
“Yakin, kamu merasa nggak tertekan?” Syeila bergeming dengan pertanyaan Faishal.
“Kamu, aku ajak periksa ke temen aku ya?” lanjut Faishal
“Periksa? Periksa apa Yang?” Syeila bingung, perasaan dia nggak sakit tuh.
“Temen aku ada yang psikiater Yang, nanti kita bisa tau kamu kenap…” Belum selesai Faishal bersuara, Syeila sudah memekik, “SAYAAAAAAAANG!”
CIIIIIIIT,…… Gara gara teriakan Syeila, Faishal menghentikan mobilnya secara mendadak.
“Astaga, sayang. Jangan teriak teriak. Untung jalanannya sepi.” Ya, untung saja jalanan saat ini lumayan sepi.
“Gimana nggak teriak, kalau sayang nyuruh Syeila periksa ke psikiater, emang Syeila gangguan jiwa apa.” Syeila mendengus dengan bibir mengerucut
Lihat lihat, tadi Syeila mellow, sekarang udah ngegas aja. Hmmmm
“Sayang, kita hanya periksa aja, Dan lihat moodmu sekarang sudah naik kan?”
Syeila melotot menghadap Faishal dengan bersedekap dada, “Bagaimana mood Syeila nggak naik, kalau kamu menyuruh Syeila ke psikiater. Pokoknya Syeila nggak mau, nggak mau. Titik nggak pakai koma.”
Faishal menghela napas, mungkin bisa lain kali ketika mood biji sawinya membaik, sekalian nanti aku cooba bicarakan dengan Mommy dulu. “Haaaah, baiklah sayang. Kalau begitu kita ke kantorku ya.”
“Terserah.”
“Sayang, kamu marah?” tanya Faishal.
“Nggak, Syeila nggak marah tuh.” Syeila memalingkan wajahnya menghadap ke luar jendela.
Tes, tetes bertetes air mata Syeila kembali tumpah,“Enak saja, dia kira Syeila gila apa sampai harus ke psikiater,” bisik Syeila pelan.
“Sayang, kamu marah?”
__ADS_1
“Nggak, Syeila nggak marah.” Faishal terkesiap mendengar suara parau Syeila.
“Sayang hei, sini menghadap sini.” Dengan sedikit paksaan, Syeila berbalik menghadap Faishal.
Faishal menganga, lagi lagi biji sawinya menangis, “Kamu menangis lagi Yang?” Bukannya menjawab, Syeila semakin terisak.
Faishal mengangkat Syeila membawa ke pangkuannya, “Astaga, sudah dong sayang. Apa kamu nggak capek menangis terus dari tadi?”
“Hiks hiks kamu jahat hiks, masak Syeila di suruh ke psikiater hiks hiks.” Syeila terus terisak dan memukul dada Faishal dengan tangan mungilnya untuk melampiaskan kekesalannya.
“Ya ampun sayang. Iya, iya aku minta maaf ya. Kita nggak jadi ke psikiater. Sudah ya jangan nangis lagi, kita pulang sekarang.” Faishal terus menenangkan Syeila supaya berhenti menangis.
“Kita pulang?” Syeila mendongak dengan mata yang semakin sembab. “Iya kita pulang.”
“He em kita pulang saja,” sahut Syeila, kemudian menelusupkan dirinya ke dada bidang Faishal.
“Tapi, sayang. Kamu pindah duduk sendiri ya,” pinta Faishal
“Tapi sayang, kalau kamu duduk di pangkuanku gini, aku kesulitan mengemudikan mobilnya. Kamu pindah ya, biar aku arggggggh Sayaaaaang.” Faishal melotot dengan tangan memegangi dada sebelah kirinya.
“Kenapa kamu gigit sih?” lanjut Faishal
Syeila tidak menyahuti ucapan suaminya, hanya memberikan lirikan sinis, “Sudah ayok pulang. Syeila sudah duduk sendiri nih.” Syeila lansung menghadap luar jendela dengan hati yang terus mendumel sepanjang perjalanan.
Faishal menggeleng gelengkan kepalannya ketika mengingat istrisnya masih tergolong abege, jadi maklum saja kalau pemikirannya masih ababil
“Iya sayang, kamu jangan lupa pake sabuk pengamannya.”Kembali Faishal menghela napas panjang sebelum mengemudikan mobilnya.
Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit mereka sampai di apartemen Faishal. Faishal menoleh menghadap Syeila, ternyata Syeila tertidur.
Dengan sigap Faishal mengangkat Syeila membawanya ke unit apartemen mereka. Direbahkannya Syeila di kasur, dan disingkirkannya anak rambut yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
Cup, Faishal memberikan kecupan di bibir mungil Syeila.
Ditelusurinya wajah Syeila sembari berucap, “Kamu kenapa sih Yang akhir akhir ini. Apa kamu tertekan, tapi tertekan karena apa? Hmm, oh ya gue hubungi Mommy saja bagaimana nanti baiknya.”
Faishal melangkah keluar kamar dan segera menghubungi Mommy Meri. Nada panggilan terhubung dan tidak lama diangkat,
“Halo Son ada apa?”
“Mom, aku mau curhat tentang kondisi Syeila.”
“Hah, ada apa dengan menantu Mommy Son? Enggak sakit kan? Enggak kamu siksa kan?”
“Ya enggaklah Mom. Tapi akhir akhir ini emosi Syeila suka naik turun Mom. Kadang suka bangun dini hari, kadang minta makan, kadang nyuruh aku masak. Terus hari ini dia di panggil BK gara gara bolos kelas dan melompat pagar sekolah hanya buat beli cimol Mom.”
Diseberang sana, Mommy Meri yang mendengar penuturan anaknya hanya mesam mesem saja, ahhh Mommy Meri sudah membayangkan, hmmmmm.
Namun semua itu ambyaaaar ketika mendengar penuturan Faishal selanjutnya, “Apa Syeila perlu aku bawa ke psikiater ya Mom, mengingat emosinya yang naik turun?”
“Apa?” Mata Mommy Meri sudah membulat sempurna.
“Kamu bilang apa Son, membawa Syeila kemana?” Diseberang sana gigi Mommy Meri sudah bergemelutuk menunggu jawaban putranya.
Dan tanpa dosa Faishal mengulangi ucapannya, “Membawa ke psikiater Mom.”
.
.
.
TBC
__ADS_1
Yuuuk, beri LIKE + KOMENTARNYA dong Kak :)