
“Syeila mana Son. Kok kamu belum berangkat kerja?” tanya Mommy Meri setelah duduk di ruang tamu.
“Syeila sakit Mom.” Faishal berucap dengan kepala menunduk.
“Apa?” pekik Mommy Meri tertahan. Tidak hanya Mommy Meri tetapi semua yang ada di situ terkejut. Terlebih orang tua Syeila.
Hal serius apa yang membuat anaknya sampai sakit. Pasalnya, Syeila itu jarang sakit, jadi wajar dong ya kalau orang tua Syeila khawatir.
Sedangkan Mommy Meri yang tujuan awalnya ingin mengajak menantunya cek ke dokter kandungan untuk memastikan kalau dugaannya benar, mendadak emosi.
Perlahan Mommy Meri melangkah mendekati Faishal yang masih tertunduk,
PLAK,
“Auwssss,Mooooom,” ringis Faishal memegangi punggungnya yang di geplak oleh Mommy Meri.
“Apa? Haaaa? Apaaa? Kamu apakan menantuku haaa? Kenapa bisa sampai sakit? Sudah Mommy bilang jangan membuatnya stress.”
"Jangan bilang gara gara kamu memaksanya ke psikiater membuat menantuku sakit,” lanjut Mommy Meri kepada Faishal yang terus menunduk .
Faishal yang tersadar , faktor terbesar penyebab Syeila sakit adalah dirinya, hanya mampu diam menunduk mendengar omelan Mommynya.
Sedangkan yang lain terkesiap dengan ucapan Mommy Meri, “psiakiater?” gumam mereka kaget.
“Iya, anak kurang ajar ini menyuruh menantuku periksa ke psikiater. Dia kira menantuku gila apa.” Mommy Meri kembali meluap luap ketika mengingat bahwa Syeila akan di bawa ke psikiater.
Mommy Meri mengambil napas panjang sebelum kembali berucap, “Haaaaahhh, menantuku itu tidak gila ya Son. Tidak gila. Tapi sepertinya hamiiiiil.”
__ADS_1
“Hamil?” gumam mereka sekali lagi, kecuali Faishal dan Mommy Meri.
“Iya sepertinya Syeila hamil. Makanya aku mengajak kalian kesini untuk bersama sama memeriksakan Syeila ke dokter kandungan.”
“Iya Mommy memang benar, Syeila memang hamil. Tapi kondisinya saat ini sedang tidak fit.” Setelah lama terdiam, akhirnya Faishal membuka suara.
“Nah kan, ayo jeng kita lihat keadaan Syeila. Disini lama lama aku bisa esmosi jeng lihat anakku satu satunya yang mengira menantuku gila,” lanjut Mommy Meri yang sangking khawatirnya sampai kepleset dalam berucap..
"Emosi jeng," koreksi Mommy Lena.
"Iya itulah pokoknya. Ayoo Jeng."
“Iya jeng. Ayo,” sahut Mommy Lena yang memang sudah khawatir dengan anaknya. Apalagi sedang berbadan dua.
“Mom, jangan berisik ya. Kata dokter Syeila perlu istirahat yang cukup.” Setelah lama terdiam, akhirnya Faishal membuka suara.
Tinggallah Daddy Abian dan Faishal di ruang tamu. Faishal merasa aneh, tidak biasanya Daddynya memberikan tatapan tajam. Ya, dari datang Daddy Abian sudah memberikan aura yang tidak bersahabat.
“Dad,” panggil Faishal tercekat yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Daddynya.
“Ke ruang kerjamu.” Daddy Abian langsung menuju ke ruang kerja Faishal yang ada di samping kamar Faishal dan Syeila.
“Dia kembali kan?” Daddy Abian langsung to the point
Faishal terkesiap mendengar penuturan Daddynya, “Bagaimana Dadd bisa tau…”
“Tentu Daddy tau. Jangan kamu pikir setelah menikah kamu semakin bebas. Apalagi kamu menikah dengan Syeila.”
__ADS_1
“Dan jangan sekali kali kamu berfikir akan meninggalkan Syeila hanya demi dia.” Lanjut Daddy Abian.
“Tentu tidak Dad,” jawab Faishal sedikit gusar.
“Kalau tidak kembali dengannya, terus kenapa anaknya sampai memanggilmu papa haa?” tanya Daddy Abian penuh penekanan di setiap katanya.
“Itu…” Faishal bingung mau mulai dari
mana.
“Jawab Son? Jangan bilang kalau memang benar anak tersebut anakmu? Jawab?” Daddy Abian sudah emosi karena Faishal terlihat ragu memberikan jawaban.
“Bukan Dad. Dia bukan anakku. Aku tidak pernah berhubungan sangat dengan wanita manapun kecuali Syeila.” Faishal menjawab cepat ketika Daddynya sudah terlihat emosi.
Daddy Abian lega ternyata anaknya bukan laki laki brengseek. “Tapi kenapa anak kecil tersebut memanggilmu papa?”
“Hahhhh, itu sebenarnya..” Belum sempat Faishal menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong oleh Daddynya.
“Sudah Son. Intinya anak tersebut bukan anakmu, itu sudah cukup bagi Daddy. Dan segera kamu selesaikan masalahmu. Terutama anak tersebut yang memanggilmu papa, jangan sampai keterusan di kemudian hari masih memanggilmu papa. Apalagi sampai istrimu mengetahui, tentu akan menimbulkan kesalahpahaman yang akan mengancam kelangsungan rumah tanggamu.”
Daddy Abian diam sejenak, kemudian menepuk punggung anaknya seraya berucap, “Renngkan apa yang Daddy ucapkan. Daddy mau menemui menantu Daddy dulu.” Daddy Abian berlalu pergi meninggalkan Faishal sendiri di ruang kerja.
.
.
.
__ADS_1
TBC