Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 74. Rahasia Kita Berempat


__ADS_3

Baili Ruyi mengayunkan pedangnya di halaman depan kediaman tempatnya tinggal untuk sementara. Dia tidak memiliki rumah di Ibu Kota, karena seluruh keluarga besar bangsawan Baili berada di luar ibu kota dan fokus mengemban ilmu bela diri dan kultivasi. Baili adalah satu-satunya keluarga bangsawan yang tidak ikut campur sama sekali di urusan pemerintahan, mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri.


Luka di bahunya telah perlahan membaik, tidak lagi basah dan parah seperti sebelumnya. Saat itu di kepalanya hanya ada satu pikiran, permintaan Huang Mingxiang. Benar, sebelum wanita itu pergi menuju Istana, Huang Mingxiang menyempatkan diri untuk mengobrol sebentar dengan Baili Ruyi.


Gu Sinjie diam-diam datang dan langsung berkata,"Sepertinya sudah semakin membaik." Hal ini membuat Baili Ruyi terkejut, kemudian dengan cepat menoleh sambil menghunuskan pedang ke samping leher Gu Sinjie.


"Eit ... Nona." Gu Sinjie tersenyum tipis, lalu menyingkirkan pelan pedang Baili Ruyi menggunakan jari telunjuknya.


Baili Ruyi menyimpan kembali pedangnya, musim salju ini mendadak tidak ada rasa kedinginan apa pun karena tubuhnya saat ini sedang panas berkeringat akibat bermain pedang.


"Jarang sekali aku melihatmu serius, ada apa?" tanya Gu Sinjie penasaran.


Baili Ruyi menggeleng. "Tidak ada. Lebih baik kau pergi, merusak pemandangan saja."


Gu Sinjie mendengus. "Justru kehadiranku malah memperindah pemandangan." Kemudian Gu Sinjie kembali bertanya,"Katakan, apa yang ada di pikiranmu? Aku tidak bisa membiarkan kau menyimpan rahasia, bagaimana jika itu membahayakan Xiao Wangfu?"


Baili Ruyi menggeleng, dia segera berjalan masuk ke dalam kamarnya. "Tidak ada rahasia apa pun, aku hanya fokus bermain pedang tadi."


"Hei ... ayolah, kita sudah berteman belasan bahkan hampir puluhan tahun. Jangan mencoba membohongiku, aku hafal setiap gerakan dan raut wajahmu," balas Gu Sinjie, mengikuti langkah Baili Ruyi dari belakang.


Baili Ruyi menaruh pedangnya di atas meja, melepas mantelnya dan duduk di kursi. Gu Sinjie terus mengikuti wanita itu, kini duduk di hadapannya.


"Ini soal Xiao Wangfei," ucap Baili Ruyi, kemudian menuang teh hangat ke dalam cangkirnya.


Gu Sinjie mengerutkan keningnya. "Xiao Wangfei? Ada apa dengannya?"


Tatapan Baili Ruyi mulai serius, membuat Gu Sinjie merasa sedikit aneh karena jarang melihat Baili Ruyi serius. Melihat wanita itu serius, berarti masalahnya juga sungguhan serius, Gu Sinjie pun berhenti bersikap nyeleneh dan mulai ikut serius.


"Xiao Wangfei berencana menemui Utusan Agung ke Gunung Lang Tao untuk mencari obat kaki Xiao Wangye," jawab Baili Ruyi, kemudian lanjut bertanya,"Apa benar ada sesuatu yang mengancam lima ratus ribu prajurit milik Gege?"


Raut wajah Gu Sinjie berubah dingin mendengar ini, kemudian mengangguk. "Ya, tingkat ancamannya cukup serius. Kemungkinan akan terjadi perang adalah tujuh puluh persen untuk sekarang. Jika Wangye tidak memimpin pasukan langsung untuk berperang, para bangsawan atau oknum yang menang sejak awal ingin mengambil ratusan ribu prajurit itu akan menggunakan alasan 'meminjam'. Itu berbahaya."


Baili Ruyi mencengkeram cangkir yang ada di meja. "Lalu bagaimana tanggapan Gege?"


Gu Sinjie menggeleng, menghela napas. "Saat ini Wangye hanya berusaha untuk menahan gejolak tersebut. Jika hari di mana peperangan pecah itu datang, maka-- tunggu! Apa Wangfei mendengar percakapanku dengan Wangye?" Gu Sinjie tersadar akan sesuatu, matanya menatap Baili Ruyi sedikit melotot.

__ADS_1


Baili Ruyi mengangguk. "Kemungkinan besar iya, karena aku mengetahui informasi ini dari Wangfei."


Gu Sinjie mengerutkan keningnya dalam, menghela napas gusar. "Di situasi seperti ini tindakan dan niat Wangfei tidak salah, namun ... Menemui Utusan Agung sangat berbahaya. Sebelumnya kita juga pernah mencoba, tetapi gagal. Jika Wangfei mengunjungi Utusan Agung untuk Wangye lagi, kemungkinan besar juga akan ditolak lagi."


"Apa alasan Wangye ditolak?" tanya Baili Ruyi.


Gu Sinjie menghela napas kecil. "Ketulusan hati. Wangye ditolak karena hatinya tidak ada ketulusan apa pun, dingin. Utusan Agung tidak menerima hati yang mati."


Baili Ruyi berdiri. "Wangfei! Maka Wangfei pasti berhasil!"


Gu Sinjie menggeleng. "Tidak semudah itu, Ruyi. Utusan Agung tidak hanya melihat dari hati seseorang itu hidup atau tidak, namun juga dari tekad, niat, dan tujuan. Jika Wangfei berhasil mempunyai poin-poin penting itu juga pun belum tentu selamat melewati bahaya di gunung Lang Tao. Gunung itu banyak sekalian hewan-hewan aneh yang mengerikan, butuh empat hari untuk Wangye sampai di puncak gunung dan menemui Utusan Agung."


"Aku yang akan menemani Wangfei, Sinjie." Baili Ruyi menatap Gu Sinjie serius, menunjuk dirinya sendiri.


Gu Sinjie menggeleng. "Ide buruk, Ruyi. Tubuhmu bahkan belum sepenuhnya pulih, bertarung dengan hewan-hewan mengerikan itu menggunakan tubuh lemahmu sekarang sama saja seperti bunuh diri. Wangye juga pasti tidak akan mengizinkan Wangfei menginjakkan kaki di Gunung Lang Tao."


Baili Ruyi menggeleng. "Aku tidak sendiri, masih ada Yui. Rumah asalku di pelosok gunung, Sinjie. Bertarung dan hidup di hutan sudah menjadi hal biasa untuk darah bangsawan Baili. Kau tidak perlu khawatir."


"Kau tidak mengerti, Ruyi. Gunung Lang Tao berbeda." Matanya menatap tajam Baili Ruyi, tidak setuju dengan ide wanita itu.


"Dari luar saya mendengar kalian terus menerus menyebut gelarku, ada apa?" Suara Huang Mingxiang terdengar, membuat Gu Sinjie dan Baili Ruyi berdiri dan segera membungkuk ke arah Huang Mingxiang.


Huang Mingxiang baru saja kembali dari Istana, lalu memutuskan untuk segera pulang ke Xiao Wangfu mengolah Gold God menjadi obat. Tetapi sebelum itu dia ingin menemui Baili Ruyi terlebih dahulu untuk berdiskusi.


"Wangfei," ucap Gu Sinjie dan Baili Ruyi berbarengan.


"Wangfei, apa rencana anda untuk menemui Utusan Agung itu sungguhan?" tanya Gu Sinjie langsung tanpa berbasa-basi.


Huang Mingxiang tersenyum, kemudian berjalan duduk menuju kursi yang ada di kamar Baili Ruyi. Baili Ruyi menuangkan teh ke dalam cangkir baru untuk Huang Mingxiang, kemudian menerima sebuah kotak berukuran sedang yang diberikan oleh Huang Mingxiang, dia tidak tahu apa isi dari kotak ini.


"Gu Sinjie, jangan mengatakan apa pun pada Wangye mengenai ini." Huang Mingxiang masih menatap teh, namun setelah itu melirik Gu Sinjie tajam. Ini tatapan tajam pertamanya untuk Gu Sinjie, membuat pria itu tertegun. "Ini perintahku," lanjut Huang Mingxiang.


Gu Sinjie mengangguk, setelah itu menghela napas pelan. "Niangniang, namun Gunung Lang Tao sangat berbahaya, anda tentu saja sudah mendengar cerita mengenai gunung ini, bukan?"


Huang Mingxiang mengangguk. "Iya, saya tahu."

__ADS_1


"Maka dari itu, Wangfei. Anda tidak bisa sembarangan datang ke gunung Lang Tao dan menemui Utusan Agung. Walaupun anda sudah memiliki Ruyi sebagai penjaga, namun saat ini tubuhnya masih lemah. Bertarung dengan hewan-hewan mengerikan di sana sangat berisiko." Gu Sinjie mencoba membujuk Huang Mingxiang agar mengurungkan niatnya.


Huang Mingxiang mengangguk lagi. "Saya mengerti mengenai kekhawatiran Tuan Gu, namun ... saya juga tidak bodoh. Saya pasti memiliki persiapan, Tuan Gu tidak perlu khawatir."


Baili Ruyi dan Gu Sinjie mengerutkan keningnya, menatap heran dan penuh rasa ingin tahu ke arah Huang Mingxiang.


Huang Mingxiang melirik Baili Ruyi. "Kedatanganku kemari ingin membuat persiapan itu denganmu, Ruyi. Aku tahu gunung Lang Tao sangat berbahaya, sebuah rencana buruk jika aku ke sana hanya mengandalkan perlindungan darimu dan Yui semata. Oleh karena itu, aku meminta bantuanmu untuk mengajarkanku bela diri. Aku sudah sangat lama ingin belajar bela diri, namun selalu tidak sempat. Karena sekarang waktuku luang, jadi lebih baik belajar dari sekarang dan mempersiapkan diri untuk pergi ke gunung Lang Tao."


Baili Ruyi dan Gu Sinjie tertegun. Benar, kemungkinan mereka akan berhasil melawan para monster itu jika Huang Mingxiang juga ikut bertarung. Karena nanti mereka akan sibuk melindungi diri masing-masing, ketiganya bekerja sama dan bertarung.


"Tetapi ... apa Gege akan menyetujui rencana anda?" tanya Baili Ruyi ragu, dia masih takut untuk melawan Xiao Muqing.


"Jika kita harus meminta izin pria itu terlebih dahulu, sudah pasti tidak akan diizinkan. Lebih baik rencana ini hanya diketahui oleh kita berempat saja. Tuan Gu, Ruyi, Yui, dan aku," jawab Huang Mingxiang, Su Mama tidak dia ikut sertakan karena memang wanita itu tidak akan ikut ke gunung Lang Tao.


"Tetapi jika Wangye memergoki anda tengah belajar ilmu bela diri, bagaimana?" tanya Baili Ruyi lagi.


Huang Mingxiang mengangkat kedua bahunya acuh. "Katakan saja bahwa sekarang aku tertarik dengan ilmu bela diri."


Gu Sinjie dan Baili Ruyi saling pandang, seolah sedang berdiskusi menggunakan ilmu telepati.


Huang Mingxiang tersenyum lebih dalam. "Kita harus membantu Wangye, apa pun yang terjadi. Tugasku adalah menjadikan suamiku menjadi lebih baik."


Gu Sinjie dan Baili Ruyi kembali menatap Huang Mingxiang, lalu mengangguk mantap. "Baik, Wangfei."


Huang Mingxiang terkekeh, senang. "Kalau begitu, Tuan Gu. Maafkan saya karena harus merepotkan anda, tetapi ... bisa tolong anda panggilkan tabib pribadi Xiao Wangfu?"


Gu Sinjie bingung. "Anda sakit, Niangniang?" Itu pikir Gu Sinjie, karena tidak mungkin tabib itu dipanggil untuk Baili Ruyi lagi. Baili Ruyi sudah cukup membaik, hanya tubuhnya masih lemas dan tidak sekuat sebelumnya. Tapi tidak sampai memerlukan seorang tabib lagi untuk mengontrolnya.


"Tidak, aku harus membuat obat untuk Wangye," jawab Huang Mingxiang.


"Obat?" tanya Gu Sinjie dan Baili Ruyi berbarengan.


Huang Mingxiang mengangguk, lalu mengambil kotak berukuran sedang itu lagi dari Baili Ruyi, membukanya di atas meja sambil mengatakan,"Ini adalah Gold God milik Utusan Agung yang dijual di pelelangan terlarang Kekaisaran."


"A--apa?!" Kaget mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2