
“Akak. Es klim Nola udah habis,” lapor Naura kepada Syeila.
Syeila yang eskrimnya juga sudah habis segera mengajak Naura ke perusahaan Faishal, “Oh oke. Sekarang kita kembali keperusahaan tempat mamahmu bekerja yuk. Kakak anter.”
Cici mencegah Syeila. “Loh loh tunggu Syei. Ini Lo langsung ke perusahaan. Enggak jalan jalan dulu a?”
“Kasian Naura Ci. Syeila khawatir kalau mamahnya nyariin Naura juga.”
“Oh yaudah sih. Nanti habis dari ngantar Naura, Lo kesini lagi kan?”
Syeila melihat jam tangannya sebelum menjawab pertanyaan Cici, “Hmmm. Kayaknya nggak deh Ci. Ini sudah mau makan siang juga. Syeila mau makan siang bareng suami Syeila. Maaf ya.”
“Oh oke deh nggak papa.” Setelah berpamitan dengan Mia dan Cici, Syeila mengajak Naura beranjak dari tempat tersebut.
“Naura. Kita beli makan dulu ya buat makan siang,” ajak Syeila mencari makan siang dahulu.
“Iya kak.” Naura mengangguk.
“Naura mau beli apa?”
“Nola mau steak sama beliin bulgel ya kak. Sama minumnya itu kak lemon tea sama es boba.” Syeila mengerjap mendengar ucapan Naura. “Pantes saja badannya gembul, ternyata makannya kuat banget,” batin Syeila dalam hati sambil terkikik sendiri.
__ADS_1
“Kakaaaak,” rengek Naura.
“Eh iya Naura.” Syeila tersadar dari lamunannya. “Bolehkan kak.” Uhhh gemesnya Syeila melihat Naura yang wajahnya memelas penuh harap.
“Boleh dong. Yuk kita pesan.” Akhirnya Syeila juga memesan seperti Naura. “Oh iya Nura. Mamahmu suka steak sama burger juga kan ya?”
Naura mengangguk, “Iya kak. Mamah suka kok.”
“Oke kakak belikan buat mamahmu juga.” Syeila memesan juga buat mamah Naura dan David sang asisten suaminya.
Setelah selesai, Syeila dan Naura berjalan menuju perusahaan Faishal. Tangan Syeila yang satu untuk membawa makanan dan yang satunya memegang tangan Naura.
“Naura tempat mamahmu bekerja ada di lantai berapa?” tanya Syeila ketika mereka sudah sampai di lobby perusahaan.
Syeila menghela napas. “Nama mamahmu siapa Naura?”
“Mamah Natasya kak.”
“Natasya? Kayak pernah dengan tuh nama. Tapi dimana ya? Bodohlah, nanti bisa Syeila tanyakan ke Om Fai,” batin Syeila.
“Yaudah. Sekarang kamu ikut ke ruangan suami kakak dulu ya. Nanti kakak tanyakan ke suami kakak.” Naura hanya mengangguk.
__ADS_1
Sesampainya dilantai paling atas, lantai dimana tempat Faishal bekerja, dan tentu saja di lantai tersebut juga terdapat ruangan sekretaris dan asisten Faishal. Tiba tiba Naura berseru, “Kak, kakak. Itu luangan mamah Nola kak. Itu luangannya.”
Naura melepas genggaman tangan Syeila dan berlari menuju ruangaan mamahnya. Sedangkan Syeila mematung, “Bukannya itu ruangannya tante sekretaris? Berarti…?” Syeila lumayan kaget, tidak menyangka ternyata Naura anak dari sekretaris suaminya. “Nanti Syeila tanyakan ke Om Fai aja lah. Syeila nggak boleh berfikir yang aneh aneh,” lanjut Syeila sembari menggetok pelan kepalanya beberapa kali.
“Kaakaaak,” panggil Naura yang berjalan kembali kearah Syeila. “Iya Naura. Kamu nggak masuk ke ruangan mamahmu?”
“Mamah nggak ada kak,” melas Naura. “Oh mungkin mamahmu sedang rapat. Kita masuk keruangan suami kakak ya?”
Sesampainya didepan ruangan Faishal, mendadak Naura berhenti. “Ayok Naura masuk.”
Naura menggeleng, “Nola takut kak.”
“Hei kenapa takut. Itu ruangan suami kakak. Tenang aja suami kakak baik kok.” Naura mengerjap sebelum bertanya, “Belalti di luangannya itu luangan suami kakak?”
“Iya naura.”
Merasa belum puas dan belum faham, lagi lagi Naura bersuara, “Suami itu yang nanti kalo kakak punya adek bayi, telus adeknya manggil papah gitu ya kak?”
“Iya Naura sayang.” Gemes Syeila. “Nanti kalau dedek bayinya udah keluar, kakak akan menjadi mamah dan suami kakak akan menjadi papah,” jelas Syeila sembari mengelus perutnya.
Mendadak mendengar ucapan Syeila dan paham dengan ucapan Syeila, Naura menunduk dengan ekspresi sedih sembari bergumam pelan, “Belalti dia benelan bukan papah Nola.”
__ADS_1
“Kamu bilang apa Naura barusan.” Naura hanya menggeleng saja sebagai respon.