Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 62. Melupakan Luka Lama


__ADS_3

Wu Zeyuan berjalan di tengah hamparan salju bersama pelayan pribadinya menuju Istana kediaman Xiao Jihuang. Pria itu pasti sedang sibuk bekerja, Wu Zeyuan berani bertaruh tidak akan ada selir yang mengunjungi Xiao Jihuang saat ini, karena mereka semua sibuk mempersiapkan diri untuk perayaan Salju Akhir Tahun besok. Kebetulan Wu Zeyuan sudah menyiapkan segalanya dari jauh-jauh hari, sehingga hari ini dia bisa mengunjungi Xiao Jihuang tanpa ada yang mengganggunya.


"Niangniang." Kasim Yi membungkuk ke arah Wu Zeyuan, tersenyum ramah.


"Apa Kaisar sudah makan siang?" tanya Wu Zeyuan.


Kasim Yi menggeleng, menghela napas lesu. "Belum, Niangniang. Yang mulia masih berkutat dengan pekerjaannya, makanan yang sudah diantar pun hanya ditaruh di atas meja makan tanpa disentuh."


Wu Zeyuan mengangguk mengerti, lalu berkata,"Bagaimana jika saya masuk ke dalam dan mengajak yang mulia makan siang bersama? Kebetulan saya membawakan beberapa camilan manis."


Kasim Yi mengangguk cepat. "Tentu, Niangniang. Itu ide yang baik. Dengan bujukan anda, yang mulia pasti akan segera berhenti bekerja." Kasim Yi kemudian membukakan pintu untuk Wu Zeyuan, membiarkan wanita itu masuk.


Wu Zeyuan masuk, sedangkan pelayan pribadinya menunggu di luar bersama Kasim Yi.


"Zeyuan memberi salam kepada yang mulia." Wu Zeyuan membungkuk, bibirnya tersenyum.


Xiao Jihuang segera mengangkat pandangannya, bibirnya tersenyum saat tahu bahwa itu adalah Wu Zeyuan.


"Berdiri, Zeyuan. Ada apa? Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Xiao Jihuang, pria itu segera meletakkan kuasnya dan menutup berkas pekerjaannya.


Wu Zeyuan kembali berdiri tegak, lalu menghela napas lesu seperti Kasim Yi sebelumnya. "Tidak, yang mulia. Kedatangan Zeyuan kemari hanya ingin memberikan camilan manis buatan Zeyuan sendiri, lalu barusan saya juga mendengar laporan dari Kasim Yi bahwa anda sibuk bekerja dan melewatkan jam makan siang."


Xiao Jihuang mengangguk. "Itu benar, karena seluruh pekerjaan ini harus selesai sebelum perayaan besar besok. Lagi pula, sejak kapan Kasim Yi menjadi cerewet seperti itu?"


Wu Zeyuan terkekeh. "Yang mulia, Kasim Yi hanya khawatir dengan anda."


Xiao Jihuang mengangguk singkat, kemudian berdiri dan berjalan ke arah meja makan. Tangan pria itu mengayun, memberi isyarat agar Wu Zeyuan mendekat. "Kemari, Zeyuan."


Wu Zeyuan patuh, wanita itu segera berjalan mendekat dan duduk di samping pria itu. Di atas meja makan sudah ada berbagai macam olahan daging dan sayur.


Wu Zeyuan meletakkan kotak camilan manis buatannya di atas meja, kemudian menuangkan air putih ke dalam cangkir Xiao Jihuang.


"Yang mulia, apa anda mengizinkan Zeyuan untuk menyuapi anda secara pribadi?" tanya Wu Zeyuan, tersenyum antusias.

__ADS_1


Xiao Jihuang mengangguk singkat, lalu Wu Zeyuan dengan cepat mengambil sumpit dan mulai menyuapi Xiao Jihuang.


"Masakannya sudah tidak terlalu hangat ...." Wu Zeyuan mengerutkan keningnya, namun Xiao Jihuang hanya mengangguk, menandakan bahwa dia tidak begitu terlalu masalah.


Beberapa saat kemudian, Xiao Jihuang mengambil sumpit yang dipegang Wu Zeyuan dan mulai memakan makanan itu dengan tangannya sendiri. Wu Zeyuan kembali menuangkan air ke dalam cangkir Xiao Jihuang yang mulai kosong, lalu matanya tidak sengaja menangkap lukisan kecil. Lukisan itu terlihat sudah sangat lama, terlihat dari kualitas kanvas-nya.


"Sepertinya anda dan Xiao Wangfei memiliki hubungan yang sangat erat," ucap Wu Zeyuan, dia tahu lukisan itu adalah lukisan yang dibuat Xiao Jihuang dan Huang Mingxiang bersama.


Sepuluh tahun lalu, mendiang Kaisar sebelumnya mengundang para anak-anak bangsawan ke Istana. Salah satu hiburan yang disediakan Istana adalah melukis, lalu satu kanvas diperuntukkan untuk dua orang. Xiao Jihuang dan Huang Mingxiang menjadi pasangan, lalu mereka berdua melukis kedua telapak tangan mereka bersama. Di pojok telapak tangan mungil itu ada nama mereka masing-masing, 'Mingxiang' dan 'Jihuang'.


Aktivitas makan Xiao Jihuang terhenti, dia segera menoleh ke arah lukisan kecil tersebut. Bibir Xiao Jihuang kemudian berusaha tersenyum tipis. "Benar, Zhen dan Xiao Wangfei adalah teman kecil yang baik."


Wu Zeyuan mengangguk. "Zeyuan mengerti, karena sejak kecil Zeyuan sering memperhatikan yang mulia."


"Benarkah?" Alis kiri Xiao Jihuang sedikit terangkat.


Wu Zeyuan mengangguk. "Tentu saja, Zeyuan sudah mengagumi yang mulia sejak kecil."


Xiao Jihuang sesaat merasa terhibur, atmosfer sedih yang tadi sempat muncul karena nama Huang Mingxiang disebut perlahan menghilang. Tangan Xiao Jihuang perlahan bergerak mengelus kepala Wu Zeyuan, lalu berkata,"Jika kamu mau, Zhen akan meminta pelayan untuk menyiapkan kanvas baru untuk dilukis bersama."


Xiao Jihuang mengangguk ringan, lalu melirik ke arah pintu dan memanggil Kasim Yi. Pria itu langsung meminta Kasim Yi untuk menyiapkan satu kanvas baru hari ini juga, membuat Wu Zeyuan sangat bahagia.


"Yang mulia, kira-kira apa yang akan kita lukis?" tanya Wu Zeyuan, kedua tangannya memeluk Xiao Jihuang dari samping.


Xiao Jihuang meletakkan sumpitnya di meja, selesai makan. Setelah meneguk air putihnya, pria itu membalas pelukan Wu Zeyuan menggunakan satu tangannya. "Bagaimana dengan dua burung merpati putih?"


Wu Zeyuan memperdalam senyumnya, mengangguk. "Itu ide bagus!"


"Yang mulia ...." Tak lama Wu Zeyuan kembali berbicara, nadanya sedikit memelas.


Xiao Jihuang mengangguk. "Iya? Apa ada lagi yang kamu inginkan?"


Wu Zeyuan menghela napas, lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Xiao Jihuang. "Pendamping untuk Perayaan Salju Akhir Tahun besok bukankah hanya diizinkan dua orang saja? Huanghou dan selir pengurus acara? Tetapi ... Zeyuan ingin berada di dekat anda."

__ADS_1


Xiao Jihuang terdiam sejenak, ini ... agak sulit. Tetapi dia tidak bisa menolak permintaan Wu Zeyuan, belakangan ini hatinya sering lunak dengan wanita itu.


"Baiklah, karena meja Kaisar terlalu besar untuk satu orang, bagaimana jika kamu satu meja dengan Zhen?" tanya Xiao Jihuang, bibirnya tersenyum tipis. Ini pertama kalinya Xiao Jihuang mengendurkan peraturan untuk seorang Selir, sebelumnya bahkan sekelas Rong Xuan pun tidak pernah dia izinkan.


Wu Zeyuan kembali tersenyum, mengangguk. "Iya! Zeyuan senang berbagi meja dengan yang mulia!"


Kedua mata mereka bertemu, tangan Wu Zeyuan beralih melingkar di leher Xiao Jihuang. Xiao Jihuang melirik tangan Wu Zeyuan yang tiba-tiba menjadi agresif, kemudian kembali menatap wanita itu.


Tangan kanan Xiao Jihuang perlahan bergerak menekan punggung Wu Zeyuan agar semakin dekat dengannya. Wajah keduanya semakin mendekat, namun ... tiba-tiba Xiao Jihuang menghentikan gerakannya, lalu menjauhkan sedikit jarak mereka.


Wu Zeyuan sedikit terkejut, matanya menangkap ekspresi ragu Xiao Jihuang. Sepertinya pria itu kembali memikirkan Huang Mingxiang. Wu Zeyuan tidak marah, wanita itu justru tersenyum dan menangkup kedua pipi Xiao Jihuang agar kembali menatapnya.


"Zeyuan tahu rahasia anda, jadi ... yang mulia tidak perlu memaksakan diri," ujar Wu Zeyuan, membuat Xiao Jihuang sedikit terkejut. Dia tidak menyangka Wu Zeyuan mengetahui perasaannya untuk Huang Mingxiang.


"Kamu tidak keberatan?" tanya Xiao Jihuang, bertanya ragu.


Wu Zeyuan menggeleng, kemudian menarik telapak tangan kanan Xiao Jihuang dan menempelkannya di pipinya. Wu Zeyuan memejamkan matanya, menikmati sensasi telapak tangan Xiao Jihuang. "Tidak. Zeyuan tidak akan memaksa yang mulia untuk segera melupakan perasaan itu atau membuat yang mulia hanya mencintai Zeyuan. Zeyuan tahu, bahwa Zeyuan adalah orang baru di hidup yang mulia. Zeyuan tidak memiliki hak untuk mengusir secara paksa perasaan dan ingatan orang lama di pikiran yang mulia, karena tanpa itu semua tidak akan mengubah fakta bahwa Zeyuan mencintai yang mulia dengan tulus." Di akhir kalimat, Wu Zeyuan kembali membuka matanya.


Xiao Jihuang tertegun, kemudian tersenyum tipis. Ini pertama kalinya dia merasa tenang jika ada wanita Harem yang mengetahui perasaannya untuk Huang Mingxiang. Sebelumnya Rong Xuan mengamuk dan justru malah bertindak tidak masuk akal, lalu Lu Fenghua. Wanita itu sebenarnya tahu, namun saat pertemuan mereka bertiga kemarin, wanita itu sengaja menutupi pengetahuannya. Wanita itu sempat menangis cemburu, membuat Xiao Jihuang merasa kesulitan. Tetapi kali ini, Wu Zeyuan. Wanita itu tidak kasar sama sekali, justru malah memberikan pengertian. Hal inilah yang membuat perasaan hangat perlahan menjalar di tubuh Xiao Jihuang.


"Bagaimana jika Zhen sulit melupakannya dan terus bersamamu sambil mengingat wanita itu?" tanya Xiao Jihuang lagi.


Wu Zeyuan menggeleng. "Tidak. Zeyuan yakin, yang mulia akan melupakannya. Zeyuan percaya, dengan usaha dan bentuk cinta yang terus menerus Zeyuan berikan, yang mulia akan menerima Zeyuan sepenuh hati dan perlahan melupakan luka lama." Bibir Wu Zeyuan tersenyum lagi.


Xiao Jihuang tersenyum, lalu berdiri dan menjulurkan tangannya ke Wu Zeyuan. "Ingin beristirahat sebentar?"


Wu Zeyuan mengangguk, membalas uluran tangan Xiao Jihuang. Wanita itu langsung membelalakkan matanya terkejut setelah membalas uluran tangan Xiao Jihuang, pasalnya pria itu tiba-tiba menarik tubuhnya dan menggendongnya.


Wu Zeyuan tertawa, sedangkan Xiao Jihuang tersenyum melihat wanita itu tertawa bahagia. Xiao Jihuang meletakkan Wu Zeyuan di atas kasur, kemudian ikut berbaring di samping wanita itu.


Wu Zeyuan memeluk Xiao Jihuang, mengelus kepala pria itu. Dewa, dia sangat mencintai suaminya. Wu Zeyuan tidak akan menuntut apa pun selain kebahagiaan Xiao Jihuang, namun ... dia berharap Xiao Jihuang dapat segera melupakan Huang Mingxiang dan mencintainya. Wu Zeyuan akan terus berusaha dan berdoa, dia tidak akan menggunakan cara licik apa pun, karena dia ingin Xiao Jihuang mencintainya dengan murni, bukan karena rencana licik.


Xiao Jihuang memejamkan matanya, badannya terasa lelah karena sejak pagi dia sudah harus duduk di meja kerja dan mengerjakan seluruh laporan dari berbagai penjuru Kekaisaran. Pria itu memeluk tubuh mungil Wu Zeyuan, membenamkan wajahnya di dada Wu Zeyuan.

__ADS_1


Hari itu, adalah hari paling nyaman pertama Xiao Jihuang dengan wanita dari Harem-nya, setelah sebelumnya selalu merasa tidak cocok dan tidak nyaman, hari ini rasanya dia dapat bernapas dengan lega.


__ADS_2