
Mendengar ucapan Syeila, semua atensi dimeja tersebut mengarah ke Donita. Dan Donita yang menyadari bahwa yang dikira selingkuhannya itu adalah dirinya, dia hanya mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Bisa tolong loe jelasin ke istri gue kalau kita tidak memiliki hubungan apapun?” tanya Faishal dingin kepada Donita.
Mendadak semua yang duduk di meja tersebut kecuali Syeila merasakan hawa dingin, bahkan menurut David, suasana kali ini lebih mencekam dari pada rapat yang biasa di pimpin oleh Faishal.
Sedangkan, Donita yang ditanya hanya menelan ludahnya kasar. Sungguh, rasanya Donita tidak sanggup menjawab pertanyaan Faishal sangking gugup dan takutnya.
Faishal yang tidak mendapat jawaban dari Donita, kembali membuka suara dan memberikan tatapan tajamnya, “Tolong loe jelasin, kalau kita tidak ada hubungan apapun!”
Bukannya menjawab, tetapi Donita tambah gugup dan takut. Tangannya sudah saling bertautan dan meremas erat
sangking takutnya menghadapi sosok Faishal yang jauh dari kata ramah seperti sebelumnya.
Bahkan saat ini, Donita berani bersumpah kalau sosok Faishal lebih mengerikan dari pada Faishal yang dulu.
David yang mengatahui suasana yang semakin mencekam dan Donita sepertinya ketakutan segera membuka suuara, “Ehem, bro yang tenang tanyanya. Jangan bertanya seperti itu, yang ada nanti bukannya dijawab, tetapi malah ketakutan noh.”
Faishal tidak menggubris ucapan sahabatnya sekaligus asistennya. Faishal tetap mempertahankan tatapan tajamnya sehingga yang lain hanya bisa diam dan tidak ada yang berani menyela lagi.
Disisi lain, Syeila yang merasakan hawa hawa tidak enak segera menghadapkan wajahnya kesekeliling meja tersebut.
Mata Syeila terus mengerjap polos melihat satu persatu sahabat Om Fai nya hanya diam. Lebih tepatnya seperti patung. Dan diarahkan pandangannya kepada si pelaku. Syeila menyadari kalau si tante pelakunya itu ketakutan.
Segera Syeila berbalik menatap wajah Om Fai nya. Syeila mengerjap polos sebelum berucap, “Om wajahnya jangan dibuat kayak setan dong. Kan kasian yang lain pada takut. Syeila juga takut ih.”
Semua yang duduk dimeja tersebut menahan tawanya mendengar ucapan Syeila. Ajaib, ketika sebelumnya suasana sangat mencekam tetapi, sekarang berubah lebih hangat setelah Syeila bersuara. Apalagi wajah Faishal berangsur menghangat ketika tangan mungil Syeila membelai wajahnya.
Ya, setelah Syeila berucap tadi, segera Syeila membelai wajah Om Fai nya. Dan berangsur angsur wajah Om Fai nya menghangat kembali.
“Nah, wajahnya begini aja ya Om. Jangan kayak tadi, Syeila nggak like,” ucap Syeila dengan wajah polosnya menghadap Faishal.
__ADS_1
“Iya sayang, maafkan saya kalau menakutimu,” sahut Faishal kemudian merangkum wajah biji sawinya dan memberikan kecupan hangat di bibir mungil Syeila.
Semua yang ada dimeja tersebut mendelik melihat kelakuan Faishal, apalagi 2 sahabat Faishal pada mengumpat dalam hati.
“Ck, astaga pasangan nggak ada akhlak, romantis romantisanpun nggak lihat tempat,” batin Marcel.
“Astgafirullah, memang pasangan laknat!” batin Darwin.
Dan yang lain hanya mengelus dada, melihat pemandangan didepan.
Sedangkan, Syeila yang mendapat kecupan lagi dari Om Fai nya kembali menenggelamkan wajahnya diceruk leher Om Fai nya, dan berucap, “Malu ih Om.”
Faishal terkekeh geli mendengar ucapan biji sawinya. Sungguh, kalau bukan ditempat umum sudah dilumat habis tuh bibir mungil biji sawinya.
Astaga, Faishal merutuki pikiran mesumnya. Entahlah, semenjak menikah dengan Syeila, Faishal merasa bukan dirinya yang dulu. Namun, Faishal lebih nyaman dengan sikap dan kebersamaannya bersama biji sawinya selama ini.
David yang merasa suasana sekitar kembali hangat, segera membuka suara, “Jadi klarifikasi nggak nih ke Donita, jangan enak enak mulu.. Nggak lihat apa masih ada kita disini.”
Faishal yang mendengar ucapan David segera berucap kepada biji sawinya, “Gimana Syei, jadi klarifikasi ke Donita atau sudah percaya bahwa saya nggak selingkuh hem.”
Sebenarnya Donita dan teman Faishal kecuali 3 sahabatnya sedikit merasa aneh sih mendengar panggilan bocah remaja yang katanya menyandang status sebagai istri seorang Faishal Amarkhan. Tetapi mereka tidak ada yang berani bertanya, hanya menyimpan dalam hati rasa penasarannya.
Kemudian, Donita segera menjawab pertanyaan Syeila dan tidak lupa memberikan senyum manisnya, “Tidak kok, kami tidak ada hubungan apapun. Kami biasanya hanya bertemu dalam event saja.”
Syeila yang mendengar klarifikasi dari Donita, hatinya serasa plong. Kemudian berucap, “Oh, yasudah.”
Semua melongo mendengar ucapan Syeila. Hanya itu? Tidak ada interogasi lanjut atau apa gitu? Ya ampun, semudah itu kah percaya?. Ya, kurang lebih pertanyaan seperti itu yang berkelebat dipikiran mereka semua.
Faishal yang mendengarnya pun juga dibuat melongo, apalagi biji sawinya kembali menengelamkan wajahnya diceruk leher Faishal.
Kembali Faishal bersuara, “Syei, sudah hanya gitu saja tanyanya ke Donita?”
__ADS_1
Syeila menjawab ucapan Faishal tanpa menjauhkan wajahnya dibalik ceruk leher Faishal, “Iya Om, kan Syeila Cuma ingin tau itu aja.”
Astaga, Faishal memijit pelipisnya pelan. Faishal tidak menyangka aja, hanya bertanya satu pertanyaan semua sudah selesai. Rasanya tuh tidak sebanding loh dengan nangis kejernya.
Ahh, tapi yasudahlah, penting biji sawinya tidak sedih lagi. Kemudian Faishal melihat ke teman dan sahabatnya dan berucap, “Maaf atas keributan kali ini, maaf kalau tadi gue juga keterlaluan terutama kepada loe Donita.”
Yang lain memaklumi Faishal seperti itu, pun dengan Donita juga memaklumi. Tidak ada yang salah dalam hal ini, hanya keadaannya saja yang kurang tepat sehingga membuat Syeila salah paham. Kalau pun dia yang berada di posisi Syeila pasti akan salah paham juga ketika melihat suaminya berdua dengan wanita di restoran yang bertema
romantis.
Setelah Faishal bersuara, terlihat suasana kembali kondusif. Beberapa juga sudah mulai makan pesanannya dan memulai obrolan terkait acara reunian yang akan datang. Cici sahabat Syeila pun juga sudah terlihat akrab dengan sahabat dan teman teman Faishal. Sesekali Marcel terlihat mencuri pandang ke arah Cici.
Disisi lain Faishal juga mencoba menyuruh Syeila untuk turun dari pangkuannya, “Syei, turun ya? Kita makan siang dulu.”
“Nanti ya Om, Syeila capek dan juga ngantuk Om.”
“Tapi Syei, kamu belum makan siang.”
“Ish, Syeila capek Om. Syeila ngantuk Ih.”
Faishal hanya menghela napas mendengar ucapan biji sawinya. Dari pada makan tanpa biji sawinya, Faishal memilih untuk pulang duluan karena biji sawinya memang terlihat kelelahan.
Faishal meminta David untuk mengantarkannya pulang. Lebih tepatnya pulang ke rumah Mommy nya karena tadi diingatkan Mommy nya bahwa weekend ini jadwalnya menginap dirumah orang tuanya.
Ya, setiap weekend, para orang tua meminta Syeila dan Faishal menghabiskan waktunya bersama mereka. Tentunya secara bergantian.Tujuannya, selain mengajari Syeila masak dan memberikan edukasi kepada Syeila, juga untuk melihat dan memantau perkembangan hubungan Syeila dan Faishal.
Akhirnya Syeila, Faishal dan David keluar bersama dari restoran yang tentunya Syeila tetap berada dalam gendongan Faishal.
.
.
__ADS_1
.
TBC