Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 48


__ADS_3

Halo kak, sebelumnya author minta maaf atas keterlambatan update 2 hari ini 🙏🏻. Dab author juga mengucapkan terimakasih bagi yang mengikuti karya author sampai saat ini. Buat vote, like dan komentar yang posistif dan membangun, author ucapkan terimakasih.


Selamat Membaca!.


***


Terdengar helaan napas Daddy Abian, kemudian berucap dengan nada tegas, “Son, kami senang hubungan kalian meningkat. Tapi tolong tahan libido gairahmu. Jangan sampai hal seperti semalam terjadi. Katanya kamu menggarapnya sore malam sampai tidak bisa jalan. Untung Syeila tidak sampai pingsan. Kamu boleh melakukannya, setiap haripun juga nggak masalah, tapi juga tau batasan kemampuan lawanmu.”


Faishal menundukkan wajahnya. Ya Faishal sadar apa yang diperbuat kemarin, walaupun Faishal merasa melakukannya dengan sangat pelan, tapi nyatanya biji sawinya tetap kesakitan.


Disisi lain Daddy Wijaya yang melihat raut wajah Faishal, segera bersuara, “Kak Abian, sudahlah. Urusan rumah tangga anak kita, biarkan anak kita saja yang mengurus. Apalagi ini masalah ranjang.


“Tetapi kita sebagai orang tua perlu….”ucap Daddy Abian, namun belum selesai Daddy Abian berbicara, sudah dipotong oleh Mommy Meri sambil menggelengkan kepalanya, berharap Daddy Abian tidak lagi mengomeli Faishal, “Sudah lah Dad.”


Daddy Abian yang melihat itu hanya menghela napas panjang. Jujur, sebenarnya bukan masalah orang tua yang sok sok an ikut campur rumah tangga anaknya.


Iya, bukan maksud Daddy Abian terlalu ikut campur  masalah rumah tangga anaknya, apalagi masalah ranjang. Tetapi, Daddy Abian tidak ingin Faishal seperti dirinya dulu.


Seperti dirinya yang hampir kehilangan Faishal. Makanya Daddy Abian hanya ingin mengingatkan Faishal saja, supaya lain kali bisa melakukannya dengan lebih lembut lagi.


Kembali lagi Daddy Abian menghela napas panjang, sebelum dia berucap, “Maafin Daddy Son, bukan maksut Daddy ikut campur. Tetapi Daddy cuma ingin mengingatkanmu, agar lembut dalam melakukannya.”


Faishal menoleh kearah Daddy Abian dengan menipiskan senyum kemudian berucap, “Baik Dad, akan Faishal ingat. Terimakaish banyak ya Dad, sudah mengingatkan Faishal.”


“Sudah sudah, ayok kita sarapan, “ ucap Mommy Meri mencairkan suasana yang sebelumnya terasa dingin.


“Iya ayok sarapan, Oh ya Nak, Syeila tidak turun?” timpal Mommy Lena


“Tidak Mom, kami mau makan di kamar aja,bsekalian saya menemaninya. Saya kesini mau mengambilkan sarapannya.”


“Oh ya sudah.”


Kemudian Faishal segera mengambil nasi dan beberapa lauk. Setelah dirasa cukup segera Faishal melangkah meninggalkan meja makan tidak lupa membawa sarapannya, “Mom Dad, Faishal ke atas dulu.”


“Iya.”


Setelah Faishal meninggalkan ruang makan, Mommy Meri berceletuk, “Alhamdulilah, akhirnya mereka ada kemajuan.”


“Iya Jeng, kita tinggal nunggu cucunya saja kapan tercetak hihihi,” sahut Mommy Lena.


“Tetapi lebih dari itu Jeng, saya senang. Saya merasa sedikit demi sedikit Faishal kembali seperti dulu.”


“Iya Mom, Daddy juga merasa Faishal kembali hangat seperti dulu,” timpal Daddy Abian.


“Alhamdulilah, semoga mereka selalu baik baik saja,” ucap Daddy Wijaya.


Semua tersenyum dan bahagia melihat perkembangan hubungan Faishal dan Syeila.


Disisi lain Faishal yang sampai kamar, segera mendekat ke arah biji sawinya.

__ADS_1


“Om, kok cuma ada satu piring?” tanya Syeila bingung yang melihat Om Fai nya hanya ada satu piring dengan dua minuman.


“Iya Syeila, kita memang makan dalam satu piring,” sahut Faishal santai, kemudian mendudukkan dirinya di samping biji sawinya.


Blus, pipi Syeila merona mendengar ucapan Om Fai nya dan , “Astaga kenapa jantung Syeila jedag jedug gini ya, gara gara mau makan satu piring dengan Om? Ya ampun, Syeila juga malu ya Lord!”


“Aaa Syeila,” ucap Faishal sembari menyodorkan sendok berisi makanan kepada biji sawi nya.


Syeila tersadar setelah mendengar ucapan Om Fai nya, kemudian mengerjap pelan sebelum menerima suapan demi suapan dari Om Fai nya.


Setelah selesai Faishal menaruh piringnya di meja samping nakas.  Kemudian merapikan bajunya dan mengambil tas kerjanya.


“Syei, saya berangkat kerja dulu ya, “ ucap Faishal.


Syeila mengangguk kemudian meraih tangan Om Fai nya untuk di cium, “Iya Om.” Setelahnya Faishal membungkuk sedikit,  kemudian Cup,


Dilumatnya pelan bibir bijisawi nya dan disesap sebentar. Kemudian beralih mencium kening biji sawi. Setelahnya Faishal keluar kamar,


Syeila yang mengetahui Om Fai nya keluar bernapas lega, " Haaah, akhirnya, Ik Fai keluar jaga. Kan bahaya kalo jantung Syeila jedag jedug terus." Kemudian Syeila kembali main dengan hape nya.


***


Sesampainya Faishal dibawah, ternyata para Daddy nya juga mau berangkat. Sebelum melangkah keluar, Faishal dipanggil Mommy Lena.


“Nak, kesini sebentar?” pinta Mommy Lena


“Iya Mom.”


Setelah di dekat Mommy Lena, segera Mommy Lena bersuara, “Nak, tadi Mommy lupa mau menyampaikan pas di ruang makan. Mommy hanya ingin Syeila tidak memanggilmu Om. Mommy mohon ya Nak, bimbing Syeila. Setidaknya dia bisa mengubah  panggilannya terhadapmu supaya tidak Om lagi.”


Faishal menghela napas pelan sebelum bersuara, “Baik Mom.”


“Ya sudah Nak, Mommy hanya ingin mengatakan itu.”


Setelahnya Faishal segera pamit kepada para orang tua nya dan bergegas berangkat bekerja. Sesampainya  di di luar rumah Faishal menghela napas berat.


“Haaaaaah, akhirnya gue terlepas juga dari petuah petuah mereka, “lirih Faishal mengiringi langkahnya menuju mobil yang ada di garasi kediaman mertuanya.


Sesampainya digarasi, segera Faishal menaiki mobilnya dan segera mengemudikan mobilnya menuju ke kantornya.


Faishal sampai dikantor pukul delapan pagi. Ya, Faishal telat dari biasanya. Sang Asisten sekaligus sahabatnya pun juga heran, tumben tumbenan telat tanpa ngasih kabar. Tetapi dari semua itu, untungnya tidak ada meeting


pagi. Pagi sampai siang, Faishal hanya perlu menandatangi berkas dan melihat serta mengoreksi beberapa laporan saja.


Tok..tok..tok. Terdengar pintu ruangan Faishal diketuk.


“Masuk,” sahut Faishal.


Ternyata asistennya David yang masuk. Ya iyalah karena yang bisa masuk ke ruangan Faishal hanya tertentu saja. Sekretarisnya pun jarang sekali masuk, kalau pun masuk keruangan Faishal untuk laporan atau apapun, hanya ketika sang asisten tidak ada ditempat.

__ADS_1


David membungkuk kemudian berucap, “Sudah waktunya makan siang, Tuan.”


Faishal yang sibuk dengan berkasnya kemudian mendongak dan melihat jam yang bertengger di pergelangan tangannya, “Ahh iya, sudah waktunya istirahat. “


Kemudian Faishal berdiri dan melangkah mendekat ke sang asisten, “Kita ke restaurant yang biasa aja ya. Sekalian jangan lupa bawa berkas yang diperlukan buat ketemu klien nanti siang dan sore nya.” Kemudian Faishal melangkah keluar dan David hanya mengangguk mengikuti dari belakang.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Faishal dan David segera menuju ke salah satu tempat yang dijanjikan untuk meeting. Alhamdulilah meeting tersebut berjalan lancar, begitupun dengan meeting kedua. Semuanya berjalan lancar.


 Dan tidak terasa sekarang sudah jam empat sore. Faishal sudah tidak sabar ingin bertemu dengan biji sawinya. Sampai sampai dia menyuruh sabahat sekaligus asistennya untuk memesan taksi saja.


“Enak saja, masak gue harus pesan taksi sih bro,” protes David yang merasa keberatan. Dan terus berusaha membuka pintu samping kemudi. Berharap sahabatnya tidak benar benar meninggalkannya.


“Hari ini aja, maaf gue nggak bisa. Gue pengen cepet sampai rumah. Bye,” ucap Faishal yang sudah mulai menjalankan mobilnya.


“Sahabat sialan,” desis David. Bukan apa apa sih, masalahnya hape nya tinggal sedikit loh baterainya.


“Semoga baterainya cukup buat pesen taxi online. Semoga semoga, semoga sedikit lagi, semoga…... Arhhhhg sialan,” gumam David sembari mengotak atik hapenya untuk memesan taxy online, namun sayang belum sempat memesan, baterainya keburu habis.


“Hahhhh.” David menghela napas berat. Bener bener dongkol hatinya, masalahnya bukan karena naik taxi sebenarnya. Tetapi ini baterainya habis loh, dan kebetulan sekali, untuk mencari taksi David harus berjalan setidaknya 1 km. Catet gengs 1 km baru bisa ketemu taxi.


Memang, meeting kali tempatnya sedikit jauh dari akses kendaraan umum. Akhirnya dengan menghela napas panjang, David berjalan kaki dan berharap tidak sampai satu kilo, dia sudah menemukan taxi atau minimal ojek.


Sedangkan disisi lain, Faishal yang mengemudikan mobilnya, nampak sangat bahagia. Bahagia karena sebentar lagi akan bertemu biji sawinya. Faishal mengemudi dengan terus mengembangkan senyumnya.


Padahal ya, baru pergi beberapa jam saja, tetapi Faishal sudah merasa seminggu tidak berjumpa dengan bijinya. Alay emang Om Fai!


Dan tidak lama terdengar bunyi dering ponselnya. Faishal mengambil dan melihat siapa pemanggilnya. Faishal senyam senyum sendiri karena melihat nama pemanggil nya. Ya, yang menelpon Faishal adalah Syeila.


Faishal menepikan mobil dan menormalkan dirinya, kemudian dia segera mengangkat telponnya, “Ya Syei Halo.”


“Om, kapan pulang?”


Ceeees, mendengar ucapan biji sawinya, Faishal melambung tinggi. Faishal yakin kalau biji sawi nya juga tengah merindukannya.


“Iya Syei, saya ini perjalanan pulang. Tunggu sebentar ya, tidak lama lagi sampai rumah kok”


“Oh Syukur deh. Syeila titip belikan roti bantal ya Om.”


Faishal mengerjap matanya pelan, semoga bukan seperti bayangannya, semoga. Kemudian Faishal kembali bersuara, “Kamu bilang apa Syei?”


“Belikan roti bantal ya Om, emm maksut Syeila Softex,” ucap Syeila lugas.


“Apaaaaaa?”


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2