Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
bab 128


__ADS_3

Syeila berdiam sebentar, berfikir sebelum menjawab, “Naura?”


Naura bertepuk tangan heboh, “Yei yei, kakak benel. Kaka cantik emang pintel. Yei yei.” Naura tertawa heboh, dan hal itu menular ke Syeila, Mia dan Cici untuk ikut tertawa.


Setelah tawa mereka reda, Cici kembali bertanya, ketika menyadari mata Naura bengkak setelah diamati dengan teliti. “Loh dek, kamu habis nangis ya? Kamu takut ya tadi mau ketabrak?” Naura hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan menikmati eskrim.


Cici yang memang tidak puas dengan jawaban Naura kembali bertanya, “Terus kenapa menangis? Ada yang menyakitimu?”


Naura kembali berhenti menyuapkan es krim dimulutnya. Kemudian dengan menggebu gebu, Naura menceritakan kebohongan mamahnya yang membuatnya menangis.


“Naula benci sama mamah kak,” tutup Naura, dan kembali lelehan air mata turun membasahi pipi ketika mengingat


Syeila merasa iba dengan cerita Naura, yang sedari kecil tidak merasakan kasih sayang orang tua yang lengkap. Khususnya kasih sayang papanya. “Hei Naura. Naura nggak boleh benci sama mamah Naura. Kakak yakin, pasti mamah Naura punya alasan berbohong seperti itu. Naura marah sesaat boleh, tapi jangan sampai benci ya. Apalagi sama mamah Naura,” ucap Syeila.

__ADS_1


“Iya sayang. Kamu jangan sampai membenci mamahmu ya. Kasian mamahmu kalau sampai kamu membencinya. Pasti hati mamamu rasanya sakit sekali,” timpal Mia dengan tangan yang sibuk membersihkan lelehan air mata di pipi tembem Naura.


“Ehem, Syei. Lo agak sini deh.” Pinta Cici supaya Syeila mendekat kearahnya. “Ada apa Ci?”


“Syei, mungkin kamu bisa minta tolong suamimu untuk mencari tau papahnya Naura deh. Aku tuh kasihan sekali dengan Naura. Tapi sebenarnya juga gregetan dengan emaknya. Kok bisa bisanya sih mengakui orang lain sebagai bapaknya.” Memang benar, mendengar cerita Naura, Cici merasa iba dengan Naura sekaligus gregetan sendiri dengan mamahnya Naura yang seakan melempar masalah ke orang lain.


“Ya kali, tuh bapak single. Kalau tuh bapak bapak udah punya bini ya berabe dong rumah tangganya tuh bapak. Duh gue kok jadi ngeri ya, mamahnya Naura seakan akan memang sengaja dengan menumbalkan anaknya,” lanjut Cici.


“Ihhh Lo itu Syei. Ingat Lo itu sudah berumah tangga. Harusnya Lo faham trik trik wanita kayak gitu. Mungkin Lo sekarang bisa berfikir positive saat ini. Tapi kalo suami Lo yang di akui sebagai bapak anaknya. Hayo gimana?”


Syeila melotot mendengar ucapan Cici. “Ih, Cici, amit amit deh. Jangan sampai Ya Allah.”


“Makanya, Lo itu juga berhak waspada Syei. Apalagi suami Lo itu udah dewasa, ganteng, gagah dan mapan lagi. Gue yakin pasti banyak yang naksir.”

__ADS_1


Syeila masih terdiam, dan Cici melanjutkan lagi ucapannya, “Dan terkait Naura, menurut gue nggak papa deh Lo bicarain ke suami Lo. Bukan bermaksud apa apa sih, tapi kan sepertinya mamahnya kerja di perusahaan Lo. Gue takut aja nih, takut aja emaknya akan nyari mangsa lain. Tapi semoga aja nggak sih. semoga memang ada alasan yang masuk akal sampai membuat mamahnya berbohong. Cuma Lo kan tau, kalau hal kayak gini tuh gue  agak sulit kalau harus positive thingking.”


Mendengar ucapan Cici, tidak dipungkiri membuat Syeila juga berpikiran negative. “Iya sih, kalau dipikir pikir memang benar ucapanmu Ci. Baik deh. Nanti coba Syeila bicarakan dengan Om Fai.”


Kemudian Syeila mengembalikan tempat duduknya ke tempat semula. Dan melihat Naura yang sibuk dengan eskrimnya dan jangan lupa Mia yang dari tadi sabar membersihkan noda noda eskrim yang berada disekitar


mulut Naura.  Syeila juga kembali menikmati es krimnya.


***


“Akak. Eskrim Nola udah habis,” lapor Naura kepada Syeila.


Syeila yang eskrimnya juga sudah habis segera mengajak Naura ke perusahaan Faishal, “Oh oke. Sekarang kita kembali keperusahaan tempat mamahmu bekerja yuk. Kakak anter.”

__ADS_1


__ADS_2