Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 36. Bagaimana Jika Saya Mati?


__ADS_3

Huang Mingxiang menghembuskan napas lega saat seluruh pekerjaannya selesai. Dia segera menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memijat keningnya. Huang Mingxiang melirik Xiao Muqing, pria itu tengah membaca ulang pekerjaan yang baru saja dia kerjakan.


Huang Mingxiang kembali duduk tegak, kemudian menyandarkan tangannya di atas meja untuk menopang dagunya. Kedua mata Huang Mingxiang menatap Xiao Muqing yang sedang serius membaca.


"Wangye, besok lusa saya akan berkunjung ke Istana untuk menemui Huangtaihou," ucap Huang Mingxiang, dia memberitahu Xiao Muqing lebih dulu agar tidak ada hal-hal rumit yang tidak perlu di hari H.


Xiao Muqing melirik sekilas Huang Mingxiang, kemudian kembali menatap kertas pekerjaan Huang Mingxiang. "Anda yakin hanya menemui Huangtaihou?"


Huang Mingxiang menghela napas tipis, sepertinya hari ini dia banyak sekali menghela napas. "Saya juga akan bertemu dengan Wu Guifei, ada beberapa bisnis yang harus kami bicarakan."


Xiao Muqing mengangguk. "Lakukan sesukamu."


Huang Mingxiang tersenyum setelah mendapat persetujuan dari Xiao Muqing, kemudian menuang teh hangat ke dalam cangkir mereka berdua.


"Sudah larut malam, mengapa anda tidak kembali dan beristirahat? Mingxiang khawatir Wangye akan kelelahan."


Xiao Muqing tidak menjawab, pria itu masih fokus membaca pekerjaan Huang Mingxiang. Huang Mingxiang sudah terbiasa dengan sikap acuh tak acuh suaminya, oleh karena itu dia masih melanjutkan bicara.


"Besok pagi saya akan membuatnya bakpao kesukaan Wangye, kita akan memakan bakpao itu bersama di Paviliun belakang. Sebentar lagi salju akan turun, jika besok sudah tiba waktunya, memakan bakpao akan terasa jauh lebih menyenangkan. Bakpao yang hangat dimakan bersama di tengah salju, itu menyenangkan!" Huang Mingxiang tersenyum saat mengatakan ini, dia sejak lama ingin melakukan ini bahkan sebelum dia menikah dengan Xiao Muqing. Ini adalah cita-citanya dari awal tahun jika musim salju akhir tahun nanti tiba.


Xiao Muqing mengangguk, dia tidak berkomentar apa pun atau menolak, tandanya setuju. Huang Mingxiang berdiri, kemudian berjalan ke belakang kursi roda Xiao Muqing.


"Apa anda ingin kembali ke kediaman anda?" tanya Huang Mingxiang, tangannya sudah siap mendorong kursi roda Xiao Muqing.


Xiao Muqing menggeleng. "Tidak."


Huang Mingxiang mengerutkan keningnya. "Lalu?"


"Gu Sinjie sudah pergi, terlalu lama dan ini sudah larut malam. Tidak ada pilihan lain selain bermalam di sini," jawab Xiao Muqing, nada bicaranya tenang, tangannya menaruh kertas berkas yang tadi dia baca di atas meja kembali.

__ADS_1


Huang Mingxiang menaikkan alis kirinya. Jadi ... maksudnya malam ini mereka harus tidur bersama?


"Tidak apa-apa, Wangye. Mingxiang akan mengantar anda ke kediaman."


"Tidak perlu."


"Mengapa?"


"Sudah larut malam, kamu juga baru selesai bekerja. Haruskah benwang mengatakan penjelasannya sebanyak dua kali?" Xiao Muqing membalas ketus.


Huang Mingxiang menghela napas, baiklah ... malam ini mau tidak mau dia mengalah akan tidur di sofa. Tidak mungkin dia tidur satu ranjang dengan Xiao Muqing, walaupun sebelumnya sudah pernah dua kali, tetapi kejadian itu terjadi karena ketidaksengajaan.


Huang Mingxiang mengangguk, kemudian mendorong kursi roda Xiao Muqing keluar ruang kerja menuju kamarnya. Apa yang dikatakan pria itu benar, Gu Sinjie dan Su Mama sudah tidak ada di depan. Tetapi ... mengapa Su Mama harus ikut pergi? Su Mama tidak pernah beranjak pergi meninggalkannya, tidak peduli seberapa sibuk dirinya, wanita itu selalu setia menunggunya. Namun hari ini berbeda, apa karena kedatangan Xiao Muqing?


Mereka berdua kini sudah berada di kamar Huang Mingxiang, wanita itu segera membantu Xiao Muqing untuk pindah ke atas kasur. Setelah selesai, Huang Mingxiang berjalan ke arah meja rias dan melepas semua riasan rambutnya. Kini rambut Huang Mingxiang menjuntai polos, wanita itu kemudian beralih melepas pakaian luar hanfu-nya dan kini hanya mengenakan pakaian hanfu putih tipis.


Huang Mingxiang berjalan ke arah lemari, mencari selimut dan bantal baru. Xiao Muqing yang melihat ini mengerutkan keningnya. "Apa yang kamu lakukan?"


Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, lalu menoleh menatap Xiao Muqing. "Anda berniat tidur bersama saya di atas kasur itu?"


Xiao Muqing memejamkan matanya dan menjawab,"Kau bisa memilih sendiri. Tidur di kasur yang hangat ini, atau tidur di sofa yang dingin itu."


Huang Mingxiang berjalan ke arah kasur, lalu bertanya,"Lalu bagaimana dengan selimutnya? Hanya ada satu di sini."


"Sejak kapan kamu menjadi orang yang rakus? Selimut ini cukup untuk menggulung tiga orang sekaligus," jawab Xiao Muqing.


Huang Mingxiang mendengus, lalu naik ke atas kasur dan duduk di samping Xiao Muqing yang sudah berbaring. Sebelum benar-benar berbaring, Huang Mingxiang sempat bertanya,"Wangye, apa kaki anda ingin Mingxiang pijat sebelum tidur?"


"Tidak perlu. Tidurlah," jawab Xiao Muqing, kemudian kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


Huang Mingxiang mengangguk, kemudian berbaring dan mengambil posisi menghadap Xiao Muqing. Xiao Muqing membuka matanya lagi, kini Huang Mingxiang sudah memejamkan matanya.


Kening Xiao Muqing terlipat, matanya menatap sulit Huang Mingxiang. Diam-diam dia kembali merasakan perasaan yang sulit untuk Huang Mingxiang. Kata 'cinta' terlintas di benaknya, namun Xiao Muqing tidak yakin. Dia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, hanya pernah kecewa. Xiao Muqing tidak yakin seperti apa itu cinta.


Huang Mingxiang tiba-tiba membuka matanya, membuat Xiao Muqing terkejut. Pria itu dengan cepat kembali menutup matanya, Huang Mingxiang tentu saja menyadari ini. Dia segera tersenyum dalam.


Huang Mingxiang mendekatkan jaraknya dengan Xiao Muqing, hanya tersisa satu jengkal, mereka berdua benar-benar menempel. Tangan Huang Mingxiang tidak memeluk pria itu, badannya hanya menghadap ke arah Xiao Muqing.


"Wangye, bagaimana jika suatu saat nanti saya mati? Apa anda akan memakamkan saya layaknya seorang Wangfei?" tanya Huang Mingxiang, pikiran itu terlintas begitu saja di otaknya.


Xiao Muqing masih memejamkan matanya, lalu menjawab,"Tentu saja, jika tidak maka orang-orang yang ingin menjatuhkan benwang akan mengambil celah perselisihan melalui makam kuburanmu yang tidak seberapa itu."


Huang Mingxiang terkekeh. "Lalu apakah jika Wangye meninggal, Wangye akan mengamanatkan untuk dikubur di samping kuburan saya?"


Xiao Muqing mengerutkan keningnya, lalu membuka matanya dan melirik Huang Mingxiang. Dia sedikit terkejut lagi ketika mendapati jarak mereka terlalu dekat.


"Mengapa otakmu memikirkan sesuatu yang tidak bermutu?" ucap Xiao Muqing pedas, membuat Huang Mingxiang mengangkat kedua bahunya acuh.


"Tidak ada yang tahu kapan kematian akan datang, Wangye. Bisa saja besok pagi saya sudah mati terbunuh," jawab Huang Mingxiang.


Xiao Muqing memejamkan matanya lagi. "Selama benwang belum memb***hmu, kamu tidak akan pernah mati terb**uh."


Huang Mingxiang tersenyum, lalu dia menyenderkan kening kepalanya di lengan bagian samping Xiao Muqing. "Jika saya meninggal, maka saya ingin seluruh Kekaisaran ini dihiasi bunga mawar putih."


"Kamu menyukai mawar putih?" tanya Xiao Muqing.


Huang Mingxiang mengangguk. "Sangat menyukai."


"Oh," balas Xiao Muqing singkat, setelah itu suasana menjadi hening. Tidak ada topik apa pun lagi. Perlahan, mata Huang Mingxiang terasa semakin berat dan akhirnya benar-benar terlelap.

__ADS_1


Suara dengkuran tidur lembut kelelahan milik Huang Mingxiang terdengar, membuat Xiao Muqing meliriknya lagi. Xiao tersenyum tipis, kemudian kembali memejamkan matanya. Tak lama dia terkejut lagi karena tiba-tiba tangan Huang Mingxiang mendarat cukup keras di perutnya sehingga posisi mereka terlihat seperti Huang Mingxiang tengah memeluk Xiao Muqing.


Xiao Muqing membuka matanya lagi, keningnya terlipat kesal. Tetapi kemudian dia tersenyum samar, kembali memejamkan matanya dan tertidur pulas menyusul Huang Mingxiang.


__ADS_2