
Tiba di Perpustakaan, Huang Mingxiang menelusuri seluruh sudut ruangan, hingga pandangannya terhenti di sudut ruangan dekat dengan meja dan rak-rak buku besar. Huang Mingxiang menyunggingkan senyum, lalu berjalan mendekat ke arah Xiao Muqing.
"Wangye."
Xiao Muqing yang mendengar suara Huang Mingxiang segera mendongakkan kepalanya, menatap Huang Mingxiang. Huang Mingxiang berhenti di depan Xiao Muqing, membungkuk. "Mingxiang memberi salam kepada Wangye."
Xiao Muqing kembali menunduk untuk membaca bukunya. "Semua pekerjaanmu sudah selesai?"
Huang Mingxiang mengangguk. "Iya, dan sekarang ada yang ingin Mingxiang bicarakan mengenai dua hal."
"Apa isi hal pertama?" tanya Xiao Muqing, nada bicaranya terdengar tenang dan dingin. Matanya masih fokus menatap ke arah buku, namun kupingnya setia mendengarkan kalimat Huang Mingxiang.
"Chuan Wuqi akan memulai promosi besar-besaran di dalam dan luar Kekaisaran. Di dalam Kekaisaran kita akan bekerjasama dengan aktris atau aktor teater, penyanyi, dan tokoh hiburan terkenal lainnya. Dan untuk promosi di luar Kekaisaran, saya berencana mengeskpor produk ke Kekaisaran Barat dan Selatan dengan bantuan Tuan Muda Rong. Tuan Muda Rong berkata dia akan membiayai seluruh dana promosi di luar dan dalam Kekaisaran. Saya sudah berdiskusi cukup lama mengenai hal ini, perjanjian bisnis ini sangat menguntungkan pihak Chuan Wuqi." Jelas Huang Mingxiang, wanita itu menceritakan seluruh isi pembicaraannya dengan Rong Wangxia.
Xiao Muqing mengangguk singkat, lalu bertanya lagi,"Lalu apa isi hal pembicaraan kedua?"
Huang Mingxiang yang mendengar ini segera mengerutkan keningnya, dia akan protes sekuat tenaga.
"Wangye, tumpukkan berkas yang kemarin malam anda bawa adalah urusan militer. Bagaimana mungkin anda menyerahkan tugas yang berkaitan dengan politik Kekaisaran kepada saya?" ujar Huang Mingxiang, kemudian dia berjongkok, matanya memelas. Dia bisa mati jika harus mengurus persoalan Militer juga.
Xiao Muqing mengangguk singkat. "Kalau begitu perintahkan Gu Sinjie untuk mengembalikan berkas tersebut ke meja kerja benwang." Xiao Muqing tidak berdebat panjang, lagi pula dia memang menggunakan berkas itu untuk mencari alasan lain menemui Huang Mingxiang. Tidak benar-benar menyuruh wanita itu untuk mengerjakan tanggungjawab-nya.
Huang Mingxiang menaikkan alis kirinya. Aih ... semudah itu untuk membujuk Xiao Muqing? Ini aneh, tidak biasanya pria itu berhati lunak.
"Apa yang kau lihat?" tegur Xiao Muqing setelah menyadari Huang Mingxiang menatapnya aneh sangat lama.
Huang Mingxiang menggeleng pelan. "Tidak, hanya terkejut saja." Kemudian wanita itu mulai mengalihkan pembicaraan, diam-diam dia takut Xiao Muqing akan berubah pikiran atas keputusannya yang barusan.
"Wangye, kemungkinan esok lusa akan ada perayaan di Istana. Lu Fei, salah satu selir Kaisar dikabarkan tengah mengandung. Saya kira pasti akan ada acara besar untuk anak pertama Kaisar yang akan lahir. Apa anda berminat untuk datang menemani saya?" tanya Huang Mingxiang. Walaupun pengumuman mengenai acara ini belum pasti akan ada, namun kemungkinan besarnya pasti ada. Secara ini adalah kehamilan pertama yang ada di Harem, tidak mungkin Huangtaihou tidak membujuk putranya untuk membuat acara perayaan besar untuk menggelar syukuran atau acara berterima kasih kepada Dewa.
Xiao Muqing menggeleng singkat. "Tidak ada untungnya jika benwang menghadiri acara seperti itu."
"Lalu bagaimana jika saya ditekan seperti beberapa waktu lalu?" tanya Huang Mingxiang, dia sengaja menanyakan ini agar kedepannya dia bisa leluasa beraksi tanpa ragu. Jika Xiao Muqing sudah memberikan dukungan dan izin untuk berbuat semaunya, maka Huang Mingxiang tidak akan ragu untuk terus maju.
__ADS_1
"Atas dasar apa kamu takut dengan mereka? Jika kamu ingin menampar dan melempar guci besar ke wajah mereka, lakukan. Benwang yang akan bertanggungjawab," ujar Xiao Muqing, membuat Huang Mingxiang tersenyum senang. Ini dia yang ia cari, Huang Mingxiang bisa 'mencakar' Huang Liyue dengan mudah.
Huang Mingxiang berdiri, lalu berjalan ke arah jendela dan melihat pemandangan di luar. Matahari masih terlihat jelas, sepertinya masih butuh beberapa hari lagi sampai akhirnya salju benar-benar turun. Dia tidak sabar menyambut kedatangan salju, Huang Mingxiang sangat mencintai salju.
"Wangye, jika nanti salju turun, apakah anda bersedia bermain-main di halaman depan bersama saya?" tanya Huang Mingxiang, kepalanya menoleh menatap Xiao Muqing.
Xiao Muqing masih fokus menatap bukunya, pria itu membalik halaman buku sambil menjawab,"Tergantung situasi."
Huang Mingxiang menghela napas, kemudian kembali menatap ke arah luar. "Saya ingin salju akhir tahun ini terasa bahagia."
"Ada apa dengan salju akhir tahun lalu?" tanya Xiao Muqing, dia menanggapi ocehan Huang Mingxiang, namun matanya masih tetap pada buku.
Huang Mingxiang menyenderkan kepalanya ke tepi jendela, lalu menjawab,"Tahun lalu? Tahun lalu ayah mendapat panggilan pekerjaan di Istana, sibuk sekali. Sedangkan Jiejie, wanita itu pergi keluar entah ke mana bersama teman-temannya. Saya sendirian di Huang Fu."
"Mengapa tidak ikut keluar setidaknya bersama teman-temanmu?" tanya Xiao Muqing.
Huang Mingxiang menggeleng. "Tidak bisa. Huangtaihou menyuruhku belajar, katanya aku harus banyak belajar agar bisa menjadi wanita sempurna. Huangtaihou sejak kecil memang sudah menargetkanku untuk menjadi menantunya, aku tahu itu."
Huang Mingxiang terkekeh, kemudian berbalik menatap Xiao Muqing. Punggungnya bersandar di dinding. "Tidak. Justru itu bagus, karena saya bisa menggunakan seluruh pengetahuan saya untuk Xiao Wangfu dan anda. Kemandirian dan keberanian saya juga semakin terasah seiring berjalannya waktu semenjak menginjakkan kaki di sini."
Tidak. Tetapi semenjak dia mati diracun oleh Huang Liyue dan berhasil hidup kembali di waktu yang mundur sebelum kematiannya.
"Wangye." Huang Mingxiang kembali memanggil Xiao Muqing. Xiao Muqing segera mengangkat pandangannya, menatap Huang Mingxiang.
"Apa kalimat anda beberapa hari lalu yang mengatakan bahwa jika saya mati anda akan mengubah Kekaisaran ini menjadi lautan darah itu sungguhan?" tanya Huang Mingxiang.
Xiao Muqing mengerutkan keningnya. "Kapan benwang berkata seperti itu?"
Huang Mingxiang balas mengerutkan keningnya, tetapi kemudian dia menghela napas. Oh, pria itu mengatakan hal romantis seperti itu di luar kesadarannya? Entah mengapa hati Huang Mingxiang diam-diam merasa kecewa.
Xiao Muqing yang melihat raut wajah kecewa Huang Mingxiang tersenyum samar. "Kemari. Duduk di situ." Mata Xiao Muqing melirik kursi kosong yang ada di sampingnya. Huang Mingxiang yang mendengar ini pun patuh, ia segera berjalan mendekat ke arah kursi dan duduk.
"Ada apa dengan raut wajah jelekmu itu?" tanya Xiao Muqing, dia kini sudah menutup bukunya.
__ADS_1
Huang Mingxiang menggeleng. "Tidak."
"Seandainya memang benar benwang berkata demikian, apa yang akan kau lakukan?" tanya Xiao Muqing.
Huang Mingxiang terdiam sejenak, berpikir. Lalu tak lama dia balas menatap Xiao Muqing dan menjawab mantap. "Kalau begitu saya juga akan melakukan hal yang sama. Jika saya kehilangan anda, saya akan membuat Kekaisaran ini menjadi lautan darah."
Xiao Muqing menaikkan alis kirinya sekilas, memberikan tatapan meremehkan ke arah Huang Mingxiang. "Memainkan pedang dengan benar saja belum tentu bisa."
Huang Mingxiang mendengus. "Kalau begitu saya akan menggunakan cara saya sendiri untuk membuat Kekaisaran ini terguncang!"
Xiao Muqing tersenyum mendengar ini, kali ini Huang Mingxiang dapat benar-benar melihat senyumannya. Melihat Xiao Muqing tersenyum, wajah wanita itu memerah.
Xiao Muqing menyenderkan kepalanya ke dinding, lalu memejamkan matanya. Bibirnya masih tersenyum. "Dengar, Mingxiang. Umur kita terpaut jauh, kamu lebih pantas menjadi seorang Meimei dari pada istri."
Huang Mingxiang mengerut keningnya, perasaannya tidak enak. Apa perlakuan baik Xiao Muqing selama ini untuknya hanya karena pria itu menganggap dia sebagai adik perempuannya saja?
"Jadi Wangye menganggap Mingxiang sebagai Meimei anda?" tanya Huang Mingxiang, raut wajahnya mulai berubah masam. Wanita memang bisa menyembunyikan berbagai macam penderitaan, tetapi tidak dengan rasa cemburu.
Xiao Muqing membuka matanya lagi, menoleh lemah ke arah Huang Mingxiang. "Wanita. Benwang melihatmu sebagai wanita, dan benwang sendiri adalah pria. Apa otak kecilmu dapat memahami hal sederhana ini?" Pria itu mengucapkan hal manis yang digabungkan dengan kalimat pedas. Perpaduan yang sempurna, khas Xiao Muqing pada biasanya.
Huang Mingxiang mendengus. "Lalu mengapa Wangye berkata demikian?" tanya Huang Mingxiang.
Xiao Muqing memejamkan matanya lagi, pria itu diam cukup lama. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu di kepalanya, namun tidak ingin Huang Mingxiang mengetahuinya. Huang Mingxiang yang melihat Xiao Muqing terlalu lama diam pun menjadi semakin tidak sabaran.
"Wangye, jawab." Huang Mingxiang menyentuh lengan Xiao Muqing.
Xiao Muqing membuka matanya, melirik Huang Mingxiang. "Di luar semua itu, katakan dengan benar. Apa yang akan anda lakukan jika benwang benar-benar mati di tangan mereka?"
Huang Mingxiang mendengus saat Xiao Muqing tidak menjawab pertanyaannya dengan benar, namun kemudian dia termenung dan memikirkan jawaban atas pertanyaan Xiao Muqing. Tak lama dia menatap Xiao Muqing mantap dan menjawab,"Maka Mingxiang akan mengembalikan apa yang sudah mereka lakukan, setelah itu mengasingkan diri ke biara dan tidak pernah keluar. Saya tidak akan pernah menikah lagi, mempertahankan kesucian saya untuk anda."
Xiao Muqing memijat keningnya menggunakan telapak tangan kanannya, hal ini dia lakukan untuk menutupi bibirnya yang diam-diam tersenyum lagi. Xiao Muqing merasa dirinya sudah menjadi orang gila. Dia tidak pernah tersenyum dengan durasi selama ini dan membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan perasaan sepanjang ini.
"Kita lihat nanti. Siapa yang akan mati lebih dulu," ucap Xiao Muqing, kemudian Huang Mingxiang mengangguk semangat. Bibirnya tersenyum tulus ke arah Xiao Muqing.
__ADS_1