
“Ish Sye, ayolah. Gue penasaran nih.” Cici memohon dan merengek disertai tampilan melasnya.
Syeila yang melihat tatapan memohon sahabat satu satunya menjadi tidak enak untuk menolak.
Padahal ya, sebenarnya Syeila itu paling males kalau harus datang ke restoran yang bertema romantis. Sudah pasti yang memenuhi seisi restoran ya pasangan pasangan aja.
Tetapi demi sahabat satu satunya, Syeila mengiyakan saja, “Hmm, baiklah Ci. Emang dimana letak restorannya? Jauh apa nggak?”
Cici yang mendengar bahwa Syeila mau di ajak ke restoran tersebut sontak kegirangan, kemudian berucap sambil menunjuk resotan di depan Mall, “Asyeek, itu loh Syei di seberang situ, itu tuh.”
“Oh, berarti kita kesana pakai mobil apa jalan aja?” tanya Syeila yang melihat bahwa restoran yang dituju tepat berada di depan Mall Z.
“Emm, kita ambil mobil aja. Lebih ribet kalau kesana tanpa mobil.”
Walaupun letak restorannya tepat didepan Mall Z, tetapi lebih efektif kalau sekalian membawa mobil, dari pada harus bolak balik.
“Yaudah yuk,” ajak Syeila.
Cici dan Syeila menuju parkiran untuk mengambil mobil dan bergegas menuju restoran depan. Tidak membutuhkan waktu lama, sekarang mereka sudah sampai direstoran tersebut.
“Yuk Syei.”
“Cici nggak merasa gimana gitu ya, lihatlah yang datang pada berpasangan,” ucap Syeila ketika melihat pasangan muda mudi keluar masuk restoran.
“Ck, udah deh Syei. Kita lihat dalamnya dan nyobain aja. Entar kan, ini bisa dijadikan referensi kalau loe mau ketempat romantis bareng suami.”
Mendengar ucapan Cici, tiba tiba hati Syeila menghangat dan membayangkan bagaimana kalau dia dan Om Fai ke tempat ini berdua. Waaaah pasti romantis banget.
Apalagi mereka belum pernah makan di restoran yang bernuansa romantis. Syeila senyam senyum terus membayangkan semua itu.
Cici yang meliha Syeila senyam senyum sudah menebak apa yang ada di otak cantik sahabatnya, kemudian berteriak, “Woooooe.”
Syeila yang mendengar itu kaget, “Astaga Cici, jangan ngagetin Syeila dong.”
“Habisnya elo senyam senyum sendiri sih, udah yok turun.”
Syeila dan Cici turun dari mobil dan segera masuk ke restoran. Kesan pertama Syeila ketika masuk kerestoran tersebut sesuai yang dikatakan Cici yaitu romantis. Sangat cocok, buat para pasangan.Iuuuh Syeila jadi nggak sabar ingin segera ngajak Om Fai nya ke sini.
“Syei, kita duduk disitu ya,” ajak Cici menunjuk tempat duduk paling pojok.
“Okay.”
Cici dan Syeila menuju ke tempat duduk tersebut. Setelah mereka duduk, Cici kembali bersuara, “Loe disini aja ya, biar gue yang pesenin makanannya, sekalian gue juga mau ke toilet.”
“Okay deh, gue pesenin sama kayak loe aja ya.”
“Okay.” Cici melangkah menjauh dari meja tersebut.
__ADS_1
Melihat Cici sudah menjauh, Syeila membuka hapenya. Namun baru sebentar saja dia sudah bosan. Diarahkannya pandangan matanya menatap sekeliling restoran.
Deg
Seketika bola matanya membelalak, ketika melihat seorang laki laki dan perempuan duduk berdua tidak begitu jauh dari tempat duduknya.
Walaupun Syeila hanya melihat punggung nya saja, tetapi Syeila tau kalau itu adalah Om Fai nya. Apalagi pakaian yang digunakan, semua Syeila yang menyiapkannya.
Namun, Syeila mencoba menepis prasangka buruknya karena wajah si lelaki tidak terlihat.
“Itu bukan Om Fai kan ya? Kan nggak mungkin Om Fai kesini, berdua lagi sama perempuan. Apa yang harus Syeila lakukan,” guman Syeila pelan yang sudah berkaca kaca.
Syeila bimbang harus mendatangi meja tersebut atau tidak. Disisi lain Syeila ingin sekali melihat untuk memastikan apakah benar itu Om Fai, tetapi disisi lain Syeila juga takut kalau ternyata itu benera Om Fai nya.
Ditengah kebimbangannya, tiba tiba terlintas ide untuk menelpon Om Fai nya, dan tidak lama sambungan terhubung dan langsung diangkat oleh Om Fai nya.
Hati Syeila mencelos ketika laki laki didepan sana juga mengangkat telpon nya dan jangan lupa air matanya keluar tanpa dikomando.
“Halo Syei ada apa,” ucap Om Fai.
“Halo Syei, Halo.”
Syeila tersentak, kemudian berucap pelan, “Om dimana?”
“Saya diluar, ini lagi ngumpul sama temen. Ada apa?”
Terlihat lelaki didepan sana juga baru selesai menerima panggilan, dan sekarang terlihat sedang mengobrol kembali dengan perempuan tersebut.
Namun, Syeila masih belum yakin seratus persen kalau lelaki tersebut adalah Om Fai nya.
“Apa Syeila datengin aja ya, kan belum tentu orang itu Om Fai. Mungkin kebetulan aja dia juga dapat telepon. Iya Syela harus mendatangi meja tersebut,” ucap Syeila pelan, kemudian berjalan pelan menuju meja dua orang tersebut.
Baru berjalan beberapa langkah, hati Syeila mencelos dan seperti tertusuk jarum yang tak kasat mata. Sakit, sungguh sakit. Ternyata benar orang tersebut adalah Om Fai nya.
Pikiran buruk dan terkutuk sudah bercokol di otak Syeila karena Om Fai berada di restoran yang bernuansa romantis, apalagi cuma berdua, bersama perempuan pula.
“Hiks hiks Om Fai selingkuh hiks hiks. Padahal Syeila kan hiks sudah mulai belajar mencintai Om Fai hiks.” Syeila mengusap air matanya kasar dan terus sesenggukkan.
Jelas beberapa pengunjung yang mejanya dekat dengan Syeila berdiri, tau kalau Syeila sedang menangis, tetapi Syeila sudah tidak peduli dipandang sama sekitarnya, dia hanya terus menangis dan sesenggukan pelan.
“Om Fai jahat hiks hiks, Syeila benci Om Fai hiks hiks.” Kemudian Syeila berbalik dan berlari ingin segera keluar dari restoran, namun naas keberuntungan tidak memihak pada dirinya.
Sebelum Syeila sampai di pintu keluar, dia menabrak salah satu pelayan pembawa piring dan gelas bekas yang mengakibatkan Syeila jatuh terduduk dilantai.
Bukannya berdiri, tetapi Syeila tambah nangis, “ Hiks hiks hiks Om Fai jahat hiks hiks.”
Dan saat itu bertepatan sahabat Faishal, Darwin dkk masuk kerestoran. Dan melihat Syeila kemudian dia mengernyit, “Loh bukannya itu bininya Faishal, mending gue samperin Faishal deh.”
__ADS_1
Darwin yang memang tidak tau menahu duduk permasalahannya segera menuju ke meja yang sudahdipesan.
Ternyata disana, terlihat David dan Marcel sudah kembali. Karena sekarang dimeja tersebut terlihat Faishal, Donita, Marcel dan David.
Sesampainya disana segera Darwin bersuara, “Fai, bini loe nangis.”
“Hah, maksut loe?” tanya Faishal yang belum faham duduk perkaranya.
“Astaga, bini loe nangis sesenggukan noh disana,” ucap Darwin sambil menunjuk ke tempat kerumunan di depan.
Faishal terkesiap mendengar uucapan sahabatnya. “Jadi yang disana Syeila?”
Iya, Faishal dan yang lain di meja tersebut tau bahwa ada yang terjatuh dan tertabrak dengan salah satu pelayan restoran ini. Tapi sunggu demi apapun, Faishal tidak sadar kalau orang tersebut adalah biji sawinya.
“Iya, cepetan noh loe samperin gih.”
Tanpa pikir dua kali, Faishal langsung berjalan menghampiri kerumunan tersebut, semakin dekat semakin terdengar suara tangis dan sayup sayup juga terdengar gumaman benci.
Deg
Hati Faishal terasa nyeri melihat biji sawinya acak acakan, mengangis sesenggukan dengan wajah ditelungkupkan pada pahanya. Ya, cukup dengan suaranya Faishal bisa mengenali kalau itu adalah biji sawinya.
Beberapa orang yang mengenal Faishal segera member jalan. Dan manager restoran yang melihat Faishal segera menghampiri dan berucap, “Maaf tuan, atas ketidaknyamanan ini, Kami akan membereskan..,”
Faishal langsung mengangkat tangannya sambil berucap dingin,”Dia istri saya, tolong anda bubarkan kerumunan disini.”
Tanpa pikir panjang, manajer dan para pelayan segera membubarkan kerumunan tersebut.
Setelah kerumunan berhasil dibubarkan dan kembali ke meja masing masing, Faishal mendekat kearah biji sawinya.
Tepat dihadapan biji sawinya, Faishal berjongkok dan memegang bahu biji sawi kemudian berucap, “Syei.”
Syeila yang tau bahwa itu suara Om Fai nya segera mendongakkan dan berucap, “Hiks hiks Om jahat hiks hiks.”
“Ussst, cup cup jangan nangis, saya jahat kenapa hem?” tanya Faishal dengan ibu jari sibuk menghapus air mata Syeila yang menganak sungai.
Bukannya berhenti, tetapi Syeila malah nangis kejer, “Huwaaa hiks hiks Om jahat hiks hiks hiks Om jahat hiks.”
Faishal yang melihat Syeila menangis kejer segera direngkuh tubuh Syeila, kemudian berucap dengan tangan mengelus punggung Syeila yang bergetar hebat, “Cup cup, jangan nangis sayang. Sudah jangan nangis ya, saya tidak bisa melihatmu menangis sedih kayak gini.”
Ya, hati Faishal tersayat dan terasa nyeri melihat biji sawinya menangis seperti ini. Sungguh, Faishal juga ikut merasakan sakit yang teramat dalam dan tanpa Faishal sadari dia juga ikut meneteskan air matanya.
.
.
.
__ADS_1
TBC