
Selesai dengan makan malamnya, Faishal berjalan menuju belakang lebih tepatnya menuju ke para orang tua yang sibuk dengan bakar bakar. Lebih tepatnya bakar jagung.
Sesampainya disana, Faishal merasakan aura aura agak gimana ya, yang jelas memasuki kawasan para perkumpulan orang tua, Faishal melihat tatapan menggoda dari mereka.
Faishal mendelik, tapi tak urung Faishal juga menyapa mereka, “Malam Mom Dad.”
Para orang tua menanggapi ucapan Faishal dengan senyuman, kemudian Daddy Wijaya berucap, “Sini Nak.”
Faishal yang mendengar ucapan dari Daddy Wijaya segera melangkah mendekat dan duduk di kursi yang kosong.
Faishal baru saja mendudukkan bokongnya, Mommy Meri langsung berceletuk, “Gimana Son kuda kudannya? Tahan banting berapa ronde kalian? Enak banget kan?”
Faishal yang mendengar ucapan Mommy Meri melototkan matanya tidak percaya, astaga Mommy kandungnya nya memang nggak ada akhlah! Please deh disini ada yan lain loh, bukan Faishal sendiri. Ehh ngomong ngomong bagaimana Momminya bisa tau kalau dia habis ehem ehem ini, wah wah ada yang konsipari nih. Pasti ada yang memberitahu, harus pura pura nih. Begitulah pikir Faishal.
“Ehem, apa an sih Mom?” tanya Faishal pura pura tak tahu.
“Jangan sok sok an nggak tau Nak, tadi kita denger kok Syeila bilang ikan nila dan mujaer terus teriak sakit hihihihi. Emang apa yang di bilang ikan?” sahut Mommy Lena disertai cekikikan.
“ Dan jangan lupa Son, kalau mau enak enak lagi yang pelan pelan aja, kasian menantu Daddy katanya teriak dan nangis kenceng?” timpal Daddy Abian.
Sedangkan Daddy Wijaya tertawa geli mendengar ledekan dari istri dan besan nya kepada Faishal.
Astaga, memang benar benar dah para orang tua, Faishal sampai ngelu dan tidak bisa berkata kata untuk menyahuti ucapan orang tua nya, sekedar memberi pembelaan pun, Faishal tak sanggup.
Ternyata bukan hanya Mommy kandungnya nya saja yang nggak ada akhlak, tetapi para orang tua disini nggak ada akhlak semua. Suka bener goda anaknya, nggak lihat ini Faishal sudah malu pake banget dengan wajah semerah tomat.
Ketika ehem ehem pun, Faishal juga tidak kesampaian untuk bertanya terkait ruangannya yang kedap suara atau nggak. Maklum, udah dapet enak enak biasanya lupa daratan!
Disisi lain, Daddy Wijaya yang melihat raut wajah Faishal yang memang terlihat sekali malu segera angkat bicara, “Sudah sudah, jangan digodain lagi menantuku, kita semua sudah pernah mengalami nya. Emm Mom ambilin yang sudah selesai dibakar buat menantu kita?”
Semua yang memberikan tatapan menggoda dan sesekali tertawa geli karena melihat raut wajah Faishal segera berhenti.
Mendengar ucapan Daddy Wijaya, mereka sadar dulunya juga sudah pernah mengalaminya.
Kemudian Mommy Lena segera mengambil yang sudah selesai dibakar.
“Oh iya Nak Faishal, besok akan Daddy pasang kedap suara dikamar Syeila, jadi besok besok jika mau enak enakkan nggak usah khawatir kalau ada yang denger. Nggak usah malu, jika digodain gituan, semua pasangan pasti akan mengalami nya. Pesen Daddy, kamu pelan pelan ya, walaupun sudah pernah di bobol biasanya untuk kedua ketiga tetap masih terasa sakit,” ucap lagi Wijaya.
Faishal yang mendengar ucapan dari Daddy mertuanya, entah kenapa merasa hangat dan rasa malu yang bercokol didirinya berangsur berkurang, kemudian Faishal berucap, “Baik Dad.”
Tidak lama, Mommy Lena membawakan jagung bakarnya yang sudah matang. Dan akhirnya mereka terlibat obrolan kecil sembari menikmati jagung bakar.
Namun tidak lama, setelahnya Faishal segera meminta izin kembali ke kamar, karena baru ingat, ternyata biji sawi nya belum makan malam.
__ADS_1
“Mom Dad, saya izin ke kamar ya. Saya lupa tadi Syeila masih tidur dan belum makan malam.”
“Iya Nak,” sahut Mommy Lena dan yang lain hanya menganggukan kepala pertanda mengijinkan.
Segera Faishal melangkah pergi menuju kedalam. Terlebih dahulu Faishal menuju ke dapur mengambilkan makanan untuk biji sawinya.
Sesampainya dikamar, pemandangan tidak jauh berbeda sebelum Faishal keluar. Faishal meletakkan piring dan minumnya di nakas samping tempat tidur.
Kemudian Faishal duduk di pinggir tempat tidur, dibelainya pipi tembem biji sawinya dan berucap. “Bangun sayang.”
“Bentar, Syeila masih capek ih,” sahut Syeila tanpa membuka suara.
“Sayang, makan dulu ya habis itu tidur.”
“Euuuungh Emm.” Syeila hanya bergumam
Faishal yang melihat biji sawinya susah dibangunin, segera memperpendek jarak diantara mereka, kemudian Faishal mengarahkan bibirnya ke telinga Syeila dengan tangan yang masih setia membelai pipi Syeila, “Bangun sayang, atau kita buka ronde selanjutanya.
Tetap dengan mata tertutup, Syeila hanya berdehem, kemudian berbalik membelakangi Faishal.
Faishal yang melihat itu langsung mengeluarkan tatapan mesumnya, “Okay biji sawi, malam ini kamu yang minta.”
Segera dibalik tubuh Syeila, dan sekarang menjadi telentang. Disingkapnya selimut yang menjadi satu satu nya penutup bagi biji sawinya.
Wuuuuh, kembali Faishal di suguhi tubuh polos Syeila. Sudah polos, depan lagi. Serasa Faishal mendapat durian runtuh saja.
“Ahhh, elo thong! Sudah mau bangun aja,” ucap lirih Faishal sambil melirik kebawah, kemudian Faishal melepas semua pembungkus yang melekat ditubuhnya.
Setelah semua terlepas, Faishal merangkak ke tempat tidur dan mengungkung tubuh Syeila. Segera Faishal mel*mat bibir biji sawinya, perlahan namun pasti l*matan tersebut disertai dengan gigitan gigitan kecil yang mengakibatkan biji sawinya melenguh.
Puas dengan area bibir, Faishal menurunkan cumbuannya ke area leher dan terus turun kebawah, sehingga sekarang bibir tebal Faishal sudah bertengger di salah satu pucuk bukit kembar Syeila, Faishal mengeksplore habis habisan bukit kembar biji sawi nya secara bergantian.
Sedangkan Syeila yang merasa tidak nyaman, terutama di area sensitifnya mengakibatkan Syeila membuka mata. Terkejut pasti, Syeila terkejut melihat Om Fai nya berada diatasnya.
“Om ahh,” panggil Syeila disertai desahan yang lolos dari bibir mungil nya.
Faishal hanya bergumam sambil terus mengeplore bukit kembar biji sawinya dengan tangan dan mulutnya.
“Astaga, ahh Om aahh.” Segera Syeila menjauhkan wajah Om Fai nya.
“Om gigit dan remasnya jangan keras keras dong, sakit ih!”
“Maaf ya, kita lanjut ya.”
__ADS_1
“Hem,” ucap Syeila pasrah, karena teringat ucapan Mommy nya siang tadi yang mengatakan Syeila harus menurut kalau Om Fai minta ehem ehem.
Faishal yang mendapat respon positif dari biji sawinya, kembali mengeksplore tubuh biji sawinya tanpa terkecuali, sampai sampai biji sawi nya bergelinjang hebat dan mendesah seksi secara beraturan.
Dan sekarang saatnya permainan inti, digesek gesekkannya milik Faishal ke milik Syeila dan perlahan mulai menerobos kembali mengakses surga dunia.
Tetapi baru seperempat, tiba tiba Syeila bersuara setelah dapat mengatur nafasnya, “Om tunggu?”
Perlahan Syeila melihat kebawah, astaga Syeila melotot kemudian merengek, “Om, jangan dimasukin ikannya, punya Syeila masih sakit Om.”
“Astaga, kalau nggak dimasukin kita nggak bisa merasakan enak Syeila?”
“Tapi sakit Om.”
“kali ini nggak akan sakit, saya akan pelan pelan. Okay?”
Lagi lagi akhirnya Syeila hanya mengangguk pasrah. Dan kembali Faishal memberikan rangsangan rangsangan sebelum masuk ke inti permainan.
Setelah dirasa cukup rangsangan yang diberikan, perlahan namun pasti Faishal menerobos ke akses surga dunianya berbarengan dengan pekikan kesakitan Syeila.
“Auuuw, sakit Om hiks hiks. Om bohong hiks, sakit hiks.”
Faishal segera memberikan kecupan di mata dan bibir Syeila secara bergantian dan sesekali bergumam, “Maaf ya sayang, sebentar lagi tidak akan sakit.”
Faishal mendiamkannya sejenak, sambil menunggu biji sawinya berenti terisak dan rileks ikut menikmati sensasi yang dirasakannya.
Setelah dirasa cukup, segera Faishal menggerakkannya perlahan dan semakin kesini semakin cepat. Sampai mereka mencapai pada puncaknya.
Akhirnya, dihari yang sama mereka kembali menikmati surga dunia!
***
Pagi hari sinar matahari menerobos masuk dicelah celah korden, sehingga mengganggu tidur nyenyak dua insan yang masih lelah akibat kegiatan panas mereka.
Secara perlahan Syeila membuka matanya, dan pemandangan pertama membuat Syeila mendelik.
Astaga, lagi lagi tangan Om Fai nya namplok di salah satu bukit kembar Syeila. Segera Syeila singkirkan, kemudian segera beranjak.
Namun, baru mau menggerakkan tubuhnya, tiba tiba dia mendelik terkejut dan seketika berteriak keras, “Awwwwwww.”
.
.
__ADS_1
.
TBC