
Selama di perjalanan, Xiao Muqing dan Naga Shenlong terus berdebat tanpa henti. Pemicu utamanya adalah naga Shenlong, naga itu terus menerus mencari topik keributan dengan Xiao Muqing.
"Hng! Jika bukan karena istri baikmu aku tidak akan Sudi mengantarmu!" ucap Naga Shenlong sebelum benar-benar terbang kembali ke puncak gunung dan meninggalkan mereka berdua.
Xiao Muqing masih menggendong Huang Mingxiang, wanita itu sekarang sama sekali tidak bisa berjalan.
"Wangye, kami mengucapkan selamat untuk kesembuhan kaki anda! Kami sangat turut berbahagia!" ucap Baili Ruyi, dia berlutut di tanah bersama Yui.
Xiao Muqing mengangguk singkat. "Berdirilah, kita harus mencapai kaki gunung sebelum fajar tiba."
Baili Ruyi dan Yui menurut, mereka berdua segera berjalan di belakang Xiao Muqing. Begitu sampai di kaki gunung, Baili Ruyi melihat Gu Sinjie yang tengah sedang mencari sesuatu. Wajah pria itu terlihat sangat serius dan lelah.
"Sinjie!!" Baili Ruyi berseru menyebutkan nama Gu Sinjie, tangan kanannya melambai tinggi.
Mendengar namanya disebut, Gu Sinjie segera mencari arah sumber suara tersebut dan matanya terbuka lebar saat melihat sosok Xiao Muqing yang berdiri tegak.
Gu Sinjie berlutut di tanah, kedua matanya memerah terharu. "Gu Sinjie! Menyapa yang mulia Xiao Wangye dan Xiao Wangfei Niangniang!!" Suara Gu Sinjie menggema di hutan gunung, membuat seluruh pasukan yang dia bawa terkejut. Saat melihat Xiao Muqing, seluruh pasukan itu segera membuat formasi barisan lurus memanjang menuju ibu kota sesuai perintah Gu Sinjie. Kemudian mereka berlutut ke arah Xiao Muqing.
"Salam kepada Yang mulia Xiao Wangye dan Xiao Wangfei Niangniang!!" Mereka semua berlutut sambil meletakkan tangan kanannya di dada kiri.
Xiao Muqing terus berjalan, Gu Sinjie bergagas berdiri dan mengikuti langkah Xiao Muqing dari belakang bersama Ruyi dan Yui.
"Wa-- Wangye?!" Letnan Jenderal Shao terkejut, kemudian dia segera berlutut. "Salam yang mulia Xiao Wangye dan Xiao Wangfei Niangniang!!"
"Wangye, kereta kuda sudah disiapkan," ujar Gu Sinjie yang berjalan ke samping Xiao Muqing. Xiao Muqing pun mengangguk, lalu segera masuk ke dalam kereta kuda Xiao Wangfu yang telah disiapkan Gu Sinjie.
Kereta kuda Xiao Wangfu akhirnya segera berjalan kembali menuju ibu kota, ratusan ribu prajurit berkuda segera mengikuti kereta kuda Xiao Wangfu. Tidak ada bandit yang berani mendekat, apa lagi saat mereka melihat bendera Xiao Muqing berkibar di kereta kuda tersebut. Para bandit itu juga sudah mendengar kabar bahwa Xiao Muqing telah pulih, hal buruk jika mereka nekat mendekat.
"Kita ... tidak bisa berada di dalam kereta kuda ini," ucap Huang Mingxiang, entah mengapa napasnya perlahan menjadi lemah. Padahal sebelumnya dia tidak memiliki masalah apa pun pada pernapasan. Sepertinya ini efek dari 'setengah nyawa yang sempat diambil'.
__ADS_1
"Ada apa? Apa kereta kuda ini sudah tidak nyaman?" tanya Xiao Muqing bingung, Huang Mingxiang masih berada di dalam pelukannya.
Huang Mingxiang menggeleng, bibirnya yang perlahan terlihat semakin pucat itu tersenyum. Tangan kanan Huang Mingxiang bergerak untuk mengelus pipi Xiao Muqing. "Mereka semua ... yang sudah pernah meremehkan ... Wangye, harus ... melihat kondisi anda ... yang saat ini." Huang Mingxiang tersengal untuk mengatakan itu, entah kenapa tubuhnya mendadak jauh lebih lemas dan kesulitan untuk bicara. Napasnya juta terasa tidak nyaman.
Xiao Muqing mengeratkan pelukannya, mengangguk. "Jika itu yang kamu mau, baiklah. Tetapi, beristirahatlah, Mingxiang." Xiao Muqing perlahan menarik tangan Huang Mingxiang dari pipinya lembut.
Sekitar lima jam lamanya, akhirnya kereta kuda Xiao Wangfu mulai mendekati pintu masuk ibu kota. Xiao Muqing segera memerintahkan kereta untuk berhenti, otomatis ratusan ribu pasukan yang ada di belakangnya pun ikut berhenti.
"Ada apa, Wangye?" tanya Gu Sinjie, mereka semua menatap bingung ke arah Xiao Muqing saat pria itu keluar dari kereta sambil tetap menggendong Huang Mingxiang.
"Benwang ingin berjalan memasuki ibu kota. Ini permintaan Xiao Wangfei." Xiao Muqing langsung melengos begitu saja, tidak menunggu reaksi dari yang lain.
Begitu mendengar ini, Gu Sinjie tersenyum, yang lain pun demikian. Mereka semua segera turun dan menenteng kuda mereka dengan tangan mereka. Mereka semua ikut berjalan kaki.
Pintu gerbang utama ibu kota sudah terbuka lebar, di sana seperti banyak sekali orang yang menunggu. Xiao Muqing tidak peduli, dia tetap masuk, berjalan dengan kakinya sambil menggendong Huang Mingxiang.
Saat pria itu menginjakkan kakinya di dalam tanah ibu kota, mereka semua yang melihatnya terkejut. Di sana sudah ada Huangtaihou, wanita tua itu langsung keluar dari Istana begitu mendengar kabar bahwa keponakan kesayangannya rela pergi ke gunung Lang Tao untuk Xiao Muqing.
"Huangtaihou Niangniang, sebaiknya tidak sekarang. Lihat, Xiao Wangfei tidak tahu sedang pingsan atau tertidur di pelukan Xiao Wangye. Ini juga momen yang kurang tepat."
Huangtaihou tersadar, dia segera mengangguk setuju. Air matanya menetes menatap Huang Mingxiang yang kelelahan, walaupun penampilan Xiao Muqing sebenarnya jauh lebih kacau.
"Salam kepada yang mulia Xiao Wangye dan Xiao Wangfei! Yang mulia, selamat atas kesembuhan kaki anda!!" Seluruh penduduk ibu kota berlutut menyambut kepulangan mereka.
JEDARRR!!
Gu Sinjie meledakkan petasan lambang Xiao Wangfu di atas langit, membuat seluruh rakyat ibu kota semakin girang. Tepuk tangan dan ucapan selamat menumpuk untuk mereka berdua di sepanjang jalan.
Mereka semua tertawa bahagia, bahkan ada yang menangis sampai terbawa suasana. Mereka sangat terharu, karena setelah sekian lama Xiao Muqing mengurung diri di Xiao Wangfu dan didiagnosa tidak akan sembuh, namun ternyata takdir berkata lain. Tuhan mengirimkan wanita penuh kasih sayang dan lembut, perempuan yang memiliki perasaan cinta hangat yang besar, lalu rela berkorban pergi ke gunung Lang Tao menghadapi bahaya demi meraih kesembuhan untuk sang suami. Sang suami yang menyusul istrinya ke gunung Lang Tao dengan kondisi sakit-sakitan pun sangat menyentuh, mereka saling melindungi, membantu, berkorban, dan melengkapi di gunung Lang Tao. Kisah ini segera menjadi cerita romantis baru, gaya Xiao Muqing yang menggendong Huang Mingxiang yang menurut mereka sedang pingsan pun menjadi hal yang sangat didambakan oleh para wanita ibu kota. Roll model romantis Kekaisaran tahun ini dipegang oleh Xiao Muqing dan Huang Mingxiang.
__ADS_1
Sementara itu di Istana, Rong Xuan menatap tajam ke arah langit yang menampilkan logo Xiao Wangfu.
"A--apa?! Xiao Wangye dan Xiao Wangfei selamat?? Apakah Xiao Wangye sudah sembuh total?!" Rong Tagu berdiri begitu melihat logo Xiao Wangfu di langit. Pria itu sedang mengunjungi putrinya Rong Xuan.
Rong Xuan mengepalkan kedua tangannya. Dia kesal. "Mengapa wanita itu tidak mati tercabik-cabik di gunung Lang Tao?!"
Prang!!
Rong Xuan melempar cangkir porselen, kesal. Dia pikir Huang Mingxiang akan mati begitu mendengar kabar bahwa Xiao Wangye menghilang dan hendak menyusul Xiao Wangfei yang pergi ke gunung Lang Tao. Tetapi, dugaannya ternyata salah. Huang Mingxiang justru malah kembali dengan selamat dan meraih kesembuhan untuk suaminya! Rong Xuan benar-benar membenci ini!
"Jika kaki Xiao Wangye sembuh, maka akan sulit menggertak kekuasaan pria itu." Rong Tagu menatap sulit putrinya, membuat Rong Xuan menghela napas gusar.
Rong Xuan terdiam sejenak, tangannya memainkan bidak catur yang kini ada di hadapannya. Sebelumnya dia sedang sibuk bermain catur dengan ayahnya.
Tak lama, senyum Rong Xuan kembali muncul. "Masih ada cara, ayah."
Tak!
Rong Xuan meletakkan pion catur miliknya, bibirnya tersenyum dalam. Rong Tagu mengerutkan keningnya tidak mengerti, dia segera bertanya,"Cara seperti apa lagi? Jika Xiao Wangye sudah kembali sehat, maka cara apa pun akan sulit untuk menembusnya."
Rong Xuan menggeleng. "Tidak lagi Xiao Wangye."
Rong Tagu semakin bingung, tidak lagi Xiao Wangye? Tetapi ... rencananya yang itu sedikit lagi akan sempurna, perbatasan sudah cukup kacau. Jika memikirkan satu cara baru lagi untuk menambah kegentingan, pasti masalah mengenai Xiao Wangye akan pecah. Tetapi ... kini putrinya ingin mengubah target? Rong Tagu sebenarnya ingin sekali menjatuhkan Xiao Muqing, dia tidak setuju dengan kekuatan luar biasa besar milik pria itu. Hatinya agak berat jika mundur begitu saja dan mengganti target serangan.
"Siapa?" tanya Rong Tagu.
Rong Xuan tersenyum dalam. "Ayah bisa melakukan apa pun mengenai masalah Xiao Wangye, aku sudah tidak ingin mempedulikan itu lagi. Aku mempunyai mangsa yang lebih menarik untuk membuat Huang Mingxiang bertekuk lutut!"
"Siapa??" tanya Rong Tagu lagi, tidak bisa menahan penasarannya.
__ADS_1
Rong Xuan menyeringai tipis, tatapan liciknya kembali muncul. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Rong Tagu ayahnya.