
Malam itu, keceriaan timbul di Xiao Wangfu. Chen Taifei Agung yang mendengar kabar itu segera menghampiri Huang Mingxiang dan mengucapkan selamat, wanita itu tidak henti-hentinya mengatakan bahwa dia gembira sambil menangis.
Setelah Chen Taifei Agung pergi, semuanya kembali normal. Huang Mingxiang dan Xiao Muqing kini hendak beranjak tidur. Sebelum tidur, seperti biasa mereka melakukan beberapa pembicaraan sebentar.
"Kapan Wangye akan berangkat ke perbatasan?" tanya Huang Mingxiang, dia kini tengah berada di pelukan Xiao Muqing, mereka berdua berbaring bersama.
"Satu hari setelah waktu yang sudah ditentukan. Kaisar memberi keringanan dan kamu baru saja dikabarkan hamil, bagaimana bisa benwang pergi lebih cepat?" tanya Xiao Muqing.
Huang Mingxiang tersenyum. "Wangye, berapa lama kira-kira anda akan berada di perbatasan?"
Xiao Muqing terdiam sejenak, berpikir. Tak lama pria itu kembali menatap Huang Mingxiang dan menjawab,"Sekitar delapan bulan, atau paling lama satu tahun. Setelah konflik dinyatakan selesai, benwang tidak bisa kembali begitu saja sebelum wilayah perbatasan sudah benar-benar damai seperti semula."
"Setahun?" tanya Huang Mingxiang, dia sedikit terkejut. Setahun adalah waktu yang sangat lama!
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, lalu memeluk Xiao Muqing lebih erat dan membenamkan wajahnya lebih dalam ke dada pria itu. "Satu tahun?"
Xiao Muqing tersenyum, mengangguk. "Benar. Satu tahun. Bisa jadi saat benwang kembali--"
"Saya harus melahirkan anak kita seorang diri?" tanya Huang Mingxiang, dari nada bicaranya terdengar keberatan.
Xiao Muqing mengangguk, lalu mengelus rambut Huang Mingxiang lembut. "Tentu. Maaf, namun ... bukankah akan ada Huangtaihou dan ayahmu?"
"Berbeda, Wangye." Huang Mingxiang murung, ini pertama kalinya dia bersikap sangat manja pada Xiao Muqing.
Xiao Muqing mengangguk lagi, setelah itu mengangkat dagu istrinya agar dapat melihat wajah cantik Huang Mingxiang secara utuh. "Benwang akan mengusahakan semuanya selesai sebelum waktu persalinan tiba."
Huang Mingxiang menatap sedih Xiao Muqing, perasaan gelisah di hatinya bukan tentang sedih karena harus melahirkan seorang diri tanpa dampingan suami, namun karena dia juga khawatir. Huang Mingxiang khawatir, bagaimana nanti Xiao Muqing bertarung? Bertahan hidup? Melawan musuh? Bertanggung jawab dan mengatur pasukannya? Huang Mingxiang tahu bahwa itu adalah tugas dan sudah menjadi keahlian alami Xiao Muqing, tetapi ... hati khawatir sebagai seorang istrinya sulit dikendalikan.
__ADS_1
Tangan kanan Huang Mingxiang bergerak untuk mengelus pipi Xiao Muqing. "Semua orang semakin berbahaya, Wangye. Apa menurut anda saya akan mampu melawan mereka sambil membawa anak kita?"
Xiao Muqing mengangguk, mengecup singkat kening Huang Mingxiang. Bahasa cinta sentuhan fisik pria itu memang sangat kuat. "Bahkan lebih dari kata kuat, Mingxiang. Kamu sudah pernah bertemu dengan kematian, bukan? Apa lagi yang kamu takutkan?"
Deg!
Huang Mingxiang membelalakkan matanya, dari mana pria itu tahu?! Huang Mingxiang tidak pernah menceritakan apa pun mengenai kehidupannya yang itu pada siapapun!
Melihat raut wajah terkejut Huang Mingxiang, Xiao Wangfei terkekeh, lalu berkata,"Mengapa sangat terkejut? Itu fakta yang benwang ketahui dari Utusan Agung. Tidak perlu kamu sembunyikan lagi, benwang justru menganggap itu bukan hal yang aneh. Tetapi hebat. Benwang tidak bisa membayangkan betapa sakitnya hatimu saat itu."
Huang Mingxiang menahan tangis, air mata sudah terbendung sempurna di kedua matanya. Xiao Muqing tertawa kecil, lalu mengusap air mata itu lembut dari mata istrinya. "Mingxiang, apa anda menyadari sesuatu? Kamu belakangan ini jadi sering menangis, namun karena kabar kehamilanmu sudah diketahui, sekarang hal itu bukan lagi hal yang membingungkan."
Huang Mingxiang mendengus tipis, lalu menepis tangan Xiao Muqing pelan sambil menghapus air matanya sendiri secara kasar. Dia memang tidak mengalami hal seperti mual atau sesuatu tidak nyaman lainnya saat hamil, namun gejolak hormon yang mempengaruhi emosional tetap ada.
Keesokan harinya, Xiao Muqing pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kamp militer Xiao Wangfu yang berada di Ibu Kota. Huang Mingxiang sekarang sedang menemani Chen Taifei Agung menyulam sapu tangan.
"Mufei." Setelah beberapa menit hening, Huang Mingxiang kembali memulai percakapan. Matanya menatap Chen Taifei Agung dengan penuh rasa penasaran yang bercampur segan.
Chen Taifei Agung tersenyum, matanya menatap Huang Mingxiang. "Iya, nak?"
"Jika ... Mingxiang menanyakan sesuatu, apakah Mufei akan mengizinkannya? Pertanyaan Mingxiang cukup dapat dibilang sensitif, namun--"
"Kamu bisa langsung bertanya tanpa merasa segan sedikitpun, Mingxiang. Tanyakan apapun yang ingin kamu tanyakan. Mufei tidak akan pernah merasa tersinggung sedikitpun." Chen Taifei Agung memotong cepat, dia sebenarnya tahu apa yang sekiranya hendak Huang Mingxiang tanyakan.
Huang Mingxiang mengangguk, memaksakan senyum agar tidak terlalu terlihat kaku, kemudian dia menaruh sebentar sulamannya di atas meja dan menatap penuh perhatian ke arah Chen Taifei Agung. "Tiga tahun yang lalu, saat Wangye didiagnosa lumpuh permanen, mengapa ... Mufei memilih pergi keluar dari Ibu Kota dan meninggalkan Wangye sendirian?"
Huang Mingxiang sedikit gugup, dia takut Chen Taifei Agung akan murung karena pertanyaannya. Tetapi, justru reaksi mertuanya di luar dugaannya. Chen Taifei Agung tetap tersenyum, sambil melanjutkan menyulam sapu tangan dengan elegan, wanita itu menjawab,"Ceritanya sangat panjang, Mingxiang. Tetapi aku akan menceritakan secara garis besar agar mudah dipahami." Chen Taifei Agung ikut meletakkan sulamannya di atas meja, lalu membalas tatapan mata Huang Mingxiang.
__ADS_1
Chen Taifei Agung melirik ke arah jendela, menatap salju yang kini kian mencair. Musim dingin sudah mulai tiba di penghujung waktunya.
"Aku termakan oleh ancaman keluarga Rong. Rong Tagu, pria itu mengaku telah menjadi dalang dibalik kelumpuhan kaki Muqing dan mengancam diriku di malam badai itu. Sesuai yang kamu ketahui, keluarga Chen adalah bangsawan yang paling berkuasa keempat setelah Rong, Xiao, dan Wu. Rong Tagu adalah pejabat bangsawan buta kekuasaan, melihat Muqing yang memiliki gelar tinggi dan kekuasaan besar tentu saja membuatnya panas. Apa lagi, mendiang Kaisar telah memberikan lima ratus ribu pasukan untuk Muqing, menambah kegilaan dalamnya kekuasaan Muqing."
Huang Mingxiang menyimak serius, lalu saat Chen Taifei Agung berhenti beberapa saat untuk menyesap teh, Huang Mingxiang bertanya,"Ancaman apa yang Mufei terima dari Rong Tagu?"
Chen Taifei Agung meletakkan kembali cangkir teh-nya, lalu menatap Huang Mingxiang. "kehancuran Muqing. Setelah mendengar bahwa dia adalah pelaku yang mampu membuat Muqing kewalahan hingga lumpuh walaupun tetap bisa membawa kemenangan untuk Kekaisaran, aku gemetar. Aku mendadak menjadi pengecut, aku kehabisan akal. Sebagai ibu yang melahirkan Muqing, aku tahu bahwa anakku tangguh. Aku tahu bahwa anakku tidak mudah ditembus, namun ... kini Rong Tagu dengan gila menembus pertahanan Muqing dan membuat pria itu lumpuh dalam peperangan yang sudah menjadi keterampilannya. Rong Tagu mengancamku akan berbuat jauh lebih mengerikan dari pada kelumpuhan jika aku tetap bertahan di Ibu Kota sambil 'bermain' kekuasaan dengan keluarga Chen. Tentu saja aku lebih memilih mundur dan pergi dari pada bertahan mempertahankan seluruh kehormatan, gelar, dan kekuasaan namun anakku harus menderita lalu mati di tangan musuh. Di awal kelumpuhan Muqing, pria itu terpukul berat sehingga tidak bisa berbuat apa pun. Melihat ini, aku tidak ingin menambah beban Muqing untuk memaksa dirinya lebih kuat bertahan di situasi mencekik karena kehadiranku. Situasiku saat itu juga tidak bisa membantu, kakak laki-lakiku yang menjadi kepala keluarga Chen baru saja tersandung kasus di pengadilan. Jadi ... karena itu semua, aku memutuskan untuk pergi bukan karena aku tidak menyayangi Muqing, namun justru aku sangat menyayangi Muqing, lebih dari apa pun." Kedua mata Chen Taifei Agung berkaca-kaca di akhir kalimat, napasnya mulai sedikit tidak beraturan.
Huang Mingxiang ikut terenyuh, namun dia tidak ikut menangis. Huang Mingxiang menggenggam hangat tangan Chen Taifei Agung, lalu mengusapnya lembut. Chen Taifei Agung kembali tersenyum, membalas genggaman hangat Huang Mingxiang dengan tangan satunya.
"Aku ... Sungguh-sungguh tidak ada hati untuk membenci dan meninggalkan putraku sendiri di dalam keterpurukan, Mingxiang. Aku masih ingat jelas saat kerasnya aku berjuang melahirkan Muqing, kerasnya aku bertahan di Harem dan melindungi Muqing, dan kerasnya aku berusaha untuk menjadikan putraku seorang pria dan bangsawan terhormat. Aku hampir mati sebanyak tujuh kali di dalam Harem, sebagian besar dilakukan untuk melindungi Muqing dari serangan para selir lain yang iri. Aku mengasuhnya dengan tanganku sendiri sejak dia masih sangat kecil hingga dewasa dan bahkan sanggup memimpin pasukan perang untuk pertama kalinya membawa nama Kekaisaran dan marga 'Xiao'. Pengorbanan dan kasih sayangku sangat besar, bagaimana mungkin aku dalam semalam berubah membenci putraku begitu saja hanya karena dia terjatuh ke dalam lubang?"
Chen Taifei Agung benar-benar menangis sekarang. Huang Mingxiang memeluk Chen Taifei Agung, wanita itupun membalas pelukan Huang Mingxiang dengan sangat hangat.
"Mingxiang, namun kini situasinya menjadi sangat terbalik berkat dirimu. Terima kasih banyak, nak. Kamu membawa kembali cahaya terang ke dalam putraku, kamu kembali menghidupkan api bertempur milik putraku, kamu bahkan berhasil melembutkan hatinya. Aku sebagai ibunya tidak pernah melihat dia benar-benar perhatian seperti itu, bahkan ke diriku sendiri. Terima kasih banyak, Mingxiang. Jika aku bisa berlutut maka--"
"Mufei, anda tidak boleh berlutut! Mingxiang benar-benar akan dimarahi leluhur dan masuk neraka jika menerima ucapan berlutut dari Mufei!" Huang Mingxiang memotong cepat, lalu mengelus punggung Chen Taifei Agung. Tak lama bibirnya tersenyum, lalu melepas pelukannya dan menatap Chen Taifei Agung hangat. "Mufei, anda telah hidup sangat lama dengan Wangye. Saya yakin, Wangye tidak benar-benar sepenuhnya membenci anda seperti musuh, dia hanya kecewa. Mufei, Mingxiang yakin masih ada tempat khusus di hatinya untuk anda. Anda adalah ibunya, Wangye tidak mungkin melupakan tangan yang sudah memberinya kasih sayang hangat."
Chen Taifei Agung mengangguk, lalu menjawab,"Mufei harap begitu, nak."
Sementara itu di luar ruangan, Xiao Muqing berdiri mematung. Dia hari ini pulang cepat, karena seluruh persiapan untuk pergi ke perbatasan sudah sepenuhnya selesai. Pasukan Xiao Muqing selalu melakukan latihan keras setiap hari, bahkan saat Kekaisaran terlihat damai sekalipun. Tetapi ... saat kembali dan mencari istrinya, Xiao Muqing menemukan Huang Mingxiang tengah berada di ruang utama keluarga Xiao Wangfu bersama ibunya. Pria itu ragu untuk masuk, saat memilih pergi dan hendak berbalik, tiba-tiba dia mendengar pertanyaan Huang Mingxiang mengenai alasan ibunya pergi tiga tahun lalu. Pria itu terus mematung di depan pintu dan mendengarkan semuanya, keningnya mengerut dalam menahan perasaan yang campur aduk.
Xiao Muqing mengepalkan kedua tangannya, raut wajahnya terlihat suram. Pria itu berbalik cepat, lalu melangkah pergi. Di tengah jalan, dia bertemu dengan Gu Sinjie yang akan menyusul.
"Wangye, anda tidak jadi menemui Wangfei?" tanya Gu Sinjie.
"Tidak," jawab Xiao Muqing singkat, lalu melewati Gu Sinjie begitu saja tanpa melirik pria itu.
__ADS_1
Gu Sinjie menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal, dia heran, mengapa Xiao Muqing tiba-tiba terlihat berada di posisi perasaan buruk? Karena beberapa saat lalu pria itu terlihat baik-baik saja, bahkan sesekali tersenyum dan membuat banyak tentara kebingungan melihat atasan mereka yang jarang tersenyum, kini sesekali mulai tersenyum.