
"Niangniang, yang mulia memanggil anda ke ruang makan." Suara pelayan perempuan yang tidak Huang Mingxiang kenali terdengar, membuat wanita itu mengangguk singkat dan bersiap keluar dari kamar. Su Mama, Baili Ruyi dan Yui mengikuti dari belakang.
Baili Ruyi berhenti dan berdiri di depan pintu ruang makan bersama Gu Sinjie, raut wajah malu kembali muncul. Dia teringat dengan kejadian kemarin malam.
"Mufei, Wangye." Huang Mingxiang membungkuk singkat, bibirnya tersenyum.
Chen Taifei Agung melambaikan tangan kanannya, memberi isyarat agar Huang Mingxiang duduk di sampingnya. Tetapi, saat hendak melangkah melewati Xiao Muqing untuk duduk di samping wanita itu, tiba-tiba Xiao Muqing menarik tangannya dan membuatnya duduk tepat di samping pria itu.
Chen Taifei Agung dan Huang Mingxiang terkejut, namun di antara mereka berdua tidak ada yang berani protes.
"Makan ini." Xiao Muqing menaruh daging ke atas mangkuk nasi Huang Mingxiang, satu persatu lauk pria itu pindahkan ke dalam mangkuk nasi Huang Mingxiang, membuat dia mengerutkan keningnya kesal. Xiao Muqing ingin membuatnya mati kekenyangan?
"Wangye, cukup, terima kasih. Ini sudah terlalu banyak," ujar Huang Mingxiang, lalu menarik mangkuknya untuk menghindari daging pemberian Xiao Muqing.
Xiao Muqing mengangguk singkat, lalu menaruh sumpitnya dan segera mengambil cangkir yang sudah diisi oleh air jahe. Air jahe ini sudah Xiao Muqing pesan secara khusus kepada staf dapur untuk Huang Mingxiang.
"Minum ini agar tubuhmu lebih terasa nyaman," ucap Xiao Muqing, membuat Huang Mingxiang mengerutkan keningnya. Sejak kapan pria itu benar-benar seperhatian ini padanya?
Melihat raut wajah bingung Huang Mingxiang, Xiao Muqing bertanya,"Ada apa? Kamu tidak menyukai air jahe? Benwang bisa meminta pelayan dapur untuk membuat menu air kesehatan yang lain."
Huang Mingxiang menggeleng pelan. "Tidak, bukan seperti itu. Terima kasih banyak, Wangye." Huang Mingxiang tidak berani mengatakan alasannya terang-terangan di hadapan Chen Taifei Agung.
Chen Taifei Agung memperhatikan interaksi mereka berdua, bibirnya tanpa sadar tersenyum. Dia lega karena akhirnya putranya menemukan istri yang benar-benar membuatnya jatuh cinta dan tentunya wanita itu juga mencintai anaknya dengan tulus.
Huang Mingxiang menyadari tatapan Chen Taifei Agung, lalu segera membalas senyuman Chen Taifei Agung dan berkata,"Mufei, anda juga harus makan yang banyak. Saya pernah mendengar cerita bahwa Mufei adalah kesayangan mendiang kakek Kaisar, lalu beliau menemani anda makan malam secara berturut-turut dalam satu Minggu. Sangat jarang ada kesempatan dan nasih seberuntung itu. Tetapi tentu saja, Mufei sangat cantik, pantas saja hati mendiang kakek Kaisar terpikat."
Chen Taifei Agung terkekeh. "Mingxiang benar-benar bermulut manis, kamu tahu bagaimana caranya membuat hati seseorang senang. Begitu juga dengan kamu, ternyata rumor yang mengatakan bahwa kamu adalah wanita paling cantik dan berprestasi di Ibu Kota kesayangan Huangtaihou adalah berita asli. Lihat, benar-benar cantik seperti bunga." Di akhir kalimat Chen Taifei Agung menyentuh singkat dagu Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang tertawa sambil melanjutkan makannya. Ruang makan hanya diisi oleh obrolan Huang Mingxiang dan Chen Taifei Agung, Xiao Muqing hanya diam dan menyimak. Pria itu benar-benar terlihat tidak peduli.
"Mufei, pelayan sudah menyiapkan kamar anda. Mingxiang sudah mengatur semuanya, Mufei harus beristirahat. Langit sudah sangat gelap, Mufei pasti lelah karena seharian berada di kereta dan lanjut berdiskusi panjang dengan Wangye. Maafkan saya karena tidak bisa mengantar Mufei secara pribadi ke kamar, karena tabib pribadi Xiao Wangfu sudah menunggu lama." Huang Mingxiang menggenggam lengan Chen Taifei Agung ringan.
Chen Taifei Agung mengangguk pelan, membalas genggaman tangan Huang Mingxiang. "Tidak apa-apa Mingxiang, Mufei mengerti kondisimu."
Setelah dua sampai tiga kalimat basa-basi, akhirnya Huang Mingxiang dan Xiao Muqing benar-benar pergi meninggalkan ruang makan. Huang Mingxiang tersenyum tipis saat melihat raut wajah suram Xiao Muqing, kemudian melingkarkan tangan kirinya di pinggang pria itu.
"Apa yang membuat suasana hati anda sangat buruk?" tanya Huang Mingxiang, walaupun dia sudah mengetahui jawabannya.
Xiao Muqing menggeleng singkat. "Tidak ada." Kemudian tangan kanannya bergerak meraih seluruh tubuh Huang Mingxiang agar memiliki jarak semakin dekat dengannya. Xiao Muqing lalu mencium ubun-ubun kepala Huang Mingxiang. "Temui tabib lebih dulu, benwang masih memiliki beberapa urusan dengan--"
"DEKRIT KEKAISARAN DATANG!!"
Suara nyaring Kasim Yi terdengar, membuat Huang Mingxiang dan Xiao Muqing saling tatap. Raut wajah Huang Mingxiang berubah drastis menjadi dingin, suasana hatinya langsung buruk. Berengsek, Rong Xuan benar-benar minta dihancurkan.
Melihat raut wajah keras istrinya, Xiao Muqing terkekeh, kemudian mengusap kepala Huang Mingxiang. "Lihat, sekarang siapa yang memiliki suasana hati buruk?"
__ADS_1
Huang Mingxiang tertegun, Xiao Muqing membalikkan kalimat itu padanya. Huang Mingxiang terkekeh, lalu menjawab,"Sudah, ayo cepat kita terima dekrit sialan itu." Huang Mingxiang menarik tangan Xiao Muqing, mereka berdua berjalan beriringan.
Sesampainya di depan pintu gerbang Xiao Wangfu, Huang Mingxiang dan Xiao Muqing berlutut untuk mendengarkan isi dekrit yang akan dibacakan panjang oleh Kasim Yi.
"... Oleh karena itu, Xiao Wangye diharapkan mempersiapkan diri dan seluruh pasukannya sebelum waktu yang sudah ditentukan. Yang mulia Kaisar memberikan keringanan agar diizinkan berangkat dua hari setelah waktu yang sudah ditentukan. Yang mulia, berdiri dan terima dekrit ini."
Kasim Yi selesai membacakan dekrit, Xiao Muqing segera berdiri dan berjalan mendekat ke arah Kasim Yi untuk menerima dekrit tersebut. Setelah dekrit mendarat di telapak tangan Xiao Muqing, seluruh penghuni Xiao Wangfu segera berlutut ke arah dekrit tersebut dan berkata,"Hormat kepada yang mulia Kaisar, semoga kejayaan Kekaisaran Timur semakin terang di tangan anda."
Kasim Yi tersenyum, pria itu terlalu tersenyum. Ketika melihat sosok Chen Taifei Agung yang berjalan mendekati mereka, Kasim Yi sedikit membelalakkan matanya dan segera membungkuk. "Salam, Chen Taifei Agung Niangniang!"
Chen Taifei Agung mengangguk, balas tersenyum tenang. Senyumannya tidak sehangat dan selembut tadi, namun kini terlihat elegan dan menunjukkan aura bahwa dia adalah seorang wanita terhormat dengan gelar luar biasa.
"Niangniang, yang mulia Kaisar mengetahui kabar bahwa anda sudah tidak di Xiao Wangfu, lalu buru-buru menyuruh bawahan rendah ini untuk membawakan hadiah kecil untuk Niangniang." Kasim Yi mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah hati, lalu memberikannya sambil membungkuk ke arah Chen Taifei Agung.
Chen Taifei Agung menerima hadiah itu, lalu membukanya. Ada kilatan cahaya dingin yang muncul sesaat di matanya, dan ini diketahui oleh mata tajam Huang Mingxiang. Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, ada apa? Apa ada sesuatu yang aneh dengan hadiah itu?
Chen Taifei Agung menutup kembali kotak tersebut, lalu menatap Kasim Yi dan berkata,"Sampaikan terima kasih saya kepada Kaisar, Kaisar benar-benar pemimpin yang perhatian dan bijak. Semoga Kekaisaran Timur ini selalu makmur."
Kasim Yi menganggukkan kepalanya. "Baik, Niangniang. Kalau begitu, saya pamit undur diri." Kasim Yi lalu membungkuk juga ke arah Xiao Muqing dan Huang Mingxiang. Sebelum benar-benar berbalik, mata Kasim Yi sempat beradu dengan mata Huang Mingxiang. Mata Kasim Yi melempar sinyal gelisah, kepalanya sedikit menggeleng pelan. Hal ini membuat Huang Mingxiang semakin merasa janggal, matanya dengan cepat melirik ke arah kotak hadiah itu untuk bertanya kepada Kasim Yi dan kembali menatap sang Kasim.
Kasim Yi mengangguk sambil tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya keluar dari Xiao Wangfu.
Huang Mingxiang tertegun, dia dengan cepat berjalan ke arah Chen Taifei Agung. Belum sempat dia mengucapkan apa pun, Chen Taifei Agung sudah membuka lagi kotak itu dan menatap isinya dingin.
Chen Taifei Agung menatap Huang Mingxiang, bibirnya masih tersenyum. "Kamu mengetahui apa ini, bukan, nak?"
Huang Mingxiang mengangguk. "Ini gingseng merah dengan garis hijau di tepiannya. Bagi orang-orang awam yang tidak mengerti medis, mungkin akan menganggap ini adalah gingseng merah biasa yang dijual dipasaran atau gingseng istimewa yang mahal. Gingseng ini jarang dibicarakan oleh orang-orang karena memang keberadaannya yang langka dan dianggap tabu, semenjak Kaisar terdahulu Kekaisaran ini meninggal diracun menggunakan gingseng ini oleh selir-nya sendiri."
Chen Taifei Agung tertegun, dia tidak menyangka Huang Mingxiang memiliki pengetahuan yang luas. Wanita itu segera memberikan kotak hadiah itu kepada pelayan pribadinya dan berkata,"Buang." Lalu matanya kembali menatap Huang Mingxiang. "Kamu benar-benar cerdas."
Huang Mingxiang tersenyum, menampilkan wajah malu-malu walaupun sebenarnya di sini dia sedang biasa saja. "Mufei sudah terlalu banyak memuji Mingxiang hari ini."
"Siapapun yang melihatmu pasti akan terus memuji," jawab Chen Taifei Agung.
"Mingxiang, kamu harus segera menemui tabib." Xiao Muqing memotong pembicaraan akrab mereka. Huang Mingxiang menoleh menatap Xiao Muqing dan mengangguk, lalu kembali menatap Chen Taifei Agung dan membungkuk. "Mufei, Mingxiang pamit undur diri untuk menemui tabib."
Chen Taifei Agung mengangguk. "Tentu, nak. Semoga kamu lekas sembuh."
"Terima kasih banyak, Mufei."
Setelah dua sampai tiga kalimat basa-basi, akhirnya dia. Benar-benar bisa kembali pergi ke kamar untuk menemui sang tabib. Di sana, Huang Mingxiang masuk terlebih dahulu untuk menemui tabib, sedangkan Xiao Muqing berdiskusi sebentar dengan Gu Sinjie.
"Sudah ada sembilan titik yang tersebar untuk menjaga Wangfei. Titik ini adalah bagian paling sering yang Wangfei lewati setiap keluar Xiao Wangfu," ucap Gu Sinjie, melaporkan pekerjaannya. Beberapa jam yang lalu dia sempat ditugaskan untuk menyiapkan titik sempurna agar bisa digunakan melindungi Huang Mingxiang selagi Xiao Muqing dan pasukannya berperang. Pria itu benar-benar mendahulukan persiapan menjaga istrinya ketimbang peperangan.
"Bagaimana dengan di Istana?" tanya Xiao Muqing.
__ADS_1
"Ah ... benar, total lima belas titik jika digabungkan dengan yang ada di Istana. Maafkan keteledoran saya, Wangye." Gu Sinjie memejamkan matanya erat dan memakai dirinya sendiri di dalam hati, belakangan ini dia sering memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Ya ... sedikit perlu, sih ... Tetapi ... ya ... aku yakin kalian semua mengerti maksud Gu sinjie.
"Gege! Gege!" Suara Baili Ruyi yang gaduh terdengar, membuat Xiao Muqing dan Gu Sinjie menoleh cepat ke arah Baili Ruyi. Tatapan mata Xiao Muqing sudah terlibat khawatir, dia berpikir bahwa Baili Ruyi akan menyampaikan sesuatu yang berbahaya.
"Gege, anda dipanggil oleh Xiao Wangfei! Ini sangat--!" Ucapan Baili Ruyi seketika berhenti kala melihat Gu Sinjie. Wajahnya segera memerah dan berbalik untuk memunggungi mereka berdua. Dia entah mengapa mulai hilang keberanian untuk bertatapan dengan pria itu.
Xiao Muqing menyadari keanehan ini, namun dia memilih tidak peduli dan berlari ke arah kamar. Huang Mingxiang lebih penting dari pada keanehan Baili Ruyi dan Gu Sinjie.
"Mingxiang, ada apa??" tanya Xiao Muqing, pria itu benar-benar berlari masuk ke dalam kamar. Wajahnya terlihat panik dan khawatir.
Huang Mingxiang tersenyum, dia duduk di atas kasurnya dengan tatapan cerah ke arah Xiao Muqing. Seluruh orang di dalam kamar ini tersenyum, termasuk sang tabib. Hanya Xiao Muqing yang terlihat kebingungan dan tidak mengerti.
Tak lama, tabib pribadi Xiao Wangfu membungkuk ke arah Xiao Muqing. "Yang mulia, bawahan ini mengucapkan selamat untuk anda. Selamat, yang mulia. Xiao Wangfei ... positif hamil!"
Deg!
Xiao Muqing membelalakkan matanya, pupil mata pria itu membesar. Xiao Muqing mematung di depannya, Su Mama yang melihat momen ini menangis terharu.
Xiao Muqing meneteskan air mata, ini air mata pertama yang benar-benar dia biarkan muncul di hadapan banyak orang.
"Xiao ... Wangfei?"
"Benar, Wangye."
"Istri benwang?"
"Benar, Wangye."
"Huang ... Mingxiang?"
"Benar, Wangye."
"Hamil ... Mengandung ... Anak benwang?"
"Tentu saja, yang mulia."
Xiao Muqing berkali-kali melemparkan pertanyaan kepada sang tabib, dia masih sangat terkejut dan tidak percaya dengan kabar ini. Tak lama, Xiao Muqing tiba-tiba tertawa.
"Bagus! Bagus!" ucap pria itu, bibirnya tersenyum cerah. Dengan cepat Xiao Muqing berlari ke arah Huang Mingxiang dan menggendong istrinya. Huang Mingxiang tertawa, kedua tangannya melingkar di leher Xiao Muqing. Seluruh orang tersenyum bahagia, Gu Sinjie yang baru saja datang kebingungan, namun saat mendengar cerita dari Yui dia segera menatap shock dan ikut tersenyum.
"Tetapi, tabib, mengapa tidak ada tanda-tanda kehamilan seperti mual atau sejenisnya?" tanya Huang Mingxiang setelah Xiao Muqing sudah selesai membawanya memutar di atas gendongannya.
Tabib itu tersenyum semakin cerah dan menjawab,"Izin menjawab, Wangfei. Wangfei, untuk di beberapa kasus kehamilan, hal ini merupakan sesuatu yang wajar. Tidak semua kehamilan memiliki gejala atau tanda kehamilan yang sama, namun Wangfei beruntung karena tidak mengalami tanda atau gejala kehamilan yang dapat membuat diri anda sendiri lelah. Seperti mual, pusing, dan rasa sakit tidak nyaman lainnya. Yang mulia, kandungan anda masih sangat muda, baru berumur dua Minggu. Harap berhati-hati, karena kondisi tubuh anda saat ini juga belum sepenuhnya pulih, jadi baik anda maupun bayi ini sama-sama berada di situasi yang--"
"Beli obat paling mahal dan memiliki kualitas paling baik. Tidak perlu memikirkan berapa jumlah harganya, selama Wangfei dan anak benwang tidak mengalami masalah apa pun, itu tidak masalah." Xiao Muqing memotong cepat, dia terlihat sangat bahagia dan bersedia melakukan atau memberikan apa pun yang dia miliki untuk Huang Mingxiang yang sedang mengandung anaknya.
__ADS_1