
Ke esokan harinya, waktu masih menunjukkan pukul lima lebih lima belas menit. Bahkan matahari pun masih enggan untuk menunjukkan taringnya.
Tetapi hal tersebut sudah menjadi kebiasaan bagi Syeila untuk segera beranjak dari peraduan nyamannya.
“Euuuuuuuuungh.” Syeila melenguh panjang seraya meregangkan kedua tangannya ke atas.
Dengan mata yang terpejam sebelah, Syeila bergumam dan mencari HP nya di nakas samping tempat tidur, “Jam berapa ya?”
“Uhhhh, udah jam lima lebih. Syeila harus bantu Mommy masak,” lanjut Syeila.
Ya, meskipun keluarga Abian mempunyai beberapa pembantu, tapi urusan masak tidak sepenuhnya di serahkan oleh pembantunya.
Dengan kata lain, Mommy Meri juga ikut membantu memasak.
Syeila bergegas cuci muka, sebelum menuju dapur. Sesampainya di dapur, terlihat pelayan sudah sibuk menyiapkan beberapa bahan masakan.
“Pagi Bibi,” sapa Syeila. Yang kemudian menyisingkan lengan bajunya, ikut membantu mencuci beberapa sayuran.
“Pagi Non.”
“Pagi ini masak apa Bi?” tanya Syeila disela sela membersihkan sayuran.
“Hari ini menunya pecel Lele Non.” Untuk urusan makan di rumah, keluarga Abian sudah membuat daftar menu apa saja yang harus di masak setiap dua minggu sekali.
“Yaudah Bi, ini sudah Syeila cuci. Syeila bantu goreng Lelenya ya,” pinta Syeila yang melihat Lelenya sudah di bumbui dan tinggal di goreng saja.
“Tidak usah Non, biar Bibi saja yang menggoreng Lelenya.”
“Kalau Non tidak keberatan, Bibi minta tolong buatin teh hangat buat Bapak dan Nyonya Non. Sepertinya Nyonya nggak enak badan Non, makanya tidak membantu masak.”
“Dengan senang hati Bibi.”
Syeila segera merebus air dan membuat tiga teh dan satu susu. Tentu susunya buat Syeila sendiri.
Sambil menunggu air rebusannya mendidih, Syeila mengambil beberapa kue kering sebagai camilan pendamping teh.
Setelah tehnya jadi dan sudah menatanya di dua nampan beserta cemilannya, Syeila segera membawa satu nampan menuju ke kamar mertuanya.
__ADS_1
Tok tok tok, Syeila mengetuk pintu mertuanya.
Tidak berapa lama, pintu tersebut terbuka dan nampaklah Daddy Abian. Daddy Abian mempersilahkan menantunya tersebut masuk.
“Dad, ini Syeila membawa teh hangat,” ujar Syeila seraya menaruh nampan tersebut di nakas.
“Makasih banyak Nak.”
“Sama sama Dad. Oh ya Dad, Mommy sakit ya? Apa perlu Syeila panggilkan dokter Dad?” Syeila melihat Mommy Merry meringkuk di balik selimut.
“Cuma kecapekan aja Nak. Nggak papa kok. Terimakasih atas perhatianmu.”
“Oh ya sudah Dad, kalau begitu Syeila permisi.” Syeila berjalan keluar dari kamar mertuanya dan kembali ke dapur.
Sesampainya di dapur, Syeila mengambil nampan dan berpamitan dengan pembantunya untuk kembali ke kamar.
Di kamar ternyata, pemandangan masih sama.
Suami tuanya masih nyaman bergelung selimut. Setelah Syeila meletakkan nampannya, Syeila membangunkan suaminya.
“Sayang, bangun yuk,” seru Syeila sambil mencubit cubit kecil wajah Faishal.
“Bangun sayang.”
“Morning kiss dulu,” pinta Faishal dengan suara khas bangun tidur.
Tanpa banyak tanya, Syeila segera membenamkan bibirnya dan ******* pelan sebelum dilepaskan, “Sudah ih, cepetan bangun Yang.” Syeila sudah tidak merasa risi lagi ketika harus berciuman saat bangun tidur.
Faishal tersenyum, “Iya iya istriku cantik. Makasih ya morning kissnya.” Kemudian Faishal beranjak bangun dan mandi.
Syeila yang sudah faham, pasti Faishal sekalian mandi. Segera Syeila membersihkan kamarnya dan menyiapkan baju Faishal.
Syeila membawa nampan yang berisi teh dan susu beserta camilannya ke balkon kamar sembari menikmati udara sejuk di pagi hari.
“Sayang. Aku sudah mandi,” ucap Faishal yang tiba tiba sudah berdiri di pintu balkon dengan selembar handuk yang hanya menutupi aset berharganya.
Syeila segera menghabiskan susunya, kemudian berbalik dan kaget, “Astaga. Kamu tuh ya kebiasaan nggak langsung pake baju Yang.”
__ADS_1
“Iya ya, habis ini aku akan pake baju Yang. Masih mau minum tee dulu.” Syeila sudah tidak menyahut ucapan Faishal dan bergegas menuju kamar mandi.
Selesai mandi Syeila mengernyit melihat suaminya sudah rapi, “Sayang, kamu beneran berangkat pagi? Nggak sarapan dulu?”
Faishal menghampiri Syeila yang masih memakai jubbah mandi,
Cup, dikecup kening Syeila, “Tidak sayang. Seperti aku bilang semalem untuk satu bulan ini aku sibuk. Aku langsung berangkat ya? Ingat, kamu nanti akan di jemput Rendy. Oh ya kalau kamu bosan kamu boleh datang ke perusahaan ku Yang.”
Faishal kemarin memang membicarakan perusahaannnnya yang akan sibuk selama sebulan kedepan. Di tambah beberapa hari kedepan, sang sekretaris andalan Faishal cuti.
Makanya Faishal sudah mewanti wanti Syeila kalau satu bulanan ini dirinya tidak bisa mengantar jemput Syeila lagi. Pun Faishal juga meminta ke pada Rumi agar hari ini saja sekretaris penggantinya datang. Mengingat hari ini sudah mulai sibuk.
Syeila hanya mengangguk pasrah. Sebelum benar benar pergi Faishal memberikan kecupan di bibir Syeila.
***
Sesampainya di perusahaan, masih menunjukkan pukul 06.50 WIB. David sudah stand by menyambut Faishal.
“Pagi Tuan.”
“Pagi, gimana sudah pada kumpul?”
“Sudah Tuan, tetapi Tuan untuk pengganti Rumi,” David ragu melanjutkan.
“Oh iya, pengganti Rumi memang aku suruh datang sekarang. Kita langsung ke ruang rapat aja. Biar kita tidak kesiangan meninjau lokasi proyek?”
David mengangguk dan mengikuti langkah Faishal. Sesampainya di ruang rapat, benar yang dikatakan David, semuanya sudah kumpul. “
“Selamat Pa……gi.” Faishal tertegun melihat ada satu sosok yang amat sangat dia kenal. “Natasya,” gumam Faishal pelan.
Sedangkan Natasya yang memang sudah yakin Faishal yang memimpin perusahaan ini semakin melebarkan senyumnya dan membatin, “Akhirnya Ai.”
.
.
.
__ADS_1
TBC