Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 103. Permaisuri-ku


__ADS_3

Segerombol prajurit penjaga Istana merangsek masuk ke area pesta, mereka berusaha melindungi Rong Xuan. Para prajurit Xiao Wangfu yang sedari tadi ikut mengintai bersama Baili Ruyi pun muncul secara tiba-tiba mengejutkan seluruh orang. Prajurit Xiao Wangfu segera berdiri melingkari Huang Mingxiang dan menatap tajam prajurit penjaga Istana.


Suasana semakin tegang, tidak ada yang berani bergerak karena para prajurit sudah mulai mengeluarkan pedangnya. Rong Lingxie, wanita itu segera berlari ke arah Rong Xuan dan ikut menatap tajam Huang Mingxiang.


"Anda sudah benar-benar buta, Huanghou. Bagaimana mungkin anda berani melawan senior anda sendiri demi tingkah perilaku kerabat anda yang tidak terpuji?" Huang Mingxiang menatap dingin Rong Xuan, mereka berdua benar-benar saling membenci.


Rong Xuan benar-benar tidak mendengarkan kalimat Huang Mingxiang, dia sudah benar-benar buta oleh rasa marahnya. Seluruh mata dan telinga wanita itu tertutup, hanya menyisakan hati yang terbakar karena perasaan marah dan dendam yang selalu dipendam.


Huang Mingxiang melirik sekilas ke belakang menggunakan ujung matanya. Di kejauhan, dia melihat rombongan Xiao Jihuang datang. Kedatangan pria itu sama sekali belum disadari siapapun selain dirinya, Huang Mingxiang pun tersenyum tipis dan hendak menggunakan kesempatan ini.


Huang Mingxiang mulai mengerutkan keningnya, lalu memegang perut besarnya. Raut wajah kesakitan mulai muncul. "S--Su Mama!!"


"Wangfei!!" Su Mama terkejut, dia segera merangkul pundak Huang Mingxiang. Raut wajah Su Mama benar-benar terlihat khawatir, begitu juga dengan Yui, Baili Ruyi, dan para Furen lainnya yang masih tetap di area pesta untuk menyaksikan keributan.


"Acara pesta teh macam apa yang menggunakan pedang?!" Suara Xiao Jihuang yang marah terdengar, membuat seluruh orang berlutut, kecuali Huang Mingxiang dan Rong Xuan.


"Y--yang mulia!" Huang Mingxiang memanggil Xiao Jihuang, wanita itu diam-diam menekan salah satu jaringan syaraf di tubuhnya untuk 'membekukan darah sesaat', sehingga tubuhnya terlihat pucat.


Xiao Jihuang yang melihat Huang Mingxiang kesulitan tertegun, hatinya masih sedikit terenyuh melihat sosok Huang Mingxiang. Pria itu segera berjalan cepat ke arah Huang Mingxiang, matanya masih terlihat khawatir dan peduli. Tatapan pria itu masih sama tulusnya, namun ... kali ini sedikit hambar karena kandungan yang ada di perut Huang Mingxiang. Pria itu juga sudah lama sekali tidak menjalin kontak yang intens dengan Huang Mingxiang, keseharian dia habiskan bersama Wu Zeyuan.


"Xiao Wangfei? Ada apa?!" tanya Xiao Jihuang.


"Sepertinya ... sepertinya saya sangat terkejut karena tiba-tiba Huanghou melempar pedang ke arah saya, dan ... dan sekarang efeknya mengenai kandungan saya. Yang mulia ... arghh ... ini ...." Huang Mingxiang terbata, keringat dingin mulai terlihat muncul di keningnya.


"Melempar pedang?!" Xiao Jihuang terkejut, dia segera menoleh penuh amarah ke arah Rong Xuan. "Huanghou!!"


Rong Xuan dengan cepat berlutut, lalu berkata,"Yang mulia! Itu karena Xiao Wangfei yang terlebih dahulu menyinggung saya! Xiao Wangfei menyinggung keluarga Rong dan hubungan rumah tangga kita! Yang mulia, tolong percaya dan berpihak pada Rong Xuan kali ini!!" Kedua mata Rong Xuan terlihat berkaca-kaca, dia terlihat sangat menyedihkan sekarang.


Tak lama tabib Istana datang karena perintah Kasim Yi, kemudian segera membantu dan memeriksa Huang Mingxiang. Tabib itu memberikan sebuah pil, namun Huang Mingxiang tidak benar-benar meminumnya, hanya pura-pura, karena rasa sakit dan penderitaannya saat ini juga pura-pura.

__ADS_1


Huang Mingxiang kembali menormalkan kondisinya saat ini di depan banyak orang, namun raut wajahnya masih tetap terlihat lemas dan lesu.


"Yang mulia ...." Huang Mingxiang memanggil Xiao Jihuang lagi, kali ini nada bicaranya terdengar sangat lemah.


Xiao Jihuang segera menoleh dan menatap Huang Mingxiang penuh perhatian. "Ada apa, Xiao Wangfei? Apa yang ingin anda katakan?" Melihat Xiao Jihuang terlihat sangat mempedulikan Huang Mingxiang dan lebih mementingkan Huang Mingxiang ketimbang dirinya, Rong Xuan semakin terbakar oleh cemburu dan perasaan benci.


"Saya ... akui, saya akui bahwa saya memang melakukan hal itu. Tetapi ... saya melakukannya bukan tanpa sebab." Huang Mingxiang menatap Xiao Jihuang, benar-benar menatap mata pria itu, membuat Xiao Jihuang diam-diam kembali merasakan desiran cinta lamanya.


"Yang mulia, kita sudah saling mengenal sejak kecil. Saya yakin, anda mengerti karakter saya," sambung Huang Mingxiang, membuat Xiao Jihuang mengangguk singkat.


Xiao Jihuang melirik para Furen, kemudian memberikan isyarat ke arah Shao Furen agar menjadi saksi di antara mereka berdua. "Shao Furen, jelaskan dengan jujur kepada Zhen. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"


Shao Furen dengan cepat mengangguk, lalu kembali berlutut ke arah Xiao Jihuang. "Menjawab, yang mulia. Di awal Lingxie Xiaojie menari tarian 'Bunga Terluka' untuk Xiao Wangye, hal ini jelas sangat menyinggung perasaan Xiao Wangfei Niangniang. Tetapi Xiao Wangfei Niangniang tidak mempermasalahkan hal tersebut, beliau hanya mempersalahkan soal etika. Sebab, sejak awal Lingxie Xiaojie tidak langsung memberikan salam kepada Xiao Wangfei Niangniang, Lingxie Xiaojie hanya melakukannya jika Huanghou Niangniang yang memerintahkannya. Lingxie Xiaojie juga berani melakukan penghinaan terhadap gelar Xiao Wangfei Niangniang. Kemudian Xiao Wangfei Niangniang membalasnya dengan memberikan teguran untuk Huanghou Niangniang, namun Huanghou Niangniang menganggapnya hal ini adalah hal yang remeh. Setelah itu, Wangfei Niangniang baru membalas semuanya dengan mengungkit hubungan rumah tangga kedua yang mulia. Huanghou Niangniang yang marah segera melempar pedang ke arah Xiao Wangfei ...."


Para Furen bangsawan saling berbisik satu sama lain, lalu mereka semua ikut berlutut menghadap Xiao Jihuang bersama Shao Furen. Huang Mingxiang duduk di kursinya dengan memasang raut wajah lemas.


Xiao Jihuang melirik tajam istri utamanya. "Jadi intinya Huanghou yang lebih dulu membuat masalah?"


Huang Mingxiang ingin menambahkan sedikit 'bumbu' ke dalam drama ini, wanita itu segera memegang keningnya lemah dan berkata,"Wangfei ini tidak mengerti mengapa Huanghou tega melakukan tindakan seperti ini. Wangfei ini sudah sering sekali memberikan peringatan, namun tidak ada satupun hal yang berubah. Kejadian ini benar-benar membuat diriku malu jika harus bertemu para tetua Kekaisaran. Bahkan jika aku harus mati, aku tidak akan ada wajah untuk menghadapi para Kaisar dan petinggi Kekaisaran lainnya karena aku gagal membantu generasi saat ini sebagai generasi senior. Huanghou ... apa karena Wangye tidak ada di sisi saya sehingga anda berani bertindak sangat jauh seperti ini? Saya ... saya aku memang saya sangat lemah. Sebelumnya saya adalah wanita hina yang dituding sebagai 'penggoda' Kaisar, saya juga sudah dihukum berat atas tudingan tersebut. Tetapi ... apakah saya harus menerima perlakuan seburuk ini dari anda? Bagaimana pun, saya adalah senior anda. Hati saya sangat sakit jika diperlakukan tidak hormat seperti ini, saya sangat sedih. Suami saya berperang di luar sana, namun tidak ada satu penghormatan atau bentuk menghargai pun kami terima dari anda. Benar ... saya memang bukan apa-apa, hanya sampah, jika Wangye tidak ada di sisi saya. Saya memang tidak akan berharga jika Wangye tidak di sebelah saya ...." Huang Mingxiang mulai mengeluarkan air mata, membuat para Furen tersentuh. Mereka diam-diam ikut meneteskan air mata.


Hati Xiao Jihuang tergugah, pria itu segera mengepalkan kedua tangannya dan menatap marah Rong Xuan. "Huanghou, mengapa anda belakangan ini sering bersikap tidak rasional? Xiao Wangfei saat ini ditinggal sendiri di Ibu Kota oleh Xiao Wangye, namun anda benar-benar berani untuk melempar pedang ke arahnya?! Benar-benar keterlaluan! Kamu pasti sudah gila, Huanghou!!"


"AKU TIDAK GILA! GILA? ANDA YANG GILA!" Rong Xuan pecah, dia sudah tidak tahan. Dia tidak peduli lagi dengan image dan para Furen yang menonton syok. Rong Xuan berjalan cepat ke arah Xiao Jihuang, kemudian meremas kerah emas sutra suaminya. "Aku adalah istrimu, Jihuang! Aku istrimu! Mengapa kamu terus menerus membela dia?? Mengapa kerja kerasku pagi sampai malam tidak ada satupun yang kamu lihat?!"


PAA!!


Xiao Jihuang menampar pipi Rong Xuan, lalu melirik tajam ke arah para Furen. "Kalian semua! Cepat pergi dan tutup mulut! Jangan sampai keributan hari ini bocor keluar bahkan satu potong kejadian pun! Atau ... lidah kalian yang akan Zhen potong!!" Ancam Xiao Jihuang, matanya menatap tajam para Furen.


Para Furen itu gemetar, mereka segera berlutut semakin dalam untuk mengucapkan salam dan berlari keluar dari area pesta.

__ADS_1


Kini, di area pesta yang masih masuk ke dalam Istana Kediaman Rong Xuan hanya tersisa Rong Xuan, pelayan pribadinya, Huang Mingxiang, Su Mama, Yui, Baili Ruyi. Para penjaga Istana dan Xiao Wangfu juga sudah berlari keluar dan berjaga di depan.


"Jika kamu istirku, kamu seharusnya tidak melakukan tindakan-tindakan yang mengecewakan hatiku, Xuan'er." Xiao Jihuang menatap dingin istrinya, kedua sudut alisnya bertaut dalam.


Huang Mingxiang menatap dingin Rong Xuan yang sedang menangis sambil memegang pipinya. Baiklah, ini sudah bukan bagiannya. Huang Mingxiang berdiri, lalu membungkuk ke arah Xiao Jihuang. "Yang mulia, saya pamit undur diri karena merasa tidak enak badan. Saya harap, yang mulia memberikan keputusan yang adil mengenai kejadian hari ini."


Xiao Jihuang menoleh ke arah Huang Mingxiang, mengangguk. Pria itu benar-benar hanya mengangguk, lalu kembali menatap Rong Xuan. Ada secercah rasa gelisah dan kesulitan di dalam matanya. Huang Mingxiang tidak peduli, yang penting Rong Xuan akan dijatuhi hukuman pada hari ini juga. Wanita itu segera berjalan keluar dari Istana Rong Xuan sambil memegangi perutnya, lalu melirik Su Mama. "Ayo kembali, Su Mama. Kita sudah selesai."


Su Mama mengangguk. "Baik, Wangfei."


Sementara itu Rong Xuan dan Xiao Jihuang masih terpaku di tempat.


"Bukankah saya sudah sering seperti itu? Saya sudah sering berusaha menjadi Permaisuri dan istri yang baik. Tetapi ... hati dan pandangan anda selalu tertuju pada Huang Mingxiang! Yang mulia ... hati saya ... hati saya tidak sanggup menahan perasaan luka sebesar ini bertahun-tahun. Tidak peduli seberapa kuat dan hebatnya saya menjadi Huanghou anda, namun ... saya tetaplah wanita biasa yang akan cemburu. Apa lagi ketika melihat suaminya terus menerus menatap dan peduli bahkan menaruh perasaan dengan wanita lain! Seluruh kerja keras saya selalu kalah dengan sosok Huang Mingxiang!" Rong Xuan menangis, kali ini dia sudah tidak sanggup. Dia akan menuangkan seluruh keluh kesahnya sekarang.


Xiao Jihuang mengepalkan kedua tangannya lebih erat, lalu kepalanya menggeleng pelan. "Rong Xuan ... kamu belum mengetahui apa kesalahanmu?"


Rong Xuan diam, dia tidak tahu. Dia selalu merasa jalan dan perilaku yang dia pilih saat ini sudah benar. Dia sudah berusaha, dia sudah mencoba, dia sudah bertahan. Tetapi seluruh kerja kerasnya selalu kalah dengan sosok Huang Mingxiang.


Xiao Jihuang berjalan semakin dekat ke arah Rong Xuan, lalu menarik lembut lengan wanita itu yang memegangi pipinya yang ditampar oleh Xiao Jihuang sebelumnya. "Karena kamu tidak pernah menjadi diri sendiri, Rong Xuan. Kamu terlalu terobsesi dan dibayang-bayangi sosok Huang Mingxiang. Lihat seluruh bunga mawar putih yang tumbuh di halaman ini, bukankah bunga asli kesukaanmu adalah bunga mawar berwarna merah? Sedangkan bunga mawar putih adalah bunga yang disukai oleh Huang Mingxiang. Sekali lagi, dari hal kecil seperti ini saja kamu selalu berusaha menirunya. Apa yang kamu pikirkan saat meniru semua ini? Aku senang? Aku bahagia? Tidak, Rong Xuan. Aku tidak senang. Aku lebih senang jika kamu menjadi diri sendiri tanpa meniru siapapun, karena tidak hanya kamu saja yang kesulitan, aku juga. Aku akan semakin sulit untuk belajar melupakan wanita itu jika kamu terus menerus mengikuti gaya hidup dan seleranya."


Rong Xuan tenang, nada bicara Xiao Jihuang juga tidak sekeras sebelumnya. Wanita itu tidak bisa menjawab apa pun, dia hanya diam sambil menangis menatap Xiao Jihuang.


"Maafkan aku yang tidak benar-benar memperlakukanmu dengan baik, seharusnya dulu aku bersikeras untuk menolak perjodohan kita agar kamu tidak tersiksa seperti ini. Rong Xuan, aku mungkin saja bisa mencintaimu, namun ... akan membutuhkan waktu lama. Sesuai yang kamu tahu, hatiku tidak pernah mencintai satu wanita Harem pun sejak dulu. Di awal, aku menaruh harapan besar kepadamu, karena aku pikir kamu adalah wanita terbaik di antara ratusan wanita Harem. Tetapi ... kamu justru malah membuat hatiku semakin sakit karena terus menerus meniru Huang Mingxiang, terlebih lagi sikap ayahmu yang membuatku benar-benar lelah." Xiao Jihuang mengerutkan keningnya, menatap sulit Rong Xuan.


Rong Xuan masih menangis, tangannya kini mencengkeram lengan baju Xiao Jihuang. Matanya menatap Xiao Jihuang penuh dengan rasa cinta, sedih, putus asa, dan kecewa.


"Jika saya menjadi diri saya sendiri ... apakah yang mulia akan mencintai dan menghargai saya?" tanya Rong Xuan.


Xiao Jihuang diam cukup lama, namun kemudian menjawab,"Kamu sudah sering sekali mengecewakan hatiku, bagaimana hatiku bisa percaya padamu? Sesuai yang aku katakan sebelumnya, aku mungkin saja akan jatuh cinta padamu, namun ... itu membutuhkan waktu yang lama. Berikan aku waktu juga untuk mencintaimu, bagaimanapun ... hatiku sama seperti hati-hati manusia pada umumnya. Hanya akan mencintai satu orang." Kemudian Xiao Jihuang menoleh ke arah Kasim Yi dan berkata,"Kasim Yi, tutup Istana kediaman Huanghou. Huanghou akan dikurung selama empat bulan karena sudah melanggar etika Harem dan berani melukai serta bertindak tidak sopan kepada senior Kekaisaran."

__ADS_1


Rong Xuan sedikit terkejut, matanya menatap Xiao Jihuang nanar. Xiao Jihuang mengepalkan kedua tangannya, lalu mengelus kepala Rong Xuan lembut. "Aku memang membenci ayahmu dan seluruh marga Rong, namun ... aku masih pria sejati, bagaimanapun ... kamu adalah Permaisuri-ku. Aku tidak akan melepas tanggung jawabku padamu. Rong Xuan, aku mohon padamu untuk membuka matamu dan bedakan kebaikan serta kejahatan dengan jeli. Aku yakin ... di dalam hatimu, kamu adalah orang baik, Permaisuri-ku."


Xiao Jihuang berbalik, lalu berjalan pergi meninggalkan Rong Xuan sendirian. Rong Xuan jatuh terduduk, matanya menatap kosong punggung Xiao Jihuang. Kemudian matanya mulai mengeluarkan air mata, tangan kanannya mengepal dan memukul dadanya sendiri. Dadanya saat ini benar-benar terasa sesak.


__ADS_2