Istri Kecil CEO

Istri Kecil CEO
Bab 79


__ADS_3

“Euuuuuungh.” Terdengar lenguhan halus Syeila. Syeila mencari kenyamanan dalam tidurnya dengan menyusupkan dirinya ke dada bidang suaminya.


Tangan mungil Syeila memeluk erat badan kokok Faishal seakan mencari kehangatan. Hal tersebut membuat Faishal terbangun. Faishal tersenyum melihat biji sawinya yang nyaman menyusup di dada bidangnya.


Maklum aja ya Syeila mencari kehangatan, karena selimutnya tersingkap. Akhirnya, Faishal menjauhkan wajah Syeila dan memposisikan Syeila supaya nyaman. Kemudian menyelimutinya.


Disingkapnya anak rambut yang menutupi sebagian wajah Syeila. “Kenapa kamu sangat manis banget sih sayang.” Dikecup dan digigit gigit gemas bibir mungil Syeila yang terbuka.


“Makasih banyak ratuku. Makasih banyak sudah menjadi cahaya di gelapku,” lanjut Faishal berbisik lirih. Setelahnya Faishal bergegas menuju kamar mandi.


Beberapa saat setelah Faishal ke kamar mandi, Syeila bangun dari tidurnya. “Eunghhh sahyang…” panggil Syeila dengan suara seraknya.


Syeila mengernyit setelah menyesuaikan dengan cahaya di kamar. Mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang suami.


“Sayang. Sayaaaang!” teriak Syeila sembari turun dari tempat pembaringan. Sadar ataupun tidak sadar, Syeila mencari keberadaan suami dengan tubuh yang masih polos tanpa sehelai benang pun.


“Saaaayang, Sayaaaaang!” Syeila mengernyit bingung, kemana sang suami. Ahh mungkin dikamar mandi.


Syeila menuju ke kamar mandi. Sebelum Syeila sampai menyentuh gagang pintu, tiba tiba pintunya terbuka dari dalam.


Keluarlah Faishal hanya dengan selembar handuk yang melindungi bagian terlarangnya. Faishal melotot melihat tampilan biji sawinya.


Astaga, belum sempat Faishal berseru, Syeila sudah mengeluarkan suara cemprengnya, “Sayaaang, kamu kemana aja sih.” Syeila mengerucut dengan tangan bergelantung manja di lengan Faishal.


Belum sempat Faishal sadar dengan ketekerjutannya, Faishal sekarang melongo dengan pertanyaan biji sawinya. Walaupun begituFaishal tetap menjawab dengan kening kengkerut, “Aku dikamar mandi.”


“Ihhh kok nggak bilang sih. Syeila kira kalau sayang tuh hilang dicuri mbah kunti tauk.” Mendengar penuturan Syeila, kening Faishal semakin berkerut. Ada apa dengan biji sawinya ini.

__ADS_1


Faishal ingin mengeluarkan suara, namun tertelan kembali dan berubah menjadi tegang. Bagaimana tidak tegang, saat ini Syeila tidak bergelayut manja lagi.


Tetapi dengan tubuh polosnya Syeila memeluk erat Faishal dan berceloteh, “Syeila kangen tau Yang. Jangan  ngilang tiba tiba ya. Harus lapor Syeila kalau mau kemana mana. Kengen itu berat loh Yang.” Syeila semakin mengeratkan pelukannya.


Ambyar ambyar. Faishal sama sekali tidak fokus dengan apa yang diucapkan Syeila. Apalagi othongnya udah tegak aja. Minta kembali masuk ke sarangnya.


Dengan menarik nafas panjangnya, Faishal membalas pelukan Syeila dan menghirup aroma tubuh Syeila. Entah sejak kapan, aroma tubuh biji sawinya sudah menjadi candunya.


Ahhh, bukan aromanya saja. Tetapi semua yang ada di tubuh Syeila sudah menjadi candunya.  Faishal sampai nggak habis pikir dengan dirinya yang sekarang.


Ketika dulu dia disodorkan seorang wanita seksi, dia masih bisa menahan nafsunya. Pun dengan wanita yang bertelanjang di depannya, dia tetap bisa menahan nafsunya.


Namun, sekarang berdekatan dengan biji sawinya saja, Faishal sulit mengendalikan nafsunya. Apalagi biji sawinya saat ini tengah poloos loooos loooos ya. Catet POLOS!.


Alhasil Faishal kembang kempis dengan wajah memerah siap untuk menggempur biji sawinya kembali. “Sayang,” panggil Faishal dengan suara paraunya.


“Sayang, aku nggak kuat.” Nafas Faishal semakin memburu, apalagi Syeila menggerakkan tubuhnya.


“Hah,”


“Aku menginginkanmu.” Syeila yang mendengar langsung faham kemana arah pembicaraan suaminya.


Sebelum Faishal mengeksekusinya, segera Syeila berseru, “Noooo. Sayang! Syeila nggak mau. Kan tadi sudah ih.”


“Sayang, salah siapa kamu menggodaku. Kamu kan tau kalau aku tidak bisa tahan iman.”


“Menggoda. Syeila nggak pernah tuh menggoda kamu.”

__ADS_1


Astaga, Faishal mengusap wajahnya kasar. “ Kalau bukan menggoda, terus kenapa kamu telanjanggg sayaaaaaaang?”


“Hah.” Syeila cengo dan segera melihat dirinya. Mata Syeila membulat sempurna ketika menyadari bahwa dirinya telanjangg bulat.


Tanpa aba aba Syeila segera mengambil seribu langkah sebelum habis mengenaskan karena lagi lagi digempur oleh suaminya. Tetapi belum sempat Syeila melangkah, Syeila sudah melayang berada di gendongan suaminya.


“Hwaaaaaaa sayang. Syeila nggak mau. Syeila nggak mau lagi. Syeila cape," teriak Syeila dengan memukul tubuh Faishal yang bisa di jangkau oleh tangan dan kakinya.


“Hehehe, kamu harus bertanggung jawab.”


“Sepertinya, kita main dikamar mandi lebih seru,” lanjut Faishal dengan terus terkekeh membawa Syeila ke kamar mandi. Apalagi mendapat pukulan dari biji sawinya. Bukannya sakit tapi malah enak seperti di pijit.


“Syeila nggak mau. Syeila nggak mau. Pokoknya nggak mau. Udah cape, Syeila udah cape,” pekik Syeila


“Tenang sayang. Kamu cukup diam saja. Biar suami tampanmu ini yang bekerja hehehe.”


“Huwaaa, tetapi Syehmpttt…” Suara Syeila tertelan karena serangan Faishal.


Akhirnya hanya terdengar suara desahann, erangann, jeritan nikmat dari dalam kamar mandi. Lagi dan lagi mereka melakukan kewajiban mereka. Dan tentunya Faishal memastikan bahwa benihnya tidak ada yang tercecer terbuang sia sia.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2