
Huang Mingxiang membakar kertas surat undangan yang dikirim Istana untuknya. Itu adalah surat pesta teh untuk para nyonya bangsawan Kekaisaran dari Rong Xuan. Hari ini, genap sudah lima bulan semenjak kepergian Xiao Muqing ke perbatasan. Perutnya sudah kian membesar.
"Huanghou ... wanita itu mulai bergerak dengan hal klasik seperti ini?" ucap Huang Mingxiang, bibirnya tersenyum menatap surat yang terbakar. Semenjak kepergian Xiao Muqing, dia menutup rapat pintu Xiao Wangfu dan meningkatkan kewaspadaannya. Wanita itu tidak pernah menangis dan menunjukkan sisi lemahnya ketika Xiao Muqing tidak ada di sampingnya. Huang Mingxiang berusaha mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melindungi semua yang dia sayangi selagi Xiao Muqing tidak di sisinya.
Chen Taifei Agung duduk tepat di sebelah Huang Mingxiang, wanita itu seperti biasa tersenyum ramah, kini tangannya bergerak elegan mengaduk teh. "Tidak perlu dipedulikan seperti apa dia memulainya, namun pedulikan seperti apa dia menjalaninya."
Huang Mingxiang melirik Chen Taifei Agung, lalu bertanya,"Mufei, nama anda tidak disebutkan sama sekali di undangan ini. Ataukah ... anda sudah mendapatkan undangan lain secara pribadi?"
Chen Taifei Agung menggeleng. "Tidak ada satu undangan pun yang datang padaku." Kemudian dia menyesap teh-nya.
Huang Mingxiang terkekeh tipis, lalu berkata,"Dia sengaja? Namun ... bukankah tindakannya ini terlalu ceroboh? Bagaimana jika ada yang menyinggung masalah ini? Dia akan langsung jatuh tak bisa membalas."
Chen Taifei Agung menatap Huang Mingxiang, bibirnya masih tetap tersenyum. "Mingxiang, itu bukan masalah. Bahkan tanpa undangan atau izin, Mufei tetap bisa masuk ke dalam seluruh jengkal pojok Istana, tak terkecuali area pesta teh milik Huanghou."
Huang Mingxiang mengangguk singkat. "Mingxiang tahu itu, lagi pula ... saat ini di Istana masih ada Huangtaihou. Wanita itu belum bisa melakukan perbuatan sembarangan, Mingxiang tidak perlu membalas serangannya terlalu keras, apa lagi harus merepotkan Mufei."
Chen Taifei Agung balas mengangguk juga, setelah itu dia menoleh ke luar jendela, menatap langit. Hatinya diam-diam tengah merasakan khawatir yang besar, wanita itu khawatir bukan dengan pertarungan yang akan dia jalani di Istana, namun khawatir dengan putranya di sana. Raut wajahnya sesekali menunjukkan ekspresi gelisah.
Keesokan harinya, Huang Mingxiang sudah siap menuju Istana. Chen Taifei Agung mengantarnya sendiri secara pribadi naik ke dalam kereta kuda, wanita itu benar-benar menyayangi Huang Mingxiang seperti dia menyayangi Xiao Muqing.
"Jika terjadi sesuatu, segera kirim orang untuk memanggil Mufei. Mengerti?" ucap Chen Taifei Agung, raut wajahnya terlihat khawatir.
Huang Mingxiang terkekeh, lalu menjawab,"Mufei, anda tidak perlu khawatir. Situasi seperti ini bukan pertama kalinya untuk Mingxiang, Mufei bisa--"
"Aku tidak bisa tenang. Aku tidak ingin marga Rong mengambil anakku yang kedua kalinya." Chen Taifei Agung menatap Huang Mingxiang serius.
Huang Mingxiang tertegun. 'Anak'? Chen Taifei Agung menganggapnya anak? Wajah Huang Mingxiang segera kembali tersenyum, perasaannya terasa hangat. Ini ... pertama kalinya dia merasakan kasih sayang seorang ibu yang begitu dalam dari orang lain selain Huangtaihou. Tetapi ... perasaan ini sedikit berbeda, karena ... Huang Mingxiang harus tetap memanggil Huangtaihou 'bibi', namun ... Chen Taifei Agung, Huang Mingxiang bisa langsung memanggilnya 'ibu' atau jika mengikuti peraturan Kekaisaran, 'Mufei'.
Huang Mingxiang mengangguk kecil. "Tentu, Mufei. Kali ini ... Mingxiang yang akan membalas sakit hatimu kepada marga Rong. Mingxiang berjanji."
Chen Taifei Agung balik tertegun, wanita itu juga merasa hangat. Kepalanya mengangguk elegan, bibirnya tersenyum semakin manis. "Kalau begitu, hati-hati, nak."
Huang Mingxiang balas mengangguk lagi, kemudian setelah dua sampai tiga kalimat perpisahan, akhirnya kereta kuda Huang Mingxiang bisa benar-benar pergi menuju Istana Kekaisaran.
__ADS_1
Huang Mingxiang memperhatikan jalanan menuju Istana. Kini, musim dingin benar-benar telah berakhir. Salju sudah benar-benar mencair, hanya ada angin dan cahaya matahari yang bersinar cerah.
Huang Mingxiang banyak sekali melamun, dia memikirkan berbagai macam hal. Xiao Muqing, kandungannya, Istana, politik, masa lalunya, dan gunung Lang Tao. Seluruh ingatan A - Z miliknya datang bergiliran.
Tak terasa, kini dia sudah sampai di Istana. Huang Mingxiang segera turun, dibantu secara pribadi oleh Su Mama dan Yui. Sedangkan Baili Ruyi, wanita itu mengawasi dari jauh seperti biasa.
"Selamat datang, Xiao Wangfei Niangniang. Salam, yang mulia."
Seluruh nyonya bangsawan berkumpul untuk menyambut kedatangannya, mata Huang Mingxiang memperhatikan wajah mereka satu persatu.
Huang Mingxiang tersenyum, dia membalas sapaan para nyonya bangsawan dengan ramah sambil mengelus perut besarnya. "Sambutan para Furen sangat hangat, Wangfei ini sangat tersentuh karena kalian harus repot-repot bangkit dari kursi kalian dan memberi salam padaku."
Salah satu Furen menggeleng, bibirnya tersenyum dan mengatakan,"Kami sama sekali tidak menganggapnya sebuah kerepotan, Wangfei. Suami saya berpesan untuk membuat Wangfei merasa nyaman dan senang di setiap pertemuan kita."
Huang Mingxiang mengangguk tipis, lalu bertanya,"Astaga ... perhatian sekali, siapa suami anda, Furen?"
"Menjawab Wangfei, Letnan Jenderal Shao," jawab wanita itu.
Shao Furen yang mengerti maksud 'nasib yang sama' dari Huang Mingxiang tertawa elegan dengan menutup setengah wajahnya menggunakan kipas, lalu menjawab,"Memang sudah takdir kita menikahi pria yang memiliki karir di Militer seperti itu." Shao Furen terlihat sedikit menghela napas di akhir kalimatnya.
Setelah dua sampai tiga kalimat basa-basi, mereka semua akhirnya kembali masuk ke dalam area pesta dengan Huang Mingxiang memimpin jalan di depan.
Mata Huang Mingxiang dan Rong Xuan bertemu, mereka langsung melempar senyuman dan menatap licik satu sama lain.
Rong Xuan berdiri, kemudian berkata,"Selamat datang, Xiao Wangfei. Saya harap anda dan bayi anda sehat, sekarang ... silahkan nikmati pesta teh ini. Anda bisa melepas seluruh rasa penat dan suntuk di sini." Nada bicara Rong Xuan terdengar sangat ramah, saking ramahnya sampai membuat Huang Mingxiang merinding.
Boro-boro melepas penat, bahkan bernapas pun akan sulit nantinya. Entah rencana apa yang akan dilakukan oleh Rong Xuan sekarang. Tak lama, mata Huang Mingxiang menangkap sosok wanita bangsawan yang terlihat sangat tenang. Wanita itu tidak ikut menyambutnya seperti para Furen tadi, dan Huang Mingxiang sama sekali belum pernah melihat wanita itu.
Melihat Huang Mingxiang memperhatikan seseorang, Rong Xuan segera berkata,"Wangfei, perkenalkan. Xiaojie cantik yang di sana adalah sepupu saya, dia sengaja saya undang kemari agar dapat bergaul dan membangun hubungan yang baik dengan para wanita bangsawan Kekaisaran."
Setelah Rong Xuan berkata demikian, wanita itu beranjak berdiri dan membungkuk ke arah Huang Mingxiang. "Salam, Xiao Wangfei Niangniang. Nama saya adalah Rong Lingxie. Saya jarang terlihat di perkumpulan para bangsawan karena aktivitas sehari-hari saya dilaksanakan untuk bersekolah di Asrama Akademi Kedokteran Kekaisaran yang hanya diizinkan pulang tiga bulan sekali. Saya harap, kehadiran saya tidak mengganggu Wangfei Niangniang dan para Furen lainnya."
Huang Mingxiang menatap lekat Rong Lingxie. Ah ... Rong Lingxie, Huang Mingxiang pernah bertemu dengannya sekali dua tahun lalu saat Ulang Tahun Kekaisaran yang digelar besar-besaran. Umur mereka berdua tidak jauh berbeda, Huang Mingxiang lebih tua satu tahun di atasnya. Dan yang paling penting, wanita itu pernah menjadi calon tunangan Xiao Muqing sebelum akhirnya pihak Chen Taifei Agung dan Xiao Muqing sendiri menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Tetapi seingatnya, wanita itu terlihat sangat bahagia ketika lamarannya dibatalkan sebab saat itu Xiao Muqing masih lumpuh permanen.
__ADS_1
Saat Rong Lingxie mengangkat wajahnya dan menatap Huang Mingxiang, Huang Mingxiang dapat dengan mudah menangkap secercah tatapan cemburu dan benci. Huang Mingxiang tersenyum melihat ini, lalu melirik Rong Xuan. Astaga ... apa wanita itu memanfaatkan sepupunya yang bodoh ini untuk menyerangnya? Dilihat dari tatapan Rong Lingxie, sepertinya wanita itu menyesal karena sudah membatalkan pertunangannya dengan Xiao Muqing.
Acara pesta teh itu berlanjut setelah sempat berhenti karena kedatangan Huang Mingxiang dan perkenalan diri singkat Rong Lingxie. Musik beralun indah, Huang Mingxiang sebenarnya ingin sekali menikmati pesta ini, namun ... ada harimau dan ular berbahaya yang sedari tadi terus menatapnya, seolah siap menerkam dia kapan saja jika lengah.
Ting! Ting! Ting!
Rong Lingxie mengetuk cangkir teh-nya dengan sendok kecil sebanyak tiga kali, meminta perhatian seluruh tamu undangan. Wanita itu kemudian berdiri, tersenyum simpul dan membungkuk ke arah Rong Xuan. "Niangniang, jika anda mengizinkan, izinkan Lingxie untuk menari di pesta teh hari ini agar dapat menambah hiburan para tamu undangan."
Rong Xuan balas tersenyum, kepalanya mengangguk. "Tentu saja boleh, Meimei. Anda tidak perlu ragu, silahkan tunjukkan sesuatu yang menarik."
Rong Lingxie balas mengangguk penuh percaya diri juga. "Baik, terima kasih banyak Niangniang atas kesempatannya. Lingxie akan membawakan tarian 'Bunga Terluka'."
Ketika mendengar nama tarian tersebut, gerakan Huang Mingxiang yang ingin memasukkan sepotong kue terhenti. Matanya segera menatap intens Rong Lingxie.
Tarian 'Bunga Terluka' adalah tarian yang memiliki arti seperti seorang dua pasangan serasi yang harus berpisah dan menempuh jalan masing-masing. Sang pihak laki-laki akan menikah dengan wanita lain dan membangun kehidupan cinta baru, sedangkan sang perempuan tetap setia dengan perasaan lamanya sangat lama, bahkan sampai mati.
Rong Lingxie sudah memulai tariannya, selama menari dia terlihat sangat mendalami peran sebagai 'Bunga Terluka'. Selesai menari, wanita itu segera dilempar pertanyaan oleh salah satu Furen.
"Rong Xiaojie sangat berbakat. Jika saya boleh tahu, untuk siapa anda menarikan tarian ini? Sesuai yang kita semua ketahui, 'Bunga Terluka' biasanya dilakukan oleh seseorang yang sedang patah hati. Hal ini membuat saya penasaran, apakah Rong Xiaojie benar-benar patah hati?" Pertanyaan Furen itu memiliki nada menggoda Rong Lingxie.
Rong Lingxie tersenyum, kepalanya menunduk sejenak setelah kemudian kembali tegak menatap Furen yang bertanya tersebut. Bibirnya tersenyum hambar, matanya menunjukkan kesedihan yang samar. "Sejatinya tarian ini dilakukan benar-benar untuk menghibur para tamu undangan pesta teh indah ini. Tetapi ... memang ada sekian persennya saya lakukan untuk seseorang ...."
"Aiya ... seseorang? Siapa itu?" tanya Rong Xuan, wajah wanita itu terlihat sedih, mengikuti raut wajah Rong Lingxie. Tetapi sebenarnya dia sedang berusaha membuat Huang Mingxiang panas. Rong Xuan bertaruh, Huang Mingxiang juga mengenal siapa Rong Lingxie dan kisah masa lalunya.
Huang Mingxiang diam, dia masih tetap dengan senyum elegannya dan tenang menatap Rong Lingxie. Walaupun ... diam-diam di dalam hati serta pikirannya dia ingin menghunuskan pedang ke arah Rong Lingxie dan Rong Xuan. Di rencana ini Rong Xuan memang tidak menyerangnya dengan melukai fisik, namun ... Rong Xuan kali ini menyerang hatinya. Sakit hati lebih berbahaya dari pada racun.
Rong Lingxie masih sama dengan ekspresi sebelumnya, lalu berkata,"Untuk kekasih tak sampai saya di Medan perang. Cinta kami memang gagal menyatu, namun ... hati saya masih tetap terus ... dan terus menyala untuknya."
Bagi para Furen bangsawan tingkat dua dan tiga, mereka ikut terenyuh dan iba. Sedangkan bagi Furen bangsawan tingkat 1, mereka semua sama sekali tidak ada tersenyum atau menampilkan raut wajah iba, justru malah menatap Huang Mingxiang penuh rasa khawatir.
Huang Mingxiang menelan habis kue yang entah keberapa itu, lalu menyesap minuman miliknya dan tersenyum menatap para Furen bangsawan tingkat 1 seperti Shao Furen yang sudah terlihat sangat khawatir.
"Apa yang membuat kekasih anda itu menjadi 'kekasih yang tak sampai', Rong Xiaojie? Aiya ... sebutan itu sangat menyayat hati ...." Huang Mingxiang ikut menampilkan raut wajah sedih, seolah ikut iba dengan cerita Rong Lingxie.
__ADS_1