Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
46. Wangye Berjanji Akan Bertanggung Jawab


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Huang Mingxiang menerima surat dari Istana. Lagi-lagi nama pengirimnya tidak disertakan, namun Huang Mingxiang dapat tetap mengetahui siapa pengirim surat tersebut, Wu Zeyuan.


Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, apa yang hendak wanita itu sampaikan sampai tidak sabaran menunggu kedatangannya di Istana hingga mengirim surat pagi-pagi buta seperti ini? Saat masih tertidur nyenyak, Huang Mingxiang terusik dengan suara ketukan pintu mendesak Su Mama.


Huang Mingxiang duduk di tepi kasur, kepalanya menoleh ke arah Xiao Muqing yang masih memejamkan matanya. Bibir Huang Mingxiang tersenyum tipis melihat sosok suami tampannya, kemudian kembali fokus menatap surat Wu Zeyuan.


Huang Mingxiang membuka surat itu, membacanya. Bibirnya tersenyum, Wu Zeyuan terlihat sangat bersemangat untuk melawan pihak Huang Liyue dan Rong Xuan.


"Selamat pagi, Xiao Wangfei. Maafkan saya karena mengirim surat mendesak di pagi-pagi buta seperti ini sehingga mengganggu tidur anda. Entah bagaimana, rasanya saya sangat bersemangat untuk memulai 'bisnis' utama kita. Lu Fei berhasil menjadi sekutu kita, dengan anak yang ada di dalam kandungannya, itu bisa menjadi senjata tambahan untuk melawan Huanghou dan Huang Guifei. Dan, semalam Kaisar mengunjungi Istana saya dan bermalam di sini. Wajahnya nampak tidak begitu baik, setelah saya kulik, ternyata yang mulia baru saja bertengkar dengan Huanghou. Sepertinya mulai ada keretakan di antara mereka berdua, bukankah ini berita dan kesempatan yang bagus, Wangfei? Dan lagi, sebentar lagi perayaan Salju Akhir Tahun akan segera dimulai. Saya membujuk Kaisar agar menjadikan Huang Guifei sebagai penanggungjawab acara, momen ini dapat kita manfaatkan untuk menyerang wanita itu. Hanya itu yang ingin saya sampaikan, Xiao Wangfei. Saya akan selalu berusaha dan berdoa agar seluruh rencana kita berjalan lancar, saya yakin takdir baik akan hadir di tangan kita. Anda tidak perlu membalas surat ini, saya akan menunggu kedatangan anda di Istana."


"Apa yang membuatmu hingga terlihat fokus sekali?" Suara berat khas pria bangun tidur terdengar tepat di samping telinga Huang Mingxiang, kemudian dia merasakan Xiao Muqing menumpukan kepalanya di bahu Huang Mingxiang.


Huang Mingxiang menoleh, tersenyum dan mengelus kepala Xiao Muqing. Rambut mereka berdua masih sedikit berantakan karena baru saja terbangun dari tidur.


"Wu Guifei, dia mengirim surat pagi-pagi buta," jawab Huang Mingxiang.


Xiao Muqing mengerutkan keningnya. "Wu Guifei? Sepertinya sejak acara perayaan Kasih Sayang kamu terlihat dekat dengannya."


Huang Mingxiang mengangguk. "Benar, kami sekutu."


Xiao Muqing tidak membalas lagi, pria itu hanya mengangguk singkat dan memejamkan matanya tenang.


"Kapan kamu akan berangkat?" tanya Xiao Muqing.


Huang Mingxiang mengangkat kedua bahunya acuh. "Sesuai dengan kapan saya berhasil siap."


Huang Mingxiang memutar badannya, kembali naik ke atas kasur dan duduk di hadapan Xiao Muqing. Huang Mingxiang menggerakkan tangannya lincah untuk merapikan rambut suaminya, setelah itu tersenyum manis. "Terima kasih."


Xiao Muqing mengerutkan keningnya. "Sedari dulu kamu selalu senang mengucapkan terima kasih tanpa alasan yang jelas."


Huang Mingxiang terkekeh. "Kali ini sungguh-sungguh berterima kasih. Terima kasih karena Wangye sudah mau menerima Mingxiang dan perasaan ini."


Xiao Muqing terdiam, pria itu bingung hendak menjawab apa, membuat dia kini hanya terdiam dan menatap teduh istrinya.


Huang Mingxiang menunduk, bibirnya masih tersenyum. "Apa Wangye percaya bahwa aku dapat membalas seluruh perbuatan mereka?"


Xiao Muqing mengangguk. "Tentu."

__ADS_1


Huang Mingxiang kembali mengangkat kepalanya, menatap Xiao Muqing. "Bagaimana jika saya kalah dan justru berakhir di penjara untuk menerima hukuman mati?"


"Maka benwang akan mengepung Istana untuk menyelamatkanmu," jawab Xiao Muqing cepat tanpa berpikir dua kali terlebih dahulu.


Huang Mingxiang sedikit memiringkan kepalanya ke kanan, bibirnya tersenyum lagi. "Apa kalimat Wangye dapat saya pegang?"


Xiao Muqing mengangguk singkat, menatap penuh keseriusan ke arah Huang Mingxiang. Tak lama kemudian Huang Mingxiang tertawa, dia merasa gemas dengan raut wajah Xiao Muqing yang terlihat terlalu serius menanggapi kalimatnya. Huang Mingxiang memeluk Xiao Muqing, kemudian mendongak untuk menatap wajah Xiao Muqing.


"Saya sangat bahagia menjadi istri anda," ucap Huang Mingxiang, membuat Xiao Muqing mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kuping pria itu kembali memerah, kemudian menjawab,"Hm ... ya."


Huang Mingxiang tidak peduli dengan jawaban singkat Xiao Muqing, dia sudah terbiasa. Wanita itu kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Xiao Muqing, lalu mengeratkan pelukannya. Tangan Xiao Muqing kini mulai bergerak untuk membalas pelukan Huang Mingxiang sambil mengelus kepala wanita itu, sepertinya Xiao Muqing gemar mengelus lembut kepala istrinya.


Setelah puas bermesraan, Huang Mingxiang kembali ke aktivitas normalnya. Dia membantu Xiao Muqing untuk mandi dan berganti pakaian, melayani pria itu seperti biasanya. Selanjutnya, Huang Mingxiang kembali ke kediamannya dan mulai bersiap menuju Istana yang dibantu oleh Su Mama dan Yui. Kini, Yui sudah resmi menjadi pelayan pribadinya, Yui akan mengikuti kemanapun Huang Mingxiang pergi. Wanita itu sudah resmi menjadi orang Huang Mingxiang, bukan lagi Xiao Muqing. Tetapi tetap Yui berkewajiban memberikan laporan kegiatan Huang Mingxiang kepada Xiao Muqing, untuk tugas yang satu ini bersifat rahasia. Hanya Xiao Muqing, Gu Sinjie dan Baili Ruyi yang tahu.


Selesai bersiap, Huang Mingxiang bergegas menuju halaman kediamannya. Di sana kereta kuda Xiao Wangfu sudah menunggu dengan gagah, siap untuk dinaiki Wangfei mereka. Di samping kereta kuda, Huang Mingxiang melihat Baili Ruyi dan Gu Sinjie, kedua manusia itu sepertinya baru saja selesai berdebat, terlihat dari raut wajah Baili Ruyi yang masam.


"Wangfei." Gu Sinjie dan Baili Ruyi membungkuk ke arah Huang Mingxiang, membuat Huang Mingxiang mengangguk dan tersenyum.


"Apa ada yang ingin kalian bicarakan?" tanya Huang Mingxiang, karena tidak biasanya mereka berdua mengunjungi dirinya bersamaan seperti ini.


Baili Ruyi mengangguk. "Anda benar sekali! Tetapi, tujuan saya dan Gu Sinjie kemari berbeda."


Baili Ruyi mengangkat kedua tangannya, menatap Gu Sinjie sengit. "Saya dulu, Wangfei!"


"Dasar kekanakan," cibir Gu Sinjie, bola matanya memutar malas. Sedangkan Huang Mingxiang, dia tidak bisa tidak tertawa melihat tingkah mereka berdua.


Baili Ruyi mendengus, kemudian memilih untuk menghiraukan cibiran Gu Sinjie dan fokus terhadap Huang Mingxiang. "Wangfei, hari ini saya menemui anda hendak pamit kembali ke perguruan. Tetapi tenang saja, dalam waktu kurang dari satu Minggu saya akan kemari sebagai bawahan resmi Gege! Tetapi ..." Baili Ruyi menggantung kalimatnya.


"Tetapi?" tanya Huang Mingxiang penasaran.


Baili Ruyi tersenyum kuda, menampilkan deretan giginya yang rapi. "Tetapi Gege belum tentu mau menerima saya, lalu jika ... Wangfei tidak keberatan, bisakah saya meminta bantuan anda untuk membujuk Wangye?" Baili Ruyi mengedipkan matanya dua kali untuk merayu Huang Mingxiang.


Gu Sinjie berdecak. "Ck, Wangfei, anda tidak perlu terpengaruh dengan kata-katanya! Jangan membantu manusia seperti dia, dia--"


"Tutup mulutmu, Sinjie. Tidak sopan! Aku sedang berbicara dengan Wangfei!" Baili Ruyi meletakkan kedua tangannya di pinggang, menatap kesal ke arah Gu Sinjie.


Huang Mingxiang tertawa lagi, kemudian berkata,"Sudah, cukup. Tidak perlu berdebat di pagi hari yang baik ini. Nona Baili, tentu saja saya akan membantu anda. Lagi pula saya yakin Wangye pasti akan menerima anda, tidak mungkin menolak wanita berbakat seperti anda."

__ADS_1


Baili Ruyi kembali tersenyum ceria, raut wajah kesalnya untuk Gu Sinjie menghilang. Wanita itu menatap Huang Mingxiang senang dan mengangguk seperti anak kecil. "Sungguh? Baiklah, Wangfei! Saya berjanji akan lulus dari tes menyebalkan dan tidak manusiawi milik Gege!"


Tes menyebalkan dan tidak manusiawi yang dilontarkan oleh Baili Ruyi bukanlah kalimat yang berlebihan atau dilebih-lebihkan. Memang sudah menjadi rahasia umum, bahwa Xiao Wangfu selalu merekrut bawahan baru dengan tes yang tidak masuk akal. Salah satunya seperti bertarung melawan hiu di tengah laut lepas tanpa bantuan apa pun selain tombak, terjun ke lembah beracun yang ada di dataran perbatasan Barat dengan Timur untuk membawa kepala hewan buas yang berkuasa di wilayah itu. Intinya, untuk masuk menjadi bagian prajurit Xiao Wangfu harus dibayar menggunakan kepala makhluk hidup yang berkuasa/buas. Jika calon gagal menghadapi tantangan tersebut, maka masih ada pilihan lain, yaitu menguji keloyalitasan mereka. Yaitu dengan memotong dua jari kelingking mereka di hadapan Tuan rumah Xiao Wangfu atau tangan kanan Tuan rumah, seperti Xiao Muqing dan Gu Sinjie. Karena sekarang posisi Wangfei sudah terisi, maka Huang Mingxiang termasuk orang yang boleh menjadi saksi peristiwa tersebut.


"Aku bertaruh kau akan gagal," ucap Gu Sinjie, bermaksud meledek Baili Ruyi, tidak sungguhan mencemooh wanita itu.


Baili Ruyi mendengus. "Aku akan menggunakan kepalamu untuk diserahkan kepada Gege!"


Huang Mingxiang tertawa lagi, dia tidak bisa berhenti tertawa setiap melihat interaksi konyol antara Gu Sinjie dan Baili Ruyi. Huang Mingxiang menggelengkan kepalanya pelan, lalu berkata,"Apa anda berdua pernah mendengar kalimat yang mengatakan, 'semakin benci, semakin besar peluang untuk jatuh cinta' ?"


Baili Ruyi membulatkan matanya, menatap Huang Mingxiang syok, kemudian kembali menatap Gu Sinjie dan menunjuk pria itu. "Saya? Jatuh cinta dengan Sinjie? Itu konyol! Wangfei, pria itu bahkan tidak tahu caranya memperlakukan wanita dengan baik! Dia selalu kasar kepadaku!"


Gu Sinjie tersenyum sarkastik. "Tentu saja, bukankah kau seorang pria?"


Huang Mingxiang kembali tertawa, kemudian berkata,"Sudah-sudah, cukup. Kalian berdua sangat menghibur pagiku hari ini." Huang Mingxiang menatap Baili Ruyi dan menyentuh bahu wanita itu. "Kalau begitu Nona Baili, anda harus berhati-hati saat menuju jalan pulang ke perguruan. Sampaikan salamku kepada Tuan Baili."


Baili Ruyi mengangguk. "Terima kasih, Wangfei. Baik."


Merasa urusannya sudah selesai, Huang Mingxiang hendak naik ke atas kereta kuda, namun tiba-tiba Gu Sinjie memberhentikan gerakannya.


"Wangfei, saya belum bicara!" Gu Sinjie berseru, membuat Huang Mingxiang menoleh dan menahan tawa. "Astaga! Maafkan saya, Tuan Gu!"


Baili Ruyi yang mendengar ini tertawa paling keras, membuat Gu Sinjie menatapnya jengkel. Gu Sinjie menghembuskan napas, lalu berkata,"Wangfei, Wangye menitip pesan untuk anda."


"Pesan?" tanya Huang Mingxiang.


Gu Sinjie mengangguk. "Benar, Wangye berkata anda diizinkan menampar siapa saja yang berani membuat anda kesal dan tidak nyaman. Wangye berjanji akan bertanggung jawb jika terjadi kegaduhan besar."


Huang Mingxiang tertegun, kemudian bibirnya tersenyum. Walaupun pesan itu terdengar konyol, karena tidak mungkin nanti dia menampar seorang Huanghou dan Kaisar begitu saja, namun ... Hati Huang Mingxiang terasa hangat.


"Bahkan jika orang itu adalah seorang Huanghou dan Kaisar," sambung Gu Sinjie, membuat Huang Mingxiang dan Baili Ruyi terkejut.


"Sungguh?" tanya Huang Mingxiang.


Gu Sinjie mengangguk. "Benar, Wangfei. Wangye berjanji."


Huang Mingxiang terkekeh, kemudian mengangguk. "Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak Tuan Gu."

__ADS_1


Gu Sinjie balas mengangguk lagi. "Sama-sama, Niangniang. Dan ... hati-hati di jalan." Pria itu bergegas membungkuk, membuat Baili Ruyi mengikuti dengan cepat.


Huang Mingxiang masuk ke dalam kereta kuda, pintu kereta sudah ditutup rapat serta Yui dan Su Mama siap untuk berangkat ke Istana. Kereta kuda Xiao Wangfu kini berjalan keluar dengan lancar.


__ADS_2