
Faishal yang melihat Syeila menangis kejer segera direngkuh tubuh Syeila, kemudian berucap dengan tangan mengelus punggung Syeila yang bergetar hebat, “Cup cup, jangan nangis sayang. Sudah jangan nangis ya, saya tidak bisa melihatmu menangis sedih kayak gini.”
Ya, hati Faishal tersayat dan terasa nyeri melihat biji sawinya menangis seperti ini. Sungguh, Faishal juga ikut merasakan sakit yang teramat dalam dan tanpa Faishal sadari dia juga ikut meneteskan air matanya.
Sedangkan disudut yang lain, tampak sahabat dan teman Faishal melihat Faishal yang berjongkok sambil mendekap Syeila. Tidak hanya mereka saja, tetapi pengunjung yang lain juga melihatnya. Sungguh, mereka semua berdecak kagum dengan tindakan Faishal yang menurut mereka sangat romantis.
Namun, beberapa dari mereka terkekeh setelah mendengar ucapan Faishal dalam menenangkan istrinya. Ya, semua pengunjung tau kalau mereka suami istri setelah mendengar ucapan Faishal tadi.
Tetapi berbeda dengan para sahabat Faishal. Mereka tetap kagum dengan sosok Faishal. Selama mengenal Faishal, mereka belum pernah melihat Faishal yang mau repot repot menenangkan orang terdekatnya. Apalagi ditengah umum, jelas Faishal tidak akan mau. Paling langsung ditinggal pergi atau nggak diseret pergi.
Sadis memang, tapi begitulah Faishal. Dan berkat Syeila, mereka bisa melihat sosok Faishal yang lain. Sosok Faishal yang sepertinya mulai peduli dengan sekitar. Terbukti, tadi mau mengobrol cukup hangat dengan Donita, salah satu panitia di next reuni.
Jangan ditanya bagaimana Faishal dulu. Faishal dulu sangat tertutup dan dingin terhadap semua wanita kecuali Mommynya dan wanitanya.
Kembali lagi ke Syeila dan Faishal.
Faishal masih sibuk menenangkan Syeila yang masih saja menangis. Tak henti hentinya Faishal mengelus punggung bergetar Syeila dan bergumam, “Sudah dong sayang jangan nangis, saya jahat kenapa hem?”
“Hiks hiks hiks Om jahat hiks, Syeila nggak like ya Om hiks hiks.” Syeila terus nangis sesengggukan didekapan Faishal sampai tidak sadar menggunakan bahasa yang lagi ngetrend pada saat itu. Nggak like.
Faishal yang awalnya terhanyut sedih mendadak terkekeh geli mendengar ucapan Syeila yang ikut ikutan remaja sekarang. Maklum, Syeila masih remaja sih ya.
Faishal segera menyeka air mata yang sempat jatuh dipipi, setelah itu berucap dengan tangan yang setia mengelus punggung Syeila yang masih bergetar, “Suuuut, sudah dong sayang.Jangan nangis terus.”
“Hiks hiks hiks, Om jahat hiks hiks. Om selingkuh dengan tante itu hiks.”
Faishal yang mendengar ucapan Syeila segera dijauhkannya wajah Syeila dari dekapannya dan dipegang kedua bahu Syeila, kemudian berucap,”Saya selingkuh?”
“Iya hiks hiks, Om selingkuh hiks hiks. Syeila nggak like ya punya suami tukang selingkuh hiks,” sahut Syeila sesenggukan dengan tangan mengusap kasar wajahnya.
Astaga, Faishal melongo mendengar kalimat terakhir. Mau selingkuh apa an. Dekat sama perempuan pun cuma dengan biji sawinya. Kalau yang mendekati memang banyak. Tapi kan hanya dianggap angin lalu.
Untuk menuntaskan rasa penasarannya, segera Faishal kembali bertanya,”Emang kapan saya selingkuh?”
__ADS_1
Syeila hanya terus sesenggukan, Faishal kembali membuka suara dengan mengguncang bahu Syeila pelan,”Tatap wajah saya Syeila. Emang kapan saya selingkuh?”
Syeila yang dari tadi menunduk, seketika mendongak memperlihatkan wajah sembabnya. Kemudian berujar,”Hiks
disini tadi Syeila melihat Om hiks makan berdua dengan tante tante hiks.”
Faishal mulai faham, ternyata biji sawinya hanya salah paham saja. Kemudian berucap,”Saya tidak selingkuh, tadi hanya teman saya. Percayalah!”
Dikecupnya kening, mata dan bibir mungil Syeila secara bergantian, setelahnya, segera ditarik tubuh biji sawi dan didekapnya kembali untuk memberikan rasa hangat yang menjalar di hati.
Melting sumpah. Ya para pengunjung yang melihat mereka merasa melting sendiri. So sweet nya. Dunia seperti milik berdua. Padahal, saat ini mereka masih berjongkok dan berpelukan ditengah tengah restoran loh. Tapi sepertinya mereka lupa keadaan.
***
Namun, hal tersebut tidak bertahan lama ketika sabahat Syeila telah selesai dengan semua hajatnya.
Cici yang melihat sahabatnya dipeluk erat oleh suaminya ditengah tengah restoran, mengerjapkan matanya beberapa kali, sebelum akhirnya berjalan mendekat ke dua sejoli yang sepertinya lupa daratan.
Sesampainya di dekat Syeila, Cici memegang pundak Syeila kemudian berucap,”Syei, loe kenapa nangis. Loe dilihatin para pengunjung loh.”
Sedangkan Faishal baru sadar, bahwa sekarang mereka sedang ditatap para pengunjung. Astaga, malu sekali. Sungguh, Faishal lupa kalau masih ada direstoran.
Segera Faishal menyuruh Cici gabung di meja sahabatnya. Setelah Cici pergi, didekapnya Syeila lebih erat beberapa saat sampai sesenggukannya tidak tterdengar lagi, kemudian mendekatkan bibirnya ditelinga Syeila dan berbisik,”Sudah ya sayang jangan menangis lagi, malu loh dilihatin para pengunjung. Yuk, gabung dengan sahabat saya dan saya jelasin kalau saya tidak selingkuh.”
Faishal segera berdiri, tetapi belum berdiri dengan sempurna, tangan Syeila sudah mengalung erat dileher dan menenggelamkan wajah sembabnya di ceruk leher Faishal. Mengakibatkan Faishal kembali berjongkok.
“Gendong Om!”
“Tapi Syei…”
Belum selesai Faishal berucap, segera Syeila menyela, “Ish, gendong Om. Syeila malu ih.”
Faishal menghela napas berat, bukannya nggak mau gendong. Ini masalahnya di tempat umum loh. Kan bahaya kalau si othong bangun gara gara kegelian dengan deru nafas Syeila yang menerpa kulit lehernya karena meninggalkan sensasi yang errrrrhg.
__ADS_1
Sedangkan, Syeila yang tidak mendengar jawaban dari Om Fainya, menjauhkan wajahnya supaya dapat berhadapan langsung dengan wajah Om Fainya.
“Gendong Om, Syeila malu,” cicit Syeila disertai tampilan melas dan cemberut di wajah sembabnya, kemudian kembali menenggelamkan wajahnya diceruk leher Faishal.
Mau tidak mau Faishal harus mengalah. Akhirnya Faishal membawa Syeila dalam gendongannya. Jangan menghayal gendongan yang romantis, Faishal menggendong Syeila di depan seperti emak yang menggendong anaknya.
Sesampainya di meja sahabatnya, Faishal melihat para sahabatnya terkekeh hanya memberikan tatapan tajam, dan seketika mereka langsung bungkam.
Kemudian Faishal berucap,”Sayang duduk sendiri ya.”
“Nggak mau Om.”
“Katanya mau dijelasin kalau saya tidak selingkuh.”
Para sahabat yang mendengar kata selingkuh keluar hanya melongo. Oh jadi bininya Faishal ngambek karena mengira Faishal selingkuh. Kurang lebih itulah isi pikiran sahabat Faishal.
Sedangkan Syeila masih terus menenggelamkan wajahnya diceruk leher Faishal, kemudian berucap,”Ish, ya jelasin tinggal jelasin aja sih Om. Syeila kan malu Om, Syeila habis nangis ini.”
Terpaksa, Faishal duduk dengan tidak menurunkan Syeila dan membawa kepangkuannya. Semua yang ada di meja tersebut tidak ada yang mengeluarkan suara, mereka semua kompak membungkan suara.
“Ehem.” Faishal berdehem membuat semua atensi yang ada dimeja tertuju kepadanya.
“Syeila, coba tadi kamu bilang gimana saya selingkuh? Saya selingkuh dengan siapa hem?” tanya Faishal
“Dengan tante yang duduk dimeja ini, tadi Syeila melihat Om ngobrolnya hangat banget sama tante tersebut, berdua lagi. Apalagi ini kan cafe romantis yang kebanyakan para pasangan yang dateng Om,” sahut Syeila panjang lebar tanpa menjauhkan wajahnya dari leher Faishal.
Mendengar ucapan Syeila, semua atensi dimeja tersebut mengarah ke Donita. Dan Donita yang menyadari bahwa yang dikira selingkuhan itu adalah dirinya hanya mengerjapkan matanya beberapa kali.
Tak lama, Faishal membuka suara dengan nada dingin kepada Donita,“Bisa tolong loe jelasin ke istri gue kalau kita tidak memiliki hubungan apapun?”
.
.
__ADS_1
.
TBC