
Para pelayan dapur Xiao Wangfu dikejutkan dengan kedatangan Huang Mingxiang yang lagi-lagi ingin memasak bakpao untuk Xiao Muqing. Drama para pelayan yang menghalanginya karena takut Huang Mingxiang menjadi kotor dan wanita itu yang bersikeras melawan kembali terjadi. Pada akhirnya, para pelayan itu kalah dan membiarkan Huang Mingxiang membuat bakpao sendiri.
Sementara itu Xiao Muqing, dia pagi-pagi sudah harus mendengarkan laporan terkini dari Gu Sinjie.
"Wangye, apa anda sudah memberitahu Wangfei mengenai masalah tadi malam?" tanya Gu Sinjie.
Xiao Muqing menggeleng. "Belum."
Gu Sinjie menghela napas lega. "Itu bagus, karena saya menemukan informasi terbaru. Tadi malam saya menyelinap masuk ke Rong Fu, kemudian mengintip ke dalam ruangan kerja Tuan besar Rong."
Xiao Muqing mengerutkan keningnya. "Apa yang terjadi di sana?"
"Tuan besar Rong terbukti menjadi pelaku, Wangye. Saya mendengar percakapan dia dengan seorang pelayan pria muda, meminta pelayan itu untuk mengirim surat ke beberapa petinggi militer yang tidak senang dengan kepemimpinan anda, seperti Jenderal Su. Saya sudah memastikan isi suratnya, pelayan pria itu sudah saya bersihkan. Suratnya ada di tangan saya." Di akhir kalimat, Gu Sinjie mengeluarkan amplop cokelat yang berisi secarik kertas. Amplop itu resmi memiliki cap keluarga bangsawan Rong.
Xiao Muqing menerima amplop itu, membukanya dan membacanya dengan teliti. Bibirnya menyeringai tipis, kemudian melipat amplop itu lagi dan menyimpannya di laci. "Panggil Jenderal Su kemari, Sinjie. Benwang yang akan mendidik ulang pria itu."
Gu Sinjie tanpa ragu mengangguk, bibirnya tersenyum puas. Akhirnya, setelah sekian lama, Xiao Muqing perlahan kembali turun tangan langsung dalam sebuah perkara. Sebelumnya hanya memerintahkan Gu Sinjie untuk mengurus semuanya, membuat para bawahan itu lupa akan kekuasaan dan sosok Xiao Muqing.
"Baik, Wangye. Tetapi ..." Gu Sinjie menggantung kalimatnya, ada keraguan di matanya ketika mengatakan ini.
Xiao Muqing mengangguk singkat, mengerti apa yang sedang dipikirkan Gu Sinjie. "Bisnis Tuan Muda Rong dengan Wangfei?"
Gu Sinjie balas mengangguk juga. "Benar, saya khawatir, Wangye. Bagaimana jika mereka semua bekerja sama? Perdana Menteri Rong hendak menghancurkan dunia militer anda dan Tuan Muda Rong mendapat bagian untuk menghancurkan bisnis anda dan Wangfei? Walaupun belum ada bukti mutlak, tetapi saat ini keluarga Rong sangat patut kita waspadai."
"Jika sudah terbukti, langsung putuskan seluruh kontak bisnis Wangfei dengan Tuan Muda Rong. Tidak perlu diskusikan ini dengan Wangfei, jika halangan memutuskan seluruh perjanjian karena koneksi yang dimiliki Tuan Muda Rong di negara Barat dan Selatan, maka gunakan koneksi kolega benwang, Sinjie," ucap Xiao Muqing.
Gu Sinjie mengangguk, mengerti. Memang benar, tanpa Rong Wangxia sebenarnya Chuan Wuqi dapat dengan mudah melesat ke negara Barat dan Selatan. Xiao Muqing telah melakukan perjalanan kasar ke negara-negara kecil dan besar, koneksi pria itu lebih besar dari yang dikira. Bahkan jika pria itu ingin seorang Pangeran yang mempromosikan barangnya, itu bukan masalah besar. Tetapi memang pada dasarnya bisnis Chuan Wuqi dibuat bukan untuk benar-benar berbisnis. Chuan Wuqi berdiri hanya untuk pemasok senjata utama terbaik lima ratus ribu pasukannya, karena terkadang senjata yang diberikan Istana memiliki kualitas yang kurang baik. Melihat senjata berkualitas tinggi yang dimiliki oleh pasukan Xiao Muqing, beberapa bangsawan dan petarung lainnya pun mulai tertarik. Mereka meminta pihak Xiao Muqing untuk membuka bisnis senjata itu agar dapat dengan mudah membelinya, permintaan itu langsung diterima dan diurus Gu Sinjie dalam semalam.
Laporan Gu Sinjie selesai, pria itu segera membungkuk dan mengucapkan dua sampai tiga kalimat untuk pamit. Saat hendak melewati ambang pintu, suara Xiao Muqing menghentikannya.
"Panggil Jenderal Su setelah urusan benwang dan Wangfei selesai."
Gu Sinjie tersenyum lebar, mengangguk cepat. "Baik, Wangye. Tentu saja, saya tidak akan mengganggu."
"Semalam kau pergi ke lembah itu?" tanya Xiao Muqing tiba-tiba.
__ADS_1
Gu Sinjie membatu, terkejut. Bagaimana caranya Xiao Muqing bisa tahu?
Melihat raut wajah Gu Sinjie, Xiao Muqing tersenyum samar. "Pergilah, Sinjie."
Gu Sinjie mengangguk canggung, lalu membungkuk lagi dan langsung melenggang keluar dengan cepat. Kupingnya memerah, dia malu karena ketahuan oleh Xiao Muqing.
Tak lama setelah Gu Sinjie pergi, Huang Mingxiang muncul dan berjalan mendekat ke arahnya sambil tersenyum antusias.
"Wangye, bakpao buatan saya sudah matang! Sekarang ayo kita ke Paviliun!" ucap Huang Mingxiang, kemudian langsung mengenakan mantel tebal hitam ke tubuh Xiao Muqing. Setelah itu mendorong kursi roda Xiao Muqing ke Paviliun depan.
Sesampainya di sana, mata Xiao Muqing melihat piring bambu untuk bakpao, dua cangkir kosong, dan satu teko teh Wu Long Cha. Setelah memposisikan kursi roda Xiao Muqing dengan baik, wanita itu bergegas mengambil posisi duduknya sendiri, tepat berada di hadapan Xiao Muqing. Mereka berdua duduk berhadapan, Xiao Muqing memperhatikan Huang Mingxiang lekat.
Huang Mingxiang meletakkan satu bakpao hangat di masing-masing piring kecil untuk Xiao Muqing dan dirinya, lalu menuangkan teh hangat tersebut ke cangkir porselen mereka.
"Mingxiang membuat dia rasa spesial untuk anda, Wangye. Satu rasa kacang hijau dan yang satu lagi cokelat. Anda bisa memilihnya, tetapi saya ingin anda mencoba yang rasa kacang hijau terlebih dahulu. Para pelayan yang mencicipi bakpao ini tak henti-hentinya memuji, membuat saya semakin penasaran," ujar Huang Mingxiang.
Xiao Muqing membelah dua bakpao tersebut, asap mengepul keluar dari bagian dalam bakpao di tengah salju yang terus turun. "Kau tidak percaya dengan kalimat mereka? Bukankah mereka sudah memuji berkali-kali?"
Huang Mingxiang terkekeh. "Bukan seperti itu, ya ... sedikit seperti itu, sih. Saya mempercayai mereka, namun saya masih akan tetap menunggu penilaian anda. Saya takut rasanya tidak seenak yang mereka katakan, takut mereka memuji karena enggan berkomentar. Tetapi jika anda, saya tidak akan ragu sedikitpun. Sebab mulut anda memiliki kejujuran tajam yang luar biasa."
Huang Mingxiang menggeleng cepat. "Tidak, bukan seperti itu." Keningnya terlipat kesal, lalu melanjutkan,"Sudahlah, lupakan. Fokus dengan penilaian bakpao saya. Bagaimana rasanya?"
Xiao Muqing masih mengunyah tanpa ekspresi, membuat Huang Mingxiang semakin ragu masakannya enak. Setelah bakpao itu sukses ditelan, Huang Mingxiang kembali bertanya dengan tidak sabaran. "Bagaimana, Wangye?"
"Buruk."
Deg!
Huang Mingxiang mendadak lemas, raut wajah semangat wanita itu langsung berubah sendu. Semangatnya hilang, dia menjadi tidak percaya diri.
"Buruk untuk dilewati." Suara Xiao Muqing kembali terdengar, membuat Huang Mingxiang kembali menegakkan badannya dan tersenyum lebar lagi.
"Sungguh??" tanya Huang Mingxiang, wajahnya kembali ceria.
Xiao Muqing mengangguk singkat. "Ya." Kemudian lanjut memasukkan bakpao itu ke mulutnya.
__ADS_1
Huang Mingxiang menghela napas lega, dia segera ikut memakan bakpao itu dengan senyum yang tidak pudar sama sekali. Dia senang karena masakannya enak dan berhasil mendapat pujian Xiao Muqing, namun juga merasa lucu karena barisan Xiao Muqing berusaha bercanda dengannya. Hati Huang Mingxiang senang karena dua hal itu, masakannya dan candaan Xiao Muqing yang menandakan bahwa pria itu sudah semakin terbuka dan hangat untuknya.
"Wangye, apa anda ingin mendengar alunan musik kecapi saya?" tanya Huang Mingxiang, matanya melirik ke arah alat musik kecapi yang berada di belakang Xiao Muqing.
Xiao Muqing mengangguk singkat, itu bukan ide buruk. Melihat respon Xiao Muqing yang setuju, Huang Mingxiang dengan cepat menelan habis bakpao-nya dan bergegas memindahkan kecapi ke dekat meja mereka berdua, dibantu dengan Yui dan Su Mama yang setia menunggu mereka di luar Paviliun.
"Wangye, anda harus tahu. Sebelumnya istri anda adalah wanita berbakat se-Ibu Kota," ucap Huang Mingxiang, senyum percaya dirinya muncul. Dalam hitungan ketiga dan satu tarikan napas, jari-jari Huang Mingxiang mulai lincah memetik senar-senar kecapi.
Xiao Muqing meminum teh miliknya, matanya terus memandang ke arah Huang Mingxiang.
"Malam masih muda, aku melihat langit berbintang dan menemukan sinar lembut cahaya. Angin sejuk berlalu, cahaya lilin berkelap-kelip, menari sendirian tanpa ada yang menghargainya. Meninggalkan kelopak bunga berkibar tertiup angin. Saya ingin melestarikan masa lalu kita dan membuat mimpi indah. Anda menutup semua kesedihan saya."
"Menelan air mata saya dan memasang senyum palsu, bagi Anda untuk mengenakan pakaian militer Anda dan pergi berperang. Masa lalu tidak dapat menghentikan arus setelah semua, saya akan terbang dengan pedangku. Senja muncul, aku melihat matahari terbenam di cakrawala. Malam masih muda dan galaksi mengalir sendirian. Langit cerah, pemandangan yang bagus. Jika Anda tidak di sisiku, apa peduli bahkan jika saya bisa naik ke langit."
Petikan terakhir, Huang Mingxiang menatap Xiao Muqing lebih dalam. Para pelayan yang mendengar alunan Huang Mingxiang tanpa henti berbisik-bisik untuk memuji. Mereka semua yang mendengarnya tidak bisa tersenyum, kecuali Xiao Muqing.
Xiao Muqing, pria itu tidak senyum atau menunjukkan ekspresi apa pun. Ruat wajahnya datar, tetapi matanya larut dalam tatapan dalam Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang berdiri, duduk di samping Xiao Muqing dan mengeluarkan kotak kayu dengan ukiran bunga dan naga. Kotak kayu itu dibuka, tangan Huang Mingxiang mengambil sebuah kantung pengharum yang biasa dikenakan para bangsawan di pinggang mereka, lengkap dengan liontin batu gioknya.
"Ini adalah kantung pengharum buatan saya sendiri, saya harap Wangye menyukainya," ucap Huang Mingxiang, bibirnya kembali tersenyum memandangi kantung teh buatannya yang berwarna biru dongker tersebut.
Xiao Muqing mengambil kantung pengharum tersebut, memperhatikannya.
"Bagus." Pria itu memuji singkat.
Huang Mingxiang mengangguk semangat. "Tentu saja!" Bibirnya tersenyum lebih lebar.
"Kemari, Mingxiang." Xiao Muqing memberikan kode agar Huang Mingxiang lebih mendekat, wanita itu tanpa ragu pun menurut.
Xiao Muqing menarik pelan telapak tangan kanan Huang Mingxiang, kemudian cahaya berwarna biru cerah terlihat. Tak lama, cahaya itu melingkar di jari manis Huang Mingxiang, membentuk cincin. Tak berselang lama, cahaya biru itu redup, namun bentuk cincin-nya tetap. Sebuah cincin berwarna biru persis seperti cincin batu giok kini melingkar manis di jair Huang Mingxiang. Itu adalah cincin yang dibuat dari 'bagian tubuh' Xiao Muqing sendiri, karena dibuat menggunakan tenaga dalam murni pria itu.
Huang Mingxiang tertegun, menatap cincin itu. Gawat, hatinya terharu. Perlahan, mata wanita itu memerah, Huang Mingxiang menggertakkan giginya agar tidak menangis di hadapan Xiao Muqing. Dewa, hari ini dia sangat bahagia.
Xiao Muqing tersenyum tipis, kemudian tangannya bergerak mengelus kepala Huang Mingxiang sambil mengecup singkat dahi wanita itu. "Jangan menangis."
__ADS_1
Huang Mingxiang mengangguk, bibirnya berusaha tersenyum. Ini adalah salju akhir tahun terbaiknya, setelah sebelumnya dia selalu merasa kesepian di Huang Fu.