
Disaat yang lain sibuk dengan menu, Syeila tersadar kalau tidak membawa hapenya. “Sayang, aku balik ya. Aku lupa nggak bawa Hp.”
“Hah balik? Harus ya yang? Nanti aja gih, ini kita kan sedang makan juga.”
“Ihh, bentar sayang. Kan temen temen juga masih milih menu. Udah ya sayang, aku ambil Hp dulu.” Pamit Syeila tanpa menunggu jawaban Faishal. Faishal pun juga tidak bisa mnecegahnya, karena sifat dasar Syeila yang selain manja juga keras kepala.
Bertepatan dengan itu, ponsel Faishal berdering menandakan ada pangggilan masuk. Faishal melihat ponselnya. Dan Faishal mengernyit melihat siapa yang meneleponnya. Namun bagaimanapun Faishal tetap mengangkatnya.
“Ada apa,” ucap Faishal dingin tanpa memberikan sapaan terlebih dahulu. Tidak lama, rahang Faishal mengeras dan mendadak raut wajahnya panik ketika mengingat bahwa biji sawinya balik ke kantor sendiri.
Secepat kilat, setelah panggilannya terputus, Faishal segera berdiri dari duduknya sedikit kasar menyebabkan kursinya terdorong kebelakang. David yang melihat raut wajah Faishal yang tidak seperti biasa segera bertanya, “Ada apa?”
“Gue keluar dulu.” Hanya itu yang diucapkan Faishal. Karena fokus Faishal sekarang adalah biji sawinya. Entah kenapa setelah mendapat Informasi tadi, Faishal merasa Syeila dalam bahaya.
Sesampainya diluar, Faishal lega melihat biji sawinya yang lihat kanan kiri sebelum menyebrang. Namun, Faishal terkesiap, ketika melihat mobil yang melaju kencang kearah biji sawinya.
Tanpa piker dua kali Faishal segera berlari kencang, sekencang yang Faishal bisa.
Sreeet, …. Bug.. Ya Faishal berhasil menarik Syeila, namun karena tidak seimbang akhirnya Syeila dan Faishal jatuh dengan tubuh Syeila yang menimpa Faishal.
Syeila yang masih memejamkan matanya, mengernyit karena tidak merasa sakit. Perlahan Syeila membuka matanya, Syeila mengerjap pelan untuk memastikan orang yang ditindihnya sekarang adalah suaminya.
Satu detik, dua detik, tiga detik… Syeila sadar, bahwa orang yang ditindihnya adalah suaminya. Seketika Syeila panic karena mata suaminya terpejam.
__ADS_1
David yang memang merasa aneh dengan tingkah Faishal, akhirnya mengikuti Faishal keluar. Sesampainya diluar, David tercengang karena melihat Faishal berlari menyelamatkan istrinya, yang berakibat mereka terjatuh.
Kemudian David bergegas menghampiri Faishal dan Syeila. “Syei, loe nggak papa kan?” tanya David.
Bukannya merespon, tetapi Syeila malah sibuk sendiri dengan tangan mungilnya yang menepuk nepuk wajah Faishal berharap Faishal segera sadar dan berucap,” Sayang, bangun sayang!”
“Sayang, hei sayang bangunlah. Kenapa matamu bisa terpejam sih,” lanjut Syeila dengan suara yang sudah bergetar karena suaminya nggak bangun bangun.
David yang juga ikut panik, segera melihat keadaan bosnya sekaligus sahabatnya.David mengernyit sebentar sebelum bersuara, “Syei, kita bawa ke rumah sakit ya.”
“Hah.” Syeila tergagap sesaat mendengar ucapan David. “Gue ambil mobil dulu, kamu disini bentar ya,” lanjut David. Tanpa menunggu respon Syeila, David bergegas menuju ke parkiran kantor untuk mengambil mobilnya.
“Hiks hiks, kenapa nggak bangun hiks hiks.” Jatuh sudah air mata Syeila yang disimpan mati matian. Ya, Syeila mulai faham maksut dari Om David yang menyuruh membawa Faishal ke rumah sakit. Fix suaminya pasti parah! Begitulah pemikiran Syeila.
Sesampainya di rumah sakit, Faishal segera ditangani oleh dokter. Tidak lama kemudian dokterpun keluar. “Keluarga pasien?” tanya dokter
David yang faham kalau Syeila masih sedih dan terisak membuka suara, “Saya dok.”
“Begini pak, tidak ada luka serius yang menimpa pasien. Hanya tangan sebelah kanan saja tergores sedikit. Dan nanti kalau pasien sudah sadar bisa dibawa pulang.”
“Oh begitu. Baik dok terimakasih. Kami boleh ke dalem kan dok?”
“Iya silahkan. Kalau begitu saya permisi.” Kemudian dokter tersebut melangkah pergi.
__ADS_1
Sebelum masuk keruangan Faishal, David menghampiri Syeila, untuk mengajaknya masuk keruangan Faishal. Sesampainya diruangan Faishal, kembali lagi Syeila menangis,”Hiks hiks kok belum bangun sih hiks.”
"Hei, sudah jangan nangis. Faishal tidak parah, hanya tangannya tergores saja kok,” ucap David mencoba menenagkan Syeila.
Mendengar ucapan David, mendadak Syeila histeris, "Huwaaa hiks hiks, tangannya tergores huwaaaaaaa." David terkesiap, segera menepuk bahu Syeila." Hei, Syeila dengerkan saya. suamimu hanya tergores, TERGORES!"
Dengan masih sesenggukan Syeila menghadap Om David. “Hanya tergores Om?” tanya Syeila dengan mata mengerjap pelan
“Iya hanya tergores saja tangannya.”
"Oh. hanya tergores," sahut Syeila yang sudah mulai berhenti sesenggukannya.
"Emang kamu kira apa?"
"Syeila kira apa ya? Emang tadi Syeila ngira apa ya Om? Hmmm, Oh tadi Syeila ngiranya juga tergores Om."
"Astaga," desah David memijit pelipisnya pelan. Pusing dengan segala tingkah istri Faishal. Ya ampun, David nggak kuat, bener bener nggak kuat.
.
.
.
__ADS_1
TBC