
“Astaga,” desah David memijit pelipisnya pelan. Pusing dengan segala tingkah istri Faishal. Ya ampun, David nggak kuat, bener nggak kuat. Belum selesai David dengan kepusingannya, sayup sayup dia mendengar isak tangis.
Astaga, lagi lagi David mendesah lelah mendengar isak tangis tersebut. Siapa lagi yang menangis
diruangan ini kalau bukan Syeila istrinya Faishal. Huhhh, David geleng geleng kepala.
Padahal David udah bilang loh, catet David udah bilang kalau Faishal hanya tergores. Tetapi istrinya Faishal sampai sekarang masih saja nangis sesenggukan.
“Sudah Syei, nggak usah nangis. Kan Faishal nggak kenapa kenapa,” ucap David dengan menghela napas. “Hiks, hiks.. Tetapi kok belum bangun bangun sih Om hik hiks. Padahal Syeila sudah hiks hiks.” Syeila hanya sesenggukan duduk di samping brangkar Faishal, bingung mau bilang laper, tetapi nggak berani.
Catet ya, Syeila bingung mau bilang kalau laper, apalagi Faishal masih belum bangun bangun. Syeila
nggak berani mau bilang ke Om David. Lihatlah, wajah Om David terlihat eneg melihat wajahnya. Makanya Syeila hanya bisa menangis, berharap Faishal segera bangun.
Sedangkan, David yang mendengar ucapan Syeila kembali bersuara,“Nanti dia jug….” Namun, belum sempat David menyelesaikan kalimatnya, tiba tiba Faishal menyela dengan perlahan membuka matanya, “Eungggg, berisik
banget sih!”
Astaga, David melongo mendengarnya. Sahabatnya memang agak laknat! Baru siuman dari pingsan saja sudah bilang berisik dan ketus lagi. Ahhh, tetapi kalau dipikir pikir memang sahabat satunya ini selalu ketus dan dingin.
Disisi lain Syeila yang melihat Faishal sudah siuman segera berhambur kepelukan Faishal, “Hiks hiks sayang sudah sadar hiks hiks. Akhirnya hiks sayang sudah sadar hiks hiks.”
Faishal yang seakan tersadar dengan kejadian sebelumnya segera melihat keadaan biji sawinya, “Sayang, kamu tidak papa kan. Tidak ada yang terluka kan?”
“Hiks hiks Syeila nggak papa. Untung lukamu juga nggak parah yang, hanya tergores saja hiks hiks,” sahut Syeila yang masih sesenggukan.
Faishal mendesah lega mendengarnya. Faishal tidak bisa membayangkan kalau terjadi sesuatu kepada biji sawinya. Huhh, apalagi tubuh biji sawinya yang mungil, Faishal nggak bisa membayangkan kalau sampai mobil tadi melukai biji sawinya.
__ADS_1
Tetapi, Faishal mengernyit ketika melihat biji sawinya masih terus sesenggukan dipelukannya. Faishal mencoba mendongakkan wajah biji sawinya dengan tangan kiri, karena tangan kanan masih sedikit sakit akibat tergores.
Terlihat wajah sembab Syeila, dan jangan lupa kalau Syeila masih betah dengan tangisnya. “Hei sayang. Aku sudah tidak apa apa, kamu nggak usah khawatir. Aku hanya tergores saja hem,” ucap Faishal memberikan pengertian.
“Syeila tau hiks hiks kalau hanya tergores hiks hiks,” jawab Syeila. Faishal tambah mengernyit, “Lalu kenapa masih nangis hem?”
Syeila melirik kearah Om David sebelum menjawab, “Syeila laper. Hiks hiks, Om David ketus dan kelihatan nggak suka sama Syeila hiks hiks. Jadi Syeila nggak berani minta makan hiks hiks.”
Faishal membeliak mendengar ucapan biji sawinya. Faishal tau kalau biji sawinya itu paling tidak bisa menahan lapar,walaupun nggak makan nasi setidaknya Syeila harus makan cemilan.
Tetapi Faishal juga tidak bisa memarahi David. Faishal tau apa yang dialami David. Apalagi Syeila dalam kondisi panik dan lapar, pasti Syeila akan sangat menyebalkan dengan kepolosannya yang meningkat kelevel yang lebih tinggi.
Yah, meskipun Syeila sudah menunjukkan sisi dewasa, tetapi di kondisi tertentu sisi kekanakannya akan kembali muncul dibarengi dengan tingkat kepolosannya yang jauuuuh jauh dari level biasanya. Seperti saat Syeila panik, misalnya.
Sedangkan David yang mendengar kalau Syeila lapar, matanya membola tidak percaya, “Astaga, loe lapar. Loe bilang lah kalau mau beli makan. Nih gue kasih duit, loe bisa beli makan.” David menyodorkan uang seratus ribuan kepada Syeila.
Astaga, David melotot pengen merobek mulut mungil yang menyuruh seenaknya. Dan Faishal yang mendengar ucapan Syeila hanya mengangguk lemah sambil berucap, “Iya Vid, tolong loe belikan makan siang ya.”
Akhirnya antara mau dan tidak mau, David pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut untuk mencari makan.
Setelah David keluar, ruangan tersebut menjadi hening. Hanya terdengar sesenggukan sisa tangisan Syeila. Faishal mencoba duduk bersandar diranjang pesakitannya. Kemudian tangan kiri Faishal menyampirkan anak rambut Syeila yang berantakan dan berucap, “Sudah, jangan nangis lagi yang. Kan udah dibelikan makan sama David.”
Syeila hanya menganggukan kepalanya dengan tangan yang sibuk membersihkan wajahnya yang basah air mata.
“Ehem, berarti kamu tadi nangis bukan khawatir kepadaku hem?” tanya Faishal ketika tangisan Syeila sudah mulai reda.
Syeila memanyunkan bibirnya dengan mata yang mulai berkaca kaca kembali, karena mengingat betapa dirinya khawatir karena Faishal memejamkan matanya, “Ya Syeila khawatir lah yang. Kamu nggak bangun bangun tadi. Tetapi Syeila tadi juga laper.”
__ADS_1
Faishal terkesiap melihat mata biji sawinya sudah berkaca kaca dan kembali bersuara, “Ehhhh, jangan nangis lagi yang.”
Syeila segera menghapus air matanya kasar sebelum jatuh kepipi, segera menghambur kembali kepelukan Faishal, “Syeila nggak nangis lagi kok. Tetapi tadi, Syeila beneran takut. “ Syeila mendongakkan wajahnya menghadap wajah Faishal, dengan suara bergetar menahan tangis, Syeila kembali bersuara, “ Syeila takut kalau sayang kenapa napa, Syeila takut kalau sayang nggak bangun bangun.”
Tes, setetes air mata Syeila kembali jatuh. Faishal segera menghapus air mata tersebut dengan tangan kirinya. Dan Faishal dapat menangkap ucapan tulus dan ketakutan dari sorot mata biji sawinya.
“Aku tidak kenapa napa sayang. Kamu jangan takut ya. Dan terimakasih sudah mengkhawatirkanku.” Tanpa banyak kata, Faishal segera memberikan kecupan diwajah Syeila, mulai dari kening, kelopak mata, hidung, dan terkahir,
Cup, dikecupanya bibir mungil Syeila berkali kali dan diberikan gigitan kecil kecil sebelum akhirnya dibenamkan sempurna bibir seksih Faishal ke bibir mungil Syeila.
Faishal mel*mat rakus bibir bawah dan atas Syeila dan meneroboskan lidahnya masuk mengabsen setiap inci rongga mulut Syeila. Syeila pun juga begitu, mencoba mengimbangi permainan bibir Faishal.
Entah bagaimana ceritanya, sekarang Syeila sudah berada diatas Faishal dengan tangan yang meremas manja rambut Faishal, sedangkan tangan kiri Faishal sudah melingkar memberikan remasan dipinggang Syeila.
Faishal dan Syeila masih intens memberikan lum*tan his*apan\, seakan akan tinggal hari ini waktu mereka untuk bisa menikmatinya. Faishal dan Syeila seakan terlarut suasana. Mereka terus mencecap\, mel*umat dengan rakus sampai akhirnya\,
"Syeilaaaaaaaa!!!." Terdengar suara menggelegar diruangan tersebut, membuat Syeila dan Faishal terkesiap.
Syeila dengan gelagapan segera melompat turun dari atas tubuh Faishal dan tidak sadar malah terduduk di brangkar sebelah kanan. Dan hal tersebut membuat Faishal reflek berteriak, "Auuuuuuuuuwww!"
Astaga, Syeila mengerjap polos dan panik, ketika mengetahui apa yang didukinya sekarang.
.
.
.
__ADS_1
TBC