Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 114


__ADS_3

Faishal yang sudah tidak tahan, segera merengkuh erat tubuh Syeila membawa kepangkuannya dan menggumamkan kata maaf, “Maaf sayang. Maaf……Maaf.” Diikuti sebulir air mata yang jatuh  membasahi pipi Faishal.


Faishal segera menyeka air matanya supaya tidak dilihat oleh Syeila. “Maaf sayang. Aku bisa jelasin semuanya kenapa akhir akhir ini selalu pulang telat.”


“Hiks hiks kamu jahat.” Syeila terus terisak dibalik dekapan. “Hiks beberapa hari ini kamu udah sering pulang telat hiks. Udah nggak pernah makan malam bareng. Sarapan pun juga nggak pernah bareng hiks.” Syeila terus mengeluarkan segela beban yang menyesakkan dadanya.


Sedangkan, Faishal hanya membiarkan Syeila melampiaskan emosinya, membiarkan Syeila mengeluarkan seluruh uneg uneg yang menggerogoti akal jernihnya sebelum akhirnya memberikan penjelasan.


Beberapa menit, sudah tidak terdengar keluh kesah Syeila, hanya sesekali masih terdengar isakan lirihnya.


“Hei sayang. Lihat aku.” Fashal melonggarkan pelukannya memaksa Syeila untuk mendongak melihat dirinya.


Sekali lagi Syeila berkaca kaca. Faishal segera menangkup wajah Syeila menggunakan kedua tangannya.


“Hei sayang.” Faishal menghapus buliran air yang dengan nakalnya jatuh dipipi bulat Syeila.


“Ka-kamu selingkuh?” Sekali lagi Syeila menodong Faishal.


Faishal menghembuskan nafasnya. Tangan Faishal menangkup wajah Syeila, “Sayang, dengar. Aku tidak selingkuh.”


“Bohong. Sayang bohong. Sayang sering pulang malam,” pekik Syeila karena merasa Fashal berbohong.


“Sayang, hei. Lihat aku. Tatap mataku. Apakah ada kebohongan didalam mataku sayang?” Faishal mencoba membuat Syeila percaya kalau dia tidak selingkuh.


Lah emang Faishal enggak selingkuh sih, tapi ogebnya itu loh yang masyaallah wkwk.


Mendengar ucapan Faishal, Syeila langsung melihat kedalam bola mata Faishal, mencari setitik kebohongan.Nihil. Syeila tidak menemukannya. Syeila menunduk. “Maaf, tapi kenapa pulang malam dan nggak hubungin Syeila.”


“Hei sayang.” Faishal kembali menangkup wajah Syeila supaya kembali mendongak menghadapnya.


“Maaf. Maaf aku nggak menghubungimu.”


“Jelasin.” Tuntut Syeila


“Hah.”

__ADS_1


“Ihh jelasin kenapa sayang pulang telat?”


Faishal terkekeh, sepertinya biji sawinya udah nggak


ngambek lagi. “Cie yang udah nggak ngambek lagi,” goda Faishal.


“Ihhhhh,” sahut Syeila antara kesal dan malu, namun malah terlihat imut dan menggemaskan di mata Faishal.


“Kamu kok makin gemesin sih Yang.”


Cup, cup, cup. Dikecupnya bibir, dan kedua kelopak mata Syeila yang membengkak. Kemudian secara serampangan Faishal mengecup seluruh permukaan wajah Syeila sampai membuat sang empunya kegelian.


“Ihhh. Sayang geli ih. Brewokmu belum kamu cukur ih.”


“Sayang, masak mau dicukur lagi sih? Ini masih tipis loh.”


“Terserah. Kalau mau cium Syeila, harus dibersihkan tuh brewok.”


Faishal yang tdak ingin berdebat dan membuat Syeila badmood akhirnya mengiyakan, “Iya Yang nanti aku bersihkan.”


Faishal menarik napas memejamkan matanya. Duh masih ingat aja sih biji sawi. Hmmmm. Gitulah ya kira kira isi kepala Faishal ketika mendengar penuturan Syeila yang menuntut minta penjelasan.


Faishal merengkuh pinggang Syeila sebelum menjawab, “Begini Sayang. Kamu kan tau kalau satu bulan ini banyak proyek yang aku kerjakan dan beberapa mega proyek.”


Syeila mengangguk, “Terus? Proyekmu sampe dini hari ya Yang ngurusnya?”


“Oh kalau itu sih karena sekretaris ku Yang. Kan sekretaris yang lama ngajukan cuti, otomatis sekarang ada sekretaris baru. Tapi….” Faishal menggantung kalimatnya.


“Tapi?” Alis Syela menyatu penasaran dengan ucapan Faishal yang terlihat menggantung.


“Sekretaris yang baru mempunyai anak sayang. Anaknya masih kecil. Dan..”


“Tunggu tunggu, kenapa ke sekretaris. Aku tanya kamu loh Yang,” sela Syeila karena merasa penjelasan Faishal terlalu bertele tele.


“Astaga Sayang. Iya makanya dengerin dulu. Ini mulut kecil kok nyerocos mulu sih.” Sangking gemesnya Faishal mencubit bibir mungil Syeila yang mengerucut gemas.

__ADS_1


“Iya iya.”


“Hmmm, Jadi gini. Anak sekretarisku semalam masuk rumah sakit Yang. Jadi habis dari proyek langsung menuju ke rumah sakit.”


“Terus pulangmu kenapa sampai dini hari sih Yang?”


“Ya gimana nggak sampai dini hari, anaknya aja enggak mau lepas sama aku.”


“Loh, kok nggak mau lepas Yang?” Syeila masih terus menuntut penjelasan dari Faishal.


“Ya, kan aku ganteng Yang. Jadi anaknya kesemsem deh melihatku.” Faishal tergelak dengan ucapan ngelanturnya. Ya ngelantur, karena nggak mungkin kalau Faishal bilang yang sejujurnya. Bisa mencak mencak lagi nanti biji sawinya.


Kening Syeila berkerut memikirkan ucapan Faishal, “Kamu emang ganteng sih. Tapi apa yang dilihat dari dirimu yang udah tuir ini ya Yang?”


Sekali lagi Faishal tergelak mendengar ucapan Syeila yang mengatai dirinya tuir. Faishal mencubit pelan bibir mungil Syeila, “Astaga mulutmu Yang.”


“Kenapa Yang?”


“Nggak papa. Yuk kita lanjut tidur aja Yang.” Faishal membaringkan Syeila dan dirinya ikut berbaring memeluk tubuh mungil Syeila.


“Ihhh sayang. Penjelesanmu,” tuntut Syeila dibalik dekapan Faishal.


“Aku tidak tau Yang. Sudah ya, kita tidur. Aku ngantuk sekali Yang.” Faishal semakin mengeratkan pelukannya. Mengajak Syeila untuk kembali berlayar di alam mimpi.


Syeila mengerucut sebal mendengar ucapan Faishal.“Ih resee. Pokoknya senin Syeila harus ke kantor. Syeila harus lihat tuh sekretaris. Titik.” Hati Syeila berperang. Syeila percaya dengan ucapan suaminya, tapi masih ada yang mengganjal di hati Syeila. Syeila terus berperang dalam hatinya sampai dia tertidur.


.


.


.


TBC


MAAF YA :)

__ADS_1


__ADS_2