
"Tuan Muda, apa anda yakin memberikan kelopak bunga Gold God begitu saja? Kelopak itu sangat berharga." Jingchuan, tangan kanan Rong Wangxia yang selalu memantau dari jauh bertanya. Pria itu agak sedikit tidak rela Tuannya memberikan barang yang sangat berharga tanpa imbalan apa pun dari Huang Mingxiang.
Rong Wangxia tersenyum, tangannya menulis sesuatu di sebuah kertas kosong berukuran sedang. Dia tengah menulis puisi. "Jingchuan, kelopak itu dibeli menggunakan uangku. Kenapa kamu terlihat sangat gelisah?"
"Aish ... Tuan muda, saya gelisah untuk anda. Dan lagi, jika anda memberitahu Xiao Wangfei begitu saja mengenai hanya bunga Gold God utuh yang bisa menyembuhkan kaki Wangye seratus persen, bukankah itu berbahaya? Bagaimana jika Xiao Wangfei nekat datang ke gunung Lang Tao? Pihak Xiao Wangye tidak mungkin kembali lagi ke gunung itu setelah sebelumnya saya dengar pernah mengalami penolakan," jawab Jingchuan.
"Itu disengaja. Aku memang ingin menggiring Xiao Wangfei ke gunung Lang Tao," balas Rong Wangxia, membuat napas Jingchuan tertahan. Jingchuan menatap ngeri Rong Wangxia, lalu bertanya,"Tuan Muda, apa anda sudah gelap mata? Gunung Lang Tao sangat berbahaya, apa ... anda ingin membuat kisah seperti 'jika aku tidak bisa memilikimu, maka kau harus mati'?"
"Konyol." Rong Wangxia mengerutkan keningnya kesal, melirik Jingchuan dingin.
Jingchuan terkekeh kecil, kembali serius. "Lalu ... apa yang anda rencanakan?"
"Setelah diam-diam menyelidiki alasan Xiao Muqing ditolak oleh Utusan Agung, alasannya sedikit konyol. Katanya hati pria itu mati, namun ... seorang Utusan Agung tidak akan bersikap konyol, bukan?" ucap Rong Wangxia, melirik Jingchuan lagi sekilas dan lanjut menatap kertas putihnya. Sudah ada beberapa kata yang terangkai indah di sana.
Jingchuan mengangguk, tidak menjawab. Membiarkan Rong Wangxia meneruskan ceritanya.
"Aku ingin menguji Xiao Muqing. Seberapa besar perasaan wanita itu kepada Huang Mingxiang. Jika pria itu rela menyusul Huang Mingxiang ke gunung Lang Tao berbahaya seperti Huang Mingxiang yang rela membawa dirinya ke sana demi Xiao Muqing, maka berarti pria itu pantas untuk Huang Mingxiang. Aku tidak akan tenang membiarkan wanitaku berada di tangan pria yang salah. Lagi pula, jika mereka berdua mengunjungi Utusan Agung bersama dengan Xiao Muqing yang sebelumnya menyusul secara tulus untuk Huang Mingxiang dan Huang Mingxiang yang secara tulus mendatangi Utusan Agung untuk Xiao Muqing, pasti keinginan mereka akan dikabulkan." Rong Wangxia kemudian menoleh, menatap lukisan Huang Mingxiang yang tergantung di ruang kerjanya. Pria itu tersenyum tipis, tatapannya sendu.
"Tetapi bagaimana jika Xiao Wangye tidak menyusul Xiao Wangfei?" tanya Jingchuan.
Masih memandangi lukisan Huang Mingxiang, Rong Wangxia meremas gagang kuasnya dan menjawab,"Aku yang akan menyusulnya."
__ADS_1
"A--apa? Tuan Muda, tolong pikirkan lagi! Gunung itu sangat berbahaya, Laoye dan Huanghou Niangniang pasti tidak akan mengizinkan anda!" Jingchuan berlutut, berusaha mencegah.
Rong Wangxia terkekeh. "Berdiri, Jingchuan. Aku hanya bercanda."
Walaupun Rong Wangxia berkata demikian, Jingchuan tidak percaya sama sekali. Dia yakin, Rong Wangxia serius, tidak mungkin bercanda. Jingchuan mengetahui seberapa besar perasaan menggebu milik Tuannya untuk Xiao Wangfei.
Sementara itu, Huang Mingxiang, Ruyi, dan Yui sudah mulai memasuki hutan. Perlu waktu beberapa puluh menit lagi agar mereka benar-benar tiba di kaki gunung Lang Tao.
Huang Mingxiang terus memacu kudanya tanpa henti, otaknya fokus memikirkan jalan, matanya waspada, sesekali melirik ke kanan dan ke kiri, memperhatikan hutan. Tangan kanan Huang Mingxiang menggenggam kertas peta, setelah tiba di beberapa titik yang dia tuju, wanita itu akan kembali membuka petanya dan memperhatikan arah mata angin.
"Wangfei, kita sudah berada jauh sekali dari Ibu Kota. Sekitar 50 kilo meter, apa anda ingin beristirahat? Matahari sebentar lagi akan terbit." Yui yang juga memacu cepat kudanya di samping kiri kuda Huang Mingxiang bertanya.
Huang Mingxiang mengangguk, lalu menjawab,"Sedikit lagi kita akan tiba di titik yang ingin dituju, Yui. Sebentar lagi."
"Wangfei, di depan sana sepertinya akan ada sungai. Kita bisa beristirahat di sana." Baili Ruyi menunjuk ke arah depan, dia mendengar aliran air deras seperti sungai dan wangi sungai yang khusus.
Lima belas menit mereka berkuda, akhirnya apa yang dikatakan Baili Ruyi benar. Sekarang di hadapan mereka sudah ada sungai yang mengalir, namun tidak ada tanda-tanda ada ikan hidup di sana. Baiklah ... tidak masalah, mereka masih memiliki bekal roti.
Huang Mingxiang dan yang lain memakirkan kudanya, mengikat tali kuda di batang pohon. Baili Ruyi segera berlari menuju tepi sungai, melepas sepatu dan merendam kakinya di sana.
"Dingin!" Baili Ruyi berseru girang, kedua matanya terpejam karena sensasi dingin yang luar biasa.
__ADS_1
"Tentu saja. Ini masih dini hari dan bersalju." Yui mengerutkan keningnya, menatap bodoh Baili Ruyi. Dia dan Huang Mingxiang kini tengah duduk di bawah pohon rindang, daun-daun pohon itu ditutupi oleh salju.
Huang Mingxiang membuka tas ranselnya, mengambil botol air dan satu buah roti. Dia mulai memakannya, perutnya juga terasa lapar. Sesekali dia menatap ke arah cincin yang ada di jari manis kanannya, cincin pemberian Xiao Muqing beberapa hari lalu. Bibirnya tersenyum, lalu menatap ke arah langit yang mulai disirami cahaya matahari berwarna oren. Matahari sedikit lagi akan bertengger sempurna di langit, masih ada waktu satu hari lagi agar Xiao Muqing terbangun dari tidurnya dan Huang Mingxiang benar-benar sampai di gunung Lang Tao.
Baili Ruyi berjalan mendekat, dia terlihat menggigil sambil menenteng sepatunya. Duduk di sebelah Huang Mingxiang, memasang sepatunya dengan sangat cepat. Setelah itu dia ikut membuka tas ranselnya dan mengambil botol air serta satu buah roti.
"Wangfei, kemungkinan nanti siang kita sudah sampai di kaki gunung Lang Tao. Lebih baik sekarang anda fokus menyempurnakan kekuatan tenaga dalam anda, untuk berjaga-jaga jika nanti fisik anda lelah," ucap Baili Ruyi, kemudian menggigit roti miliknya dan mengunyah cepat.
Huang Mingxiang mengangguk, setelah selesai menghabiskan roti ini dia akan segera kembali bersemedi sebentar untuk meningkatkan kekuatan dalamnya.
Yui sudah selesai memakan rotinya terlebih dahulu, wanita itu segera menyandarkan punggungnya di batang pohon besar itu dan tidur. Tetapi kewaspadaannya masih tinggi, wanita itu tidak sepenuhnya tertidur. Tangan kanannya menggenggam erat gagang pedang, bersiap menarik pedang itu jika nanti secara tiba-tiba muncul bahaya.
Baili Ruyi hanya memakan setengah rotinya, dia tidak terlalu lapar, sekaligus ingin menghemat bekalnya. Wanita itu memasukkan kembali roti dan botol airnya ke dalam tas, lalu merogoh sebuah kantung kecil yang ada di dalam tasnya untuk mengambil sebuah salep obat.
Baili Ruyi melepas mantelnya sebentar, lalu menurunkan sedikit ikatan tali bajunya agar senggang, setelah itu mengoleskan salep obat itu ke luka yang ada di pundaknya. Luka ini berangsur membaik, tabib pribadi Xiao Wangfu memang yang terbaik!
Huang Mingxiang juga sudah selesai memakan rotinya, dia memakan satu buah roti habis. Huang Mingxiang tidak pernah melakukan aktivitas seenergik ini, energinya sering terkuras habis dan perutnya otomatis sering lapar.
Huang Mingxiang ikut bersandar pada batang pohon besar seperti Yui, sebelum bersemedi, dia memutuskan untuk mengamati peta terlebih dahulu.
Huang Mingxiang sedikit mengerutkan keningnya saat melihat sebuah logo tanda tanya (?) besar di badan gunung. Apa maksudnya ini? Kemungkinan karena saking berbahayanya hewan yang ada di sana, bentuk dan jenis namanya tidak tertera di dalam peta. Sebab, jalan lain yang memiliki peringatan hewan berbahaya seperti singa dan ular selalu digambar detail, hanya gunung Lang Tao yang tidak.
__ADS_1
Huang Mingxiang menghembuskan napas, berusaha mengumpulkan semangat dirinya. Baiklah ... apa pun yang terjadi, dia harus bisa menghadapinya. Tidak peduli itu hantu atau hewan buas, Huang Mingxiang harus mampu menumbangkan mereka!