
Huang Mingxiang mengunjungi kediaman Xiao Muqing. Saat masuk ke dalam kamar pria tersebut, dia melihat Xiao Muqing tengah membaca buku di atas kasur tidurnya, bersandar pada papan ranjang. Kelambu putih baru mengelilingi ranjang pria itu.
"Wangye." Huang Mingxiang memanggil pria itu untuk memberitahukan kehadirannya.
Xiao Muqing mengangkat tatapannya, kemudian menoleh ke samping, matanya menangkap sosok Huang Mingxiang yang berjalan mendekat dengan senyum tulus sambil membawa mangkuk kecil berisi minyak pijat.
Huang Mingxiang menaruh mangkuk minyak pijat tersebut di atas meja yang dekat dengan ranjang Xiao Muqing, selanjutnya menyibak kelambu putih milik pria itu. Huang Mingxiang meletakkan kedua tangannya di pinggang, berkacak di hadapan Xiao Muqing. "Nah ... Wangye, saatnya Mingxiang memijat kaki anda!"
Xiao Muqing hanya diam dan menatap aneh ke arah Huang Mingxiang, karena tidak biasanya wanita itu terlihat sangat bersemangat seperti ini. Huang Mingxiang tidak mempedulikan tatapan aneh Xiao Muqing, wanita itu bergegas mengambil mangkuk minyak pijatnya dan naik ke atas kasur.
Huang Mingxiang mengangkat sedikit pakaian Xiao Muqing agar kaki pria itu terlihat. Tanpa banyak basa-basi, dia segera mengoleskan minyak pijat ke atas kaki Xiao Muqing. Di tengah-tengah kesibukannya, Huang Mingxiang sengaja menambahkan topik pembicaraan.
"Wangye, besok saya akan segera berangkat ke Istana untuk mengunjungi Huangtaihou. Saya akan mengurus masalah saya, ada kemungkinan saya akan menginap di Istana Huangtaihou," ujar Huang Mingxiang, kalimatnya ini sukses membuat kening Xiao Muqing terlipat.
"Menginap?" tanya Xiao Muqing.
Huang Mingxiang mengangguk. "Benar, menginap. Saya perlu mengontrol keadaan secara langsung."
Xiao Muqing diam, kemudian menatap kakinya yang tengah dipijat Huang Mingxiang. Tatapannya terlihat rumit, namun tak lama kemudian dia mengangguk, setelah itu tidak bersuara lagi.
Huang Mingxiang tidak memperhatikan ekspresi Xiao Muqing, mata wanita itu fokus menatap kaki suaminya. Bibir Huang Mingxiang tersenyum tipis. "Setelah menyelesaikan urusan saya, saya berjanji akan beralih fokus untuk menyembuhkan kaki anda."
"Tidak perlu."
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya. "Apa sebabnya?"
"Ini permanen, Mingxiang."
Huang Mingxiang menggeleng kencang. "Tidak, kaki Wangye bisa sembuh. Saya mendengar cerita tentang Utusan Agung beberapa waktu lalu, saya ingin menemui Utusan Agung untuk anda."
Xiao Muqing yang mendengar ini segera menangkap kedua tangan Huang Mingxiang dan memberhentikan gerakan memijatnya. Mata keduanya bertemu, Huang Mingxiang bingung, sedangkan Xiao Muqing menatap penuh peringatan.
"Tidak perlu."
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Xiao Muqing. Tetapi, cengkeraman Xiao Muqing sangat keras, tenaganya tidak cukup untuk melawan pria itu.
"Anda selalu membuat keputusan tanpa disertai penjelasan, bagaimana bisa saya menerima begitu saja keputusan tak berdasar milik Wangye? Lagi pula saya mengambil keputusan itu untuk suami saya sendiri!" Huang Mingxiang mulai kesal saat cengkeraman tangan Xiao Muqing semakin erat.
Xiao Muqing menatap sulit istrinya. Dia memberikan cengkeraman kuat di tangan Huang Mingxiang tanpa sadar, karena saat ini perasaan khawatirnya lebih tinggi dari pada perasaan ingin sembuh.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang Utusan Agung," ujar Xiao Muqing.
Huang Mingxiang menatap Xiao Muqing berani. "Kalau begitu saya hanya perlu mencari tahu informasi mengenai Utusan Agung."
Xiao Muqing membuang tatapannya ke samping, lalu melepas cengkeramannya dari tangan Huang Mingxiang. "Tiga tahun lalu benwang sudah pernah mengunjungi Utusan Agung, namun hasilnya nihil, ditolak. Jadi percuma jika kamu berusaha meminta bantuan pada manusia itu."
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya saat merasakan nyeri di pergelangan tangannya, tetapi kemudian dia tetap menjawab. "Saat itu adalah saat itu. Sekarang adalah sekarang. Tidak ada yang tahu bagaimana hasilnya jika Mingxiang yang menemui Utusan Agung, sekaligus menjadi bukti perasaan tulus saya terhadap Wangye, karena Utusan Agung hanya menerima permintaan dari orang-orang berperasaan tulus."
"Tidak, adalah tidak, Huang Mingxiang." Xiao Muqing masih menolak keras ide Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang menghela napas gusar, dia kesal. "Kalau begitu apa yang membuat Wangye melarang niat saya?"
"Tempat Utusan Agung berada di puncak gunung Lang Tao. Di sana banyak sekali hal-hal berbahaya, Mingxiang," jawab Xiao Muqing, nada bicaranya seperti menahan emosi.
Huang Mingxiang berdecak. "Lalu apa masalahnya, Wangye? Saya bisa--"
__ADS_1
"Bagaimana jika kamu terluka?" Xiao Muqing memotong, matanya menatap tajam Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang tertegun. Apakah ... yang membuat pria itu ragu adalah dirinya?
"Wangye, jika saya--" Belum selesai Huang Mingxiang bicara setelah cukup lama suasana mereka hening, Xiao Muqing kembali memotong sambil mencengkeram kembali lengan Huang Mingxiang.
"Gu Sinjie koma selama tiga Minggu karena berusaha membantu benwang menemui Utusan Agung. Maka--"
"Argh--!"
Huang Mingxiang meringis, matanya menatap pergelangan tangannya yang dicengkeram keras oleh Xiao Muqing. Xiao Muqing mengerutkan keningnya, menatap lengan Huang Mingxiang. Menyadari dirinya telah berlebihan mengeluarkan tenaga, dia dengan cepat melepas cengkeramannya, menatap penuh khawatir dan rasa bersalah ke arah pergelangan tangan Huang Mingxiang.
"Jika Gu Sinjie saja tidak lolos dari bahaya, bagaimana dengan dirimu?" lanjut Xiao Muqing, matanya masih menatap penuh rasa khawatir ke pergelangan tangan Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang yang menyadari tatapan khawatir Xiao Muqing untuk pergelangan tangannya pun tersenyum, dia tidak mempermasalahkan cengkeraman ini, Huang Mingxiang tahu pria itu tidak sengaja. Huang Mingxiang juga tahu bahwa pria itu memiliki rasa khawatir tinggi terhadap keselamatannya.
"Wangye, Mingxiang berjanji akan menjaga diri Mingxiang dengan benar. Lagi pula Mingxiang juga tidak mungkin naik ke atas gunung Lang Tao sendirian tanpa pendamping. Yui akan coba Mingxiang ajak untuk menemui Utusan Agung," ucap Huang Mingxiang.
Xiao Muqing diam, matanya terus menatap Huang Mingxiang. Tetapi tak lama kemudian pria itu bersandar lagi pada papan ranjangnya, lalu memejamkan matanya, kening pria itu masih terlipat.
"Wangye?" Huang Mingxiang memanggil Xiao Muqing karena pria itu cukup lama memejamkan matanya seperti sedang merajuk.
Tak lama Xiao Muqing kembali membuka kedua matanya, lalu menatap pergelangan tangan Huang Mingxiang. "Jika masih terasa sakit, pergi temui tabib Xiao Wangfu."
Huang Mingxiang terkekeh, kepalanya menggeleng. "Sekarang sudah tidak sakit, cengkeraman anda juga tidak menyebabkan luka apa pun. Saya tahu, Wangye. Anda khawatir. Tetapi, saya berharap anda sembuh."
Xiao Muqing membuang tatapannya ke arah lain, ke mana saja yang terpenting tidak bertemu dengan tatapan Huang Mingxiang.
"Jika--" Baru satu kata yang terlontar dari mulut Xiao Muqing, ucapannya sudah langsung berhenti kala merasakan Huang Mingxiang tiba-tiba mengecup pipinya.
Xiao Muqing mengerutkan keningnya, matanya menatap kesal ke arah Huang Mingxiang, namun diam-diam kuping bagian belakang pria itu memerah.
"Anda sudah memperlakukan saya dengan sangat baik. Seperti perhatian, rasa khawatir, dan tindakan lainnya. Wangye, apa hal ini bisa dikatakan bahwa sekarang anda mencintai saya?" tanya Huang Mingxiang, dia sudah duduk benar-benar dekat dengan Xiao Muqing, tidak lagi di bagian kaki.
Xiao Muqing diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa dan memang tidak ingin menjawab. Pertanyaan itu terasa berat untuknya, dia sendiri juga tidak mengerti perasaannya seperti apa. Bahkan dia merasa sudah tidak memiliki perasaan atau emosi apa pun untuk berbagai macam hal, namun ... setiap kali bertemu dengan Huang Mingxiang, hatinya seperti diburu, desiran darahnya berubah menjadi hangat, dan berbagai macam hal aneh lainnya.
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, kemudian berkata,"Wangye, mengapa anda terus menerus menatap objek kosong? Manusia yang berbicara dengan anda berada di sini." Huang Mingxiang menunjuk dirinya sendiri.
Xiao Muqing akhirnya mau tidak mau menoleh, matanya kini bertemu dengan mata Huang Mingxiang.
"Anda tidak bisa menjawab pertanyaan saya? Padahal jawabannya mudah, iya atau tidak." Huang Mingxiang menghela napas, menunggu jawaban Xiao Muqing.
Xiao Muqing menggeleng. "Benwang tidak tahu."
"Saya hanya menyediakan jawaban iya atau tidak, bukan tidak tahu," balas Huang Mingxiang.
Xiao Muqing menghela napas tipis diam-diam, kemudian memejamkan matanya lagi, keningnya terlipat semakin dalam. "Tidak tahu, Mingxiang. Apa kau ingin terus menerus memaksa hingga kiamat?"
Huang Mingxiang tersenyum sekilas, dia tahu bahwa Xiao Muqing tidak akan bisa menjawab pertanyaannya sekarang, namun Huang Mingxiang mencoba memancing pria itu agar lebih cepat sadar mengenai perasaannya.
"Wangye, tidak peduli sehebat apa pun saya sebagai wanita, saya akan tetap bisa kalah dengan perasaan. Dulu saya kalah dan terjebak dengan perasaan saya sendiri, lalu bertekad tidak akan menjadi manusia bodoh seperti itu lagi. Tetapi, sekarang saya bertemu dengan perasaan yang saya anggap bodoh dan tidak bisa berkutik. Saya pikir saya sudah cukup hebat untuk melawan perasaan bodoh itu, namun ternyata saya belum cukup hebat."
Huang Mingxiang mengatakan itu semua dengan kepala tertunduk, matanya menatap kosong objek kosong, bibirnya tersenyum tipis. Xiao Muqing kembali membuka matanya, melihat raut wajah Huang Mingxiang. Pria itu kini tengah bergelut dengan perasaannya sendiri.
"Mingxiang." Panggil Xiao Muqing, membuat Huang Mingxiang menatap pria itu lagi.
__ADS_1
"Hm?" tanya Huang Mingxiang, bingung.
"Bagaimana perasaan anda?" tanya Xiao Muqing. Bukannya menjawab, pria itu justru malah balik bertanya.
Huang Mingxiang tersenyum lagi, kepalanya sedikit menunduk. "Saya pikir ... saya mencintai anda. Bukankah saya juga sudah sering mengatakan hal ini, Wangye? Anda tentu sudah tahu jelas bagaimana perasaan saya."
"Apa kau benar-benar ingin menjadi istri benwang?" tanya Xiao Muqing. Istri yang Xiao Muqing maksud di sini adalah sebenar-benarnya seorang istri. Bukan hanya sekedar status dan perlakuan formal, tetapi juga hubungan yang mengandung perasaan emosi saling menyayangi, melindungi, dan melengkapi.
Huang Mingxiang tertegun, Xiao Muqing tiba-tiba menanyakan hal seperti ini padanya. Huang Mingxiang mengangguk. "Tentu."
Xiao Muqing beralih membuka kotak laci meja yang berada persis di samping ranjangnya, kemudian mengeluarkan kotak perhiasan berbentuk persegi. Huang Mingxiang menatap bingung dan rasa penuh penasaran, namun dia tidak berani banyak bertanya. Huang Mingxiang diam dan memperhatikan apa yang kira-kira akan Xiao Muqing lakukan.
Xiao Muqing membuka kotak perhiasan itu, menampilkan kalung emas dengan liontin batu merah delima yang hanya dapat ditemukan setiap satu juta tahun sekali. Batu itu biasanya berada di dalam lembah-lembah berbahaya yang penuh dengan binatang reptil berbisa.
"Ini untukmu." Xiao Muqing menyodorkan kotak perhiasan itu begitu saja, membuat Huang Mingxiang yang menerimanya merasa kebingungan.
"Untuk?" tanya Huang Mingxiang.
"Itu kalung untuk nyonya rumah Xiao Wangfu. Beberapa tahun lalu sempat benwang buang karena merasa benda itu tidak berharga, namun Gu Sinjie kembali memungutnya dan mengatakan bahwa barang itu lebih baik disimpan. Ya, lihat. Ternyata barang itu berguna untukmu," jawab Xiao Muqing, nada bicaranya terkesan acuh.
Huang Mingxiang menatap kalung indah tersebut, matanya berbinar. Astaga ... apa ini artinya Xiao Muqing benar-benar telah menganggap dirinya sebagai istri pria itu sungguhan?
Huang Mingxiang tersenyum senang, lalu menyodorkan kalung itu lagi ke arah Xiao Muqing. "Anda tidak berniat untuk memakaikan kalung ini secara pribadi di leher saya?" Huang Mingxiang menggoda Xiao Muqing lagi.
Xiao Muqing menatap kesal istrinya, lalu mengambil kalung itu. "Mendekat."
Huang Mingxiang dengan cepat mendekat, lalu membungkukkan badannya ke arah Xiao Muqing, membuat jarak wajah mereka menjadi sangat dekat. Huang Mingxiang dapat merasakan hembusan napas Xiao Muqing, begitu juga sebaliknya.
Xiao Muqing memasangkan kalung itu secara pribadi di leher Huang Mingxiang, setelah selesai, mata mereka kembali bertemu untuk waktu yang lama. Posisi mereka juga tidak berubah, perlahan detak jantung mereka berdua semakin kencang.
Huang Mingxiang tersenyum lembut, jejak ekspresi jahil di wajahnya menghilang. Huang Mingxiang menempelkan keningnya di kening Xiao Muqing. "Setahun, dua tahun, tiga tahun, bahkan seribu tahun sampai mati dan terlahir kembali pun saya adalah Wangfei anda."
Xiao Muqing memejamkan matanya, menikmati momen mereka berdua. Pria itu tanpa sadar tersenyum tipis. "Kalimat yang kau lontarkan terdengar menggelikan." Walaupun faktanya dia senang mendengarnya.
Huang Mingxiang terkekeh, matanya kembali terbuka dan hendak menjauhkan keningnya dari Xiao Muqing, namun tiba-tiba pria itu menahan gerakannya.
"Diam." Perintah Xiao Muqing, membuat Huang Mingxiang kaku dan menjadi batu seketika.
Lengan kanan Xiao Muqing perlahan bergerak, telapak tangannya membelai kepala Huang Mingxiang. Wajah Huang Mingxiang semakin memerah, sentuhan ringan pria itu benar-benar membuat seluruh tubuhnya panas.
Huang Mingxiang tetap diam, dan kini tangan Xiao Muqing beralih meraih pergelangan tangan Huang Mingxiang yang tadi sempat ia cengkeram. Xiao Muqing mengecup lengan Huang Mingxiang, ini sebagai tanda maafnya. Pria itu masih enggan mengucapkan kalimat lembut.
Xiao Muqing beralih menyentuh leher jenjang Huang Mingxiang, kemudian terus meraba hingga menyentuh wajah wanita itu. Xiao Muqing mengelus pipi Huang Mingxiang, tatapan pria itu semakin lembut. Huang Mingxiang memejamkan matanya, karena perlahan Xiao Muqing mendekatkan wajahnya.
Xiao Muqing mencium bibir Huang Mingxiang, ciuman itu terasa sangat panas. Huang Mingxiang mengerutkan keningnya saat Xiao Muqing tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan memindahkannya ke atas pangkuan pria itu.
Xiao Muqing memeluk erat Huang Mingxiang, begitu juga sebaliknya. Minyak pijat yang berada di atas kasur pun tumpah karena gerakan agresif mereka, namun keduanya sama sekali tidak peduli jika tubuh mereka harus terbalut minyak bersama.
Tangan Huang Mingxiang bergerak mencoba membuka ikatan baju Xiao Muqing, begitu juga sebaliknya. Xiao Muqing mengerutkan keningnya karena ikatan hanfu milik Huang Mingxiang terasa sulit untuk dibuka, oleh karena itu dia dengan paksa membuka Hanfu Huang Mingxiang, membuat beberapa bagian kain Hanfu terkoyak.
Huang Mingxiang tersenyum, Xiao Muqing terlihat sangat agresif. Tetapi, saat Huang Mingxiang dan Xiao Muqing bersiap untuk 'memasuki tahap selanjutnya', tiba-tiba dari luar terdengar suara ketukan.
"Wangye, saya Gu Sinjie. Izin menghadap."
Huang Mingxiang dan Xiao Muqing berhenti, mereka berdua saling tatap. Xiao Muqing menatap kesal ke arah pintu, sedangkan Huang Mingxiang menahan tawa.
__ADS_1