Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 34. Surat Wu Zeyuan


__ADS_3

"Wangye ... saya harus kembali untuk bersiap." Huang Mingxiang masih duduk memeluk Xiao Muqing di pangkuan pria itu. Dia tidak berani mengangkat wajahnya karena malu jika harus menatap Xiao Muqing.


Xiao Muqing mengangguk, pria itu tidak menjawab dengan suara. Kedua tangannya masih mengelus lembut punggung Huang Mingxiang.


Huang Mingxiang beranjak melepas pelukannya, dia masih berada di pangkuan Xiao Muqing, tidak berani mengangkat kepalanya, sehingga terus menunduk dalam. Xiao Muqing terus memperhatikan Huang Mingxiang, bibirnya tanpa sadar tersenyum puas kala melihat wanita itu malu-malu. Lihat, kali ini dia yang menang.


"Apa saya boleh keluar?" tanya Huang Mingxiang.


"Angkat kepalamu. Tatap lawan bicaramu, tidak sopan," cibir Xiao Muqing dengan maksud menjahili Huang Mingxiang. Huang Mingxiang menghela napas gusar, lalu kedua sudut alisnya menyatu seperti orang marah dan menatap Xiao Muqing.


Wajahnya semakin memerah ketika melihat pria itu tengah tersenyum ke arahnya. Kali ini bukan senyum tipis, samar, dingin, atau senyum tidak ikhlas lainnya. Ini adalah senyum tertulus dan terjelas yang Huang Mingxiang lihat dari Xiao Muqing.


"Sebaiknya cepat bersiap-siap, atau pekerjaanmu akan semakin menumpuk di meja." Xiao Muqing memperingati, membuat Huang Mingxiang mengangguk pasrah. Wanita itu turun dari pangkuan Xiao Muqing, wajahnya terlihat enggan.


Huang Mingxiang merapikan pakaiannya, lalu rambutnya yang kembali berantakan karena 'permainan' tadi. Mengingat betapa agresifnya Xiao Muqing, wajah Huang Mingxiang selalu memerah.


Sebelum benar-benar pergi, wanita itu membungkuk ke arah Xiao Muqing lebih dulu. "Wangye, Mingxiang pamit undur diri." Begitu Xiao Muqing mengangguk, Huang Mingxiang bergegas keluar dari kamar Xiao Muqing. Wajah wanita itu masih memerah, di jalan dia berusaha menutupi beberapa tanda merah yang timbul di lehernya karena ulah Xiao Muqing. Pria itu benar-benar kejam dengan leher mulusnya.


Di tengah jalan dia bertemu Gu Sinjie, pria itu menyodorkan secarik surat ke arah Huang Mingxiang.

__ADS_1


"Bawahan ini baru saja mendapat kiriman surat dari salah satu penghuni Istana untuk Wangfei. Bawahan ini tidak tahu jelas siapa penghuni istana yang dimaksud, karena memang sang pengirim tidak mencantumkan gelar atau namanya di sana." Gu Sinjie menjelaskan kedatangan surat tersebut.


Tanpa membaca isi suratnya, Huang Mingxiang sudah tahu siapa pengirim surat ini. Siapa lagi jika bukan Wu Zeyuan? Pasti ada sesuatu sehingga wanita itu berani mengirimkan surat ke Xiao Wangfu.


"Terima kasih banyak, Tuan Gu." Huang Mingxiang mengambil surat tersebut dari tangan Gu Sinjie.


Gu Sinjie mengangguk. "Dengan senang hati, Niangniang. Ngomong-ngomong ... bagaimana kondisi anda?" Gu Sinjie mengkhawatirkan kondisi Huang Mingxiang, mengingat wanita itu semalam tidak keluar atau mengeluarkan suara jeritan keras setelah masuk ke dalam kamar Xiao Muqing yang tengah suram. Dia dan Baili Ruyi sudah siap siaga sepanjang malam, namun tak kunjung menerima sinyal bahaya apa pun.


Huang Mingxiang tersenyum. "Saya baik-baik saja, terima kasih banyak atas kekhawatiran Tuan Gu. Ngomong-ngomong, di mana Nona Baili?"


Gu Sinjie menghela napas sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Anak itu pasti tengah berkeliling ibu kota lagi, dia senang menjelajah."


Sementara itu Gu Sinjie, pria itu memikirkan surat kiriman yang baru saja dia berikan kepada Huang Mingxiang. Surat itu berasal dari Istana tanpa menunjukkan secara jelas siapa penghuni Istana yang mengirim surat tersebut ke Xiao Wangfu. Mengingat cerita yang dikatakan oleh Baili Ruyi, apakah ....


Gu Sinjie menggeleng, lalu memfokuskan lagi pikirannya agar tetap jernih. Dia masih memiliki beberapa hal yang harus dilaporkan kepada Xiao Muqing, salah satunya tentu saja surat tadi.


Selesai mandi dan mengganti pakaian, Huang Mingxiang bergegas menuju ruang kerjanya. Di sana sarapan paginya sudah disiapkan oleh Su Mama, dia lebih memilih sarapan di ruang kerja agar dapat dengan mudah mengurus pekerjaannya.


Di tengah-tengah mengunyah sarapannya, Huang Mingxiang teringat surat yang dikirimkan Wu Zeyuan. Segera dia meminta tolong Su Mama untuk mengambil surat itu yang tertinggal di kamarnya. Tak lama Su Mama datang membawa surat Wu Zeyuan, tanpa berlama-lama Huang Mingxiang segera membuka isinya dan mulai membaca.

__ADS_1


..."Wangfei, bagaimana kabar anda? Saya harap baik. Wangfei, baru-baru ini terjadi perselisihan di Harem. Antara Huang Guifei dengan Lu Fei. Lu Fei baru-baru ini diberitakan telah berhasil mengandung anak Kaisar. Seluruh selir mengunjunginya untuk mengucapkan selamat termasuk Huang Guifei. Saat kunjungan Huang Guifei, tidak hanya saya saja yang hadir di hari itu, tetapi juga beberapa selir lainnya. Tak lama di tengah kunjungan kami, Kaisar datang dan menemui Lu Fei. Kaisar membawa banyak sekali hadiah dan berkat, Kaisar memberi banyak sekali kasih sayang. Huang Guifei yang melihat ini iri, setelah kepergian Kaisar dia menghina asal usul Lu Fei, membuat wanita itu marah. Sempat terjadi perdebatan sengit, sebelum akhirnya aku melerai pertengkaran mereka. Huang Guifei pergi begitu saja setelah menghina keluarga Lu Fei dan mengutuk anak yang ada di dalam kandungannya, membuat Lu Fei benar-benar marah. Saya melihat ini sebagai sesuatu yang bagus, saya berniat membawa Lu Fei sebagai 'bidak' saya untuk 'bermain' dengan Huang Guifei. Bagaimana menurut anda, Wangfei? Saya menunggu pendapat dari anda." ...


Huang Mingxiang tersenyum membaca suratnya. Astaga ... Mengapa Huang Liyue jadi semakin terlihat seperti orang bodoh? Mengapa wanita itu seperti telah kehilangan akalnya setelah memasuki Harem?


Lu Fei adalah selir yang bukan berasal dari keluarga bangsawan. Dia anak dari sebuah koki kecil di toko restoran ibu kota dengan nama asli Lu Fenghua, saat kunjungan rahasia Xiao Jihuang, wanita itu sempat menarik perhatiannya dan menjadi teman tidurnya tanpa sengaja di malam hari. Xiao Jihuang bertanggungjawab atas apa yang telah terjadi, maka dari itu mengangkat Lu Fenghua menjadi selir di Harem-nya.


Awal masuk ke dalam Harem, gelar selir yang Lu Fenghua miliki bukan seorang 'Fei', melainkan 'Guiren'. Tetapi usaha tidak dapat mengkhianati hasil, wanita itu berjuang dan bertahan di dalam Harem. Empat bulan dia di Istana, dia berhasil menarik perhatian Xiao Jihuang dan mendapatkan gelar 'Fei'.


Lu Fenghua sudah ada sekitar satu tahun di dalam Istana, wanita itu bisa dikatakan adalah selir senior di Harem. Huang Mingxiang berpikir, apakah Lu Fenghua benar-benar berkualitas? Huang Mingxiang tidak pernah dekat atau mengobrol langsung dengan wanita itu, sehingga tidak tahu sosok seperti apa dirinya. Tetapi jika mengingat wanita itu berhasil naik gelar dalam waktu empat bulan, Huang Mingxiang percaya dia bukan wanita bodoh seperti Huang Liyue.


Huang Mingxiang melirik Su Mama. "Su Mama, tolong ambilkan kertas dan kuas."


"Baik, Wangfei."


Su Mama memberikan kertas kosong dan kuas yang lengkap dengan tinta hitam. Huang Mingxiang menulis pendapatnya di sana.


..."Kabar saya baik, Wu Guifei. Bagaimana dengan anda? Bicara tentang Lu Fei, sepertinya itu bukan ide yang buruk. Saya tidak tahu seperti apa sosok Lu Fei, tetapi jika Wu Guifei merasa wanita itu bernilai dan dapat dipercaya, tidak masalah. Namun, tetap. Saya tidak akan membiarkan orang-orang yang belum dengan benar saya kenal berada di sisi saya untuk bertarung. Anda pasti mengerti apa alasannya, Wu Guifei. Oleh karena itu, aku ingin pertemuan yang alami dengan Lu Fei. Pertemuan yang dibuat, namun terlihat alami sehingga tidak ada yang curiga. Huanghou saat ini pasti semakin waspada, karena Wangye sempat muncul dan membela posisiku. Besok lusa saya akan mengunjungi Istana dengan alasan menemui Huangtaihou, tolong anda atur selebihnya." ...


Huang Mingxiang melipat kertas suratnya, lalu memasukkannya ke dalam amplop tanpa diberi stempel Xiao Wangfu. Huang Mingxiang akan meminta bantuan Gu Sinjie atau Baili Ruyi untuk mengantar surat ini secara rahasia ke Istana.

__ADS_1


Huang Mingxiang meneguk air putih, dia sudah selesai sarapan. Wanita itu beranjak berdiri dan duduk di kursi kerjanya. Ada banyak laporan menumpuk mengenai Chuan Wuqi, membuat Huang Mingxiang bingung harus mulai mengerjakannya dari mana.


__ADS_2