
***
Sedangkan dilain tempat, saat ini Syeila terlihat bergerak tidak nyaman di tempat tidurnya. Entahlah apa yang Syeila rasakan, Syeila sendiri juga bingung.
Tiba tiba moodnya turun drastis dan Syeila merasa sedih. “Ihhh, kenapa Syeila khawatir dan sedih bersamaan ya. Ada apa ini? Bisik Syeila pelan.
.
.
.
TBC
Naura
Natasya
Faishal
__ADS_1