Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 71. Masa Lalu 4 Siapa Yang Akan Menjadi Istri Pangeran Kelima?


__ADS_3

Huang Mingxiang berlari sembunyi, menjauh dari taman Kekaisaran atas perintah kakaknya. Dia diminta untuk bersembunyi di tempat yang sulit ditemukan, berjaga-jaga jika kakaknya kalah dan dia menjadi sasaran berikutnya.


Huang Mingxiang memilih untuk berlari ke pohon besar yang tidak jauh dari taman Kekaisaran. Pohon itu tidak terlihat menyeramkan sama sekali, justru terlihat sangat menenangkan karena ada lilin indah yang menghiasi pohon tersebut.


Huang Mingxiang bersandar pada pohon tersebut, berjongkok di sana sambil menghela napas lelah. "Dewa, semoga Jiejie menang!" Doa anak kecil polos itu.


Huang Mingxiang kemudian berjalan memutari pohon tersebut untuk mencari posisi yang aman, saat hendak mengira-ngira, dia terkejut karena tiba-tiba kakinya seperti terikat oleh tali yang sangat kencang. Tali itu kemudian menarik tubuhnya dan membuat Huang Mingxiang menggantung di atas pohon dengan terbalik.


"Jiejie!" Huang Mingxiang berseru panik, bingung. Dia sangat terkejut karena tiba-tiba kakinya ditarik menggantung ke atas pohon.


Jantung Huang Mingxiang berdegup kencang, apakah ini adalah akhir dari hidupnya? Dia tidak berani bergerak banyak karena takut terjatuh. Saat melirik ke arah tali, tali itu terlihat seperti sudah sangat usang dan lama. Jika Huang Mingxiang memberontak terlalu keras, maka tali itu akan putus dan tubuhnya langsung terjun bebas dari pohon tinggi tersebut. Itu jauh lebih berbahaya.


Tak lama, langkah mendarat kaki seseorang terdengar dari atas batang pohon. Hal ini membuat Huang Mingxiang ingin menangis, dia semakin takut. Apakah itu pembunuh? Apa dia akan dibunuh setelah terkena perangkap ini?


"Tidak perlu panik, nona kecil. Saya bukan orang jahat." Suara lembut seorang remaja laki-laki terdengar. Laki-laki itu segera mengeluarkan belati dari sakunya dan memotong tali itu begitu saja. Huang Mingxiang membelalakkan matanya, pasalnya di bawah tidak ada kasur atau sesuatu yang empuk. Jika tali dipotong paksa menggunakan belati, maka dia akan jatuh menghantam tanah yang keras!


"Tuan! Tidak! Jangan dipotong begitu!" Huang Mingxiang berseru menahan tangis, takut.


Laki-laki itu hanya tersenyum, kemudian segera melompat gesit begitu Huang Mingxiang melayang jatuh ke bawah.


Hup!


Huang Mingxiang mendarat tepat di gendongan laki-laki itu, matanya terpejam erat karena membayangkan tulang-tulangnya akan patah jika menghantam tanah.


Laki-laki itu menurunkan Huang Mingxiang dari gendongannya dan berkata,"Maafkan kelalaian saya, nona kecil. Atasan saya juga meminta maaf karena telah membahayakan nona kecil. Seharusnya kami memeriksa lebih lanjut sisa-sisa perangkap yang sebelumnya pernah dipasang untuk menangkap penjahat." Laki-laki itu berkata lembut, lalu menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.


Kaki Huang Mingxiang masih lemas, dia berdiri sambil memegang batang pohon untuk menahan dirinya. "Siapa atasan Tuan?" tanya Huang Mingxiang penasaran.


Pria itu tersenyum. "Ah ... maafkan saya karena tidak mengenalkan diri saya dengan benar. Saya Gu Sinjie, dan atasan yang saya maksud tadi adalah Pangeran kelima Kekaisaran ini."

__ADS_1


Huang Mingxiang mengangguk, tersenyum tipis. "Saya Huang Mingxiang! Tuan sungguh-sungguh tangan kanan Pangeran kelima yang terkenal itu? Sangat mengagumkan!" Mata Huang Mingxiang berbinar semangat.


Gu Sinjie mengangguk, terkekeh. "Benar, nona kecil. Pangeran juga sempat memuji anda karena tetap terlihat tenang dan tidak banyak bergerak, sepertinya anda tahu bahwa tali itu sudah usang. Pangeran jarang memuji seseorang, saya saja sampai iri."


Huang Mingxiang menutup mulutnya dengan kedua tangannya, gemas sekali. "Sungguh? Itu sebuah kehormatan untuk Mingxiang! Sampaikan terima kasih Mingxiang kepada Pangeran kelima!" Huang Mingxiang kemudian membungkuk lucu, membuat Gu Sinjie semakin merasa gemas.


Gu Sinjie mengangguk. "Tentu saja, nona. Tetapi ... apa anda bisa tidak memberitahu siapapun mengenai apa yang terjadi malam ini? Biarkan ini menjadi rahasia kita bertiga." Gu Sinjie meletakkan jari telunjuknya di atas bibir setelah kalimat akhirnya terlontar tuntas.


Huang Mingxiang mengangguk. "Tentu saja! Tuan tidak perlu khawatir!"


Gu Sinjie tersenyum, balas mengangguk lagi. "Terima kasih banyak, nona manis. Anda terlihat memiliki potensi lebih, nalar anda juga berjalan dengan bijak. Kelak anda pasti akan menjadi istri dari orang hebat. Atau siapa tahu menjadi salah satu permaisuri Kekaisaran ini? Mengingat seluruh anggota Kekaisaran sangat menyukai anda."


Senyum Huang Mingxiang hilang saat mendengar ini, selanjutnya dia mendengus dan menjawab,"Aku tidak ingin menjadi istri pangeran Jihuang!"


Gu Sinjie mengerutkan keningnya. "Kenapa?"


Gu Sinjie tertawa. "Baiklah, kalau begitu anda pasti akan menjadi Wangfei yang hebat."


Huang Mingxiang menggeleng lagi. "Aku juga tidak mau menjadi istri dari pangeran Zhen Gu! Pria itu terlihat akan memiliki lebih dari seratus istri!"


"Tetapi seorang pangeran hanya diizinkan memiliki tiga istri, nona kecil." Gu Sinjie mulai mensejajarkan tingginya dengan Huang Mingxiang, berjongkok. Dia lama-lama merasa tertarik untuk mendengarkan celotehan Huang Mingxiang.


"Hm? Lalu apakah Pangeran kelima saat ini memiliki tiga istri?" tanya Huang Mingxiang polos.


Gu Sinjie tertegun, kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Gu Sinjie kembali merapikan postur berjongkoknya dan menjawab,"Pangeran kelima sampai saat ini belum mempunyai istri, beliau belum menemukan jodoh yang cocok."


Huang Mingxiang mengerutkan keningnya. "Bohong, saya sering mengunjungi Putri Mahkota dan Huanghou, mereka sering membicarakan pertunangan untuk Pangeran kelima."


Gu Sinjie mengangkat kedua bahunya. "Tetapi, lihat. Tidak ada yang berhasil, bukan?"

__ADS_1


"Apa Pangeran kelima menolak semua daftar nama wanita bangsawan?" tanya Huang Mingxiang penasaran.


Gu Sinjie mengangguk. "Tentu, karena Pangeran kelima sangat pemilih. Dia hanya menempatkan orang-orang berkualitas, jujur, dan loyal untuk berada di sampingnya. Entah wanita bangsawan mana nanti yang akan berhasil meluluhkan hatinya dan menjadi istrinya."


Huang Mingxiang terkekeh, lalu dengan maksud bercanda dia mengacungkan jari telunjuknya ke atas langit tinggi-tinggi. "Saya yang akan menjadi istrinya!"


Gu Sinjie tertawa lagi, kemudian mengelus kepala Huang Mingxiang lembut. "Sungguh? Umur anda dan pangeran terpaut cukup jauh. Jika ambisi anda besar dan kekeuh ingin menjadi istrinya, maka nona kecil harus banyak belajar mulai dari sekarang. Tunjukkan pada pangeran bahwa anda adalah wanita yang hebat."


Huang Mingxiang tertawa. "Tuan, saya bercanda! Ayah dan ibu berkata bahwa saya tidak boleh menikah dengan pria yang tidak mencintai saya secara tulus. Saya juga diwajibkan untuk menimba ilmu seserius mungkin, agar kelak menjadi wanita yang sangat hebat bersama Jiejie!"


Gu Sinjie mengangguk, mengelus kepala Huang Mingxiang lagi. "Nona dari keluarga Huang benar-benar penuh energi, berbicara dengan anda sangat menyenangkan, nona kecil."


Saat Huang Mingxiang hendak membalas, suara Huang Liyue yang mencarinya terdengar. Membuat Huang Mingxiang menoleh ke sumber suara, lalu melihat Jiejie-nya sedang kebingungan mencari keberadaannya. Huang Mingxiang kembali menoleh ke Gu Sinjie, namun saat menoleh, dia tidak lagi melihat sosok Gu Sinjie. Sedikit terkejut, anak itu segera mendongak ke atas dan melihat Gu Sinjie berdiri di sana sambil menatapnya.


Gu Sinjie meletakkan jari telunjuknya di bibir. "Shut ... jangan lupakan rahasia kita," bisik Gu Sinjie.


"Mingxiang!" Huang Liyue datang dan menepuk pundak Huang Mingxiang, membuat anak kecil itu menoleh terkejut ke arah kakaknya.


"Jiejie?" Kaget Huang Mingxiang.


Huang Liyue tersenyum lebar. "Ayo, kembali! Kaisar meminta kita semua untuk kembali berkumpul!"


"Lalu bagaimana dengan perkelahian anda dengan pangeran Jihuang?" tanya Huang Mingxiang penasaran.


Huang Liyue mendengus bangga. "Tentu saja aku yang menang! Hebat, bukan? Sudah aku bilang aku akan melindungimu!"


Huang Mingxiang terkekeh. "Iya, hebat! Keren!" Huang Mingxiang memeluk kakaknya.


"Ayo, cepat kembali ke area pesta!" Huang Liyue buru-buru menarik lengan adiknya, takut jika mereka terlambat kembali dan harus menerima omelan dari Song Furen dan Huang Dajie.

__ADS_1


__ADS_2