Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 102


__ADS_3

“KALIAN ADA DIMANA HAAAAA?”


Astaga, Rendy mengelus dada dan menelan ludah kasar. “Astaga, galak banget sih suaminya Syeila,” batin Rendy.


“KALIAN ADA DIMANAAAA?” sekali lagi Faishal berteriak dan membuat Rendy terjengkit kaget.


Sebelum suami Syeila semakin mengaum, segera Rendy menyahut, “Tuan kami ada di depan rumah Pak RT di komplek Nirwana.”


Tanpa menjawab, lagi lagi Faishal langsung mematikan sambungan teleponnya. “Ya ampun rasanya kayak spot jantung saja,” desah Rendy.


“Ren Ren, kenapa suami Syeila kayak marah gitu?” Syeila mengerutkan keningnya karena penasaran.


Rendy meringis, “Maaf Syei. Tadi gue lupa tidak memberitahu posisi kita kepada suami Lo.”


“A elah Ren Ren,” sahut Syeila yang seakan tau suaminya menjemput di mana. Sudah pasti Faishal mencarinya di sekolah.  Syeila kembali menghadap ke arah pohon mangga.


Dan Rendy hanya bisa menghela napas, sebelum kembali sibuk dengan soal soalnya.


Beberapa saat kemudian, terlihat mobil tengah berhenti di depan rumah Pak RT. Siapa lagi kalau bukan Faishal. Faishal terlihat celingak celinguk mencari keberadaan Syeila.

__ADS_1


Syeila yang tau suaminya sudah sampai pun segera membuka kaca mobilnya, “Sayang,” seru Syeila.


Faishal menoleh kearah suara yang menyapa gendang telinganya. Terlebih dahulu, Faishal menyingsingkan lengan bajunya sebelum berjalan mendekat.


“Kalian ngapain disini? Turun.” Faishal sudah dalam mode cukup menyeramkan.


Tapi Syeila tidak menyadari hal tersebut. Syeila dengan semangat turun dari taxi karena sudah tidak sabar membayangkan menikmati mangga incerannya.


Berbeda dengan Rendy yang menyadari sikap Faishal hanya turun dengan terus menunduk kebawah.


Faishal membayar sopi taxi tersebut sebelum mengintrogasi Syeila dan Rendy. Faishal bersedekap dada, sehingga mengurungkan niat Syeila yang ingin bergelayut manja di lengan suaminya.


Syeila yang memang belum menyadari dengan polosnya menyerocos, “Sayang, kok jelasin sih. Kan Syeila minta….”


Belum selesai Syeila bicara, Faishal sudah memotong, “Jelaskan kenapa kalian sampai membolos sekolah.”


“Apalagi kamu Syei. Kenapa kamu ulangi lagi memanjat pagar sekolah. Gara gara kalian, sekarang tiga sahabat kalian  sedang dihukum oleh BK karena memberikan keterangan palsu,” lanjut Faishal pelan tapi penuh penekanan di setiap kalimatnya.


Rendy hanya pasrah setelah mendengar ucapan demi ucapan dari atasannya. Pun Syeila yang hanya terus saling meremat meremas tangannya.

__ADS_1


Jangan lupa mata Syeila sudah berkaca kaca, “Sayang, jangan nyalahin Syeila dan Rendy dong. Ini bukan salah kita kok.”


Faishal mencoba tidak lulus melihat air mata yang menganak di pelupuk  mata Syeila, “Maksutnya.”


Dengan suara bergetar Syeila menjawab, “Salahin guru biologi aja yang nayangin pohon mangga, jadi dedek bayinya di dalam sini meronta minta mangganya Pak RT hwaaaa hiks.”


Pecah sudah tangis Syeila, “Ehh.” Faishal terkesiap.  Segera Faishal merangkum Syeila dalam pelukannya. Faishal baruu sadar ternyata Syeila tengah mengidam.


Kembali Faishal mengingat wejangan Mommynya, “Maaf sayang. Baik baik kamu mau mangga hem?”


Faishal menghujani wajah Syeila dengan kecupan kecupan berharap tangis Syeila berhenti.  Ya, benar saja. Beberapa saat kemudian tangis Syeila mulai mereda.


“Beneran sayang, mau ambilin mangganya? Karena dedek bayinya hanya mau kamu yang ambil mangganya Yang.”


Faishal mengangguk. Kemudian menghadapkan wajahnya ke arah Rendy yang terus menunduk sedari tadi.


“Untuk kamu Ren. Urusan kita belum selesai.”


“Dan kamu langsung saja ke kantor, ada yang harus kamu kerjakan,” lanjut Faishal dengan titahnya kepada Rendy.

__ADS_1


“Baik Tuan,” sahut Rendy dan segera berlalu pergi.


__ADS_2