
Di tengah waktu berdua Xiao Muqing dan Huang Mingxiang, Su Mama tiba-tiba naik ke Paviliun dan mendekat, menyerahkan sebuah amplop cokelat.
"Yang mulia, Niangniang. Nubi memohon maaf karena telah mengganggu kedua yang mulia, tetapi ... Ini, barisan Nubi menerima dua surat dari Istana. Salah satu di antara surat ini memiliki tanda mendesak, agar segera disampaikan kepada kedua yang mulia."
Huang Mingxiang mengambil kedua surat itu dari Su Mama, mengangguk dan tersenyum tipis. "Terima kasih banyak, Su Mama."
"Dengan senang hati, Wangfei." Kemudian Su Mama membungkuk dan berjalan turun lagi dari Paviliun.
Huang Mingxiang menatap kedua surat tersebut, dia tahu apa isinya. Salah satunya adalah surat undangan Istana mengenai perayaan Salju Akhir Tahun, dan satunya lagi adalah surat pribadi dari Wu Zeyuan. Lagi-lagi, surat Wu Zeyuan tidak menyertakan nama pengirimnya. Hanya ada keterangan berasal dari Istana.
Huang Mingxiang memilih membuka surat dari Wu Zeyuan terlebih dahulu, ini yang lebih penting. Xiao Muqing, pria itu tidak tertarik untuk mengintip apa isinya, mata pria itu justru hanya terpaku kepada Huang Mingxiang yang semakin tersenyum membaca isinya. Dia tahu surat itu berasal dari Wu Zeyuan, sehingga tidak menaruh pikiran aneh apa pun.
"Selamat pagi, Xiao Wangfei. Selamat Salju Akhir Tahun juga, saya harap Salju Akhir Tahun anda kali ini terasa sangat bahagia. Niangniang, Kaisar memutuskan untuk tetap membuat Huang Guifei menjadi penanggung jawab perayaan Salju Akhir Tahun. Hari ini Huang Guifei dinyatakan bebas bersyarat oleh Kaisar, namun sebelum itu saya berusaha bergerak cepat untuk memeriksa seluruh barang dan uang yang keluar dan masuk dari Istana. Melihat sosok Huang Guifei, pasti setelah kejadian waktu itu dia tidak akan tinggal diam dan berusaha balas dendam. Oleh karena itu, kemungkinan dia membeli barang-barang aneh sangat besar. Saya tidak menemukan kecurigaan apa pun, namun Lu Fei menemukan jejak kotor yang ditinggalkan Huang Guifei. Lu Fei berkata pelayan pribadinya sempat melihat pelayan pribadi Huang Guifei yang diam-diam masuk ke dalam Istana melalui gerbang belakang yang sepi. Tangannya membawa sebuah kotak kecil, entah apa isinya. Intinya, barang dan gerak-gerik wanita itu sangat mencurigakan. Apa saya perlu menarik pelayan pribadi Huang Guifei untuk membuka mulut secara paksa?"
Huang Mingxiang melipat kertas tersebut, lalu menoleh ke arah Xiao Muqing. "Wangye, apa anda akan datang di perayaan Salju Akhir Tahun?"
"Perayaan bodoh."
Mendengar jawaban Xiao Muqing, Huang Mingxiang tersenyum kaku. Ya ... sudah pasti pria itu tidak berminat datang. Baiklah, tidak masalah. Perayaan ini tidak mewajibkan tamu undangan untuk membawa pasangan seperti perayaan Kasih Sayang kemarin. Huang Mingxiang bebas datang dan membuat keonaran.
Huang Mingxiang mengangguk mengerti, lalu kepalanya menoleh ke arah Yui yang berdiri di luar Paviliun bersama Su Mama.
"Yui, kemari." Huang Mingxiang memanggil Yui, membuat wanita itu bergegas naik ke atas Paviliun dan mendekat ke arah Huang Mingxiang.
"Saya, Wangfei."
Huang Mingxiang melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Yui lebih maju dan dekat dengannya. Yui menurut, kemudian Huang Mingxiang segera mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu. Huang Mingxiang membisikkan sesuatu, penting. Setelah selesai, Yui bergegas mengangguk dan membungkuk ke arah Huang Mingxiang.
"Nubi mengerti, Wangfei. Saya izin permisi." Setelah Huang Mingxiang mengangguk, Yui segera berbalik dan kembali berjalan keluar Paviliun untuk berdiri di sana bersama Su Mama.
"Jalankan semuanya dengan hati-hati, jangan sampai salah hitung," ucap Xiao Muqing, kemudian mengambil satu buah bakpao lagi dan mulai memakannya.
Huang Mingxiang mengangguk. "Tentu, Wangye. Saya menyarankan anda untuk ikut ke Istana, karena akan ada pertunjukkan bagus."
"Tanpa kehadiran benwang di sana, benwang sudah akan mengetahui setiap detail jalan ceritanya," jawab Xiao Muqing acuh, sibuk memakan bakpao buatan Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang terkekeh. "Baiklah-baiklah, anda menang. Ah ... ya, tadi pagi-pagi sekali saya sempet mengunjungi kediaman saya sendiri untuk memeriksa ruang kerja. Wangye, di mana seluruh berkas pekerjaan mengenai Chuan Wuqi?"
__ADS_1
Benar, berkas pekerjaannya mengenai Chuan Wuqi tiba-tiba lenyap. Hanya ada berkas pekerjaan mengenai Xiao Wangfu, urusan rumah. Bahkan sekedar laporan pengeluaran dan pemasukan Chuan Wuqi pun tidak ada, seperti hilang ditelan bumi. Tetapi hilang ditelan bumi bukanlah jawaban yang masuk akal, satu-satunya yang masuk akal adalah perbuatan Xiao Muqing.
"Untuk kedepannya yang akan mengurus Chuan Wuqi adalah benwang, kamu tidak perlu ikut campur lagi. Istirahatkan tubuhmu dengan baik," jawab Xiao Muqing.
Huang Mingxiang membelalakkan matanya. "Sungguh? Tetapi, Wangye. Mengenai--"
"Mengenai perjanjian anda dan Tuan Muda Rong dan promosi besar-besaran di dua Kekaisaran besar lainnya, benwang dapat dengan mudah mengerti polanya. Tidak perlu dipusingkan, semua akan berjalan seperti yang sudah kau rancang." Xiao Muqing memotong cepat, membuat Huang Mingxiang menutup mulutnya rapat.
Tetapi hatinya masih tidak tenang, oleh karena itu dia bertanya,"Tetapi, jika saya sesekali memeriksa perkembangan Chuan Wuqi apakah anda mengizinkan?"
Xiao Muqing mengangguk. "Diizinkan. Kamu boleh menambahkan sesuatu ke dalam bisnis, tetapi cukup dengan memberikan saran dan masukan, tidak perlu ikut bertindak lebih jauh hingga bekerja keras seperti sebelumnya."
Huang Mingxiang tersenyum, mengangguk. Baiklah ... jika itu keputusan Xiao Muqing, dia tidak bisa membantah. Lagi pula, ini sedikit bagus untuknya. Huang Mingxiang bisa langsung fokus mengurus pengobatan kaki Xiao Muqing tanpa membagi fokusnya ke Chuan Wuqi.
Huang Mingxiang berdiri, kemudian menatap Xiao Muqing. "Baiklah, kalau begitu. Wangye, apa anda ingin kembali masuk ke dalam? Kita harus segera menghangatkan tubuh, namun saya memiliki beberapa urusan di kediaman saya karena harus menatap barang-barang anda yang baru saja datang."
Xiao Muqing mengangguk, kemudian Huang Mingxiang segera mendorong kursi roda Xiao Muqing ke kediaman pria itu. Su Mama dan Yui mengikuti mereka, sementara pelayan yang lain langsung naik ke atas Paviliun dan membersihkan tempat Huang Mingxiang dan Xiao Muqing tadi.
Setelah mengantar pria itu kembali, Huang Mingxiang segera pergi menuju kediamannya. Sebenarnya bukan itu tujuan dia kembali, tetapi ingin memberikan hadiah kedua untuk Xiao Muqing.
"Wangye, apa saya perlu memanggil Jenderal Su sekarang?" tanya Gu Sinjie.
Xiao Muqing mengangguk singkat, kemudian Gu Sinjie dengan cepat balas mengangguk sambil membungkuk, kemudian keluar dari ruangan Xiao Muqing dan melesat pergi menjemput Jenderal Su.
Tak berselang lama, Gu Sinjie telah kembali bersama dengan Jenderal Su yang kemungkinan dijemput paksa, sehingga raut wajah pria itu terlihat buruk. Tetapi setelah masuk ke dalam ruangan Xiao Muqing dan melihat sosok pria itu, Jenderal Su bergegas melunakkan raut wajahnya, jantungnya berdegup kencang.
"Salam, yang mulia Xiao Wangye." Jenderal Su membungkuk dalam ke arah Xiao Muqing.
Xiao Muqing memperhatikan pria itu dengan bola mata birunya yang tajam, membuat Jenderal Su terdiam, seolah berubah menjadi batu dan tidak bisa bernapas. Keringat dingin diam-diam keluar dari punggungnya.
"Sudah lama sekali, Jenderal Su?" Xiao Muqing tersenyum dingin, membuat Jenderal Su semakin merasa gugup.
Jenderal Su berusaha balas tersenyum, mengangguk kaku. "Yang mulia benar, sudah lama sekali."
"Sinjie." Xiao Muqing melirik Gu Sinjie, kemudian Gu Sinjie mengangguk cepat sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas dari saku bajunya dan menyerahkannya kepada Xiao Muqing.
Xiao Muqing membaca satu persatu kertas tersebut, bibirnya tersenyum dingin lagi. "Hebat sekali, Jenderal Su. Mengkorupsi uang dana militer, melanggar lima sumpah prajurit Kekaisaran terang-terangan, menghina atasanmu sendiri, menggelar pesta mesum tidak bermoral di kamp militer, bahkan melakukan surat menyurat misterius dengan Tuan Besar Rong?" Mata biru Xiao Muqing beralih menatap Jenderal Su lagi.
__ADS_1
Jenderal Su tertegun, napasnya tercekat, atmosfer ruangan terasa sangat berat. Keringat dingin semakin jelas, bahkan sampai menetes ke lantai. Jenderal Su dengan cepat berlutut ke arah Xiao Muqing, menunduk dalam.
"Wangye, bawahan ini difitnah!"
Buagh!!
Gu Sinjie menendang kasar Jenderal Su, membuat Jenderal Su terpental ke samping, memuntahkan seteguk darah. Raut wajah Xiao Muqing tidak berubah, tetap datar tanpa ekspresi menatap Jenderal Su memuntahkan darah di hadapannya.
"Omong kosong, Jenderal Su. Saya mempunyai buktinya." Gu Sinjie mengeluarkan amplop yang dikirim Rong Tagu untuk Jenderal Su tadi malam, membuat Jenderal Su terbelalak.
"Ini pasti bukan surat yang pertama kalinya akan anda terima. Baru-baru ini terjadi keributan di perbatasan yang dibuat oleh Kerajaan Huan Tenggara, kerajaan kecil seperti itu tidak mungkin berani dan bahkan berhasil masuk untuk membuat keributan. Jika bukan karena ada orang dalam yang membukakan pintu mereka secara khusus, hal ini mustahil terjadi. Anda terlibat dalam kasus itu bersama Tuan Besar Rong, bukan?" Gu Sinjie menatap tajam Jenderal Su.
Jenderal Su merangkak ke arah Xiao Muqing, menggeleng. "Yang mulia, saya dipaksa untuk--!"
Splash!
Boom!!
Xiao Muqing menembakkan kekuatan dalamnya tepat di wajah Jenderal Su, membuat pria itu terpelanting ke belakang.
"Jangan sampai darahmu menetes di kantung pengharum ini, atau benwang yang akan merobek kepalamu." Xiao Muqing melindungi kantung pengharum buatan Huang Mingxiang, matanya menatap jijik ke arah Jenderal Su.
"Seret Jenderal Su keluar, Sinjie. Berikan seluruh bukti ini ke pengadilan Kekaisaran, namun sebelum itu bawa Jenderal Su berkeliling kamp militer tanpa mengenakan sehelai kain di badannya. Biar dia menjadi contoh untuk para prajurit yang lain," ujar Xiao Muqing, perintahnya yang ini cukup kejam. Membiarkan manusia berkeliling kamp militer yang sangat luas tanpa pakaian itu sama saja hendak menjadikannya bongkahan es dan mati. Salju baru saja turun, suhu dinginnya masih sangat tinggi.
Gu Sinjie mengerti, kemudian dengan kasar menyeret Jenderal Su keluar. Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba pintu terbuka sendiri dan menampilkan Huang Mingxiang yang datang dengan senyum ceria sambil membawa tumpukkan buku.
Huang Mingxiang terkejut, matanya langsung menatap Jenderal Su yang babak belur. Gu Sinjie mendadak kaku, bingung harus berbuat apa. Senyum Huang Mingxiang perlahan menghilang melihat Jenderal Su yang sudah tidak sadarkan diri, entah pingsan atau mati, Huang Mingxiang tidak tahu.
"Mingxiang." Suara berat Xiao Muqing terdengar, membuat wanita itu tersadar dan menatap Xiao Muqing.
"Kemari." Perintah Xiao Muqing, tangannya bergerak meminta Huang Mingxiang mendekat.
Tubuh Huang Mingxiang merinding, atmosfer sadis masih bersemayam di ruangan Xiao Muqing. Tetapi, Huang Mingxiang tidak membiarkan dirinya memiliki celah untuk takut, wanita itu mengangguk mantap dan berjalan melewati Gu Sinjie yang sedang menyeret kasar Jenderal Su begitu saja. Pandangannya lurus ke depan, menatap Xiao Muqing. Langkahnya mantap, perlahan senyumannya kembali.
"Wangye."
Xiao Muqing tertegun, dia pikir Huang Mingxiang akan gemetar ketakutan karena memang wajah Jenderal Su saat ini penuh dengan darah. Tetapi tanpa dugaan, wanita itu justru berjalan mantap ke arahnya, tersenyum, seolah barusan tidak melihat apa-apa. Melihat ini, Xiao Muqing tidak bisa tidak tersenyum. Itu adalah wanitanya.
__ADS_1