
“Oh ya, kalau kamu mau tidur, tidur aja dulu Yang, pasti kamu capek,” lanjut Syeila yang sudah mulai menyantap makannya.
Faishal tersenyum smirk, “Nggak Yang, aku nemenin kamu makan dulu.”
“Enak saja, dari siang udah gue turutin, masa nggak dapat upah?” lanjut Faishal, tapi didalam hati ya. Hahahaha.
Selama Syeila sibuk menikmati mi nya, Faishal sibuk mengamati Syeila yang begitu lahap makan mi tersebut. Semakin lama Faishal melihat Syeila, yang berulang kali memasukkan mi ke dalam mulut mungilnya, semakin membuat dirinya dilanda sesak.
“Ya ampun, kenapa tuh bibir dah jontor aja sih. Kan gue semakin pengen nyipok,” batin Faishal dengan jakun yang sudah naik turun.
Syeila menghentikan makannya ketika menyadari bahwa suaminya menatap intens dirinya. “Sayang, kamu mau mi nya ya?”
Faishal yang ketahuan memandangi Syeila, mencoba berdehem untuk mengurangi hawa panas dalam dirinya, “Ehem, nggak kok sayang. Kamu makan aja.”
“Kok ngelihatin Syeila kayak gitu?” Dengan pandangan memicing Syeila menatap Faishal.
Faishal mengelus rambut lurus Syeila, “Ya nggak papa dong. Kan kamu istri aku. Udah kamu segera habisin makananmu.” Tanpa pikir panjang, Syeila kembali berjibaku dengan makanannya.
Setelah habis mi nya, Syeila segera meletakkan piring dan gelas kotornya di dapur. Sesampainya di kamar, Syeila segera merangkak ke ranjang pembaringannya. Terlihat Faishal yang sudah bersandar di ranjang.
“Selamat malam Yang,” ucap Syeila dan bersiap untuk tidur.
__ADS_1
“Eits tunggu dulu Yang.” Faishal mencegah Syeila yang sudah hampir memejamkan matanya.
“Ada apa Yang. Syeila udah ngantuk loh,” sahut Syeila lemah, seraya menghadap Faishal. Jujur saja, seharian setelah aktivitas jalan jalan, Syeila merasa capek saat ini. Syeila benar benar ingin tidur.
Faishal dengan tampang polosnya. Entah dibuat polos atau memang polos beneran, Faishal berucap, “Imbalannya mana?”
Kening Syeila mengkerut, “Imbalan apa sih Yang?” Jangan lupakan bibir mungil Syeila yang sudah mengerucut sebal. Uhhh malah menggemaskan dimata Faishal.
“Ya imbalan. Kan hari ini semua keinginanmu aku turuti Yang,” sahut Faishal dengan senyum smirknya.
Mata Syeila membulat sempurna. Syeila tidak habis pikir dengan jalan pikir suaminya, “Astaga, jadi kamu nggak ikhlas Yang?”
“Ya ikhlas lah Yang. Tapi aku ingin dapat imbalan.”
“Aku mintanya sekarang Yang.”
“Ya ampun sayang. Kamu itu Ya?” Syeila sudah mau emosi. Suaminya bener bener nyebelin. “Yaudah berapa?” lanjut Syeila.
Dan dengan bodohnya Faishal malah menjawab, “Apanya?” sambil mengulum senyum.
“Sayaaaang.” Gemas Syeila dengan suaminya yang seakan mau mempermainkan dirinya.
__ADS_1
Faishal tergelak, “Aku nggak minta bayaran kok Yang.”
“Lah terus imbalan tadi apa?”
“Imbalannya enak kok?”
“Maksutnya?” mata Syeila memicing ketika melihat gelagat aneh suaminya.
“Aku hanya minta imbalan ini, ini, ini dan ini.” Faishal menyentuh titik titik sensitive Syeila dan ada beberapa yang di remas.
“Asrgggg ampun sayang. Jangan sekarang ya. Syeila benar benar capek dan ingin segera tidur.” Syeila memohon kepada Faishal.
“Heheh, kamu cukup diam saja Yang. Biar kali ini aku saja yang bekerja.” Faishal sudah menindih tubuh mungil Syeila.
“Tapi sayang ahhhhhh.” Syeila sudah tidak dapat berkonsentrasi karena suaminya sudah menyerang menyusupkan wajahnya ke leher jenjang Syeila. Sentuhan sentuhan sensual, Faishal berikan kepada Syeila.
Mendapati serangan suaminya, kepala Syeila pening. Syeila sudah tidak bisa berkonsetrasi lagi. Ambyar sudah kewarasan Syeila. Yang ada sekarang, Syeila malah menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya. Dan akhirnya hanya ada suara ******* yang saling menyahut sampai pagi menjelang.
.
.
__ADS_1
.
TBC