
Saat itu, terlihat waktu menunjukkan pukul empat sore dan rapat telah selesai. Terlihat di ruang rapat tinggal Faishal ditemani oleh asisten dan sekretarisnya.
“Oh ya, kalian langsung pulang saja. Saya mau kembali ke ruangan, menemui istri saya!” ucap Faishal kepada asisten dan sekretarisnya.
“Baik Tuan!” Setelahnya, Faishal berjalan keluar ruangan dan menuju ke lantai paling atas, tepatnya ke ruangannya sendiri.
Ceklek! Tampak, ruangannya kosong sunyi tanpa berpenghuni. Yah, dan Faishal tau harus mencari kemana istrinya, sudah pasti ada di kamarnya.
Ketika masuk kedalam kamar yang ada diruangannya, terpampang jelas pemandangan biji sawinya yang tidur terlelap.
Faishal mendekat kearah Syeila, perlahan namun pasti, di belainya wajah Syeila, mulai dari pelipisnya, hidungnya dan turun sampai ke bibir mungil bak cherry milik Syeila.
Faishal membungkuk sedikit, dengan mensejajarkan wajahnya sambil bergumam lirih, “Terimakasih sayang, perlahan aku merasakan bahwa aku mencintaimu. Benar benar mencintamu, dan tidak akan pernah melepasmu!”
Cup, kecupan yang cukup lama didaratkan di bibir Syeila, dengan mata yang terpejam menikmati setiap rasa yang menghangat di relung hatinya. Yap, hanya kecupan tanpa ada *****-*******.
Kemudian Faishal meninggalkan Syeila dan berlalu keluar kamar menuju kursi kebesarannya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Ya, setelah Faishal melihat biji sawinya pulas tertidur, dia memutuskan untuk tidak membangunkannya.
Faishal yang sudah larut dengan pekerjaannya, tidak menyadari hari sudah mulai beranjak gelap. Faishal baru menyadari ketika menyelesaikan pekerjaanya. “Astaga, sudah petang saja.”
Terlihat, sekarang sudah pukul setengah tuju malam, dan sepertinya masih belum ada tanda tanda biji sawinya terjaga.
Ampun, biji sawinya memang kayak kerbau dah. Lama bener kalau tidur.
Faishal melangkahkan dirinya ke kamar mandi dan cuci muka terlebih dahulu , baru kemudian membangunkan Syeila.
Cup, didaratkannya kecupan kecupan basah di area wajah biji sawinya dengan tangan yang merangkum wajah biji sawinya. Sedangkan, disisi lain,
__ADS_1
Tidak tau, sudah berapa jam Syeila tertidur, Syeila mengernyit karena dirinya merasakan ada kecupan kecupan basah di area wajahnya. Pelan pelan Syeila mengerjapkan matannya karena merasa terganggu.
Syeila mengerjapkan matanya beberapa kali masih mencoba menyesuaikan dirinya, tetapi kecupan kecupan basah yang di terimanya tidak kunjung berhenti.
“Say-sayang,” ucap Syeila setelah sadar bahwa yang memberi kecupan basah di area wajahnya adalah suaminya, dan tak lupa tangan mungilnya pun menyangga dada Faishal supaya berhenti memberikan kecupan.
“Bangun sayang, ayook kita pulang.”
Syeila mengernyit bingung mendengar ucapan Faishal, sedangkan Faishal yang faham akan kebingungan Syeila kembali membuka suara dengan tangan kekarnya yang membelai lembut pipi pualam Syeila,” Kita masih dikantor sayang. Tadi tidurmu pulas. Jadi tidak aku bangunin.”
Syeila mengerjap beberapa kali, “Em baik. Tapi ini, sayang menyingkir dong. Syeila nggak bisa bangun ih.”
Faishal terkekeh mendengar ucapan biji sawinya yang sepertinya sudah sadar sepenuhnya, “Baik sayang. Ku tunggu diruanganku ya.” Kemudian Faishal melangkah kembali kelur kamar.
Selang lima belas menitan, Syeila sudah terlihat segar kembali, dan berucap, “Ayok sayang, kita pulang.”
“Hem.” Syeila dan Faishal berjalan keluar ruangan dengan tangan Syeila yang selalu menggelayut manja Faishal.
“Em, Syeila ngikut aja. Tetapi dibungkus saja ya, Syeila malu kalau makan di tempatnya, kan Syeila masih pake seragam yang,” sahut Syeila disertai rengekan manjanya.
“Iya sayang.” Faiishal menjawab dengan tangan yang gemas mengacak rambut biji sawi nya.
“Ih sayang, mulai deh! Berantakan kan rambut Syeila,” gerutu Syeila dengan mengerucutkan bibirnya.
Faishal terkekeh mendengar gerutuan biji sawinya.
Sesampainya di basement, segera mereka memasuki mobil dan meluncur keluar dari Amar.Corp.
Kurang lebih dua jam mereka sudah sampai di apartemen Faishal, dan sebelumnya mereka juga sudah membeli makanan untuk di bungkus.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen, Faishal langsung ngacir ke dapur dan menyiapkan makan malamnya. Maklum, Faishal memang sudah lapar.
Baru saja Faishal menaruh makanan dan mengambil beberapa mangkuk dan pirirng, terdengar suara istri kecilnya, “Sayang mau ngapain?”
“Mau makan sayang.”
Syeila mengerjap mendengar ucapan Om Fai nya, kemudian berucap, “Sayang jangan makan dulu, mandi dulu ih.”
“Iya sayang, nanti setelah makan aku langsung mandi.”
“Ih, mandi dulu ih. Nanti kalau setelah makan baru mandi perutnya bisa buncit. Syeila nggak like ya kalau suami Syeila perutnya buncit.”
Astaga gemes Faishal dengan biji sawinya, tadi anteng anteng aja. Eh kenapa sekarang sudah keluar aja toanya.
“Sayang, itu hanya mitos okey. Biarin suami tampanmu ini makan dulu. Sini kamu juga sekalian makan malam.” Dan Faishal segera menuangkan nasi serta lauk pauknya di piring.
Disisi lain, Syeila mendelik tajam mendengar ucapan serta tindakan Faishal dan tanpa banyak kata Syeila berucap,”Terserah!” dan berlalu pergi.
Tidak lama, kembali terdengar suara bantingan yang amat keras.
Blam.
Faishal terdiam kaku mendengar bantingan pintu kamar mereka, kemudian mengelus dada ketika mengingat sesuatu dan bergumam, “Astaga, seram juga ternyata kalau bini lagi kedatangan tamu bulanannya!”
.
.
.
__ADS_1
TBC