
Langit sudah mulai gelap, Huang Mingxiang sudah puas berada di Istana Huangtaihou yang ditemani oleh Xiao Muqing. Setiap kali berkunjung ke Istana Huangtaihou, dia selalu dimanja, tentu saja rasanya menyenangkan sekali. Seperti kembali ke masa kecil.
"Xiao Wangye." Huangtaihou memanggil Xiao Muqing sebelum pria itu membawa Huang Mingxiang keluar dari Istana-nya.
Wu Zeyuan dan Lu Fenghua sudah lebih dulu pergi, mereka memiliki pekerjaan lain. Huang Mingxiang segera menatap Xiao Muqing begitu Huangtaihou memanggilnya.
"Bisa ikuti Aija sebentar?" tanya Huangtaihou, kemudian matanya menatap Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang dan Xiao Muqing saling tatap, kemudian Xiao Muqing kembali menatap Huangtaihou dan mengangguk singkat. "Ya."
"Benwang akan segera kembali," ucap Xiao Muqing sebelum pergi mengikuti Huangtaihou ke bagian dalam ruangan wanita itu.
Huang Mingxiang tersenyum, mengangguk. Dia merasakan firasat baik, jadi tidak keberatan. Huang Mingxiang mengelus punggung tangan Xiao Muqing, lalu berkata,"Baik, Mingxiang akan menunggu di sini."
Xiao Muqing segera mengikuti Huangtaihou, raut wajahnya masih dingin dan datar. Walaupun dia berkata sudah tidak membenci Huangtaihou, namun perasaan marah dan kecewanya terhadap orang-orang Istana masih membekas kuat.
"Apa yang ingin Huangtaihou bicarakan?" tanya Xiao Muqing, kepalanya sempat menoleh ke belakang untuk memastikan Huang Mingxiang baik-baik saja.
"Apa anda tidak merindukan Chen Taifei Agung?" tanya Huangtaihou.
Chen Taifei Agung, dia adalah ibu dari Xiao Muqing. Kedudukannya paling tinggi, bahkan di atas Huangtaihou, karena dia adalah istri dari ayah mendiang Kaisar sebelumnya, yang berarti ayah mertua Huangtaihou. Dia tidak mendapat gelar 'Huangtaihou Agung' karena sebelumnya tidak menyandang gelar 'Huanghou', tetapi 'Guifei'. Wanita itu sudah lama sekali mengasingkan diri di luar ibu kota, sejak saat pertama kali Xiao Muqing didiagnosis mengalami kelumpuhan permanen.
Xiao Muqing mengerutkan keningnya tidak senang, mengapa Huangtaihou tiba-tiba menanyakan hal seperti ini padanya? Xiao Muqing sangat membenci ibunya, dia sangat kecewa karena ditinggal begitu saja saat sedang berada di titik terendah saat itu.
"Benwang sudah lama tidak mengetahui kabar wanita itu. Mengapa Huangtaihou menanyakan sesuatu yang membuang-buang waktu? Walaupun benwang sudah menikahi Huang Mingxiang, bukan berarti hubungan kita benar-benar baik." Xiao Muqing menyadarkan Huangtaihou mengenai jarak mereka berdua.
__ADS_1
"Anda harus memanggil Taifei Agung dengan sebutan 'Mufei', Xiao Wangye. Dan lagi, soal pertikaian dan permusuhan kita di masa lalu, Aija ingin kita berdua melupakannya." Huangtaihou mengepalkan kedua tangannya, menatap adik iparnya serius.
Xiao Muqing tersenyum dingin, dia tidak takut dengan petinggi Istana. "Untuk apa? Kaisar sudah menampar wajah paman Kekaisaran-nya sendiri. Bahkan membiarkan pejabat-pejabat bodoh yang berada di sekelilingnya berusaha membunuh benwang yang bahkan tidak pernah terpikir sekalipun untuk melakukan pemberontakan. Xiao Wangfu selalu setia kepada Kekaisaran, namun Kaisar di era pemerintahan barunya berani menampar wajah Xiao Wangfu terang-terangan!" Xiao Muqing menatap tajam Huangtaihou, mereka berdua di masa lalu adalah musuh sengit.
"Untuk Mingxiang, Xiao Muqing! Sekarang kita memiliki orang yang serupa untuk dilindungi, dan ada musuh baru yang berbahaya ingin mengincar nyawa wanita itu. Aija memang diam selama mengurus Harem, namun bukan berarti buta. Huanghou sudah semakin lincah bergerak, jika kita masih egois karena masa lalu masing-masing, maka Mingxiang tidak akan selamat. Bukan hanya Mingxiang, tetapi seluruh Dinasti Kekaisaran ini!" Huangtaihou berusaha menyadarkan Xiao Muqing, kali ini dia tidak akan tinggal diam membiarkan Haunghou bergerak. Dia mengetahui seluruh tujuan Huanghou, wanita itu sangat berbahaya. Huangtaihou tidak bisa mengandalkan anaknya, karena jika anaknya berani bergerak, maka itu akan semakin berbahaya dan rumit. Keluarga Rong benar-benar mengikat Xiao Jihuang di atas kursi takhta.
Xiao Muqing diam, matanya menatap dingin Huangtaihou. Huangtaihou menghela napas untuk menenangkan dirinya, lalu berjalan ke arah jendela, menatap langit gelap dan berkata,"Ayah mertua dan Kakakmu adalah dua Kaisar yang hebat. Sebagai satu-satunya Permaisuri Kaisar terdahulu yang masih hidup, Aija tidak akan sanggup menemui kedua yang mulia di akhirat dengan kondisi Kekaisaran yang seperti ini. Tugas Aija di sini hanya untuk membantu Kaisar mengurus negara dan Harem, Aija tidak akan membiarkan Kekaisaran dibuat kacau begitu saja. Oleh karena itu, Xiao Wangye ...."
Huangtaihou berbalik, menatap serius Xiao Muqing. "Berdamai dengan masa lalu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan kestabilan Kekaisaran dan Mingxiang. Huanghou mulai bergerak melancarkan rencananya, Aija memerlukan anda dan Taifei Agung untuk menjadi sekutu. Aija ingin Taifei Agung melindungi Mingxiang saat kelak Aija sudah tidak ada di dunia ini. Aija memiliki firasat ...."
"Tidak perlu diteruskan lagi, benwang akan mengutus seseorang untuk menjemput Taifei Agung," potong Xiao Muqing, kemudian berbalik dan meninggalkan Huangtaihou. Sebenarnya dia benci melakukan ini, namun apa yang dikatakan Huangtaihou adalah benar. Tidak hanya Huangtaihou yang mengetahui pergerakan Huanghou, namun Xiao Muqing juga. Mata-mata Xiao Wangfu juga diam-diam sudah bergerak masuk ke Istana Rong Xuan.
"Wangye?" Huang Mingxiang memasang raut wajah bingung ketika melihat Xiao Muqing keluar dari ruangan dalam Huangtaihou dengan wajah buruk.
Xiao Muqing segera menghilangkan raut wajah kerasnya, pria itu berusaha kembali tersenyum tipis dan berkata,"Ayo, pasti sudah banyak pertunjukkan di jalanan."
"Huangtaihou ingin langsung beristirahat, tidak perlu dipikirkan. Ayo kita pergi ke pasar malam ini," jawab Xiao Muqing, lalu memutar memutar kursi roda Huang Mingxiang dan mendorongnya keluar dari Istana Huangtaihou.
Raut wajah Xiao Muqing kembali keras saat mendorong kursi roda Huang Mingxiang, dia memikirkan diskusinya dengan Huangtaihou lagi.
Taifei Agung, ya? Xiao Muqing masih merasa sangat kecewa terhadap ibunya. Dia ingat sekali perasaan ditinggalkan dan dikhianati saat itu. Xiao Muqing bahkan sempat turun dari kursi rodanya dan berlutut kepada ibunya agar tidak pergi meninggalkan dirinya. Tetapi Taifei Agung tetap pergi, meninggalkan Xiao Muqing yang terpuruk sendirian di Xiao Wangfu.
"Niangniang, apa anda berpikir Xiao Wangye benar-benar menyetujui hal ini?" tanya An Mama sambil menuangkan teh hangat ke cangkir Huangtaihou.
Huangtaihou menghela napas, menggeleng pelan. "Xiao Muqing adalah pria yang keras, bahkan mendiang Kaisar sulit untuk membujuk pria itu untuk melakukan sesuatu. Dia sangat membenci Taifei Agung karena masa lalu itu, dia tidak tahu cerita sesungguhnya di balik alasan kepergian Taifei Agung. Xiao Muqing salah mengira, Taifei Agung tidak pernah sama sekali meninggalkan pria itu. Justru, Taifei Agung adalah orang yang paling menyayangi anaknya, dia adalah seorang ibu yang bahkan rela mati demi anaknya."
__ADS_1
An Mama menghela napas. "Seandainya saat itu keluarga Rong tidak ikut campur ...."
Huangtaihou memijat keningnya sekilas. "Ini semua salah Aija, karena Aija tidak bisa melawan keluarga Rong dan sempat termakan omongan keluarga Rong untuk mencurigai Xiao Muqing."
"Niangniang, sudah-sudah ... jangan terlalu dipikirkan lagi, itu akan mengganggu kesehatan anda." An Mama menyentuh lembut lengan Huangtaihou, khawatir.
Sementara itu Huang Mingxiang dan Xiao Muqing kini sudah berada di dalam kereta, mereka menuju pasar malam yang biasanya digelar seminggu sekali di pusat Ibu Kota.
"Wangye, apa kita benar-benar akan turun ke tengah-tengah keramaian dengan penampilan seperti ini?" tanya Huang Mingxiang, karena pakaian mereka pasti terbilang mewah di kalangan penduduk rakyat biasa. Belum lagi kereta dengan lambang Xiao Wangfu yang kini sedang mereka naiki bersama.
Xiao Muqing tersadar, ah ... benar juga. Dia jarang sekali keluar, jadi jarang memperhatikan hal seperti ini. Xiao Muqing mengangkat tangan kanannya sedikit, lalu memetik jarinya.
Cetak!
Blush!
Seketika, pakaian mereka berubah menjadi pakaian biasa, namun masih terbilang bagus dan nyaman dipakai.
Huang Mingxiang membelalakkan matanya. Ini ... ini seperti sihir yang dilakukan oleh Utusan Agung kemarin! Sungguh luar biasa! Ternyata Xiao Muqing juga bisa melakukan hal seperti ini? Itu mengagumkan!
"Wangye, apa anda pernah belajar sihir sebelumnya?" tanya Huang Mingxiang penasaran, bibirnya saat ini sedang tersenyum cerah.
Tak lama kereta berhenti, pintu kereta pun terbuka. Xiao Muqing hendak beranjak berdiri dan turun dari kereta sambil mendorong kursi roda Huang Mingxiang perlahan-lahan. "Berhenti menanyakan sesuatu yang tidak penting, lain kali akan benwang ceritakan. Sekarang kita nikmati dulu apa yang ingin kamu lihat."
Huang Mingxiang mendengus tipis, lalu kembali tersenyum saat melihat pemandangan pasar Ibu Kota yang sangat ramai! Iseng menoleh ke kereta Xiao Wangfu, matanya kembali terbuka lebar. Astaga ... bahkan sihir Xiao Muqing juga mengubah bentuk kereta dan menghapus logo Xiao Wangfu dari badan kereta!
__ADS_1
"Wangye! Ayo membeli Tanghulu! Katanya Tanghulu itu pernah dibeli oleh seorang Wangye dan Wangfei dari dinasti sebelumnya! Wangfei tersebut sangat menyukai manisan Tanghulu itu!" Huang Mingxiang menunjuk toko manisan besar yang terletak tak jauh dari mereka berdiri.
Xiao Muqing menuruti permintaan Huang Mingxiang, kemudian mendorong kursi roda Huang Mingxiang masuk ke dalam restoran tersebut.