Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 84. Cinta Yang Tulus


__ADS_3

"Cinta sebesar apa yang kamu miliki sehingga berani mengambil keputusan besar seperti ini ... hmm?"


Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, siapa pria ini? Mereka baru pertama kali bertemu namun sudah melontarkan pertanyaan seperti itu.


Pria itu tersenyum semakin dalam saat melihat Huang Mingxiang kebingungan, tangan kanannya segera melambai, menyuruh Huang Mingxiang agar duduk di dekatnya.


Huang Mingxiang tentu saja tidak akan mau, dia tidak mengenali pria ini. Siapa dia? Asisten Utusan Agung? Anak Utusan Agung? Tetapi tidak mungkin, seorang Utusan Agung jarang melaksanakan pernikahan. Mereka fokus menerima wahyu dari Tuhan.


"Maaf, Tuan. Apa anda bisa mengantar saya untuk menemui Utusan Agung?" tanya Huang Mingxiang.


Pria itu mengerutkan keningnya. "Apa yang membuatmu terburu-buru ingin menemui Utusan Agung?"


Huang Mingxiang menunduk. "Saya ingin meminta kemurahan hati yang mulia Utusan Agung untuk memberikan obat khusus."


Pria itu mengangguk singkat. "Ah ... apa kau sakit? Tetapi auramu terlihat baik-baik saja dan ... tidak biasa. Siapa namamu?"


Huang Mingxiang diam-diam mengerutkan keningnya kesal, mengapa pria itu terus mengulur waktunya? Dia ingin cepat-cepat menemui Utusan Agung dan kembali sebelum siang hari. Di luar langit sudah gelap, tengah malam.


"Huang Mingxiang. Tuan ... Apa anda--" Belum selesai Huang Mingxiang bicara, pria itu sudah memotong. "Ah ... Huang Mingxiang, namamu sangat indah. Nah, Huang Mingxiang. Katakan, apa ini bukan kehidupan pertamamu?"


Huang Mingxiang tercekat, menatap penuh keterkejutan ke arah pria berambut ungu itu. Mengapa pria itu bisa mengetahuinya? Apa dia memiliki kekuatan pengelihatan yang sama seperti naga Shenlong?


Pria berambut ungu itu terkekeh melihat raut wajah terkejut Huang Mingxiang, lalu dia menjentikkan jarinya. Secara tiba-tiba, sebuah cahaya muncul dari bawah kaki Huang Mingxiang. Dalam sekejap, pakaian Huang Mingxiang sudah berganti menjadi hanfu mewah berwarna putih. Ada bordiran Phoenix emas di hanfu indah tersebut. Kepala Huang Mingxiang dihiasi bunga mawar putih dan tusuk rambut giok putih yang sangat indah.


"Kamu menyukai bunga mawar putih, bukan?" tanya pria berambut ungu tersebut.


Huang Mingxiang membelalakkan matanya, melihat kain lengan hanfu-nya dan menyentuh kepalanya. Dia kini sudah berpakaian sangat indah, Huang Mingxiang sangat takjub. Sihir macam apa tadi itu? Dalam sekejap bisa merubah penampilan seseorang?


"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Apakah ini bukan kehidupan pertamamu?" tanya pria itu lagi, matanya menatap Huang Mingxiang lekat.


Huang Mingxiang kembali fokus, serius. Huang Mingxiang mengangguk. "Benar. Dari mana anda tahu?"


Pria itu terkekeh, lalu melambaikan tangannya lagi. Meminta Huang Mingxiang untuk segera duduk di sampingnya. "Kemari, aku akan menjawab pertanyaanmu setelah kau duduk."


Huang Mingxiang akhirnya mengangguk, dari pada terus menolak dan mengulur waktunya, lebih baik dia menurut. Pria di depannya ini sepertinya cukup berbahaya walaupun gemar tersenyum.


Huang Mingxiang duduk tepat di samping pria itu, dia dapat mencium aroma tubuh pria berambut ungu tersebut. Wangi aroma tubuhnya sangat nyaman, aroma laut lepas yang asri. Siapapun yang mencium aroma tubuhnya akan terasa sangat tenang.


"Apa saya boleh menyampaikan pikiran saya?" tanya Huang Mingxiang setelah duduk di samping pria itu. Pria itu tersenyum, mengangguk. Kedua tangannya kembali bergerak memainkan kecapi. Alunan musik lbut dan merdu kembali terdengar mengiringi pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Anda terus menerus bertanya, namun di sisi lain selalu mengetahui beberapa fakta yang tidak diketahui orang lain. Seperti ... bunga mawar putih." Huang Mingxiang menatap pria itu dengan kening yang terlipat.


Pria itu masih tersenyum lembut, mata ungunya sekilas melirik Huang Mingxiang dan kembali menatap senar kecapi. "Aku ingin mendengarmu bicara."


Huang Mingxiang sedikit merasa aneh dengan pria itu, namun dia segera menepis seluruh pikirannya dan berkata,"Tuan, apa anda bisa segera membantu saya untuk bertemu dengan yang mulia Utusan Agung?"


"Obat seperti apa yang ingin kau minta dari Utusan Agung?" tanya pria itu.


"Bunga Gold God, saya membutuhkan bunga itu untuk menyembuhkan kaki suami saya," jawab Huang Mingxiang, mulai serius.


Saat jawaban Huang Mingxiang selesai dikatakan, pria itu segera menghentikan aktivitas bermain kecapinya. Matanya melirik Huang Mingxiang dan cincin yang ada di jari manis itu, bibirnya masih tersenyum. "Sudah aku duga, kamu pasti istri Xiao Muqing. Shenlong sampai kebakaran jenggot merasakan aura keberadaan pria itu."


Huang Mingxiang semakin heran. Pria itu menyebut naga Shenlong tanpa panggilan penghormatan apa pun, bukankah itu termasuk tindakan yang sangat tidak sopan?


Melihat Huang Mingxiang hanya diam menatapnya, pria itu pun tersenyum canggung. Dia terbatuk pelan sedikit, lalu berkata,"Untuk mendapatkan apa yang ingin kamu dapatkan, itu memiliki risiko."


"Risiko seperti apa?" tanya Huang Mingxiang, kembali tertarik untuk berbincang dengan pria aneh di depannya.


Saat pria itu hendak menjawab, tiba-tiba seorang pelayan masuk dan mengatakan,"Yang mulia Utusan Agung! Di luar ... Naga Shenlong yang agung mengamuk dan meminta izin anda untuk bertarung di gunung!"


Mendengar pelayan itu memanggil pria berambut ungu dengan sebutan 'yang mulia Utusan Agung', Huang Mingxiang membelalakkan matanya. Hah? Utusan Agung? Pria berambut ungu ini? Mengapa jauh sekali dari ekspektasi Huang Mingxiang? Di pikirannya karena sudah berumur ratusan tahun, seharusnya yang mulia Utusan Agung adalah pria sepuh! Tetapi ... di depan matanya kini justru sebaliknya, Utusan Agung terlihat sangat muda, seperti memiliki umur yang sama dengan Xiao Muqing atau Rong Wangxia!


Tuk!


Utusan Agung mengetuk dahi Huang Mingxiang menggunakan jari telunjuknya. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Utusan Agung.


Huang Mingxiang mengepalkan kedua tangannya, kemudian mengambil beberapa jarak sedikit menjauh dari Utusan Agung dan berlutut ke arah pria itu. "Maafkan saya karena tidak mengenali Utusan Agung!"


Utusan Agung terkekeh, lalu menarik lembut tangan Huang Mingxiang agar kembali duduk di sampingnya. "Aku lebih menyukai tingkahmu yang sebelumnya. Bersikap cair lah padaku."


"Mingxiang tidak berani!" Huang Mingxiang masih dalam posisi berlutut, namun kini menjadi sedikit lebih dekat.


Utusan Agung mengerutkan keningnya, lalu mengangkat dagu Xiao Muqing dengan kipas bulu angsa miliknya. "Ini pertama kalinya aku tertarik dengan manusia biasa. Kamu memiliki aura kesucian Tuhan yang jelas, aku sedikit iri karena Tuhan sangat menyayangimu. Apa kamu tahu? Utusan Dewa hanya boleh menikah dengan wanita sepertimu, makanya pernikahan Utusan Dewa adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi, seperti seribu tahun sekali. Sedangkan waktu seribu tahun sekali adalah waktu di mana seorang manusia pilihan kesayangan Tuhan ditentukan."


Huang Mingxiang menjauhkan dagunya dari sentuhan kipas bulu angsa Utusan Agung, kembali menunduk. "Mingxiang tidak begitu mengerti mengenai masalah ini, yang mulia."


Utusan Agung tersenyum, lalu kembali menatap bawahannya. "Hanya ada satu hal yang membuat Shenlong mengamuk sampai hilang akal, yaitu ... Xiao Muqing."


Mendengar nama Xiao Muqing disebut, Huang Mingxiang kembali mengangkat wajahnya. Kening Huang Mingxiang mengerut. "Apa itu berarti Wangye berada di sini?"

__ADS_1


Utusan Agung kembali menoleh ke arah Huang Mingxiang, menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu. Bagaimana jika kita memeriksanya sendiri?" Tangan kiri Utusan Agung bergerak, sebuah angin berhembus lembut, mengarah ke cermin tembaga besar di samping mereka.


Huang Mingxiang mencengkeram kain hanfu-nya kala melihat sosok Xiao Muqing yang tengah berusaha naik ke puncak gunung. Pria itu tidak menunggangi kuda, dia naik ke atas gunung dengan kedua kakinya sendiri. Kaki pria itu terlihat gemetar, sesekali Xiao Muqing terjatuh, namun dia tetap berusaha untuk bangkit. Tangan kanannya mencengkeram gagang pedang, pedang itu adalah tumpuannya berjalan.


"Wangye ...." Huang Mingxiang berdiri, sedikit berlari ke arah cermin tembaga besar itu. Matanya menatap Xiao Muqing dari sana, mengapa pria itu bisa ada di gunung ini?!


Saat Huang Mingxiang sedang sibuk melihat dengan rasa khawatir besar, cermin tembaga itu tiba-tiba berubah menjadi cermin tembaga biasa. Huang Mingxiang segera menoleh kembali ke arah Utusan Agung.


"Yang mulia, gunung ini sangat berbahaya. Suami saya sedang berada di dalam kondisi yang tidak baik, saya mohon kepada anda untuk mencegah naga Shenlong menyerang suami saya." Huang Mingxiang berlutut, keningnya terlipat dalam. Jantung Huang Mingxiang berdegup kencang, khawatir.


Utusan Agung menyeringai tipis. "Justru pria itulah yang berbahaya untuk gunung ini."


Huang Mingxiang memperdalam berlututnya, ini adalah berlutut terdalam keempat miliknya. Dia hanya seperti ini kepada ayahnya, Huangtaihou, dan mendiang Kaisar.


"Yang mulia, suami saya sudah lama tidak keluar dan mengasah kekuatannya. Tentu perbandingan kekuatannya yang dulu dan sekarang sangat berbeda. Yang mulia, saya mohon lindungi suami saya!" Huang Mingxiang menggigit bibir bawahnya, dia akan melakukan apa pun untuk Xiao Muqing. Pria itu tidak boleh terluka parah, lagi pula di mana Gu Sinjie?! Mengapa Xiao Muqing bisa sampai di sini?!


"Kamu menginginkan ini, bukan?" Suara Utusan Agung terdengar bertanya, Huang Mingxiang segera mengangkat kepalanya untuk melihat. Kedua matanya terbuka lebar, itu adalah bunga Gold God!


Huang Mingxiang kembali menunduk. "Benar, yang mulia."


"Kalau begitu kamu harus membayarnya dengan setengah nyawamu," jawab Utusan Agung.


Huang Mingxiang terkejut. Membayar? Bukankah untuk meminta bantuan Utusan Agung hanya butuh ketulusan hati? Utusan Agung adalah tangan kanan Tuhan, seharusnya tidak memerlukan imbalan untuk setiap bantuan yang dia turunkan.


Melihat Huang Mingxiang diam, Urusan Agung menyeringai tipis lagi. "Mengapa diam saja? Takut? Jika memang kamu sangat mencintai Xiao Muqing, seharusnya kamu tidak keberatan untuk memberikan setengah--"


"Saya bersedia, yang mulia!" Huang Mingxiang menjawab mantap, matanya menatap serius Utusan Agung. Jantungnya berdegup kencang, dia tidak peduli bahkan jika harus menyerahkan nyawanya. Hal ini akan sebanding dengan kesehatan, kebahagiaan, dan kejayaan Xiao Muqing. Dan lagi, dengan kembalinya Xiao Muqing di urusan pemerintahan atau militer, kestabilan Kekaisaran akan kembali terjadi. Pengorbanan Huang Mingxiang bukan hanya berdampak untuk Xiao Muqing, tetapi Kekaisaran!


Utusan Agung tertegun, matanya menatap dalam Huang Mingxiang. Pria itu mengedipkan matanya tiga kali, lalu mengangguk dan tersenyum. "Baiklah, kalau begitu. Kemari, sayang ...."


Huang Mingxiang tidak mempedulikan panggilan nyeleneh Utusan Agung, dia segera berdiri dan berjalan mendekat. Utusan Agung segera mencabut hiasan bulu angsa yang ada di kepalanya, lalu meletakkannya di kepala Huang Mingxiang. "Ini hadiah dariku."


Huang Mingxiang membungkuk. "Terima kasih banyak, yang mulia."


"Sudah siap?" Utusan Agung tersenyum.


Huang Mingxiang mengangguk mantap. "Sangat siap!"


Utusan Agung segera meletakkan tangannya di ubun-ubun Huang Mingxiang. Sebuah cahaya emas kecil muncul dari jarinya, perlahan, kedua mata Huang Mingxiang terasa gelap. Sebelum benar-benar memejamkan matanya, Huang Mingxiang sempat mendengar,"Perintahkan Shenlong untuk tidak mengganggu Xiao Muqing. Izinkan Xiao Muqing naik sendiri ke puncak gunung untuk menemuiku. Jika memang dia mencintai istrinya dengan tulus, seharusnya menaiki puncak gunung dengan kaki seperti itu tetap dia lakukan."

__ADS_1


"Baik, yang mulia Utusan Agung."


__ADS_2