
“Selamat Pa……gi.” Faishal tertegun melihat ada satu sosok yang amat sangat dia kenal. “Natasya,”
gumam Faishal pelan.
Sedangkan Natasya yang memang sudah yakin Faishal yang memimpin perusahaan ini semakin melebarkan senyumnya dan membatin, “Akhirnya Ai.”
Faishal yang masih terkejut dengan Natasya yang ada di kantornya, terlebih berada di ruang rapatnya, tidak menyadari bahwa sapaannya sudah di jawab oleh semua yang ada di ruang rapat.
David yang cukup peka dengan kondisi Faishal, segera menyikut pelan lengan Faishal tanpa di sadari oleh semua orang.
Dan hal tersebut sukses membuat Faishal kembali ke kesadaran semula. Segera David bersuara pelan, “Tuan, sudah waktunya Rapat.”
“Tolong, rapat kali ini kamu yang memimpin,” titah
Faishal.
“Tapi Tuan.”
“David,” tekan Faishal dengan suara rendahnya.
“Baik Tuan.” Meskipun kikuk, tapi David berusaha senormal mungkin duduk di kursi pimpinan.
Ya biasanya kalau ada Faishal dan meskipun rapat dipimpin oleh David, Faishal akan tetap duduk di kursi pimpinan.
Mungkin, karena suasana Faishal yang gelisah makanya Faishal memilih duduk di kursi yang biasanya di duduki oleh David, tepatnya di samping kursi pimpinan. Begitulah kira kira isihati David.
Rapat pun berjalan, dengan David yang memimpin jalannya rapat. “Tuan bagaimana menurut Tuan terkait usulan tadi?”
Faishal tersentak mendengar pertanyaaan David. Karena jujur saja, selama rapat Faishal banyak melamun. Entah apa yang di lamunkan oleh Faishal hanya dirinya yang tau.
“Rapat kali ini aku serahkan ke kamu.” Hanya itu yang dapat Faishal katakana. David yang mengerti pun segera mengangguk.
Dan begitulah jalannya rapat. Waktu Faishal habis digunakan untuk melamun.
__ADS_1
***
Disisi lain, setelah Faishal berangkat. Syeila menghela napas panjang. Jujur raja, Syeila agak keberatan dengan keputusan Faishal yang satu bulan kedepan meminta Rendy untuk mengantar jemputnya.
Tetapi sekali lagi Syeila tidak boleh egois. Karena bagaimanapun bulan ini adalah bulan bulan sibuknya Faishal.
Setelah berkelana dengan pikirannya, Syeila segera berganti baju dan bersiap siap. Selesai bersiap siap, Syeila turun kebawah.
“Pagi Dad,” sapa Syeila yang memang kebetulan di ruang makan hanya ada Daddy Abian.
“Pagi Nak.”
Syeila menarik kursi tempat duduknya sembari bersuara, “Mommy nggak ikut sarapan bareng Dad?”
“Tidak Nak, Mommy masih perlu istirahat. Nanti sarapannya di antar pelayan. Oh ya suamimu mana?”
“Udah berangkat Dad.”
“Satu bulan ini, tidak bisa mengantar jemput Syeila Dad, karena sibuk dengan perusahaannya. Jadi Syeila di antar jemput sama Rendy.”
Daddy Abian menghela napas, “Oh ya sudah Nak, ayo sarapam.”
Selesai sarapan, Daddy Abian juga bergegas berangkat ke kantor, “Nak, kamu Daddy antar mau?”
“Tidak usah Dad. Rendy sudah dalam perjalanan kemari.”
“Baiklah kalau begitu Daddy berangkat dulu ya?”
“Iya Dad.” Kemudian Syeila mencium punggung tangan Daddy Abian. Dan Syeila menunggu Rendy di teras rumah.
Tidak lama Daddy Abian pergi, datanglah Rendy dengan membawa salah satu mobil perusahaan sebagai fasilitasnya untuk mengawal Syeila.
“Hai Ren Ren.” Syeila melangkah masuk ke mobil.
__ADS_1
“Hai Syei, maaf membuat Lo menunggu. Tadi gue nganter adik gue dulu.”
“Iya nggak papa kok Ren. Kita langsung berangkat ya Ren.”
“Oke Bu Bos.” Segera Rendy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke sekolah.
***
Kembali lagi di perusahaan Amar.Corp
Selesai rapat, Faishal segera meninggalkan ruangan rapat tanpa sepatah kata pun. Sesampainya di ruangan, Faishal segera menghubungi David dan mengatakan bahwa dia tidak mau di ganggu.
Faishal gelisah, gundah gulana tak menentu, “Kenapa kamu datang di waktu yang tidak tepat.”
Karena jujur saja, rasa itu masih ada yang tertinggal. Apalagi saat ini, Faishal kembali mengingat ucapan Daddynya tempo hari yang membuatnya semakin bingung. Faishal semakin bingung dengan hatinya.
Faishal harus membuat keputusan. Keputusan yang memang sudah harusnya Faishal pilih tanpa perlu pertimbangan lagi.
Tetapi Faishal belum sanggup bertemu kembali dengan Natasya, meskipun dalam urusan pekerjaan. Sebenarnya Faishal berharap pertemuan di reoni kemarin adalah pertemuan terakhir mereka.
Maka dari itu. untuk menghadapi Natasya yang ternyata menggantikan Rumi sang sekretari, Faishal harus menata hatinya supaya dia tidak salah langkah seperti kemarin. Sampai tertidur di rumah Natasya.
Dan yang Faishal butuhkan sekarang adalah ketenangan. Hanya satu nama yang terlintas di benak Faishal yang dapat memberikan ketenangan baginya.
SYEILA, ya hanya dia yang Faishal butuhkan saat ini, supaya tidak salah langkah, yang berujung pada penyeselan.
.
.
.
TBC
__ADS_1