
Delapan bulan kemudian
Tak..tak.tak. “Sayang, kamu dimana?” Faishal terus melangkah untuk mencari istri kecil nan gembulnya. Iya gembul, karena usia kandungan Syeila udah sembilan bulan lebih, dan HPL nya minggu depan.
Syeila yang memang mempunyai tubuh mungil, diusia kehamilannya sekarang terlihat sekali Syeila seperti bola mengggelinding. Bagaimana tidak, sekarang Syeila tidak hanya membawa nyawanya sendiri, tetapi ada dua nyawa lain yang bersemayam dalam perutnya. Iyap ternyata kecebong Syeila dan Om Fai berkembang biak menjadi dua. Betapa senangnya dua keluarga besar, ternyata mereka akan dikarunia dua cucu sekaligus. Setelah mereka tau bahwa Syeila mengandung dua kecambah, eh maksutnya benih, alhasil sejak usia kandungan Syeila memasuki lima bulan, Syeila sudah disuruh mommynya untuk tinggal bersama mereka. Mommy disini itu mommynya Syeila yah.
Kembali lagi pada Om Fai yang sibuk mencari Syeila, rumah sudah sepi. Entahlah pada kemana semua penghuninya.” Sayang, kamu dimana?”
“Eh aden, kok masih dirumah den?” seru bibi. “Loh emang semua pada kemana bi?” Faishal melongo bingung dong, dapat pertanyaan seperti itu dari bibi.
“lah, aden ini gimana sih, kan Non Syeila itu den mau melahirkan.”
__ADS_1
“Ohh, melahir…Apaaa bik? Kok nggak ada yang ngasih tau?” seru Faishal kaget.
“Ya mana bibi tau den, yang jelas pukul tiga pagi semua pada panik, karena perut non Syeila sudah mulai kontraksi.”
Faishal meraup wajahnya frustasi, pasalnya semalem dia lembur sampai jam satu pagi, dan sampai rumah dia langsung tidur dengan memeluk istri gembulnya. Dan perasaan dia juga nggak dibangunin sama Syeila, selain itu
juga HPL nya masih minggu depan.
Ya ampuuun, dari pada frustasi. Faishal langsung tancap gas menuju rumah sakit. Tak lupa dia sebelumnya sudah menghubungi Daddy mertuanya.
“Syeila ada di dalam. Karena proses persalinan Syeila dilakukan secara Caesar, dokter melarang ada anggota keluarga masuk menemani.”
__ADS_1
Huuuuuuuuh, Faishal menghela napas panjang. “Kok nggak ada yang bangunin aku sih Dad?” tanya Faishal pada mertuanya. “Istrimu yang tidak mengijinkan Daddy untuk membangunkanmu. Katanya kamu baru pulang pukul satu malam.”
“Yasudahlah, yang terpenting kamu doakan aja semoga persalinannya istrimu lancar,” sahut Daddy Abian. “Aamiin, baik Dad.”
Detik berlalu digantikan menit. Tak terasa sudah tiga puluh menit Faishal menunggu proses persalinan istrinya. Sambil harap-harap cemas Faishal dan semua keluarga terus memanjatkan doa, semoga operasinya berjalan lancer.
Tak lama terdengar “Oekkkk..oekkkk…oekkkk.” terdengar suara bayi menangis yang saling bersahutan. Faishal dan seluruh keluarga merasa senang mendengar suara tangisan bayi, yang menandakan bayi Syeila telah di keluarkan. Tak lama, keluarlah salah satu dokter yang membantu menangani Syeila.
“Bagaimana operasinya dok?” Tanya Daddy Abian. “Operasinya berjalan lancer, dan selamat kalian mempunyai cucu sepasang, laki-laki dan perempuan.”
“Alhamduliah.” Tak lupa semua orang mengucap syukur mendengarnya. Faishal sampai menetesken air matanya. Siapa sangka istri kecilnya sudah menjadi seorang Mommy. “Apakah saya boleh melihat istri saya dok?”
__ADS_1
“Ohh tentu pak, silahkan. Bapak bisa mengadzani putra dan putri bapak terlebih dahulu. Dan untuk keluarga lainnya, untuk menjenguk pasien tunggu sampai pasien di pindah diruang rawat inap dulu ya.”
Semua keluarga menggangguk, dan kemudian dokter tersebut undur diri.