
Syeila yang sibuk dengan Naura membuat Faishal mengeluarkan napas lega. “Sebelum Syeila bercerta, gue harus cerita dulu. Gue nggak mau di cap sebagai pembohong terkait masalah Naura,” batin Faishal.
Berbicara tentang Naura, tiba tiba Faishal mengingat tentang Natasya yang sibuk dan panik mencari putrinya. Faishal mengirim pesan ke Natasya bahwa putrinya ada diruangannya. Dan tak butuh waktu lama, Natasya langsung menerobos pintu masuk ruangan Faishal. Dan itu membuat Syeila terkejut.
“Sayaaaang. Naura sayang.” Natasya berlari ke putrinya dan langsung memeluk putrinya erat. “Maafin mamah. Maafin mamah. Mamah berbohong kepada Naura. Maafin mamah.”
Naura yang memang sudah bisa menerima semuanya. Dan melihat mamahnya menangis dengan terus minta maaf membuat Naura faham. Naura balas memeluk mamahnya erat. “Iya mamah. Nola juga minta maaf kalena telus menuntut mamah untuk peltemukan Nola dengan papah.”
Melihat mamahnya yang seakan enggan memberitau siapa papa kandungnya membuat Naura sadar, bahwa bertemu dengan papah kandungnya yang entah siapa itu merupakan sebuah kemustahilan. Dan Naura baru tersadar itu saat ini, bahwa bertemu dengan papahnya adalah kesakitan buat mamahnya.
Terbukti mamahnya sampai harus berbohong mengenai siapa papahnya. “Nola sudah tidak ingin beltemu papah kandung Nola lagi mah. Nola hanya ingin bahagia sama mamah. Maaf kalau Nola banyak menuntut kepada mamah.”
“Maafin mamah, maaf sayang. Maaf.” Hanya itu yang dapat diucapkan oleh Natasya. Natasya belum tau kedepannya akan gimana terkait papah kandung putrinya. Karena luka yang cukup dalam membuatnya enggan untuk bertemu apalagi menyebut namanya.
Nataysa mengurai pelukan putrinya, kemudian menghadao Faishal kikuk, “Maaf Tuan, tadi saya langsung masuk. Dan terimakasih sudah menemukan putri saya.”
__ADS_1
“Berterimakasihlah kepada istri saya, karena dia yang menemukan putrimu.” Ucapan Faishal membuat Natasya menatap sekelilingnya. Natasya nggak sadar ternyata disini ada istri Faishal. Natasya menunduk sebelum bersuara, “Nona, terimakasih banyak sudah menemukan putri saya.”
Syeila tersenyum, “Sama sama tante. Tapi tolong jangan panggil Syeila Nona, cukup panggil Syeila saja.”
“Tapi…”
“No, nggak ada tapi tapian.”
“Oh ya, ayok kita makan siang bareng. Ini aku belikan tante makan siang juga.” Mendengar ucapan istrinya, Faishal segera menyahut, “Sayang kita makan berdua.”
Sebelum Natasya mengajak putrnya pulang, Faishal kembali berucap, “Natasya, hari ini kamu aku ijinkan pulang lebih awal. Kasian putrimu”
” Baik Tuan, terimaksih.”
“Ayook sayang.” Natasya mengajak putrinya pulang. Terlihat Naura enggan untuk pulang. “Nola ingin belmain dengan kakak Syela dulu mah.”
__ADS_1
“Bermainnya bisa besok lagi sayang. Kamu harus pulang dan tidur siang dulu.”
“Tapi,…”Naura tampak keberatan. Syeila segera mendekat kearah Naura, “Iya Naura. Bener kata mamahmu, kita besok bisa main bareng lagi.” Seketia Naura berbinar, “Bener kak?”
“Iya bener.” Syeila tersenyum. “Janji?” Naura menyodorkan jari kelingkingnya. “Iya kakak janji Naura.” Syeila ikut menyambut sodoran jari kelingking Naura.
“Makasih kakak.” Naura berhambur kepelukan Syeila. “Nola udah nggak sabal ketemu besok hihihi.”
“Nola pulang dulu kakak Syeila yang cantik.” Naura melambaikan tangan dan berlalu dengan mamahnya keluar dari ruangan Faishal.
Selepas kepergian Naura, ruangan Faishal Nampak lengang. “Kasian Naura ya sayang,” ucap Syeila.
“Hmm.”
‘Ihh, kok hemmm doang sih Yang. Aku tuh ingin denger pendapatmu?”
__ADS_1
“Kita makan dulu aja ya? Baru dilanjut nanti ngobrolnya. Karena obrolan nanti akan menguras emosimu Yang.” Tentu kalimat terakhir hanya dalam batin Faishal.