Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 107. Tunas Baru


__ADS_3

Pernikahan Baili Ruyi dan Gu Sinjie pun segera digelar satu bulan setelah kembalinya seluruh pasukan Xiao Wangfu dari perbatasan.


Seluruh orang bergembira di pernikahan mereka, semuanya hadir, termasuk Chen Taifei Agung. Huang Mingxiang menggendong Xiao Mingyui dengan kini didampingi oleh Xiao Muqing.


Saat seluruh orang sedang berbahagia, Yui berdiam diri di meja tamu dan memakan kudapan. Dia sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan pernikahan, lagi pula ... jika dia menyatu dengan mereka, bisa-bisa pertanyaan seperti kapan gilirannya menikah akan membuat kupingnya bosan.


"Uhuk! ... Uhuk!" Yui mengerutkan keningnya, dia tersedak kue bulan! Astaga, di mana air?!


Yui menoleh ke sana kemari untuk mencari air, ketika hendak berdiri dan berbalik, tiba-tiba seorang pria muncul di belakangnya sambil menyodorkan segelas air.


"Perlu minum?" tanya pria itu, membuat Yui segera mengambil airnya sambil berpikir ... siapa pria itu? Dia seperti pernah mendengar suaranya.


"Gunniang, mengapa anda tidak ikut bergabung?" tanya pria itu, lalu duduk di samping Yui.


Yui meneguk habis airnya, lalu menjawab,"Tidak tertarik."


Pria itu tertawa, lalu menjawab,"Putri Xue Yuilean benar-benar selalu menarik."


Yui tertegun, ketika mendengar ini rasanya air yang baru saja dia telan ingin menyembur keluar karena terkejut. Mata Yui dengan cepat menatap tajam pria itu. "Apa kamu pria yang di malam itu?" tanya Yui.


Pria itu terkekeh, lalu menjawab,"Silahkan anda tebak. Jika benar, anda akan menjadi istri saya. Dan jika salah, saya yang akan menjadi suami anda."


"Konyol!" jawab Yui kesal, lalu menarik jarak dari pria itu.


"Tuan muda Fang, anda dipanggil oleh Chen Taifei Agung. Beliau ingin bertemu dengan anda." Seorang pelayan mendekat ke arah mereka dan berkata demikian.


Yui membelalakkan matanya, menatap pria itu penuh dengan kejutan. Tuan Muda Fang?! Dia ... sepupu laki-laki Xiao Wangfei?! Fang Tianyao?! Keponakan laki-laki yang paling mendiang Huangtaihou sayangi!


Fang Tianyao mengangguk, lalu kembali menatap Yui dan berkata,"Kita akan bertemu lagi di lain waktu, namun ... aku ingin pertemuan yang lebih intens." Kemudian dia berjalan pergi meninggalkan Yui yang masih mematung menatap punggung Fang Tianyao.


Selesai pesta pernikahan Baili Ruyi dan Gu Sinjie, Huang Mingxiang dan Xiao Muqing memutuskan untuk kembali ke Xiao Wangfu. Mereka sudah memiliki janji dengan pelukis Kekaisaran terkenal, hari ini mereka akan mengambil potret lukisan untuk pertama kalinya.


Huang Mingxiang duduk di samping Xiao Muqing, tersenyum menatap pelukis tersebut. Tangannya menggendong erat Xiao Mingyui, sedangkan Xiao Muqing dengan gagah duduk di samping Huang Mingxiang sambil mendirikan pedang di lantai menggunakan tangan kirinya.


Lukisan itu akan dipajang di ruang utama Xiao Wangfu. Lukisan itu juga akan terus berganti jika nanti Huang Mingxiang kembali melahirkan anak, Xiao Wangfu terlihat penuh warna sekarang ini.

__ADS_1


Kisah cinta mereka benar-benar dikenal dan tersebar luas, banyak teater atau novel yang mengangkat kisah mereka sebagai inspirasi.


"Istri Kesayangan Xiao Wangye." Itu adalah julukan Huang Mingxiang saat ini, karena wanita itu berhasil membawa Xiao Muqing kembali ke cahaya terang dan meluluhkan hati keras pria itu. Tidak hanya itu, Huang Mingxiang bahkan berhasil mengisi dan menghangatkan hati pria tiran itu dengan cinta sehingga menjadi istri yang sangat dicintai Xiao Muqing.


...*******...


"Begitulah kisah singkat Xiao Wangye dan Xiao Wangfei yang terhormat. Kisahnya benar-benar luar biasa! Sangat menyentuh, penuh perjuangan dan emosi," ucap pendongeng teater, lalu tak lama suara tepuk tangan keras terdengar.


Xiao Mingyui yang sudah berumur tujuh tahun dan adik laki-lakinya Xiao Xiangqing, mendengarkan cerita itu diam-diam dari balik pintu teater.


Xiao Xiangqing tertawa, lalu menarik tangan kakak perempuannya untuk kembali naik ke atas kereta kuda.


"Cepat, Jiejie! Kita hanya diizinkan keluar untuk lima belas menit! Jika waktunya sudah lewat, maka Mu qin! akan memarahi kita!" ucap Xiao Xiangqing.


Sesampainya di Xiao Wangfu, Xiao Xiangqing segera berseru,"Mu qin! Mu qin!"


Huang Mingxiang yang sedang menyuapi obat untuk Chen Taifei Agung menoleh ke arah kedua anaknya. "Mingyui, Xiangqing, cepat segera makan siang. Su Mama sudah menyiapkan makan siang kalian, jangan membuat kerja keras Su Mama menjadi sia-sia."


Xiao Xiangqing mengangguk, lalu dia segera berkata,"Mu qin! Baru saja kami tidak sengaja mendengar kisah tentang Mu qin dan Fu qin di teater! Apakah itu benar? Apakah benar??"


"Pendongeng itu mengatakan bahwa Mu qin dan Fu qin sangat mencintai satu sama lain, sehingga sering melakukan pengorbanan besar untuk melindungi satu sama lain juga, Yeye," jawab Xiao Mingyui, anak ini terlihat jauh lebih tenang dari pada Xiao Xiangqing adiknya.


Huang Mingxiang terkekeh. "Kalian masih kecil, belum boleh membahas hal seperti ini. Jadi, sekarang cepat makan siang, mengerti?" tanya Huang Mingxiang, lalu mencubit gemas pipi anaknya satu-persatu.


"Ada yang bercerita hal konyol itu? Beritahu Fu qin, apa judulnya?" Suara berat Xiao Muqing terdengar, membuat mereka semua menoleh ke arah pintu.


Xiao Xiangqing tersenyum cerah, anak laki-laki itu dengan gesit berlari ke arah Xiao Muqing dan melompat ke arah pelukan ayahnya. "Fu qin! Xiangqing sudah bisa mengangkat pedang tanpa terjatuh! Kapan kita akan membasmi penjahat?" tanya Xiao Xiangqing tidak sabaran.


Xiao Muqing tersenyum tipis, lalu menjawab,"Setelah kamu benar-benar siap. Hanya baru bisa mengangkat pedang, itu belum cukup untuk menumbangkan musuh."


"Xiangqing bodoh ..." ucap Xiao Mingyui, membuat Huang Mingxiang terkejut. Astaga ... mengapa sikap anak perempuan anggun serta cantiknya ini serupa dengan Xiao Muqing?! Sangat disayangkan sekali!!


Xiao Muqing tertawa, lalu menggendong anak perempuannya di lengan satunya. "Katakan pada Fu qin, Mingyui. Apa judul kisahnya? Jika jelek, maka Fu qin akan menutup teater tersebut."


"Istri Kesayangan Xiao Wangye, itu judulnya!" Xiao Xiangqing menjawab penuh semangat, tangan kanannya terangkat ke atas, membuat mereka semua tertawa.

__ADS_1


"Xiao Xiangqing ... Xiao Xiangqing ...." Suara anak kecil yang berseru berbisik terdengar, membuat mereka semua menoleh termasuk Xiao Muqing yang langsung memutar tubuhnya.


Huang Mingxiang tersenyum. "Aiya ... Gu Lingchu, masuk, nak. Kemari ...."


Gu Lingchu, anak itu memiliki umur yang sama dengan Xiao Xiangqing, dia adalah anak laki-laki pertama dari Gu Sinjie dan Baili Ruyi.


Tak lama, dari belakang anak itu muncul Baili Ruyi dan Gu Sinjie. Mereka berdua segera masuk dan membungkuk ke arah Xiao Muqing.


"Salam, Wangye."


Baili Ruyi menoleh ke arah putranya, mengerutkan keningnya. "Lingchu, cepat masuk dan beri salam! Jangan bertindak tidak sopan!"


Gu Lingchu dengan cepat keluar dari persembunyiannya dan membungkuk ke arah Xiao Muqing dan yang lain.


"Salam, Yang mulia, salam Niangniang." Gu Lingchu membungkuk dengan malu-malu.


"Karena sudah memasuki makan siang, lebih baik kalian bertiga makan siang bersama. Ayo ... cepat!" Huang Mingxiang bersemangat menyuruh anak-anak menggemaskan ini untuk makan bersama.


"Tidak mau." Tiba-tiba Xiao Mingyui menolak.


"Ada apa?" tanya Chen Taifei Agung.


"Xiangqing dan Lingchu adalah orang bodoh. Aku tidak mau bergaul dengan orang bodoh," jawab Xiao Mingyui, membuat mereka semua tertawa.


"Benar-benar asli anak dari Xiao Wangye! Tidak perlu test panjang lagi!" ucap Gu Sinjie, tertawa, kepalanya menggeleng pelan.


Setelah membujuk lama Xiao Mingyui, akhirnya anak itu bersedia untuk makan bersama. Ketika ketiga anak itu pergi bersama menuju ruang makan, Huang Mingxiang berdiri dan menatap punggung ketiga anak itu.


"Waktu berlalu dengan sangat cepat," ucap Huang Mingxiang, membuat Xiao Muqing merangkul pundaknya hangat dan mencium ubun-ubun wanita itu.


"Benar. Kini, tanpa kita sadari dan rasakan, waktu akan berjalan dengan sangat cepat. Mereka akan tumbuh dewasa, lalu menggantikan posisi dan peran dari generasi sebelumnya," balas Baili Ruyi, tersenyum hangat. Gu Sinjie berdiri di samping istrinya, lalu ikut merangkul pundak Baili Ruyi, mengikuti Xiao Muqing.


"Tunas baru akan tumbuh dan menggantikan peran pohon sebelumnya. Mereka akan menjadi pohon yang rimbun dan kaya akan buah serta bunga yang indah," timpal Gu Sinjie, tersenyum cerah.


Huang Mingxiang mengangguk setuju, dia segera mendongak dan menatap Xiao Muqing. Pria itu juga ikut tersenyum.

__ADS_1


...-TAMAT-...


__ADS_2